ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan Pelian (Tor tambroides) merupakan salah satu ikan air tawar bernilai ekonomis tinggi yang hidup pada perairan sungai berarus deras dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai aspek reproduksi ikan pelian diperlukan sebagai dasar pemgelolaan dan koservasi sumber daya ikan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan pelian yang meliputi Nisbah Kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), dan Indeks Kematangan Gonad (IKG) di Sungai Mentarang Hulu, Desa Long Berang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan pada Januari – Maret 2026 mengunakan metode deskriftif kuantitatif. Sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan menggunakan alat tangkap jala. Sebanyak 62 ekor ikan pelian berhasil dikumpulkan yang terdiri atas 38 ekor jantan dan 24 ekor betina. Pengamatan dilakukan melalui identifikasi Jenis Kelamin, pengamatan Tingkat Kematangan Gonad serta perhitungan Indeks Kematangan Gonad. Hasil penelitian menunjukan bahwa Nisbah Kelamin ikan Pelian tidak seimbang dengan perbandingan jantan dan betina sebesar 1,0: 0,63, dimana ikan jantan lebih dominan dibandingkan ikan betina. Tingkat Kematangan Gonad ikan jantan ditemukan pada TKG I dan II, sedangkan ikan betina ditemukan pada TKG I, II, III, dan IV. Nilai IKG ikan jantan berkisar antara 0,01 – 0,52%, sedangkan ikan betina berkisar antara 0,17 – 7,10%. Nilai IKG tertinggi ditemukan pada ikan betina TKG IV sebesar 5,73 – 7,10%, yang dimana menunjukan gonad telah matang dan siap memijah. Keberadaan ikan betina pada TKG IV mengindikasikan bahwa Sungai Mentarang Hulu diduga menjadi salah satu lokasi pemijahan ikan pelian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar dalam upaya pengelolaan dan konsrvasi ikan pelian secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Ikan Nemo (Amphiprion ocellaris) ini merupakan spesies yang paling populer dalam perdagangan akuarium laut sehingga permintaan pasar meningkat menjadi populasi ikan Nemo (Amphiprion ocellaris) mengalami penurunan dengan cepat karena eksploitasi di alam yang terjadi secara terus menerus dan menyebabkan kerusakan habitat karang khususnya di pulau maratua. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya pengembangan budidaya ikan nemo untuk mengimbangi tingginya permintaan pasar. Kajian terkait reproduksi ikan Nemo betina di wilayah perairan pulau maratua sebagai awalan untuk melakukan kegiatan budidaya Ikan Nemo. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari biologi reproduksi ikan Nemo betina yaitu panjang berat ikan dan tingkat kematangan gonad ikan. Penelitian ini dilakukan di pulau Maratua Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Pengambilan sampel sebanyak 4 kali selama sebulan dengan setiap pengambilan sampel sebanyak 17 ekor ikan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian menggunakan metode pendekatan dengan cara menghitung dan mengukur panjang, berat dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) ikan Nemo betina kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian bahwa hubungan panjang-berat yaitu nilai b = 1.048232 menunjukkan hubungan panjang, berat bersifat allometrik negatif. Tingkat kematang gonad didapatkan dari TKG I hingga TKG IV dengan Persentase Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu IKG I 1,7 %, IKG II 2,8 %, IKG III 3,3 % dan IKG IV 13,1%, Penentuan indeks kematangan gonad (IKG) ini ditentukan dengan cara terpilih kepada jenis kelamin ikan nemo betina, bahwa nilai IKG dapat digunakan untuk menentukan nilai TKG ikan nemo betina, dari hasil penangkapan selama satu bulan yang terdapat matang gonad ikan betina hanya 14 ekor dari 68 sampel. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi kebijakan pengelolaan perikanan ikan Nemo yang berfokus pada konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Setiap makluk hidup mengalami reproduksi atau perkembangbiakan dalam siklus hidupnya, begitu juga dengan ikan yang memiliki kebiasaan, cara hidup, dan cara makan yang berbeda. Ikan melakukan reproduksi untuk mempertahankan populasinya di alam. Penelitian ini berfokus pada biologi reproduksi ikan tembang (Sardinella lemuru). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mengetahui nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG) dan indeks kematangan gonad (IKG) ikan Tembang di perairan Kabupaten Bulungan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023 sampai dengan Februari 2024 menggunakan alat tangkap Surface trawl dan kelong (Guiding barrier) yang dilakukan di Perairan Kabupaten Bulungan dengan jumlah sampel 50 ekor, dimana ikan jantan sebanyak 17 ekor dan ikan betina sebanyak 33 ekor. Dari banyaknya ikan jantan dan betina maka perbandingan nisbah kelamin antara kelamin jantan dan kelamin betina adalah 1:1.94 Tingkah Kematangan Gonad (TKG) ikan Tembang jantan dan betina dominan TKG IV. Hasil pengamatan dan perhitungan terhadap nilai indeks kematangan gonad ikan Tembang dimana ikan jantan tertinggi sebesar 0,075% pada TKG IV dan terendah sebesar 0,014% pada TKG I. Sedangkan pada ikan Tembang betina nilai IKG tertinggi pada TKG IV sebesar 0,102 % dan terendah sebesar 0,006% pada TKG I.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perbedaan kualitas lingkungan perairan dapat berpengaruh terhadap pemijahan ikan belanak dan ikan mujair. Di dalam tambak pada saat pemeliharaan atau pemanenan didapatkan ukuran yang bervariasi sehingga kemungkinan terjadi proses reproduksi. Salah satunya yaitu ikan mujair yang memiliki variasi ukuran paling lengkap dari kecil hingga besar. Selain itu terdapat ikan belanak yang merupakan habitat aslinya berada di daerah estuari sehingga berkemungkinan tambak merupakan bagian dari siklus hidup reproduksi ikan belanak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data-data akurat tentang aspek reproduksi ikan belanak dan ikan mujair yang meliputi nisbah kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG), dan fekunditas. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan November 2023 hingga Februari 2024 dengan pengukuran kualitas air secara insitu dan pengamatan aspek reproduksi ikan belanak dan mujair. Sampel di dalam tambak dikumpulkan pada saat panen dan pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin pada ikan belanak sebesar 1.00 : 1.65 dan pada ikan mujair sebesar 1.00 : 1.60 Sampel ikan belanak jantan berada pada TKG I – II, sedangkan belanak betina berada pada TKG I – V. Pada ikan mujair komplit dari TKG I – V. IKG tertinggi pada ikan belanak sebesar sebesar 2.76% - 13.10%, dan IKG terendah sebesar 0.02% – 0.41%. Pada ikan mujair rata-rata IKG tertinggi yaitu sebesar 0.08% - 4.66% dan IKG terendah sebesar 0.03% - 0.24%. Fekunditas ikan belanak berkisar 141.550 – 598.194 butir telur dengan korelasi fekunditas dengan panjang sebesar 0.44 dan dengan berat 0.24. Fekunditas ikan mujair berkisar 2.120 – 80.020 butir telur dengan korelasi fekunditas dengan panjang sebesar 0.12 dan dengan berat 0.07. Nisbah kelamin ikan belanak dan ikan mujair tidak seimbang dengan didominasi oleh betina. Jumlah fekunditas tidak berkorelasi positif dengan ukuran ikan belanak dan ikan mujair baik panjang maupun berat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu daerah penangkapan ikan bagi nelayan yang tinggal di Juata Laut adalah perairan Pulau Bangkudulis. Kawasan ini dikenal memiliki potensi keanekaragaman jenis ikan, salah satunya E. tetradactylum. Spesies ini memiliki nilai ekonomi yang penting dan sangat populer di masyarakat. Oleh karena itu, ikan ini memiliki risiko penangkapan ikan yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan populasinya menurun. Perlu dilakukan penelitian tentang aspek biologis dari spesies ini. Salah satu aspek tersebut adalah biologi reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biologi reproduksi E. tetradactylum di perairan Bangkudulis. Diharapkan dapat menambah pengetahuan informasi tentang biologi reproduksi spesies ini. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2021 sampai Februari 2022. Lokasi pengambilan sampel berada di perairan Bangkudulis. Beberapa aspek biologi reproduksi yang diamati adalah Tingkat Kematangan Gonad, Indeks Kematangan Gonad, rasio jenis kelamin, dan fekunditas. Jumlahnya 600 ekor (59 ekor betina dan 541 ekor jantan). Ikan yang telah matang (Stadium III dan IV) dan gonad yang belum matang (stadium I dan II) ditemukan. Rasio jenis kelamin adalah 1:0,1 (laki-laki : betina). Indeks Kematangan Gonad pada betina lebih tinggi 9,87 ± 3,24 dibandingkan jantan, yaitu 0,62 ± 0,29. Perkiraan fekunditas ovarium matang berkisar antara 14.301–50.597 telur dengan berat gonad 13,78 – 57,3 gram.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bawal putih (Pampus argenteus) termasuk dalam kelompok famili stromateidae dan tergolong ikan demersal dan mampu berkembang di wilayah estuaria dan sedikit berlumpur. Kebiasaan makan dan reproduksi ikan bawal putih penting untuk dikaji dalam kegiatan pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kebiasaan makan dan pola reproduksi ikan bawal putih di perairan Pulau Bunyu. Sampel dikumpulkan dari hasil tangkapan tugu mulai dari bulan Oktober sampai dengan November 2021. Pengukuran kualitas air dilakukan secara insitu dan eksitu. Aspek yang dianalisis meliputi persentase ikan lambung berisi (PILB), Index of stomach content (ISC), Index Relatif Penting (IRPI), nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG) dan indeks kematangan gonad (IKG). Hasil penelitian yang terdiri dari ikan (Chordata) dan udang (Crustacea) dengan persentase masing-masing sebesar 33,6% dan 22,1 %. makanan tambahan yaitu lumut sebesar 35,6% dan makanan pelengkap yaitu hancur atau tidak teridentifikasi 9% makanan ikan bawal putih masuk kedalam kategori omnivora. Nisbah kelamin ikan bawal putih memiliki nilai yang tidak seimbang dan menujukkan jika nisbah kelamin jantan lebih dominan dibandingkan dengan nisbah kelamin Betina yang didominasi oleh ikan jantan dengan perbandingan 1:1 sampai dengan 0,1:1 dengan rata-rata 0,40. Sampel ikan bawal putih yang dikumpulkan tidak berada dalam kondisi siap memijah atau lebih dominan berada pada TKG II dengan nilai IKG 0,078- 0,767%. sebaran ukuran bervariasi antara yang dominan pada ukuran 0,056-0,880% yang menunjukkan bahwa dalam fase belum siap untuk memijah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nelayan di Pulau Tarakan menggunakan berbagai macam alat tangkap, dan salah satu alat tangkap yang digunakan adalah rawai dasar (bottom longline). Rawai dasar sebagai salah satu jenis alat tangkap yang dinilai sangat produktif karena pengoperasiannya relatif mudah, selain itu pembiayaan alat tangkap ini relatif murah. Hasil tangkapan Utama nelayan rawai dasar yang berada di perairan Tarakan, adalah ikan arut dan ikan kakap merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan menjelaskan tentang aspek biologi ikan yang mencangkup rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, dan kebiasaan makan, pada hasil tangkapan utama rawai dasar yang didaratkan di Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini di laksanakan selama ± 3 bulan dari bulan Januari - Maret 2021 di perairan Tarakan, Kalimantan Utara, dengan menggunakan metode penelitian purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan, nisbah kelamin pada ikan arut (Pomadasys sp.) dan ikan kakap merah (Lutjanus sp.) hasil tangkapan rawai dasar di perairan Tarakan bahwa ikan betina yang lebih dominan tertangkap. TKG ikan arut jantan dominan TKG II sebanyak 9 ekor dan betina dominan TKG III sebanyak 33 ekor. Ikan kakap merah jantan dominan TKG I sebanyak 19 ekor dan betina dominan TKG I sebanyak 29 ekor. IKG ikan arut jantan dengan nilai tertinggi 0,702% dan untuk betina dengan nilai teringgi 7,988%. IKG ikan kakap merah jantan tertinggi dengan nilai 0,209%, untuk ikan betina dengan nilai tertinggi 1,587%. Fekunditas tertinggi ikan arut pada TKG IV 13.836 butir, pada ikan kakap merah dengan nilai fekunditas tertinggi pada TKG III 4.942 butir. Ikan arut dan ikan kakap merah merupakan ikan yang tergolong karnivora dengan jenis makanan utamanya, yaitu makanan yang lumat atau hancur yang terindikasi dari kelompok jenis chordata dan crustacean, dan makanan tambahan yaitu cumi-cumi (cephalopoda).