Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Formulasi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

karakterisasi kimia beras analog rumput laut (kappaphycus alvarezii) dari kalimantan utara

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

KARAKTERISASI KIMIA BERAS ANALOG RUMPUT LAUT (kappaphycus alvarezii) DARI KALIMANTAN UTARA Abstrak Penduduk Indonesia saat ini sebagian besar masih mengkonsumsi beras padi sebagai makananan pokok yang menyebabkan ketergantungan dan mengakibatkan terjadinya risiko krisis pangan sehingga dibutuhkan pengembangan inovasi dari rumput laut seperti beras analog. Beras analog merupakan pangan fungsional yang diformulasikan dari beberapa bahan yang terbuat dari sereal, umbi-umbian, dan tepung serta memiliki karbohidrat yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formulasi beras analog terbaik dari rumput laut dan menentukan karakterisasi kimia (proksimat, serat kasar, vitamin C, gula total dan fitokimia) beras analog dari rumput laut (kappaphycus alvarezii). Metode penelitian ini di bagi menjadi tiga tahapan yakni tahapan pertama pembuatan tepung rumput laut, tahap kedua formulasi beras analog dengan presentase rumput laut masing – masing 10%, 30%, 50%, tepung rumput laut yang dihasilkan adalah tepung rumput laut tanpa bahan kimia. Tahap ketiga pengujian proksimat, serat kasar, vitamin C, gula total dan fitokimia. Hasil pengujian beras analog 10% kadar air 8%, kadar abu 7%, kadar lemak 7,8%, protein 1,7%, serat kasar 0.62%, karbohidrat 75,5% vitamin C 0,016 mg, gula total 2,83%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, triterpenoid). Hasil pengujian beras analog 30% kadar air 12%, kadar abu 7%, kadar lemak 6,16%, protein 4,4%, serat kasar 0,04%, karbohidrat 71,44%, vitamin C 0,003 mg, gula total 2,69%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, steroid). Hasil pengujian beras analog 50% kadar air 9%, kadar abu 9%, kadar lemak 3,8 % protein 7%, serat kasar 0,22%, karbohidrat 71,2%. Vitamin C 0,045 mg, gula total 2,67%, fitokimia (alkaloid, fenol hidroquinan, triterpenoid).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FORMULASI PEMBUATAN ROTI (Bread) DENGAN MEMANFAATKAN KEPALA IKAN NOMEI (Harpadon nehereus)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pemanfaatan limbah dapat dilakukan dengan memformulasikan kepala ikan nomei menjadi campuran roti tawar yang dibuat dari tepung limbah kepala ikan nomei pada penelitian ini dianalisis parameter gizi yang meliputi energi, kadar air, kadar abu, karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Parameter gizi tersebut kemudian dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tabel komposisi Pangan Indonesia. Menganalisi hedonik pada roti yang diformulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) perbandingan 1%, 5%, dan 10% yang di formulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) Menganalisi protein, lemak, kadar abu, kadar air, dan karbohidrat pada roti yang di formulasikan dengan tepung ikan nomei (Harpodon nehereus) enelitian ini menggunakan kepala ikan nomei sebagai tepung tepung ikan analisis data yang dilakukan deskriptif – kualitataif. Mengetahui nilai variabel mandiri atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menggabungkan antara variabel yang satu dengan lainnya erdasarkan analisis data dan pembahsan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa roti tawar dengan formulasi 1% tepung kepala ikan nomeiadalah formulasi terpilih. mutu roti di SNI NO 1- 3840-1995 untuk kualitas dan uji kadar abu belum dikatakan standar SNI karena nilai kadar abu di formulasi tepung kepala ikan bernilai 4%. Semakin tinngi kadar abu suatu bahan pangan maka semakin buruk kualitas bahan pangan tersebut. Selain itu hasil uji kandungan gizi pada produk roti formulasi tepung kepala ikan nomei di proleh protein 22,75%, energi dari lemak 20,8, kadar air 32%, karbohidrat 51,82.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK KIMIA PAKAN FORMULASI IKAN BERBASIS BAHAN ALAMI

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mahalnya harga bahan baku pakan buatan impor, menyebabkan biaya produksi budidaya ikan menjadi tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan pakan buatan yang bersumber dari alam seperti tepung daun pepaya, tepung buah pepaya, tepung kedelai dan tepung kepala udang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kimia kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar air pada pakan ikan. Penelitian ini menggunakan metode pearson square dengan formulasi, metode yang digunakan untuk menguji protein, lemak, karbohidrat, dankadar air berturut-turutadalah: Kjeldahl, Soxhlet, Clegg Antrone, Gravimetric. Hasil formulasi tepung daun pepaya + tepung kedelai + tepung kepala udang menunjukkan nilai protein 37,18%, lemak 6,8%, karbohidrat 21,22% dan air 8%. Sedangkan formulasi kedua berupa tepung buah pepaya + tepung kedelai + tepung kepala udang menunjukkan nilai protein 28,7%, lemak 3,6%, karbohidrat 23,58% dan air 8%. Berdasarkan kedua formulasi tersebut, Maka formulasi dengan karakteristik kimia terbaik berupa tepung daun pepaya + tepung kedelai + tepung kepala udang. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahw akan dungan kimia dari formulasi tepung daun pepaya + tepung kedelai + tepung kepala udang menjadi pakan dengan formulasi terbaik dengan kandungan protein 37,18%, lemak 6,8%, karbohidrat 21,22% dan air 8%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMANFAATAN TEPUNG KULIT PISANG KEPOK (Musa balbisiana) DALAM FORMULASI PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN LELE DUMBO (Claris gariepinus)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tanaman pisang kepok (M. balbisiana) merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di Kota Tarakan, salah satu wilayah yang banyak ditemukan tanaman pisang kepok yaitu bagian wilayah Karungan. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pertumbuhan benih ikan lele dumbo (C. gariepinus) dengan memanfaatkan tepung kulit pisang kepok (M. balbisiana). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) kemudian dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Pertumbuhan ikan lele dumbo yang baik pada pemberian formulasi tepung kulit pisang kepok yaitu pada perlakuan B (pakan dengan formulasi 10% tepung kulit pisang kepok) diantaranya pertumbuhan berat mutlak ikan lele dumbo (C. gariepinus) yaitu sebesar (2,01 gram), pertumbuhan panjang mutlak yaitu sebesar 2,49 cm, pertumbuhan spesifik (SGR) yang baik pada perlakuan B yaitu 5,74%, dan Survival Rate (SR) yang baik sebesar 93,00%. Dari hasil uji analisis sidik ragam (ANOVA) yang menggunakan uji BNT (Beda nyata terkecil) maka diketahui pertumbuhan panjang mutlak dengan pemberian pakan komersil (perlakuan A) tidak berbeda nyata pada pakan dengan formulasi 10% tepung kulit pisang kepok (perlakuan B), sedangkan pertumbuhan berat mutlak dan laju pertumbuhan spesifik yang menggunakan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) maka diketahui perlakuan A (pakan komersil) merupakan perlakuan yang terbaik. Berdasarkan hasil data kualitas air selama penelitian pada perlakuan A, B, C dan D masih dalam kisaran yang layak bagi petumbuhan benih ikan lele dumbo (C. gariepinus).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

