ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang digemari masyarakat dan mampu dibudidayakan pada kondisi lingkungan dengan kisaran salinitas yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam metode pengaplikasian pemberian tepung kulit buah pepaya dalam pakan dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan yang berlokasi di Minie heatchry Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Rancangan yang digunakan alam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diaplikasikan adalah Kontrol (0%), P1 (2%), P2 (4%), P3 (6%) dan P4 (%). Ikan Nila yang digunakan berukuran panjang 4 cm dan berat 2gr dengan padat tebar 5 ekor/akuarium. Perubahan yang diamati adalah laju pertumbuhan, panjang ikan nila, berat ikan nila dan kelangsungan hidup. Ikan Nila diberi pakan 3 kali sehari dengan dosis.. dari total biomass. Data pertumbuhan rata-rata berat ikan nila yang terbaik terjadi pada perlakuan P1 (3,07 gr), kemudian perlakuan P4 (2,68 gr), perlakuan P2 (2,61 gr), perlakuan P3 (2,34 gr) dan Kontrol (1,86 gr). Hasil Uji Anova mengenai laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik. Hasil Uji Anova mengenai laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan pertumbuhan ikan nila. Data tingkat kelulusan hidup ikan nila yang terbaik terdapat pada perlakuan P1 sebesar 100% dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakan ikan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi, memiliki nilai kecernaan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan optimum ikan. Daun pepaya yang mampu meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein oleh ikan terhadap pakan buatan yang dikonsumsi, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan nila dengan penambahan tepung daun pepaya dengan konsentrasi yang berbeda. Parameter yang di kaji meliputi Panjang mutlak, Berat mutlak, Survival rate, Spesifik Grouth Rate, Feed Convertion Rate, dan Kualitas Air. Penekitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 ulangan yaitu K 0%, P1 1%, P2 2%, P3 3%, P4 4% gr/kg daun pepaya. Hasil penelitian menunjukkan pakan buatan yang ditambahkan tepung daun pepaya pada perlakuan 3% gr/kg pakan buatan yang mampu menghasilkan 2,24 gr berat spesifik, 1,85 cm panjang mutlak, Feed Convertion Rate (FCR) berada di titik 1,63 (≥1), tingkat kelangsungan hidup ikan nila dengan nilai 93,33% tingkat kelangsungan hidup diatas dari 50% tergolong baik. Namun demikian hasil uji sidik ragam dari keempat perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dari keseluruhan yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan peningkatan pertumbuhan ikan nila dengan penambahan tepung daun pepaya sebanyak 3% gr/kg pakan buatan yang mampu meningkatkan pertumbuhan panjang dan berat ikan nila. Di mana pertumbuhan terbaik dari semua perlakuan yaitu pada perlakuan P3 dengan pemberian pakan 5%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas dan efisiensi mesin penepung tipe disc mill FFC-15 dalam produksi tepung beras dengan menggunakan metode eksperimen melalui pengujian langsung pada mesin. Bahan baku yang digunakan adalah beras putih sebanyak 1 kg pada setiap percobaan, dengan variasi ukuran saringan 2 mm dan 1,5 mm yang masing-masing diuji sebanyak tiga kali untuk memperoleh data yang akurat. Parameter yang dianalisis meliputi kapasitas aktual, efisiensi penepungan, persentase susut massa, persentase tepung tercecer, dan rendemen penepungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran saringan berpengaruh terhadap kinerja mesin, dimana pada saringan 2 mm diperoleh kapasitas aktual sebesar 92,43 kg/jam dengan efisiensi 168,05%, sedangkan pada saringan 1,5 mm kapasitas aktual sebesar 85,84 kg/jam dengan efisiensi 156,07%. Selain itu, persentase susut massa dan tepung tercecer meningkat pada saringan yang lebih kecil, yaitu masing-masing sebesar 3,4% dan 2,73%, dibandingkan saringan 2 mm sebesar 2,63% dan 2,16%, sementara rendemen tertinggi diperoleh pada saringan 2 mm sebesar 97,36%. Secara umum, semakin besar ukuran saringan maka kapasitas dan efisiensi mesin cenderung meningkat, sedangkan saringan yang lebih kecil menghasilkan tingkat kehalusan yang lebih tinggi namun dengan kapasitas dan efisiensi