ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila menjadi kendala dalam budidaya ikan sehingga diperlukan alternatif antibakteri alami seperti bawang putih (Allium sativum) yang mengandung senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak bawang putih dengan pelarut kombinasi etanol dan air secara in vitro menggunakan metode defusi cakram dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan 3 kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak dengan pelarut dominan etanol rasio 70:30 lebih mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan zona hambat sebesar 13,33 mm (kategori kuat), diikuti ekstrak kombinasi pelarut rasio 50:50 sebesar 11,33 mm lalu kontrol positif sebesar 11,33 mm dan ekstrak kombinasi pelarut rasio 30:70 sebesar 5,33 mm, sedangkan kontrol negatif tidak menunjukkan daya hambat. Analisis ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan (p = 0,091). Dengan demikian, kombinasi pelarut etanol dan air berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri, dengan pelarut dominan etanol sebagai perlakuan efektif dalam melarutkan senyawa antibakteri pada bawang putih yang menghambat pertumbuhan A.hydrophila
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR KARAGINAN DENGAN PLASTICIZER GLISEROL Abstrak Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas perikanan potensial yang terus dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta ketersediaan bahan baku yang melimpah. Selain bersifat terbarukan dan mudah dibudidayakan dengan waktu panen relatif singkat, rumput laut ini juga kaya akan polimer alami berupa senyawa polisakarida. Karakteristik tersebut menjadikan K. alvarezii berpeluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif dalam pengembangan bioplastik ramah lingkungan. Salah satu produk olahan rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah karaginan, yaitu senyawa hidrokoloid yang diperoleh melalui proses ekstraksi menggunakan air atau pelarut pada suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik bioplastik berbasis karaginan dengan penambahan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan gliserol sebagai bahan pemlastis. Tahapan penelitian meliputi proses sintesis bioplastik serta pengujian sifat fisik dan mekanik, yang mencakup uji kuat tarik, uji perpanjangan, uji kelarutan, uji biodegradabilitas, pengukuran ketebalan, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioplastik berbahan dasar karaginan dengan penambahan gliserol dan CMC berhasil dibuat. Ketebalan bioplastik yang dihasilkan telah memenuhi standar JIS ( 0,25 mm), dengan nilai ketebalan tertinggi sebesar 0,16 mm pada konsentrasi gliserol 2,5%. Nilai kuat tarik yang diperoleh sebesar 3,21 MPa belum memenuhi standar JIS (> 3,92 MPa) maupun SNI bioplastik (24,7–302 MPa). Namun, nilai perpanjangan mencapai 149,79%, sehingga telah memenuhi persyaratan standar SNI bioplastik (> 50%) dan JIS (21– 220%). Nilai kelarutan bioplastik berada pada kisaran 52,88% hingga 97,99%, sedangkan hasil pengujian biodegradabilitas menunjukkan bahwa bioplastik mengalami degradasi secara sempurna pada hari ketiga.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Saat ini, pencemaran sampah plastik cukup mengkhawatirkan. Sampah plastik adalah sampah non organik yang sulit terurai dalam tanah dan waktu yang dibutuhkan untuk menguraikan sampah plastik tergolong cukup lama yaitu sampai 50-80 jt tahun untuk terurai, Strategi dalam memecahkan masalah ini yaitu penggunaan plastik Biodegradable alternatif telah dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakteristik edible film berbahan dasar semi refined carrageenan yang dibuat dari rumput laut jenis Kappaphycus alvareezi dengan karboksimetil selulosa yang berbeda sebagai pengemulsi. Pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan edible film dari SRC dengan penambahan Asam stearat sebagai plastisizer kemudian edible film yang sudah dibuat karakterisasi dengan uji kuat tarik, perpanjangan, ketebalan, uji kelarutan dan uji kadar air untuk mengetahui sifat dan karakter dari edible film. Kesimpulan pada penelitian ini adalah edible film dengan penambahan asam stearat dengan kadar 