kajian formulasi cair bakteri pelarut fosfat (P) dan bakteri penambat nitrogen (N) pada pertumbuhan tanaman jagung manis (Zea Mays saccharata Sturt)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jagung manis (Zea Mays Saccharata Sturt.) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan di Kota Tarakan. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dengan dosis yang tinggi, menyebabkan kualitas tanah menurun sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung manis. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman tersebut dengan menggunakan pupuk hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi kombinasi Bakteri Pelarut Fosfat dan Bakteri Penambat Nitrogen pada pertumbuhan jagung manis dan kemampuannya dalam menurunkan dosis pupuk anorganik. Bakteri Pelarut Fosfat dan Bakteri Penambat Nitrogen mampu meningkatkan ketersediaan P dan N bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan dengan menguji kompatibilitas isolat-isolat bakteri terlebih dahulu, terdapat 4 kombinasi isolat bakteri yang bersifat kompatible yang digunakan sebagai perlakuan dalam penelitian ini. Pengujian formulasi isolat dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: F0 (100% NPK), F1 (B1(17) + B3(12)) + 50 % NPK, F2 (B5(6) + B3(12)) + 50 % NPK, F3 (B5(6) + B3(16)) + 50 % NPK, F4 (B5(6) + B3(19)) + 50 % NPK, F5 (B1(17) + B3(12)) + 75% NPK, F6 (B5(6) + B3(12)) + 75% NPK, F7 (B5(6) + B3(16)) + 75% NPK, dan F8 (B5(6) + B3(19)) + 75% NPK. Analisis data dimulai dengan Uji Normalitas, dilanjutkan dengan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan diantara semua perlakuan dengan kontrol, tetapi secara umum perlakuan yang menggunakan isolat bakteri dengan penambahan 50% NPK memberikan nilai rata-rata yang lebih baik dari pada perlakuan dengan penambahan 75% NPK. Perlakuan yang memberikan nilai rata-rata terbaik pada semua parameter yang diamati adalah perlakuan F1 (B1(17) + B3(12))+50% NPK, yang mengindikasikan bahwa penggunaan formulasi pupuk hayati mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai dengan 50%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KAJIAN BAHAN PEMBAWA (CARRIER CAIR BAKTERI PELARUT FOSFAT (P) INDIGENOUS

2021•

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi bahan pembawa (carrier) cair yang tepat untuk setiap isolat rhizobakteri sehingga dapat mempertahankan atau meningkatkan aktivitas pelarutan fosfat. Kandungan fosfat didalam tanah cukup tinggi karena aplikasi pupuk P terus menerus tetapi unsur hara P terikat oleh Fe, Al dan Ca sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Fakultas pertanian memiliki 2 isolat rhizobakteri yang mampu melarutkan fosfat, tetapi belum diketahui bahan pembawa yang tepat untuk setiap isolat rhizobakteri agar dapat mempertahankan atau meningkatkan aktivitas pelarutan fosfat. Penelitian ini dilaksanakan di lab Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu: faktor pertama bahan pembawa terdiri dari 3 taraf, P0 (Nutrient Broth), P1 (air kelapa) dan P2 (ekstrak tauge) selanjutnya faktor kedua isolat terdiri dari 3 taraf, B1 (B5(6)), B2 (B1(17)) dan B3 (multi-isolat). Kedua faktor digabungkan menjadi 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan diperoleh 27 unit percobaan. Parameter pada penelitian ini adalah pengukuran pH fomulasi, perhitungan jumlah koloni bakteri pelarut fosfat, pengujian indeks pelarutan fosfat dan perubahan kondisi formulasi diamati setiap 0, 15, 30, 45 dan 60 hari setelah inkubasi. Data yang diperoleh diuji normalitas terlebih dahulu kemudian dianalisis dengan sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahan pembawa yang tepat untuk setiap jenis isolat, yaitu: B1 (B5(6)) pada P2 (ekstrak tauge) dengan jumlah populasi 1,96 x 1011 dan indeks pelarutan fosfat 3,19, B2 (B1(17)) pada P2 (ekstrak tauge) dengan jumlah populasi 1,88 x 1011 dan P1 (air kelapa) dengan indeks pelarutan fosfat 3,02 dan B3 (multi-isolat) pada P1 (air kelapa) dengan jumlah populasi 2,71 x 1010 dan P2 (ekstrak tauge) dengan indeks pelarutan fosfat 2,59. Jumlah koloni bakteri minimum sebesar ≥108 cfu/mL dan formulasi bakteri mampu melarutkan fosfat sebagai standar pupuk hayati menurut Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan/SR.140/10/11.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail