ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Biskuit merupakan produk pangan yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional melalui fortifikasi minyak ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan minyak ikan terhadap kadar protein, kadar lemak, profil asam lemak, dan tingkat penerimaan konsumen terhadap produk biskuit. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan tiga perlakuan, yaitu F0 (0%), F1 (1%), dan F2 (2%) sebanyak tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein sebesar 10,76% dan kadar lemak 7,20% pada produk biskuit. Profil asam lemak yang diperoleh SFA dari 10,4089% menjadi 13,3986%, MUFA dari 6,6527% menjadi 8,5512%, dan PUFA dari 1,6954% menjadi 2,2102%. Berdasarkan uji hedonik yang telah dilakukan pada atribut rasa, tingkat penerimaan konsumen yaitu pada perlakuan F1 (1%) sebagai formulasi yang paling disukai panelis. Kesimpulan penelitian ini adalah fortifikasi minyak ikan sebesar 1% menghasilkan biskuit dengan tingkat penerimaan terbaik serta meningkatkan kandungan asam lemak produk.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bekasam merupakan makanan fermentasi tradisional khas Indonesia yang dibuat dari ikan sebagai bahan utama, ditambah dengan garam dan nasi sebagai sumber karbohidrat. Salah satu jenis ikan yang paling cocok untuk digunakan adalah ikan bandeng. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan asam amino dan profil asam lemak pada produk bekasam ikan bandeng hasil fermentasi. Penelitian ssini terdiri dari dua tahap yaitu preparasi sampel dan fermentasi bekasam. Proses fermentasi dilakukan selama 15 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa asam amino dengan kadar tertinggi yang terdeteksi yaitu L-asam glutamat sebesar 14221.605 mg/kg. Profil asam lemak terdiri dari asam lemak jenuh/saturated fatty acid (SFA) sebesar 1,13 %. Asam lemak tidak jenuh tunggal/monounsaturated fatty acid (MUFA) sebesar 0,53% dan asam lemak tak jenuh ganda/polyunsaturated fatty acid ( PUFA) sebesar 0,36%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 14 jenis asam amino dan 20 jenis asam lemak pada fermentasi bekasam ikan bandeng.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS KANDUNGAN GIZI PADA IKAN BANDENG (Chanos chanos) HASIL PEREBUSAN ABSTRAK Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan populer di Indonesia karena tingginya nilai gizi, terutama pada lemak serta protein. Namun, teknik pengolahan seperti perebusan dapat berdampak pada nilai gizi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar protein, kadar lemak, serta profil asam lemak pada ikan bandeng yang diproses secara perebusan. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, pertama yaitu preparasi sampel dan kedua adalah perebusan ikan bandeng. Suhu perebusan yaitu 85℃ selama 20 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar protein sebesar 42,01% dan kadar lemak sebesar 3%. Profil asam lemak terdiri dari kandungan asam lemak jenuh/Saturated Fatty Acids (SFA) sebesar 0,65%, asam lemak tidak jenuh tunggal/Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) sebesar 0,18% dan asam lemak jenuh tidak majemuk/Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) sebesar 0,44%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ikan bandeng yang diolah secara perebusan dapat digolongkan sebagai ikan dengan kadar protein tinggi (>20%) dan kadar lemak rendah (5%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Minyak ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu produk hasil perikanan perikanan yang bernilai gizi tinggi, terutama kaya akan EPA dan DHA, namun sangat rentan mengalami oksidasi selama penyimpanan. Oksidasi ini menyebabkan penurunan mutu minyak melalui peningkatan kadar asam lemak bebas dan nilai peroksida. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas minyak ikan bandeng dengan penambahan bubuk bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) sebagai antioksidan alami selama penyimpanan. Minyak diekstrak dari jeroan ikan bandeng menggunakan metode dry rendering pada suhu 60°C selama 1 jam dan dianalisis nilai rendemennya. Selanjutnya, sampel diberi beberapa perlakuan yaitu 0 gram (tanpa penambahan bubuk bawang dayak) sebagai kontrol, penambahan 1 gram bubuk bawang dayak, dan penambahan 2 gram bubuk bawang dayak per 100 gram minyak. Sampel disimpan selama 16 hari dan dianalisis nilai asam lemak bebas dan nilai peroksidanya. Hasil penelitian menunjukkan rendemen yang diperoleh dari hasil ekstraksi jeroan ikan bandeng sebesar 4,1%. Penambahan bubuk bawang dayak berpengaruh dalam menekan laju oksidasi dengan perlakuan terbaik yaitu pada penambahan bubuk bawang dayak sebanyak 2 gram dengan nilai parameter oksidasi asam lemak bebas sebesar 0,44% dan nilai peroksida 1,3 