0,1%, 0,2%, 0,3% memiliki karakteristik kuat tarik sebesar 64,69-35,42 MPa, Perpanjangan 26,8%- 8,0%, kelarutan 81,94% -80,83%, Kadar air 13,66% -13,33% dan Ketebalan 0,019mm- 0,031mm. Berdasarkan hasil tersebut edible film tidak dapat memenuhi JIS (Japanese Industrial Standart) edible film yang sintesis memenuhi standar untuk parameter kuat tarik dan ketebalan namun tidak memenuhi standar parameter perpanjangan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji pengaruh perlakuan teknologi plasma dalam larutan NaCl terhadap kekuatan tarik serat sabut kelapa dalam material komposit berbasis resin epoxy. Serat sabut kelapa yang dipilih merupakan limbah organik yang diproses dengan perlakuan plasma menggunakan microwave plasma dalam larutan NaCl 10% sebagai medium elektrolit, dibandingkan dengan perlakuan plasma dalam aquades dan tanpa perlakuan sebagai kontrol. Setelah perlakuan, serat dicampur dengan resin epoxy dan katalis untuk membentuk spesimen komposit yang kemudian diuji tarik menggunakan Universal Testing Machine 600 kN. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa perlakuan plasma dalam larutan NaCl meningkatkan konsistensi dan stabilitas kekuatan tarik komposit, meskipun nilai rata-rata kekuatan tariknya (4,76 MPa) sedikit lebih rendah dibandingkan kondisi tanpa perlakuan (5,21 MPa). Perlakuan plasma dalam larutan NaCl berhasil meningkatkan adhesi kimiawi dan mekanis antara serat dan matriks resin, yang dibuktikan oleh pola kegagalan serat yang patah bersama matriks dan bukan terlepas. Dengan demikian, teknologi plasma dalam larutan NaCl efektif dalam memperbaiki sifat mekanik serat sabut kelapa dan memiliki potensi aplikasi dalam pengembangan material komposit ramah lingkungan berbasis serat alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Tarakan merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah, terutama ikan arut (Pomadasys sp.) yang termasuk ikan demersal dengan nilai ekonomis penting. pengelolaan perikanan yang berkelanjutan diperlukan dengan menyeibangkan tujuan sosial ekonomi dan kelestarian ekosistem melalui pendekatan Ecosystem Approach to Fisheris Management (EAFM), khususnya pada domain teknik penangkapan ikan, yang menjadi fokus utama penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penangkapan ikan berdasarkan indikator penangkapan ikan dipulau Tarakan. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, dari Januari-Maret 2025, di perairan Pulau Tarakan khususnya di pos pendaratan ikan arut di kelurahan selumit pantai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan melalui wawancara dengan 10 nelayan pengguna alat tangkap rawai dasar dan observasi hasil tangkapan sebanyak tiga kali. Analisis data dilakukan dengan membandingkan Hasil Tangkap Utama (HTU), Hasil Tangkap Samping (HTS), Hasil Tangkapan Buangan (HTB), serta mempertimbangkan indikator-indikator pada domain teknik penangkapan ikan sesuai modul EAFM 2014. Hasil menunjukkan alat tangkap rawai dasar di perairan pulau tarakan bersifat ramah lingkungan dan selektif, dengan scoring 3. Modifikasi alat tangkap dan alat bantu penangkapan belum dilakukan, sehingga kondisi alat tangkap masih sesuai dengan peraturan yang berlaku dengan scoring 3. Kapasitas dan frekuensi penangkapan diberikan scoring 1, sedangkan tingkat selektivitas alat tangkap cukup tinggi dengan HTU mencapai 82,3% dengan scoring 3. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal juga baik dengan scoring 3, namun sertifikasi awak kapal sangat rendah karena pelatihan dilakukan secara otodidak tanpa sertifikat formal scoring 1. Total skor indikator domain teknik penangkapan 245, menunjukkan bahwa alat tangkap rawai dasar selektif dan potensi keberlanjutan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi menyeluruh dan terintegrasi terhadap pengelolaan berbasis EAFM yang melibatkan semua domain, tidak hanya teknik penangkapan, untuk menjaga keberlanjutan sumber daya di Pulau Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Kota Tarakan memiliki potensi perikanan tangkap tinggi karena Kota Tarakan dikelilingi laut, sehingga sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut. Salah satu komoditas