Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Ikan Arut
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS PERIKANAN IKAN ARUT (POMADASYS SP.) DI PERAIRAN PULAU TARAKAN DENGAN PENDEKATAN EAFM BERDASARKAN INDIKATOR TEKNIK PENANGKAPAN IKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pulau Tarakan merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah, terutama ikan arut (Pomadasys sp.) yang termasuk ikan demersal dengan nilai ekonomis penting. pengelolaan perikanan yang berkelanjutan diperlukan dengan menyeibangkan tujuan sosial ekonomi dan kelestarian ekosistem melalui pendekatan Ecosystem Approach to Fisheris Management (EAFM), khususnya pada domain teknik penangkapan ikan, yang menjadi fokus utama penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penangkapan ikan berdasarkan indikator penangkapan ikan dipulau Tarakan. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, dari Januari-Maret 2025, di perairan Pulau Tarakan khususnya di pos pendaratan ikan arut di kelurahan selumit pantai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan melalui wawancara dengan 10 nelayan pengguna alat tangkap rawai dasar dan observasi hasil tangkapan sebanyak tiga kali. Analisis data dilakukan dengan membandingkan Hasil Tangkap Utama (HTU), Hasil Tangkap Samping (HTS), Hasil Tangkapan Buangan (HTB), serta mempertimbangkan indikator-indikator pada domain teknik penangkapan ikan sesuai modul EAFM 2014. Hasil menunjukkan alat tangkap rawai dasar di perairan pulau tarakan bersifat ramah lingkungan dan selektif, dengan scoring 3. Modifikasi alat tangkap dan alat bantu penangkapan belum dilakukan, sehingga kondisi alat tangkap masih sesuai dengan peraturan yang berlaku dengan scoring 3. Kapasitas dan frekuensi penangkapan diberikan scoring 1, sedangkan tingkat selektivitas alat tangkap cukup tinggi dengan HTU mencapai 82,3% dengan scoring 3. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal juga baik dengan scoring 3, namun sertifikasi awak kapal sangat rendah karena pelatihan dilakukan secara otodidak tanpa sertifikat formal scoring 1. Total skor indikator domain teknik penangkapan 245, menunjukkan bahwa alat tangkap rawai dasar selektif dan potensi keberlanjutan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi menyeluruh dan terintegrasi terhadap pengelolaan berbasis EAFM yang melibatkan semua domain, tidak hanya teknik penangkapan, untuk menjaga keberlanjutan sumber daya di Pulau Tarakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS PERIKANAN IKAN ARUT (Pomadasys sp.) BERDASARKAN KONSEP EAFM KHUSUSNYA PADA DOMAIN SOSIAL DAN EKONOMI DI PERAIRAN PULAU TARAKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Kota Tarakan memiliki potensi perikanan tangkap tinggi karena Kota Tarakan dikelilingi laut, sehingga sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut. Salah satu komoditas penting adalah ikan arut (Pomadasys sp.), ikan arut bernilai ekonomis tinggi banyak ditangkap dengan alat tangkap rawai dasar. Aktivitas penangkapan ikan arut tidak hanya berdampak pada aspek ekologi, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi sosial dan ekonomi nelayan, sehingga perlu dikaji lebih lanjut untuk mendukung keberlanjutan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perikanan ikan arut (Pomadasys sp.) berdasarkan domain sosial dan domain ekonomi dengan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di perairan Pulau Tarakan. Penelitian dilakukan pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada nelayan, sedangkan data sekunder dari instansi terkait. Analisis dilakukan pada indikator domain sosial mengacu pada modul EAFM, bobot dan scoring menggambarkan tingkat dalam pengelolaan perikanan meliputi partisipasi pemangku kepentingan, konflik perikanan, serta pemanfaatan pengetahuan lokal; sedangkan domain ekonomi mencakup kepemilikan aset, pendapatan rumah tangga perikanan, dan rasio tabungan. Hasil penelitian menunjukkan, pada domain sosial, partisipasi pemangku kepentingan masih tergolong sedang karena keterlibatan institusi seperti DKP hanya terbatas penerbitan izin. Konflik perikanan relatif rendah dan dapat diselesaikan melalui musyawarah, sedangkan pemanfaatan pengetahuan lokal sangat baik, khususnya dalam menentukan lokasi dan waktu penangkapan. Pada domain ekonomi, nelayan pemilik telah memiliki aset produktif berupa kapal dan alat tangkap, dengan pendapatan rata-rata di atas Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp18.250.000. Selain itu, rasio tabungan nelayan cukup tinggi, kemampuan menyimpan kelebihan pendapatan. Secara keseluruhan, pemanfaatan ikan arut di