ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Beras merupakan komoditas pangan strategis yang kualitasnya sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan pada tahap pascapanen. Pengeringan secara konvensional masih banyak digunakan, namun sangat bergantung pada kondisi cuaca sehingga sering menghasilkan kadar air yang kurang seragam dan berpotensi menurunkan mutu beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer terhadap kualitas beras di Pabrik Beras CV. Sahi Jaya Mandiri, Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu metode pengeringan yang terdiri atas pengeringan menggunakan Vertical Dryer, sinar matahari, dan kering angin. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak sembilan kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar karbohidrat, rendemen beras, persentase beras kepala, persentase beras patah, warna beras, dan benda asing. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa metode pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar karbohidrat, rendemen beras, persentase beras kepala, dan persentase beras patah, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air. Secara deskriptif, seluruh perlakuan menghasilkan beras dengan warna normal dan bebas dari benda asing. Penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer menghasilkan kualitas beras terbaik dengan kadar karbohidrat sebesar 78,39%, rendemen beras 66,33%, persentase beras kepala 82,22%, serta persentase beras patah terendah sebesar 17,78%. Seluruh perlakuan menghasilkan kadar air yang memenuhi persyaratan SNI 6128:2020, yaitu kurang dari 14%. Dengan demikian, penggunaan mesin pengering tipe Vertical Dryer merupakan metode pengeringan yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas fisik dan kimia beras dibandingkan pengeringan menggunakan sinar matahari maupun kering angin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah nipah (Nypa fruticans) merupakan sumber daya lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional karena mengandung karbohidrat dan serat pangan yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, pemanfaatan buah nipah dalam bentuk tepung masih terbatas, serta belum adanya standar proses pengolahan, khususnya pada tahap pengeringan. Lama dan suhu pengeringan diduga memengaruhi kualitas tepung yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama pengeringan, suhu pengeringan, serta interaksi keduanya terhadap kualitas tepung buah nipah sebagai bahan pangan fungsional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Oktober 2025 di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama adalah lama pengeringan yang terdiri atas 300 menit, 360 menit, dan 420 menit, sedangkan faktor kedua adalah suhu pengeringan yang terdiri atas 70°C, 80°C, dan 90°C, dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar protein, kadar serat kasar, serta uji organoleptik (warna, aroma, dan tekstur). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama dan suhu pengeringan berpengaruh nyata terhadap kadar air dan kadar serat kasar tepung buah nipah, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein. Semakin lama waktu dan semakin tinggi suhu pengeringan, kadar air dan serat kasar cenderung menurun. Perlakuan lama pengeringan 420 menit dan suhu 90°C menghasilkan kadar air terendah, sedangkan kadar serat kasar tertinggi diperoleh pada lama pengeringan 300 menit dan suhu 70°C. Uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan dengan lama dan suhu pengeringan yang lebih rendah menghasilkan warna tepung yang lebih cerah, aroma khas tepung, dan tekstur yang lebih halus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides) merupakan hasil tangkapan sampingan bernilai ekonomi rendah yang berpotensi diolah menjadi tepung ikan sebagai sumber protein hewani. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi tepung ikan bulan-bulan guna menilai mutu dan keamanannya. Proses produksi meliputi pencucian, pencacahan, pengeringan pada 70°C selama 18 jam, penepungan, dan pengayakan. Analisis dilakukan terhadap rendemen, uji sensorik, distribusi ukuran partikel, kadar air, abu, protein, lemak, serta uji Salmonella sp. Hasil menunjukkan rendemen 22,79%, kadar air 8,54%, abu 6,66%, protein 23,00%, dan lemak 22,80%. Uji sensorik memperoleh skor 7–8 (kategori “suka”), partikel tepung memenuhi SNI 2715:2013 (≥95% lolos 60 mesh), dan uji mikrobiologi negatif terhadap Salmonella sp. Temuan ini menegaskan bahwa tepung ikan bulan-bulan aman, bergizi, dan dapat diterima secara organoleptik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan maupun pakan alternatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tepung daun singkong merupakan salah satu upaya pemanfaatan daun singkong (Manihot esculenta crantz). Pengolahan ini menggunakan proses metode pengeringan bahan pangan untuk memperpanjang umur simpan bahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap kualitas tepung daun singkong. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor, yaitu pengeringan oven dengan suhu 40ºC, pengeringan sinar matahari dengan kain hitam, pengeringan rumah kaca dan pengeringan kering angin yang diulang sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah kadar protein, kadar air, dan kadar serat pangan. Berdasarkan hasil perhitungan pada parameter kadar protein memiliki nilai paling tinggi adalah P3 (Pengeringan rumah kaca) sebesar 19,24%, parameter kadar air pada setiap perlakuan terbukti efektif menurunkan kadar air kurang dari 12%, parameter kadar serat pangan tepung daun singkong memiliki nilai sebesar 13,5%.