penting adalah ikan arut (Pomadasys sp.), ikan arut bernilai ekonomis tinggi banyak ditangkap dengan alat tangkap rawai dasar. Aktivitas penangkapan ikan arut tidak hanya berdampak pada aspek ekologi, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi sosial dan ekonomi nelayan, sehingga perlu dikaji lebih lanjut untuk mendukung keberlanjutan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perikanan ikan arut (Pomadasys sp.) berdasarkan domain sosial dan domain ekonomi dengan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di perairan Pulau Tarakan. Penelitian dilakukan pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada nelayan, sedangkan data sekunder dari instansi terkait. Analisis dilakukan pada indikator domain sosial mengacu pada modul EAFM, bobot dan scoring menggambarkan tingkat dalam pengelolaan perikanan meliputi partisipasi pemangku kepentingan, konflik perikanan, serta pemanfaatan pengetahuan lokal; sedangkan domain ekonomi mencakup kepemilikan aset, pendapatan rumah tangga perikanan, dan rasio tabungan. Hasil penelitian menunjukkan, pada domain sosial, partisipasi pemangku kepentingan masih tergolong sedang karena keterlibatan institusi seperti DKP hanya terbatas penerbitan izin. Konflik perikanan relatif rendah dan dapat diselesaikan melalui musyawarah, sedangkan pemanfaatan pengetahuan lokal sangat baik, khususnya dalam menentukan lokasi dan waktu penangkapan. Pada domain ekonomi, nelayan pemilik telah memiliki aset produktif berupa kapal dan alat tangkap, dengan pendapatan rata-rata di atas Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp18.250.000. Selain itu, rasio tabungan nelayan cukup tinggi, kemampuan menyimpan kelebihan pendapatan. Secara keseluruhan, pemanfaatan ikan arut di Pulau Tarakan masih legal, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Namun, diperlukan peningkatan peran kelembagaan, khususnya DKP, serta penelitian lanjutan pada domain sumberdaya ikan, habitat, teknik penangkapan, dan kelembagaan guna mendukung keberlanjutan perikanan arut di masa depan. Abstract Tarakan City has a strong potential for capturing fisheries because it is surrounded by water. The vast bulk of its coastal population relies on marine resources for food and economic survival. A prominent commodity is the grunt fish (Pomadasys sp.), which has a high economic value and is typically harvested with bottom longlines. Grunt fish fishing has an impact not only on the environment, but also on fishermen's social and economic conditions. As a result, there is a need for additional research to support the long-term management of these activities. The purpose of the research was to analyze the gunt fish (Pomadasys sp.) based on social and economic domains using the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in the waters of Tarakan Island. The research was conducted from December 2024 to February 2025. Primary data was obtained through observations, interviews, and questionnaires with fishermen. Secondary data was obtained from relevant officials. The analysis was conducted on social domain indicators with reference to the EAFM module, with weights and scores describing the level of fisheries management, including stakeholder participation, fisheries conflicts, and the use of local knowledge. The economic domain covered asset ownership, fisheries household income, and savings ratios. The results of the research showed that stakeholder participation in the social domain remains moderate due to the limited involvement of institutions such as the DKP, which is confined to permit issuing. Fisheries conflicts are generally rare and can be handled through deliberation. Local knowledge is especially useful for identifying the best place and timing for fishing activities. Within the economic sphere, fishermen already own productive assets such as boats and fishing gear, and their average income exceeds the City Minimum Wage of IDR 18,250,000. Furthermore, fishermen's high savings percentage indicates the ability to create financial reserves. Overall, the use of grunt fish in Tarakan is legal and environmentally acceptable. Furthermore, it has been shown to provide large economic benefits. However, there is a need to strengthen the function of institutions, particularly the DKP, and perform additional research on fish resources, habitats, fishing tactics, and institutions to ensure the future viability of grunt fish populations.