mEq/kg. Nilai ini telah memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA ≤ 1,5 % dan PV ≤ 5 mEq/kg). Dengan demikian, penggunaan bubuk bawang dayak berpotensi dalam menjaga stabilitas minyak ikan bandeng selama penyimpanan dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan antioksidan alami dalam industri pengolahan hasil perikanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena kandungan gizi yang tinggi, terutama protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun, proses pengolahan seperti deep frying dapat mempengaruhi komposisi nutrisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik mutu ikan bandeng yang diolah dengan metode deep frying, meliputi kadar air, komposisi asam amino, dan profil asam lemak. Metode penelitian meliputi preparasi sampel berupa fillet skin on dengan panjang fillet adalah 8,5 cm dan lebar 2,5 cm. Penggorengan dilakukan pada suhu 180°C selama 10, 15, dan 20 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji hedonik, sebanyak 30 panelis tidak terlatih lebih menyukai ikan bandeng goreng fillet skin on yang diolah secara deep frying pada suhu 180°C selama 10 menit dengan nilai 7. Pada perlakuan tersebut, kadar air ikan bandeng sebesar 40%. Asam amino tertinggi adalah asam glutamat sebesar 23,93 mg/kg. Profil asam lemak didominasi oleh asam lemak jenuh/saturated fatty acid (SFA) sebesar 13,9%, diikuti asam lemak tak jenuh tunggal/monounsaturated fatty acid (MUFA) 11,95%, dan asam lemak tak jenuh ganda/polyunsaturated fatty acid (PUFA) 5,41%. Kesimpulan penelitian ini adalah diperoleh data mengenai karakteristik mutu ikan bandeng yang diolah secara deep frying.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakan merupakan sumber nutrisi yang penting bagi biota akuatik. Salah satu permasalahan pakan yang dihadapi adalah mudah terdegradasi karena faktor lingkungan. Kerusakan ini berpengaruh terhadap kualitas nutrisi pakan. Solusi terhadap permasalahan tersebut adalah teknologi enkapsulasi. Keunggulan enkapsulasi adalah terdapat lapisan dinding polimer sehingga nutrisi pakan didalam dapat terjaga dan bertahan dalam waktu lama. Enkapsulasi dibuat dengan metode koaservasi dan dikeringkan untuk membuat pakan memadat. Tujuan penelitian untuk menguji karakteristik kualitas fisik dan kimia pakan terenkapsulasi dengan variasi waktu pengeringan. Penelitian dilakukan di Laboratorium nutisi pakan Fakultas perikanan dan Ilmu Kelautan dan Laboratorium LSIH Universitas Borneo Tarakan. Penelitian terdiri dari perlakuan waktu pengeringan yaitu 5, 10, 15 dan 20 jam. Parameter pengukuran yaitu stabilitas air, kadar air, abu, rendemen, protein, karbohidrat dan lemak secara duplo. Analisis data secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas air yang sesuai dengan SNI yaitu perlakuan 10, 15 dan 20 jam minimal 85 menit. Kadar air semua perlakuan sesuai SNI maksimal 12%. Kadar abu yang sesuai SNI (maksimal 13%) yaitu perlakuan 5 dan 10 jam sebesar 13 %. Rendemen yang tertinggi yaitu perlakuan 5 jam sebesar 51,31%. Kadar protein semua perlakuan sesuai SNI (maksimal 35%) dengan kadar protein tertinggi pada perlakuan 10 jam sebesar 36,8%. Kadar karbohidrat semua perlakuan sesuai dengan standar pakan yaitu 10-50%. Kadar lemak yang sesuai SNI (minimal 5%) yaitu perlakuan 10 jam sebesar 5,5% dan perlakuan 15 jam sebesar 5%. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan lama pengeringan mempengaruhi kualitas karakteristik pakan, dengan perlakuan terbaik dari semua parameter adalah pengeringan pakan 10 jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting di Indonesia. Daging ikan bandeng mengandung protein 20-24%, lemak 4-8%, dan mineral 1,2-1,5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi minyak jeroan ikan bandeng (Chanos chanos) yang dimurnikan menggunakan adsorben Magnesol XL. Metode penelitian ini menggunakan Deskriptif, Metode ini menggunakan 4 pengujian Rendeman, Asam Lemak Bebas/Free Fatty Acid (FFA), Peroksida/peroxide velue (PV) dan Profil asam lemak Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu ekstraksi jeroan ikan bulan-bulan secara dry rendering pada suhu 70oC selama 1 jam, hasil yang diperoleh dihitung nilai rendemennya. Nilai rendemen minyak ikan bandeng sebesar 16,90%. dan pemurnian minyak ikan melalui proses bleaching dengan penambahan adsorben Magnesol XL 1%, 3% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL terbaik pada konsentrasi 5%. Karakteristik minyak ikan yang diperoleh, yaitu nilai asam lemak bebas 0,74%, nilai peroksida sebesar 3,6 mEq/kg, Hasil uji asam lemak diperoleh SFA sebesar 4,01%, MUFA sebesar 6,65%, dan PUFA sebesar 86,13%. Kesimpulan penelitian ini adalah minyak ikan yang diberi adsorben Magnesol XL pada konsentrasi 5% memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA: ≤ 1,50% dan PV: ≤ 5,00 mEq/kg).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Karakteristik Minyak Hati Ikan Manyung (Arius Sp.) yang Telah Dimurnikan Abstrak Ikan manyung (Arius sp.) merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk dalam kelompok ikan demersal dan banyak diolah menjadi produk-produk diversifkasi Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan manyung banyak dikonsumsi, namun bagian hati hanya terbuang dan menjadi limbah hasil samping olahan ikan. Salah satu upaya agar hati ikan manyung dapat dimanfaatkan, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis formula terbaik pada penambahan magnesol XL, serta menganalisis rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), dan nilai peroksida/ peroxide value (PV). Pemurnian minyak ikan dalam penelitian ini dilakukan melalui proses bleaching menggunakan adsorben Magnesol XL dengan varian konsentrasi 1%, 3%, dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL pada konsentrasi 5% merupakan formula terbaik untuk indikator peroxide value. Nilai rendemen minyak ikan manyung (Arius sp.) yang diperoleh sebesar 32,2%, nilai asam lemak bebas 1,79%, dan nilai peroksida yaitu 4,93 mEq/kg.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Ikan bulan-bulan (Megalops sp) merupakan jenis ikan hasil tangkapan sampingan (HTS). Umumnya, daging ikan ini diolah menjadi berbagai macam produk diversifikasi, tetapi limbah hasil samping olahan tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah ikan bulan- bulan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti minyak ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Magnesol XL terbaik pada proses bleaching minyak ikan dan menganalisis karakteristik kimia minyak ikan bulan-bulan yang dihasilkan, seperti nilai rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu ekstraksi jeroan ikan bulan-bulan secara dry rendering pada suhu 60oC selama 1 jam dan pemurnian minyak ikan melalui proses bleaching dengan penambahan adsorben Magnesol XL 1%, 3% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL terbaik pada konsentrasi 5%. Nilai rendemen minyak ikan bulan-bulan sebesar 72%. Karakteristik minyak ikan yang diperoleh, yaitu nilai asam lemak bebas 0,41%, nilai peroksida sebesar 3 mEq/kg, dan asam lemak dominan yaitu asam palmitat 32,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah minyak ikan yang diberi adsorben Magnesol XL pada konsentrasi 5% memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA: ≤ 1,50% dan PV: ≤ 5,00 mEq/kg).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Peningkatan minat terhadap air tawar sebagai sumber protein yang berkelanjutan, menjadi urgensi penelitian lebih lanjut tentang nilai gizinya. Informasi mengenai kandungan gizi ikan ini perlu dilakukan guna pengembangan produk pangan berbasis ikan di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan nutrisi pada ikan mujair yang ada di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian terdiri dari 2 tahap, yaitu preparasi sampel dan analisis kandungan gizi. Sampel berupa daging ikan mujair. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis proksimat, meliputi kadar air, kadar karbohidrat, kadar protein, kadar lemak, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan nutrisi pada ikan mujair, yakni kadar air sebesar 81%, kadar karbohidrat 2,35%, kadar protein 22,75%, kadar lemak 1,08%, dan kadar abu 1%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kandungan tertinggi yaitu kadar air, sedangkan kandungan terendah yaitu kadar abu. Namun demikian, kandungan protein pada ikan mujair juga tergolong tinggi sehingga ikan ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan berbasis ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tarakan dan Nunukan merupakan salah satu wilayah penghasil komoditas rumput laut di Indonesia. Jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di wilayah Tarakan dan Nunukan adalah Eucheuma cottonii. Eucheuma cottonii berpotensi sebagai sumber makro nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan profil makro nutrisi Eucheuma cottoni dari wilayah Tarakan dan Nunukan. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Eucheuma cottoni dari wilayah Tarakan mengandung karbohidrat sebesar 31,53%, protein sebesar 7,98%, lemak sebesar 0,13%, serat kasar sebesar 1,46%, asam amino sebesar 3,13% dan asam lemak sebesar 17,91%. Sementara itu, Eucheuma cottonii dari wilayah Nunukan mengandung karbohidrat sebesar 27,73%, protein sebesar 4,79%, lemak sebesar 0,17%, serat kasar sebesar 1,59%, asam amino sebesar 4,06% dan asam lemak sebesar 14,26%. Eucheuma cottonii dari wilayah Tarakan dan Nunukan mengandung makro nutrisi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan bergizi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produksi Ikan lele (Clarias sp) dari tahun ke tahun tidak stabil. Peningkatan produksi ikan lele telah dikembangkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan penambahan bahan alami yang kaya akan kandungan nutrisi seperti daun katuk. Daun katuk (Sauropus androgynus) merupakan tanaman herbal yang mengandung kadar lemak yang tinggi dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan metabolisme serta pertumbuhan ikan lele (Clarias sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun katuk (Sauropus androgynus) sebagai bahan alternatif campuran pakan ikan pada pakan buatan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan lele (Clarias sp). Penelitian ini dilaksanakan selama 30 hari dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan konsentrasi P1: (kontrol), P2: (pakan buatan + tepung daun katuk 100 gram/kg), P3: (pakan bautan + tepung daun katuk 150 gram/kg). Berdasarkan analisis statistik ANOVA menunjukkan bahwa pemberian daun katuk pada perlakuan 3 berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan panjang, pertumbuhan berat, SGR (Spesific Growth Rate) dan FCR (Feed Convertion Ratio) pada ikan lele. Jumlah sel hepatosit yang terdapat pada pengamatan histologi menunjukkan sel hepatosit tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (225.636), kemudian perlakuan P2 (224.560), dan terendah pada P1 (218.756). Pemberian pakan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan yaitu P3 dengan konsentrasi (pakan buatan + tepung daun katuk 150 gram/kg). Data pengukuran kualitas air selama masa pemeliharaan menunjukkan nilai suhu 24,7°C–28,7°C, pH 7-7,4, DO 6,6-8,1 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian pemberian pakan buatan yang dicampurkan tepung daun katuk (Sauropus androgynus) yang mengandung kadar lemak yang dapat meningkatkan pertumbuhan ikan lele (Clarias sp) yang diamati dari pertumbuhan dan morfologi sel hati, sehingga daun katuk dapat dijadikan sebagai bahan baku organik dalam pembuatan pakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bulan – bulan (Megalops sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang hidup di perairan pantai dan muara sungai. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan bulan – bulan banyak dikomsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian jeroan ikan tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan jeroan ikan bulan – bulan agar tidak menajdi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rendemen tertinggi minyak ikan yang diekstrak secara dry rendering, dan mengkaji karakteristik minyak ikan bulan – bulan berupa rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/ peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan bulan – bulan (Megalops sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering pada suhu 40oC, 50oC dan 60oC selama 1 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar lemak jeroan ikan bulan – bulan sebesar 17,8%. Rendemen minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) yang tertinggi yaitu suhu 60oC sebesar 20,34%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) terendah yaitu pada perlakuan suhu 60oC sebesar 0,68%. Nilai peroksida/peroxide value (PV) yang terendah yaitu suhu 40oC sebesar 0,44%. Profil asam lemak minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) diperoleh kandungan asam lemak jenuh/Saturated Fatty Acid (SFA) sebesar 49,6%, asam lemak tak jenuh tunggal/Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) sebesar 32,97%, dan asam lemak tak jenuh ganda/Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) sebesar 17,39%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Teripang merupakan salah satu biota laut yang mempunyai nilai penting dan berpotensi sebagai pangan fungsional. Secara ekonomi teripang mempunyai manfaat penting yakni sebagai sumber biofarmaka potensial dan sebagai makanan kesehatan. Teripang digunakan masyarakat pulau Derawan mengolah dan menjual teripang dalam bentuk kering. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi kandungan kimia (proksimat, asam amino, asam lemak, mineral dan logam) dari teripang yang ada di pulau Derawan. Metode penelitian ini terbagi menjadi 4 pengujian meliputi analisis proksimat, asam amino, asam lemak, mineral dan logam. Teripang memiliki kandungan proksimat yaitu protein 66,25%, kadar air 11%, kadar lemak 1,8%, kadar abu 5,85%, dan karbohidrat 14,46%. Analisis asam amino pada teripang ini menunjukkan jumlah asam amino yang lengkap dengan memiliki 19 jenis asam amino baik esensial maupun asam amino non-esensial dengan asam glutamat 9,54%. Analisis asam lemak sebesar 28,75%. Analisis mineral dan logam pada teripang dengan selenium sebagai mineral teringgi sebesar 46.63 mg/Kg dan merkuri yang dihasilkan sebesar 0.02.