yang lebih rendah, dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja mesin meliputi ukuran saringan, kecepatan putaran mesin, kualitas bahan baku, getaran mesin, serta pengaturan operasional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Pakan merupakan komponen utama dalam budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) yang berkontribusi besar terhadap biaya produksi, terutama akibat ketergantungan pada bahan baku impor seperti tepung ikan. Dengan demikian, diperlukan bahan pakan yang lebih ekonomis namun tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Penelitian ini ditujukan menganalisis pengaruh kombinasi tepung kepala udang serta pakan komersial terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan nener ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: pakan komersil 100%,75% tepung kepala udang + 25% pakan komersial, 50% tepung kepala udang + 50% pakan komersial, 25% tepung kepala udang + 75% pakan komersial, serta tepung kepala udang 100%. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pakan komersial 75% dan tepung kepala udang 25% memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,07 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,038 g, dan nilai FCR terendah sebesar 1,08. Tingkat kelangsungan hidup pada seluruh perlakuan mencapai 100%, menunjukkan bahwasannya penggunaan tepung kepala udang tidak memberikan dampak negatif terhadap viabilitas ikan. Parameter kualitas air saat penelitian berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan nener ikan bandeng. Dapat disimpulkan bahwasannya tepung kepala udang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif yang efektif dan ekonomis dalam budidaya nener ikan bandeng tanpa menurunkan performa pertumbuhan maupun kelangsungan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Pakan merupakan komponen utama dalam budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) yang berkontribusi besar terhadap biaya produksi, terutama akibat ketergantungan pada bahan baku impor seperti tepung ikan. Dengan demikian, diperlukan bahan pakan yang lebih ekonomis namun tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Penelitian ini ditujukan menganalisis pengaruh kombinasi tepung kepala udang serta pakan komersial terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan nener ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: pakan komersil 100%,75% tepung kepala udang + 25% pakan komersial, 50% tepung kepala udang + 50% pakan komersial, 25% tepung kepala udang + 75% pakan komersial, serta tepung kepala udang 100%. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pakan komersial 75% dan tepung kepala udang 25% memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,07 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,038 g, dan nilai FCR terendah sebesar 1,08. Tingkat kelangsungan hidup pada seluruh perlakuan mencapai 100%, menunjukkan bahwasannya penggunaan tepung kepala udang tidak memberikan dampak negatif terhadap viabilitas ikan. Parameter kualitas air saat penelitian berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan nener ikan bandeng. Dapat disimpulkan bahwasannya tepung kepala udang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif yang efektif dan ekonomis dalam budidaya nener ikan bandeng tanpa menurunkan performa pertumbuhan maupun kelangsungan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah nipah (Nypa fruticans) merupakan sumber daya lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional karena mengandung karbohidrat dan serat pangan yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, pemanfaatan buah nipah dalam bentuk tepung masih terbatas, serta belum adanya standar proses pengolahan, khususnya pada tahap pengeringan. Lama dan suhu pengeringan diduga memengaruhi kualitas tepung yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama pengeringan, suhu pengeringan, serta interaksi keduanya terhadap kualitas tepung buah nipah sebagai bahan pangan fungsional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Oktober 2025 di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama adalah lama pengeringan yang terdiri atas 300 menit, 360 menit, dan 420 menit, sedangkan faktor kedua adalah suhu pengeringan yang terdiri atas 70°C, 80°C, dan 90°C, dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar protein, kadar serat kasar, serta uji organoleptik (warna, aroma, dan tekstur). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama dan suhu pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar serat kasar tepung buah nipah, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein. Semakin lama waktu dan semakin tinggi suhu pengeringan, kadar air dan serat kasar cenderung menurun. Perlakuan lama pengeringan 420 menit dan suhu 90°C menghasilkan kadar air terendah, sedangkan kadar serat kasar tertinggi diperoleh pada lama pengeringan 300 menit dan suhu 70°C. Uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan dengan lama dan suhu pengeringan yang lebih rendah menghasilkan warna tepung yang lebih cerah, aroma khas tepung, dan tekstur yang lebih halus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan air payau bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu kendala utama dalam budidaya ikan bandeng adalah tingginya biaya pakan akibat ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber protein. Tepung maggot dari larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) berpotensi menjadi alternatif sumber protein karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan mudah diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan tepung maggot dan tepung ikan, baik secara tunggal maupun kombinasi, terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu A (tepung maggot 100%), B (maggot 75% + tepung ikan 25%), C (maggot 50% + tepung ikan 50%), D (maggot 25% + tepung ikan 75%), dan E (tepung ikan 100%) sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak 0,038 g, panjang mutlak 2,0 cm, nilai FCR 0,99, dan tingkat kelangsungan hidup 85%. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pertumbuhan berat, panjang, dan FCR, sedangkan tingkat kelangsungan hidup tidak berbeda nyata. Disimpulkan bahwa kombinasi tepung maggot 25% dan tepung ikan 75% merupakan formulasi pakan terbaik yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan bandeng. Tepung maggot dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan tanpa menurunkan performa pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FORMULASI TEPUNG MAGGOT DAN PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstrak Pakan merupakan 70% penyumbang biaya terbesar dalam produksi budidaya ikan nila, oleh karena itu diperlukan bahan baku alternatif pembuatan pakan. Salah satu bahan pakan potensial adalah maggot. Maggot mengandung protein sebesar 42,55%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi tepung maggot dan pakan komersial terhadap pertumbuhan ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Metode penelitian ini adalah eksperimen deskriptif kuantitatif dengan 4 perlakuan 3 ulangan, P0 (kontrol), P1 (pakan komersil 70% dan tepung maggot 30%), P2 (50% pakan komersil + 50%tepung maggot), dan P3 (70% pakan komersil dan 30%tepung maggot). Perlakuan P1 menghasilkan pertumbuhan bobot (0,45 g) dan panjang (1,13 cm) yang lebih tinggi, nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang paling optimal (2,87), serta rasio konversi pakan (FCR) terendah (1,88). Hasil tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan nutrisi antara protein dan energi pada perlakuan P1 mampu mendukung pertumbuhan ikan nila merah secara optimal. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan P1 berpengaruh nyata terhadap bobot mutlak, panjang mutlak, SGR dan FCR (P 0,05). Tingkat kelangsungan hidup (SR) ikan pada semua perlakuan mencapai 100%. FORMULASI TEPUNG MAGGOT DAN PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstract Feed accounts for 70% of the largest cost in tilapia cultivation production, therefore alternative raw materials are needed for feed production. One potential feed ingredient is maggot. Maggot contains 42.55% protein. This study aims to determine the effect of maggot flour formulation and commercial feed on the growth of red tilapia (Oreochromis niloticus). This research method is a quantitative descriptive experiment with 4 treatments and 3 replications, P0 (control), P1 (70% commercial feed and 