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Korosi merupakan proses kimia yang menyebabkan logam mengalami perubahan fisik sehingga terjadi kerusakan. Sebagai upaya menghambat laju korosi digunakan senyawa bio inhibitor yang berasal dari bahan alam yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, fenol dan tanin yang terdapat pada ekstrak daun Api–api (Avicennia marina). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas ekstrak daun Api-api (Avicennia marina) sebagai bio inhibitor logam besi pada berbagai kondisi larutan HCl 3%, NaOH 3%, dan NaCl 3%. Mengukur efektivitas ekstrak daun Api- api (Avicennia marina) sebagai bio inhibitor logam besi pada larutan efektif dengan berbagai konsentrasi. Mengukur efektivitas ekstrak daun Api-api (Avicennia marina) sebagai bio inhibitor logam besi dengan larutan dan konsentrasi efektif pada suhu yang berbeda. Penelitian ini terdiri dari enam tahapan. Tahap pertama preparasi sampel daun Avicennia marina, tahap kedua ekstraksi daun Avicennia marina, tahap ketiga uji fitokimia pada ekstrak daun Avicennia marina, tahap keempat pengujian ekstrak daun Avicennia marina sebagai bio inhibitor logam besi, tahap kelima pengujian konsentrasi pada larutan yang efektif, tahap keenam pengujian suhu pada konsentrasi yang efektif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun Avicennia marina menghasilkan larutan efektif HCl 3% dengan nilai efektivitas 82%, pengujian konsentrasi menghasilkan 0,3 gram adalah konsentrasi yang efektif dengan nilai efektivitas 93,39%, pengujian suhu (9˚C, 29˚C, 50˚C) mendapatkan efektivitas rata-rata yang stabil di atas 90%. Ekstrak daun Api- api (Avicennia marina) berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam pengujian bio inhibitor korosi logam besi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Pulau Nunukan memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii, yang merupakan sumber utama karagenan. Selain itu, rumput laut jenis ini mengandung natrium dan kalium yang dapat dimanfaatkan dalam pengolahan garam, dengan hasil samping yang diduga masih menyisakan kandungan karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik karagenan dari bahan baku dan hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii yang berasal dari Pulau Nunukan menggunakan pelarut KOH. Parameter uji meliputi kadar air, kadar abu, kadar sulfat, dan viskositas. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karagenan dari bahan baku Kappaphycus alvarezii menghasilkan kadar air sebesar 12,67±0,58%, kadar abu sebesar 40,67±2,08%, kadar sulfat sebesar 1,74±0,47%, dan viskositas sebesar 6,90±0,6cP. Sementara itu, karagenan dari hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii menghasikan kadar air sebesar 3,33±2,31%, kadar abu sebesar 38,67±10,69%, kadar sulfat sebesar 2,99±0,30%, dan viskositas sebesar 6,10±0,17cP. Secara keseluruhan, karagenan dari bahan baku dan hasil samping pengolahan garam rumput laut Kappaphycus alvarezii telah memenuhi persyaratan mutu SNI 8391-1: 2017 pada parameter kadar abu dan viskositas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI SEMI REFINED CARRAGEENAN Kappaphycus alvarezii DENGAN PENAMBAHAN CMC YANG BERBEDA ABSTRAK Saat ini, pencemaran sampah plastik cukup mengkhawatirkan. Sampah plastik adalah limbah anorganik yang sulit terurai dalam tanah dan waktu yang dibutuhkan untuk menguraikan sampah plastik tergolong cukup lama yaitu 50-80 juta tahun untuk terurai. Semakin meningkatnya bahaya yaitu penggunaan plastik biodegradable alternatif telah dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi edible film berbahan dasar semi refined carrageenan yang dibuat dari rumput laut jenis Kappaaphycus alvarezii dengan karboksimetil selulosa yang berbeda sebagai pengemulsi. Pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan edible film dari SRC dengan penambahan CMC sebagai pengemulsi dan gliserin sebagai