Pulau Tarakan masih legal, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Namun, diperlukan peningkatan peran kelembagaan, khususnya DKP, serta penelitian lanjutan pada domain sumberdaya ikan, habitat, teknik penangkapan, dan kelembagaan guna mendukung keberlanjutan perikanan arut di masa depan. Abstract Tarakan City has a strong potential for capturing fisheries because it is surrounded by water. The vast bulk of its coastal population relies on marine resources for food and economic survival. A prominent commodity is the grunt fish (Pomadasys sp.), which has a high economic value and is typically harvested with bottom longlines. Grunt fish fishing has an impact not only on the environment, but also on fishermen's social and economic conditions. As a result, there is a need for additional research to support the long-term management of these activities. The purpose of the research was to analyze the gunt fish (Pomadasys sp.) based on social and economic domains using the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in the waters of Tarakan Island. The research was conducted from December 2024 to February 2025. Primary data was obtained through observations, interviews, and questionnaires with fishermen. Secondary data was obtained from relevant officials. The analysis was conducted on social domain indicators with reference to the EAFM module, with weights and scores describing the level of fisheries management, including stakeholder participation, fisheries conflicts, and the use of local knowledge. The economic domain covered asset ownership, fisheries household income, and savings ratios. The results of the research showed that stakeholder participation in the social domain remains moderate due to the limited involvement of institutions such as the DKP, which is confined to permit issuing. Fisheries conflicts are generally rare and can be handled through deliberation. Local knowledge is especially useful for identifying the best place and timing for fishing activities. Within the economic sphere, fishermen already own productive assets such as boats and fishing gear, and their average income exceeds the City Minimum Wage of IDR 18,250,000. Furthermore, fishermen's high savings percentage indicates the ability to create financial reserves. Overall, the use of grunt fish in Tarakan is legal and environmentally acceptable. Furthermore, it has been shown to provide large economic benefits. However, there is a need to strengthen the function of institutions, particularly the DKP, and perform additional research on fish resources, habitats, fishing tactics, and institutions to ensure the future viability of grunt fish populations.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ESTIMASI ASPEK PERTUMBUHAN IKAN ARUT (Pomadasys sp.) HASIL TANGKAPAN RAWAI DASAR (Bottom Longline) DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN UTARA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nelayan Kota Tarakan menggunakan alat tangkap rawai dasar (bottom longline) dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan, dengan hasil tangkapan utama ikan arut (Pomadasys sp.). Data ilmiah terkait dengan rawai dan hasil tangkapannya, sangat penting sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya perikanan lestari dan berkelanjutan. Aspek yang menjadi fokus riset adalah menguraikan model pertumbuhan panjang infinitif (L∞), koefisien pertumbuhan (K) dan umur teoritis ikan (tᴏ), serta menjelaskan sifat pertumbuhan dengan pendekatan hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan arut (Pomadasys sp). Penelitian ini menggunakan metode deskritif kuantitatif dengan metode purposive sampling. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan mulai dari Januari 2023 – Februari 2023. Total sampel yang telah diteliti sebanyak 219 ekor ikan dengan perhitungan 20 kg per sampling dengan 8 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan model pertumbuhan von Bertalanffy pada sampel ikan arut (Pomadasys. sp) menghasilkan persamaan Lt = 109.526{ 1 - 2.71828 -0.0194( t - 0.823 ) }. Hubungan panjang berat ikan arut (Pomadasys. sp) bersifat allometrik negatif dan memiliki faktor kondisi nilai 1 atau mendekati 1 yang menunjukkan bahwa kondisi ikan arut (Pomadasys. sp) dalam kondisi atau bentuk tubuh yang baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI Lutjanus sp. Dan Pomadasys sp. HASIL TANGKAPAN RAWAI DASAR DI PERAIRAN KOTA TARAKAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Nelayan perikanan tangkap di perairan Kota Tarakan, salah satu nya menggunakan alat tangkap rawai dasar (bottom