ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Tarakan merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah, terutama ikan arut (Pomadasys sp.) yang termasuk ikan demersal dengan nilai ekonomis penting. pengelolaan perikanan yang berkelanjutan diperlukan dengan menyeibangkan tujuan sosial ekonomi dan kelestarian ekosistem melalui pendekatan Ecosystem Approach to Fisheris Management (EAFM), khususnya pada domain teknik penangkapan ikan, yang menjadi fokus utama penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penangkapan ikan berdasarkan indikator penangkapan ikan dipulau Tarakan. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, dari Januari-Maret 2025, di perairan Pulau Tarakan khususnya di pos pendaratan ikan arut di kelurahan selumit pantai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan melalui wawancara dengan 10 nelayan pengguna alat tangkap rawai dasar dan observasi hasil tangkapan sebanyak tiga kali. Analisis data dilakukan dengan membandingkan Hasil Tangkap Utama (HTU), Hasil Tangkap Samping (HTS), Hasil Tangkapan Buangan (HTB), serta mempertimbangkan indikator-indikator pada domain teknik penangkapan ikan sesuai modul EAFM 2014. Hasil menunjukkan alat tangkap rawai dasar di perairan pulau tarakan bersifat ramah lingkungan dan selektif, dengan scoring 3. Modifikasi alat tangkap dan alat bantu penangkapan belum dilakukan, sehingga kondisi alat tangkap masih sesuai dengan peraturan yang berlaku dengan scoring 3. Kapasitas dan frekuensi penangkapan diberikan scoring 1, sedangkan tingkat selektivitas alat tangkap cukup tinggi dengan HTU mencapai 82,3% dengan scoring 3. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal juga baik dengan scoring 3, namun sertifikasi awak kapal sangat rendah karena pelatihan dilakukan secara otodidak tanpa sertifikat formal scoring 1. Total skor indikator domain teknik penangkapan 245, menunjukkan bahwa alat tangkap rawai dasar selektif dan potensi keberlanjutan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi menyeluruh dan terintegrasi terhadap pengelolaan berbasis EAFM yang melibatkan semua domain, tidak hanya teknik penangkapan, untuk menjaga keberlanjutan sumber daya di Pulau Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Kota Tarakan memiliki potensi perikanan tangkap tinggi karena Kota Tarakan dikelilingi laut, sehingga sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut. Salah satu komoditas penting adalah ikan arut (Pomadasys sp.), ikan arut bernilai ekonomis tinggi banyak ditangkap dengan alat tangkap rawai dasar. Aktivitas penangkapan ikan arut tidak hanya berdampak pada aspek ekologi, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi sosial dan ekonomi nelayan, sehingga perlu dikaji lebih lanjut untuk mendukung keberlanjutan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perikanan ikan arut (Pomadasys sp.) berdasarkan domain sosial dan domain ekonomi dengan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di perairan Pulau Tarakan. Penelitian dilakukan pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada nelayan, sedangkan data sekunder dari instansi terkait. Analisis dilakukan pada indikator domain sosial mengacu pada modul EAFM, bobot dan scoring menggambarkan tingkat dalam pengelolaan perikanan meliputi partisipasi pemangku kepentingan, konflik perikanan, serta pemanfaatan pengetahuan lokal; sedangkan domain ekonomi mencakup kepemilikan aset, pendapatan rumah tangga perikanan, dan rasio tabungan. Hasil penelitian menunjukkan, pada domain sosial, partisipasi pemangku kepentingan masih tergolong sedang karena keterlibatan institusi seperti DKP hanya terbatas penerbitan izin. Konflik perikanan relatif rendah dan dapat diselesaikan melalui musyawarah, sedangkan pemanfaatan pengetahuan lokal sangat baik, khususnya dalam menentukan lokasi dan waktu penangkapan. Pada domain ekonomi, nelayan pemilik telah memiliki aset produktif berupa kapal dan alat tangkap, dengan pendapatan rata-rata di atas Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp18.250.000. Selain itu, rasio tabungan nelayan cukup tinggi, kemampuan menyimpan kelebihan pendapatan. Secara keseluruhan, pemanfaatan ikan arut di Pulau Tarakan masih legal, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Namun, diperlukan peningkatan peran kelembagaan, khususnya DKP, serta penelitian lanjutan pada domain sumberdaya ikan, habitat, teknik penangkapan, dan kelembagaan guna mendukung keberlanjutan perikanan arut di masa depan. Abstract Tarakan City has a strong potential for capturing fisheries because it is surrounded by water. The vast bulk of its coastal population relies on marine resources for food and economic survival. A prominent commodity is the grunt fish (Pomadasys sp.), which has a high economic value and is typically harvested with bottom longlines. Grunt fish fishing has an impact not only on the environment, but also on fishermen's social and economic conditions. As a result, there is a need for additional research to support the long-term management of these activities. The purpose of the research