plastizicer kemudian edible film yang sudah dibuat karakterisasi dengan uji ketebalan, uji kadar air, uji kelarutan, uji tarik untuk mengetahui sifat dan karakter dari edible film. Kesimpulan pada penelitian ini adalah Edible film dengan penambahan CMC dengan kadar, 0,1%., 0,3%., 0,5% memiliki karakteristik kuat tarik sebesar 10,16%-13,76 MPa, perpanjangan 25,4867%-34,62%, kelarutan 80,55%-94,44%, kadar air 24%-27% dan ketebalan 0,082 mm-0,09 mm. Berdasarkan hasil tersebut edible film tidak dapat memenuhi JIS (Japanese Industrial Standart) edible film yang di sintesis memenuhi standar untuk parameter kuat tarik dan ketebalan namun tidak memenuhi standar parameter perpanjangan. Kata kunci : Biodegradable, pengemulsi, uji ketebalan, kadar air, kelarutan, uji tarik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsumsi jagung manis terus mengalami peningkatan, seiring dengan pertambahan penduduk dan pola konsumsi. Permintaan terhadap jagung manis selalu meningkat setiap tahun tetapi luas areal tanam semakin menyempit, sehingga perlu adanya upaya peningkatan produksi jagung manis dengan memanfaatkan tanah marginal. Akan tetapi, kesuburan tanah marginal tergolong rendah yang dicirikan dengan cadangan unsur hara rendah, pH masam, P-total tinggi namun P-tersedia rendah. P (Fosfat) didalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk kimia dan mineral-mineral didalam tanah. Ketersediaan P-tersedia dipengaruhi oleh pH, fiksasi senyawa Fe, Al dan Ca sehingga pemupukan P menjadi tidak efesien. Salah satu upaya meningkatkan efesiensi pemupukan P-tersedia yang rendah yaitu dengan memanfaatkan bakteri pelarut fosfat sebagai pupuk hayati. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian bakteri pelarut fosfat dengan bahan pembawa padat serta pengaruhnya dalam menurunkan dosis pupuk P pada budidaya tanaman jagung manis. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan yaitu: PO (Tanpa Perlakuan), P1 (100% Urea + 100% KCL + 100% SP36), P2 (Limbah Udang 100kg/ha + isolat B5(6) + (50% SP36 + 100% Urea dan KCL)), P3 (Arang Sekam 100kg/ha + isolat B1 (17) + (50% SP35 + 100% Urea dan KCL)), P4 (Arang Sekam 100kg/ha + isolat B5(6) + (50% SP36 + 100% Urea dan KCL)), P5 (Limbah Udang 100kg/ha + isolat B1(17) + (50% SP36 + 100% Urea dan KCL)). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P2 memberikan nilai tertinggi pada pertumbuhan maupun produksi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) dibandingkan perlakuan yang lainnya. Perlakuan yang diberikan formulasi isolat bakteri pelarut fosfat dengan bahan pembawa dapat menurunkan dosis pupuk SP36 hingga 50%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nelayan Kota Tarakan menggunakan alat tangkap rawai dasar (bottom longline) dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan, dengan hasil tangkapan utama ikan arut (Pomadasys sp.). Data ilmiah terkait dengan rawai dan hasil tangkapannya, sangat penting sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya perikanan lestari dan berkelanjutan. Aspek yang menjadi fokus riset adalah menguraikan model pertumbuhan panjang infinitif (L∞), koefisien pertumbuhan (K) dan umur teoritis ikan (tᴏ), serta menjelaskan sifat pertumbuhan dengan pendekatan hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan arut (Pomadasys sp). Penelitian ini menggunakan metode deskritif kuantitatif dengan metode purposive sampling. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan mulai dari Januari 2023 – Februari 2023. Total sampel yang telah diteliti sebanyak 219 ekor ikan dengan perhitungan 20 kg per sampling dengan 8 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan model pertumbuhan von Bertalanffy pada sampel ikan arut (Pomadasys. sp) menghasilkan persamaan Lt = 109.526{ 1 - 2.71828 -0.0194( t - 0.823 ) }. Hubungan panjang berat ikan arut (Pomadasys. sp) bersifat allometrik negatif dan memiliki faktor kondisi nilai 1 atau mendekati 1 yang menunjukkan bahwa kondisi ikan arut (Pomadasys. sp) dalam kondisi atau bentuk tubuh yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nelayan di Pulau Tarakan menggunakan berbagai macam alat tangkap, dan salah satu alat tangkap yang digunakan