30% maggot flour), P2 (50% commercial feed + 50% maggot flour), and P3 (70% commercial feed and 30% maggot flour). Treatment P1 resulted in higher weight (0.45 g) and length (1.13 cm) growth, the most optimal specific growth rate (SGR) value (2.87), and the lowest feed conversion ratio (FCR) (1.88). These results indicate that the nutritional balance between protein and energy in the P1 treatment is able to support optimal growth of red tilapia. Analysis of variance (ANOVA) results showed that the P1 treatment significantly affected absolute weight, absolute length, SGR, and FCR (P 0.05). The survival rate (SR) of fish in all treatments reached 100%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tepung maggot (Hermetia illucens) merupakan bahan baku alternatif yang kaya protein dan dapat dijadikan sebagai salah satu pakan alternatif untuk budidaya ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan tepung maggot (Hermetia illucens) dalam pakan komersil terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan 4 perlakuan pakan dan 3 kali ulangan, yaitu P0 (100% pakan komersil), P1 (65% pakan komersil + 35% tepung maggot), P2 (60% pakan komersil + 40% tepung maggot), dan P3 (55% pakan komersil + 45% tepung maggot. Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa pakan dengan penambahan tepung maggot mampu meningkatkan kandungan protein hingga 43,75% pada perlakuan P2 (60% pakan komersil + 40% tepung maggot) menghasilkan pertumbuhan panjang mutlak (1,03 cm) dan bobot mutlak tertinggi (1,02 g), nilai Feed Conversion Ratio (FCR) paling efisien (1,62), Specific Growth Rate (SGR) yang tinggi (3,32), serta tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) yang cukup tinggi (93,33%). Hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan formulasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata (P > 0.05) terhadap semua parameter uji. Penambahan tepung maggot pada pakan komersil hingga 40% memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan ikan nila. Maggot meal (Hermetia illucens) is a protein-rich alternative feed ingredient that can be used as an alternative feed for tilapia cultivation. This study aimed to determine the effectiveness of adding maggot meal (Hermetia illucens) to commercial feed on the growth of tilapia (Oreochromis niloticus). This study used a quantitative descriptive method with 4 feed treatments and 3 replications, namely P0 (100% commercial feed), P1 (65% commercial feed + 35% maggot flour), P2 (60% commercial feed + 40% maggot flour), and P3 (55% commercial feed + 45% maggot flour. Maintenance was carried out for 30 days. The results of the study showed that the P2 treatment The results of the proximate test showed that feed with the addition of maggot flour was able to increase protein content up to 43.75% in the P2 treatment (60% commercial feed + 40% maggot flour) resulted in the highest absolute length growth (1.03 cm) and absolute weight (1.02 g), the most efficient Feed Conversion Ratio (FCR) value (1.62), a high Specific Growth Rate (SGR) (3.32), and a fairly high survival rate (93.33%). The results of the physical test (ANOVA) showed that the provision of Feed with different formulations did not significantly affect (P > 0.05) all test parameters. The addition of maggot flour to commercial feed at a concentration of up to 40% yielded the best results for tilapia growth.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kalsium dan fosfor merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam pembentukan tulang, gigi, serta metabolisme tubuh. Kekurangan kedua mineral ini dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti osteoporosis dan stunting. Selama ini sumber utama kalsium dan fosfor berasal dari susu dan suplemen sintetis yang terbatas dan mahal, sehingga diperlukan alternatif sumber mineral alami. Salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan adalah limbah tulang ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides), yang jumlahnya melimpah namun belum optimal pemanfaatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakterisasi tepung tulang ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides) sebagai sumber kalsium dan fosfor menggunakan metode hidrolisis protein. Penelitian dilakukan melalui 2 tahap yaitu pembuatan tepung tepung tulang ikan bulan-bulan, dan analisis proksimat serta kandungan kalsium dan fosfor. Parameter yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, serta kandungan kalsium dan fosfor. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tepung tulang ikan sebesar 22,65%, kadar air 3,66%, kadar abu 78,89%, kadar protein 20,14%, kadar lemak 2,20%, kandungan kalsium 33,06%, dan fosfor 16,14%. Kandungan mineral kalsium dan fosfor yang tinggi menunjukkan bahwa tepung tulang ikan bulan-bulan memiliki potensi sebagai sumber mineral yang baik untuk aplikasi dalam industri pangan dan pakan. Metode hidrolisis protein efektif dalam meningkatkan ekstraksi kalsium dan fosfor dari tulang ikan. Dengan demikian, pengolahan limbah tulang ikan bulan-bulan menjadi tepung tulang dapat menjadi alternatif pemanfaatan hasil samping perikanan yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus mendukung upaya pemenuhan kebutuhan mineral dalam pangan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Karakterisasi Edible Film Dari Rumput Laut (Kappaphycus Alvarezii) Dengan Variasi Penambahan Cmc, Gliserol dan Tepung Mocaf Abstrak Kalimantan Utara memiliki potensi rumput laut yang cukup besar. Rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bakan baku pembuatan kosmetik, farmasi dan industri. Salah satu pemanfaatan dalam bidang industri yakni pembuatan edible film. Edible film merupakan kemasan primer yang berupa lapisan tipis dan berfungsi sebagai pelapis bahan pangan dan digunakan sebagai pembungkus. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakterisasi edible film dari rumput laut Kappaphycus alvarezii (dengan uji kadar air, kuat tarik, ketebalan, kelarutan, daya serap air, dan uji biodegradabilitas) dengan penambahan carboxymethyl cellulose (CMC), gliserol dan tepung mocaf sebagai plasticizer. Metode penelitian ini ada tiga tahapan yakni tahapan pertama pembuatan tepung rumput laut, tahap kedua pembuatan edible film dengan penambahan CMC, gliserol dan tepung mocaf masing-masing 10%. Tahap ketiga pengujian kadar air, daya serap air, kuat tarik, ketebalan, kelarutan, dan biodegradabilitas. Hasil pengujian edible film dengan penambahan CMC menghasilkan kadar air 6,44%, daya serap air 7,80%, kuat tarik 0,87333Mpa, ketebalan 0,25mm, kelarutan 71,42%, dan uji biodegradabilitas sebagian edible film sudah terurai. Hasil pengujian edible film dengan penambahan gliserol menghasilkan kadar air 12,57%, daya serap air 8,94%, kuat tarik 0,84776Mpa, ketebalan 0,22mm, kelarutan 75%, dan uji biodegradabilitas sebagian edible film sudah terurai. Hasil pengujian edible film dengan penambahan tepung mocaf menghasilkan kadar air 10,79%, daya serap air 7,32%, kuat tarik 1,29333Mpa, ketebalan 0,16mm, kelarutan 71,42%, dan uji biodegradabilitas keseluruhan edible film sudah terurai. Hasil dari penelitian ini menujukan bahwa dengan penambahan tepung mocaf pada edible film lebih ramah lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KARAKTERISASI KIMIA BERAS ANALOG RUMPUT LAUT (kappaphycus alvarezii) DARI KALIMANTAN UTARA Abstrak Penduduk Indonesia saat ini sebagian besar masih mengkonsumsi beras padi sebagai makananan pokok yang menyebabkan ketergantungan dan mengakibatkan terjadinya risiko krisis pangan sehingga dibutuhkan pengembangan inovasi dari rumput laut seperti beras analog. Beras analog merupakan pangan fungsional yang diformulasikan dari beberapa bahan yang terbuat dari sereal, umbi-umbian, dan tepung serta memiliki karbohidrat yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formulasi beras analog terbaik dari rumput laut dan menentukan karakterisasi kimia (proksimat, serat kasar, vitamin C, gula total dan fitokimia) beras analog dari rumput laut (kappaphycus alvarezii). Metode penelitian ini di bagi menjadi tiga tahapan yakni tahapan pertama pembuatan tepung rumput laut, tahap kedua formulasi beras analog dengan presentase rumput laut masing – masing 10%, 30%, 50%, tepung rumput laut yang dihasilkan adalah tepung rumput laut tanpa bahan kimia. Tahap ketiga pengujian proksimat, serat kasar, vitamin C, gula total dan fitokimia. Hasil pengujian beras analog 10% kadar air 8%, kadar abu 7%, kadar lemak 7,8%, protein 1,7%, serat kasar 0.62%, karbohidrat 75,5% vitamin C 0,016 mg, gula total 2,83%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, triterpenoid). Hasil pengujian beras analog 30% kadar air 12%, kadar abu 7%, kadar lemak 6,16%, protein 4,4%, serat kasar 0,04%, karbohidrat 71,44%, vitamin C 0,003 mg, gula total 2,69%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, steroid). Hasil pengujian beras analog 50% kadar air 9%, kadar abu 9%, kadar lemak 3,8 % protein 7%, serat kasar 0,22%, karbohidrat 71,2%. Vitamin C 0,045 mg, gula total 2,67%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, triterpenoid).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tepung daun singkong merupakan salah satu upaya pemanfaatan daun singkong (Manihot esculenta crantz). Pengolahan ini menggunakan proses metode pengeringan bahan pangan untuk memperpanjang umur simpan bahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap kualitas tepung daun singkong. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor, yaitu pengeringan oven dengan suhu 40ºC, pengeringan sinar matahari dengan kain hitam, pengeringan rumah kaca dan pengeringan kering angin yang diulang sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah kadar protein, kadar air, dan kadar serat pangan. Berdasarkan hasil perhitungan pada parameter kadar protein memiliki nilai paling tinggi adalah P3 (Pengeringan rumah kaca) sebesar 19,24%, parameter kadar air pada setiap perlakuan terbukti efektif menurunkan kadar air kurang dari 12%, parameter kadar serat pangan tepung daun singkong memiliki nilai sebesar 13,5%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Serangga berpotensi sebagai suber protein hewani. Pemanfaatan serangga sebagai protein dapat diuji menggunakan tikus sebagai hewan perobaan.. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menguji pengaruh penggunaan serangga sebagai bahan pakan tambahan bagi pertumbuhan tikus putih; dan (2) menguji perbedaan pengaruh pertumbuhan tikus putih dengan menggunakan serangga sebagai bahan pakan tambahan tikus putih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 1 faktor yang terdiri dari 4 perlakuan yakni ransum komersial tanpa tambahan tepung serangga (kontrol), ransum komersial ditambahkan tepung serangga jangkrik, ulat hongkong, dan serangga kroto. Masing-masing perlakuan diulang 7 kali, sehingga diperoleh 28 unit percobaan. Analisis data menggunakan Analisis Sidik Ragam (Anova) dan Uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan berat badan tikus, panjang badan, dan sisa pakan antara pemberian pakan komersil dan pemberian pakan komersil yang dicampur dengan tepung berbahan dasar serangga (tepung serangga). Selanjuntnya, pakan komersil yang ditambahkan tepung serangga jangkrik memiliki berat tikus tertinggi dengan rata-rata 5.38 g dan sisa pakan akhir pengamatan terendah dengan rata-rata 0.93 g. Sedangkan, panjang badan tikus tertinggi pada pemberian tepung serangga ulat kroto 1.49 cm
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EFEKTIVITAS TEPUNG MAGGOT (Hermetia illunces) DAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) PADA PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstrak Tepung maggot (Hermetia illunces) adalah larva dewasa dari lalat Black Soldier Fly yang dijadikan tepung untuk digunakan sebagai bahan alami dalam meningkatkan kandungan nutrisi pakan seperti protein. Sedangkan tepung daun pepaya (Carica papaya L.) berasal dari daun tanaman pepaya yang mengandung enzim papain bersifat protease yang dapat memecah protein menjadi asam amino untuk mendukung metabolisme dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari tepung maggot (Hermetia illunces) dan tepung daun pepaya (Carica papaya L.) pada pakan komersil terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bersifat eksperimen menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 5 perlakuan 3 ulangan, P0 (Kontrol), P1 (Tepung maggot 40 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P2 (Tepung maggot 30 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P3 (Tepung maggot 20 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P4 (Tepung maggot 10 