was to analyze the gunt fish (Pomadasys sp.) based on social and economic domains using the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in the waters of Tarakan Island. The research was conducted from December 2024 to February 2025. Primary data was obtained through observations, interviews, and questionnaires with fishermen. Secondary data was obtained from relevant officials. The analysis was conducted on social domain indicators with reference to the EAFM module, with weights and scores describing the level of fisheries management, including stakeholder participation, fisheries conflicts, and the use of local knowledge. The economic domain covered asset ownership, fisheries household income, and savings ratios. The results of the research showed that stakeholder participation in the social domain remains moderate due to the limited involvement of institutions such as the DKP, which is confined to permit issuing. Fisheries conflicts are generally rare and can be handled through deliberation. Local knowledge is especially useful for identifying the best place and timing for fishing activities. Within the economic sphere, fishermen already own productive assets such as boats and fishing gear, and their average income exceeds the City Minimum Wage of IDR 18,250,000. Furthermore, fishermen's high savings percentage indicates the ability to create financial reserves. Overall, the use of grunt fish in Tarakan is legal and environmentally acceptable. Furthermore, it has been shown to provide large economic benefits. However, there is a need to strengthen the function of institutions, particularly the DKP, and perform additional research on fish resources, habitats, fishing tactics, and institutions to ensure the future viability of grunt fish populations.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) pada domain teknik penangkapan ikan di Lingkas Ujung, Tarakan Timur, fokus pada nelayan gillnet. Lingkas Ujung adalah kelurahan di Kecamatan Tarakan Timur dengan luas 133,69 km², mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Penelitian bertujuan menganalisis indikator domain teknis penangkapan ikan (metode, modifikasi, kapasitas, selektivitas) dan status pengelolaan perikanan berbasis EAFM. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui observasi dan survei. Hasil menunjukkan tidak ada penggunaan alat tangkap ilegal, modifikasi alat tangkap sesuai peraturan, rasio fishing capacity 1,3, dan selektivitas penangkapan 50-75%. Kesesuaian dokumen legal kapal 30-50%, dengan sebagian besar nelayan tidak memiliki sertifikasi. Nilai komposit domain teknik penangkapan ikan mencapai 85,67 (kategori baik), namun beberapa indikator masih memerlukan perbaikan, terutama selektivitas penangkapan, kesesuaian dokumen, dan sertifikasi awak kapal. Penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai penerapan prinsip-prinsip EAFM dalam praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Selain itu perlu dilakukan penelitian di lokasi lain dengan kondisi lingkungan yang berbeda untuk membandingkan tingkat keramahan lingkungan gill net serta peningkatan pengembangkan alat tangkap alternatif yang lebih selektif lagi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengelolaan sumberdaya ikan yang berkelanjutan tidak hanya fokus pada ikannya saja, namun harus mempertahankan kesehatan lingkungan atau habitatnya. Habitat yang baik dan sehat mampu mendukung sumberdaya hayati dan merupakan salah satu komponen utama dalam pengelolaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan analisis perikanan berdasarkan domain habitat dan ekosistem pada udang bintik (Metapenaeus Sp), dilakukan pada dua lokasi yaitu muara Sesayap dan muara Bulungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan udang bintik berdasarkan pendekatan ekosistem melalui domain habitat di muara Bulungan dan muara Sesayap. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan mengukur parameter kualitas air (salinitas, pH, suhu, kecerahan, TDS, TSS dan kecepatan arus, memakai metode SNI), mengetahui status mangrove menggunakan data sekunder, serta menganalisis panjang dan berat udang bintik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, kualitas perairan kedua muara ini masuk kedalam kategori baik, dengan nilai salinitas 15-27 ppt, nilai pH 7,9-8,4, suhu 30o-32oC, kecerahan 0,19-0,35 m, nilai TDS 315-495 mg/L, nilai TSS 0,129-137 mg/L, dan kecepatan arus 0,25-0,110 m/s. Kerapatan ekosistem mangrove pada kedua muara ini sedang namun tutupan mangrove mengalami penyusutan atau menuju rusak akibat konversi menjadi tambak, Kisaran ukuran udang bintik yang tertangkap oleh nelayan tugu (stownet) pada muara Sesayap dengan ukuran panjang total 5-9,5 cm, dan berat udang bintik yaitu 1-8 g. Pada muara Bulungan, kisaran ukuran udang bintik memiliki ukuran panjang total 6,9-15 cm, dan berat udang bintik yaitu 2-28 g, dengan indikasi berdasarkan ukuran tersebut, indikator habitat unik atau khusus udang bintik diketahui terdapat daerah nursery ground dan spawning ground yang belum dikelola dengan baik.