adalah rawai dasar (bottom longline). Rawai dasar sebagai salah satu jenis alat tangkap yang dinilai sangat produktif karena pengoperasiannya relatif mudah, selain itu pembiayaan alat tangkap ini relatif murah. Hasil tangkapan Utama nelayan rawai dasar yang berada di perairan Tarakan, adalah ikan arut dan ikan kakap merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan menjelaskan tentang aspek biologi ikan yang mencangkup rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, dan kebiasaan makan, pada hasil tangkapan utama rawai dasar yang didaratkan di Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini di laksanakan selama ± 3 bulan dari bulan Januari - Maret 2021 di perairan Tarakan, Kalimantan Utara, dengan menggunakan metode penelitian purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan, nisbah kelamin pada ikan arut (Pomadasys sp.) dan ikan kakap merah (Lutjanus sp.) hasil tangkapan rawai dasar di perairan Tarakan bahwa ikan betina yang lebih dominan tertangkap. TKG ikan arut jantan dominan TKG II sebanyak 9 ekor dan betina dominan TKG III sebanyak 33 ekor. Ikan kakap merah jantan dominan TKG I sebanyak 19 ekor dan betina dominan TKG I sebanyak 29 ekor. IKG ikan arut jantan dengan nilai tertinggi 0,702% dan untuk betina dengan nilai teringgi 7,988%. IKG ikan kakap merah jantan tertinggi dengan nilai 0,209%, untuk ikan betina dengan nilai tertinggi 1,587%. Fekunditas tertinggi ikan arut pada TKG IV 13.836 butir, pada ikan kakap merah dengan nilai fekunditas tertinggi pada TKG III 4.942 butir. Ikan arut dan ikan kakap merah merupakan ikan yang tergolong karnivora dengan jenis makanan utamanya, yaitu makanan yang lumat atau hancur yang terindikasi dari kelompok jenis chordata dan crustacean, dan makanan tambahan yaitu cumi-cumi (cephalopoda).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian terkait sifat pertumbuhan perikanan yang berhubungan dengan alat tangkap rawai dasar di perairan Tarakan umumnya belum banyak diketahui secara detail khususnya pada hasil tangkapannya. Hal ini merupakan hal yang penting dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan yang bertanggung jawab agar sumberdaya ikan yang ada di Perairan tetap ada dan lestari, terkhusus di perairan pulau Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menjelaskan terkait aspek biologi ikan yang mencakup pertumbuhan ikan, hubungan panjang dan berat, faktor kondisi serta rasio kelamin pada ikan arut (Pomadasys sp) dan ikan kakap merah (Lutjanus sp) di Perairan Tarakan. Metode penelitian menggunakan pendekatan observasi dan pengamatan serta pengukuran panjang – berat dan metode pengumpulan sampel dengan purposive random sampling, yang digunakan untuk menganalisis model dan sifat pertumbuhan, hubungan panjang dan berat, faktor kondisi dan rasio kelamin ikan hasil tangkapan utama rawai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari–Maret 2021. Hasil penelitian menunjukkan, nisbah kelamin pada ikan arut (Pomadasys sp.) dan ikan kakap merah (Lutjanus sp.) hasil tangkapan rawai dasar di perairan Tarakan bahwa ikan betina yang lebih dominan tertangkap. Hasil pengolahan data pertumbuhan yang pada sampel ikan arut (Pomadasys sp) diperoleh nilai model pertumbuhan sebesar yaitu Lt = 59.338 (1 – e -0.0352 (t – 0.62876)) dan pada sampel ikan kakap merah (Lutjanus sp) diperoleh nilai sebesar Lt = 64.143 (1 – e -0.0711 (t – 0.30246)). Hasil analisa panjang-berat ikan arut jantan-betina dengan sifat pertumbuhan allometrik positif dan ikan kakap merah jantan-betina dengan sifat pertumbuhan allometrik negatif. Nilai faktor kondisi yang di dapat arut jantan selama penelitian berkisar 0,96 – 1,09, arut betina kisaran 0,79 – 1,40, ikan kakap merah jantan berkisar 0,86 – 1,19, kakap merah betina berkisar 0,86 – 1.21 dan nisbah kelamin yang diperoleh tidak seimbang
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nelayan perikanan tangkap di perairan Kota Tarakan, salah satu nya menggunakan alat tangkap rawai dasar (bottom longline). Rawai adalah alat tangkap yang memiliki banyak variasi dalam hal tujuan, ukuran, struktur dan jenis ikan. Penelitian mengenai alat tangkap rawai dasar dinilai masih kurang, sehingga perlu untuk dilakukan penelitian mengenai alat tangkap rawai dasar yang berhubungan dengan hubungan panjang berat dan faktor kondisi hasil tangkapan rawai dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data panjang - berat dan menjelaskan hubungan panjang berat serta faktor kondisi ikan kakap merah (Lutjanus sp.) dan ikan arut (Pomadasys sp.) hasil tangkapan rawai dasar di Perairan Tarakan. Penelitian ini di laksanakan ± 3 bulan dari bulan Januari – Maret 2021 di perairan Tarakan, Kalimantan Utara, dengan menggunakan metode penelitian metode purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan ikan kakap merah jantan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif yaitu b 3 yang dimana pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan berat tubuh ikan, sedangkan betina memiliki pola pertumbuhan isometrik yaitu b = 3 artinya pertambahan berat tubuh seimbang dengan pertumbuhan panjang ikan. Pola pertumbuhan ikan arut jantan memiliki pola pertumbuhan allomerik positif yaitu b > 3 yang dimana pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan panjang tubuh ikan, sedangkan betina memiliki pola pertumbuhan isometrik yaitu b = 3 artinya pertambahan berat tubuh seimbang dengan pertumbuhan panjang ikan. Ikan kakap merah jantan memiliki nilai faktor kondisi 1.02 dan untuk ikan kakap merah betina memilki nilai faktor kondisi 1.03, sedangkan untuk ikan arut jantan memiliki nilai faktor kondisi 1.04 dan untuk ikan arut betina memiliki nilai faktor kondisi 1.39.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian dilakukan di Kota Tarakan pada bulan Januari – Maret 2021 dengan tujuan mengetahui bio-populasi ikan senangin dan ikan arut dari aspek sex ratio, pertumbuhan, TKG (Tingkat Kematangan Gonad), IKG (Indeks Kematangan Gonad), fekunditas, ukuran pertama kali matang gonad (Lm) dan tertangkap (Lc). Total sampel penelitian 113 ekor yang terdiri dari ikan arut 81 ekor dan ikan senangin 32 ekor. Sampel diukur panjang menggunakan penggaris dan ditimbang bobotnya menggunakan timbangan analitik. Pengamatan jenis kelamin dilakukan secara anatomi dengan melihat gonad ikan. Sex ratio ikan sampel selama penelitian adalah 1 : 4 (ikan senangin) dan 1 : 2 (ikan arut). Berdasarkan model pertumbuhan ikan arut sebagai hasil tangkapan utama, diketahui parameter pertumbuhannya yaitu dugaan panjang maksimal tercapai (L∞) 71.26 cm, koefisien pertumbuhan (K) 0.0127 cm dan dugaan umur pada panjang teoritis null (t0) sebesar -1.0665 hari. TKG ikan senangin jantan dominan TKG I dan betina TKG IV. Sampel ikan arut jantan dominan TKG I dan betina TKG III. Kisaran IKG ikan senangin jantan 0.08 – 1.29 dan betina 0.11 – 3.47. IKG ikan arut jantan berkisar 0.08 – 1.62 dan betina 0.38 – 2.34. Nilai Lm ikan arut 30.6 cm dan ikan senangin 40.4 cm. Nilai ukuran Lc pada ikan arut 30.9 cm dan ikan senangin 34.7 cm. ABSTRACT The study was conducted in Tarakan City in January to March 2021 with the aim of finding out the bio-population of the Senangin fish and Arut fish from the aspect of sex ratio, growth, TKG (Gonadal Maturity Level), IKG (Gonadal Maturity Index), fecundity, size at first gonadal maturity (Lm) and caught (Lc). The total sample of the study was 113 fish consisting of 81 Arut and 32 Senangin. Samples were measured in length using a ruler and weighed using an analytical balance. Observation of sex was done anatomically by looking at the fish gonads. The sex ratio of the sampled fish during the study was 1:4 (Senangin fish) and 1:2 (Arut fish). Based on the growth model of Arut fish as the main catch, it was known that its growth parameters reached the estimated maximum length (L∞) 71.26 cm, gowth coefficient (K) of 0.0127 cm, and age estimation at null theoretical length (t0) of -1.0665 days. The male Senangin was dominant of TKG I and female of TKG IV. The male Arut was dominant of TKG I and female of TKG III. The range of IKG of male Senangin was 0.08-1.29 and the female was 0.11-3.47. The IKG of the male arut ranged from 00.08-1.62 and the female 0.38-2.34. The Lm value of Arut was 30.6 cm and Senangin was 40.4 cm. The value of Lc size in Arut was 30.9 cm and Senangin was 34.7 cm.