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram). Nilai tertingi yang didapatkan pada Panjang Mutlak, Berat Mutlak, Spesific Growth Rate (SGR), Fed Converion Ratio (FCR), terdapat pada P1 (Tepung maggot 40 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram) sedangkan Survival Rate (SR) pada semua perlakuan tidak mengalami kematian pada ikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa efektivitas dari tepung maggot dan tepung daun pepaya pada pakan komersil mampu memberikan rasio pertumbuhan ikan nila yang lebih tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kandungan nutrisi dalam pakan buatan vang dibutuhkan oich ikan umumnya diformulasikan dari bahan mentah nabati dan hewani secara bersama-sama untuk mencapai kandungan nutrisi yang seimbang Nanas mengandung enzim bromelin yang berfungsi memecah protein pakan menjadi asam amino sehingga mudah diserap Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kadar nutrisi pada tepung kulit nanas serta menyimpulkan kualitas kandungan nutrisi tersebut Penelitian ini menggunakan campuran antara tepung komersil dan tepung kulit nanas yaitu Perlakuan 1 85 gram TK-15 gram TKN Perlakuan 2 80 gram TK 20 gram TKN Hasıl dari penelitian ini yaitu kadar lemak terbaik pada perlakuan 2 sebesar 10,12%, kadar karbohidrat terbaik pada perlakuan 1 sebesar 36%, serta kadar air terbaik pada perlakuan 2 sebesar 4.69%. Kesimpulan danı penelitian ini adalah kandungan kadar lemak, karbohidrat serta kadar air pada tepung kulit nanas yang dicampurkan dengan pakan komersil dengan dosis masing- masing sebesar 15 gram dan 20 gram dapat dikategorikan cukup baik untuk digunakan sebagai bahan pakan ikan Kata Kunci Pakan buatan. Tepung kulit nanas, Kandungan nutrisi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan limbah dapat dilakukan dengan memformulasikan kepala ikan nomei menjadi campuran roti tawar yang dibuat dari tepung limbah kepala ikan nomei pada penelitian ini dianalisis parameter gizi yang meliputi energi, kadar air, kadar abu, karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Parameter gizi tersebut kemudian dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tabel komposisi Pangan Indonesia. Menganalisi hedonik pada roti yang diformulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) perbandingan 1%, 5%, dan 10% yang di formulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) Menganalisi protein, lemak, kadar abu, kadar air, dan karbohidrat pada roti yang di formulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) enelitian ini menggunakan kepala ikan nomei sebagai tepung tepung ikan analisis data yang dilakukan deskriptif – kualitataif. Mengetahui nilai variabel mandiri atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menggabungkan antara variabel yang satu dengan lainnya erdasarkan analisis data dan pembahsan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa roti tawar dengan formulasi 1% tepung kepala ikan nomeiadalah formulasi terpilih. mutu roti di SNI NO 1- 3840-1995 untuk kualitas dan uji kadar abu belum dikatakan standar SNI karena nilai kadar abu di formulasi tepung kepala ikan bernilai 4%. Semakin tinngi kadar abu suatu bahan pangan maka semakin buruk kualitas bahan pangan tersebut. Selain itu hasil uji kandungan gizi pada produk roti formulasi tepung kepala ikan nomei di proleh protein 22,75%, energi dari lemak 20,8, kadar air 32%, karbohidrat 51,82.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan cupang adalah ikan hias yang mempunyai daya tarik terhadap warna yang dilihat pada bagian tubuh dan siripnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis Peningkatan Kualitas Warna Ikan Cupang (Betta sp) Melalui Tepung Kepala Udang. Penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan, dengan persentase subsitusi tepung kepala udang yang berbeda. Hasil analisis uji statistic sidik ragam/anova menggunakan SPSS 27 tingkat kualitas warna ikan cupang diperoleh nilai F sebesar 0,761 dengan nilai signifikansi (α) 0,05 sebesar 0,574. Laju peningkatan warna ikan cupang yang paling tinggi diakhir penelitian ini adalah perlakuan E (20%) sebesar 10,33, kemudian perlakuan D (15%) laju peningkatan warna ikan cupang di akhir 8,33, lalu di perlakuan B (5%) laju peningkatan warna ikan cupang di akhir 7,67, dan di perlakuan C (10%) laju peningkatan warna ikan cupang di akhri 6,33, dan untuk perlakuan A (Kontrol) laju peningkatan warna ikan cupang di akhir 5,67. Dapat dikatakan terdapat peningkatan kualitas warna ikan cupang setelah diberikan perlakuan (pemberian dosis kepala udang). Terjadi peningkatan kualitas warna pada ikan cupang disebabkan adanya penambahan tepung kepala udang pada pakan buatan. Tepung kepala udang tersebut mengandung karatenoid yang dapat mempengaruhi secara nyata perubahan dalam peningkatan warna ikan cupang. Penambahan tepung kepala udang dosis 20% menghasilkan tingkat perubahan warna yang lebih baik pada ikan cupang dan lebih efektif dibandingkan dengan dosis tepung kepala udang yang lain.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan Nila merupakan ikan air tawar yang banyak dibudidayakan karena mudah beradaptasi dengan lingkungan. Salah satu kendala dalam budidaya adalah tingginya biaya yang dikeluarkan untuk pakan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbandingan perumbuhan ikan Nila yang diberikan pakan buatan berbahan dasar dari tepung kepala ikan Nomei dengan pakan komersil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan. Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dari bulan September - Oktober 2023 dengan perlakuan pemberian pakan terdiri P1 pakan komersil dan P2 pakan buatan dari tepung kepala ikan Nomei. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari sebanyak 5%. Data pertumbuhan yang diperoleh dianalisis dengan uji T-Test, sedangkan data tambahan berupa kandungan nutrisi pakan dan kualitas air dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan data SNI. Berdasarkan uji proksimat didapatkan kadar air pada pakan buatan yaitu 7%, kadar abu diperoleh 8%, kadar lemak diperoleh 12%, kadar kabrohidrat diperoleh 23,03%, kadar protein diperoleh 51,18%. Hasil rata-rata pertumbuhan panjang dan berat mutlak pada P1 (pakan komersil) yaitu 2,79 cm dan 6,32 gr sedangkan pada P2 (pakan buatan) diperoleh Panjang dan berat mutlak masing-masing 3,19 dan 8,3 gr. Laju pertumbuhan spesifik (SGR) pada P1 diperoleh 5,79 sedangkan P2 sebesar 6,80. Nilai kelangsungan hidup (SR) pada P1 dan P2 masing-masing sebesar 96% dan 98%. Hasil pengukuran kualitas air didapatkan nilai pH pada P1 6,35 – 7,83 dan P2 6,35 – 7,56. Nilai suhu pada P1 26,9 – 29,3 dan P2 27 – 29,7. Hasil Oksigen terlarut pada P1 4.4 dan P2 4 – 4.4. Kandungan ammonia pada P1 sebesar 0,64 – 2,69 mg/l dan P2 0,4 – 1,77 mg/l. Kesimpulan, perlakuan pakan buatan dari tepung kepala ikan Nomei, mampu memberikan nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada ikan Nila lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pakan komersil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan limbah kepala udang merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomisnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui laju pertumbuhan benih ikan lele, dan mengetahui kadar protein pakan buatan yang berasal dari tepung kepala udang terfermentasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan 2 perlakuan 5 ulangan dengan perlakuan A Pakan komersil, perlakuan B Pakan buatan dengan tepung kepala udang. Data kandungan nutrisi pakan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data pertumbuhan dianalisis dengan uji t test. Analisis kandungan kadar air pada pakan buatan sebesar 9%. kadar protein 22,90%, kadar lemak 9,6%, kadar abu 9,64, dan karbohidrat 50,157%. Nilai tertingi yang didapatkan pada panjang ikan, pertambahan bobot ikan, Spesific Growth Rate (SGR), Fed Converion Ratio (FCR), terdapat pada ikan yang diberikan pakan buatan dari tepung kepala udang. sedangkan Survival Rate (SR) nilai tertinggi terdapat pada ikan yang diberikan pakan komersil. Derajat Keasaman (pH), suhu, kandungan oksigen terlarut (DO) terdapat nilai yang masi layak untuk digunakan budidaya. Amoniak berkisar antara 1-2 mlebihi standar SNI. Subtitusi tepung kepala udang dalam pakan buatan telah memenuhi SNI, namun belum mencukupi kebutuhan protein ikan lele. Namun, hasil uji coba pada benih ikan lele diperoleh data pertumbuhan yang tidak berbeda nyata dengan penggunaan pakan komersil.