longline). Rawai adalah alat tangkap yang memiliki banyak variasi dalam hal tujuan, ukuran, struktur dan jenis ikan. Penelitian mengenai alat tangkap rawai dasar dinilai masih kurang, sehingga perlu untuk dilakukan penelitian mengenai alat tangkap rawai dasar yang berhubungan dengan hubungan panjang berat dan faktor kondisi hasil tangkapan rawai dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data panjang - berat dan menjelaskan hubungan panjang berat serta faktor kondisi ikan kakap merah (Lutjanus sp.) dan ikan arut (Pomadasys sp.) hasil tangkapan rawai dasar di Perairan Tarakan. Penelitian ini di laksanakan ± 3 bulan dari bulan Januari – Maret 2021 di perairan Tarakan, Kalimantan Utara, dengan menggunakan metode penelitian metode purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan ikan kakap merah jantan memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif yaitu b 3 yang dimana pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan berat tubuh ikan, sedangkan betina memiliki pola pertumbuhan isometrik yaitu b = 3 artinya pertambahan berat tubuh seimbang dengan pertumbuhan panjang ikan. Pola pertumbuhan ikan arut jantan memiliki pola pertumbuhan allomerik positif yaitu b > 3 yang dimana pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan panjang tubuh ikan, sedangkan betina memiliki pola pertumbuhan isometrik yaitu b = 3 artinya pertambahan berat tubuh seimbang dengan pertumbuhan panjang ikan. Ikan kakap merah jantan memiliki nilai faktor kondisi 1.02 dan untuk ikan kakap merah betina memilki nilai faktor kondisi 1.03, sedangkan untuk ikan arut jantan memiliki nilai faktor kondisi 1.04 dan untuk ikan arut betina memiliki nilai faktor kondisi 1.39.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Bio-Populasi Ikan Senangin (Eleutheronema sp.) dan Ikan Arut (Lutjanus sp.) Hasil Tangkapan Jaring Insang (Gill net) yang Didaratkan di Kota Tarakan

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian dilakukan di Kota Tarakan pada bulan Januari – Maret 2021 dengan tujuan mengetahui bio-populasi ikan senangin dan ikan arut dari aspek sex ratio, pertumbuhan, TKG (Tingkat Kematangan Gonad), IKG (Indeks Kematangan Gonad), fekunditas, ukuran pertama kali matang gonad (Lm) dan tertangkap (Lc). Total sampel penelitian 113 ekor yang terdiri dari ikan arut 81 ekor dan ikan senangin 32 ekor. Sampel diukur panjang menggunakan penggaris dan ditimbang bobotnya menggunakan timbangan analitik. Pengamatan jenis kelamin dilakukan secara anatomi dengan melihat gonad ikan. Sex ratio ikan sampel selama penelitian adalah 1 : 4 (ikan senangin) dan 1 : 2 (ikan arut). Berdasarkan model pertumbuhan ikan arut sebagai hasil tangkapan utama, diketahui parameter pertumbuhannya yaitu dugaan panjang maksimal tercapai (L∞) 71.26 cm, koefisien pertumbuhan (K) 0.0127 cm dan dugaan umur pada panjang teoritis null (t0) sebesar -1.0665 hari. TKG ikan senangin jantan dominan TKG I dan betina TKG IV. Sampel ikan arut jantan dominan TKG I dan betina TKG III. Kisaran IKG ikan senangin jantan 0.08 – 1.29 dan betina 0.11 – 3.47. IKG ikan arut jantan berkisar 0.08 – 1.62 dan betina 0.38 – 2.34. Nilai Lm ikan arut 30.6 cm dan ikan senangin 40.4 cm. Nilai ukuran Lc pada ikan arut 30.9 cm dan ikan senangin 34.7 cm. ABSTRACT The study was conducted in Tarakan City in January to March 2021 with the aim of finding out the bio-population of the Senangin fish and Arut fish from the aspect of sex ratio, growth, TKG (Gonadal Maturity Level), IKG (Gonadal Maturity Index), fecundity, size at first gonadal maturity (Lm) and caught (Lc). The total sample of the study was 113 fish consisting of 81 Arut and 32 Senangin. Samples were measured in length using a ruler and weighed using an analytical balance. Observation of sex was done anatomically by looking at the fish gonads. The sex ratio of the sampled fish during the study was 1:4 (Senangin fish) and 1:2 (Arut fish). Based on the growth model of Arut fish as the main catch, it was known that its growth parameters reached the estimated maximum length (L∞) 71.26 cm, gowth coefficient (K) of 0.0127 cm, and age estimation at null theoretical length (t0) of -1.0665 days. The male Senangin was dominant of TKG I and female of TKG IV. The male Arut was dominant of TKG I and female of TKG III. The range of IKG of male Senangin was 0.08-1.29 and the female was 0.11-3.47. The IKG of the male arut ranged from 00.08-1.62 and the female 0.38-2.34. The Lm value of Arut was 30.6 cm and Senangin was 40.4 cm. The value of Lc size in Arut was 30.9 cm and Senangin was 34.7 cm.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail