ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tepung testis sapi memiliki kandungan hormon testosteron alami dimana kandungan hormon ini berperan pada proses differensiasi kelamin jantan. Melastoma malabathricum L.atau tumbuhan karamunting memiliki senyawa bioaktif yang mampu meningkatkan kadar testosteron pada tikus jantan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penggunaan tepung testis sapi dan ekstrak daun karamunting sebagai sumber hormon alternatif pada proses maskulinisasi pada ikan nila. Penelitian ini menggunakan ikan nila yang berumur 5-10 hari, dipelihara di aquarium berukuran 80cm x 40cm x 60cm dengan padat tebar 1 ekor/L. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu kontrol (pakan komersil), P1 70% : 30% (tepung testis sapi dan pakan komersil) + 1.5% ekstrak daun karamunting, (P2) 50% : 50% (tepung testis sapi dan pakan komersil) 1.5% ekstrak daun karamunting, (P3) 30% : 70% (tepung testis sapi dan pakan komersil) 1.5% ekstrak daun karamunting. Hasil penelitian menunjukkan persentase jantan dan pertumbuhan berat mutlak menunjukkan nilai yang berbeda nyata, sedangkan Survival Rate menunjukkan nilai tidak berbeda nyata antar perlakuan. Data pengukuran kualitas air, berada pada kisaran yang optimal bagi pemeliharaan benih ikan nila yaitu suhu 27- 28oC, nilai pH 7,0, kadar amoniak (NH3) 0.25 mg/L, dengan nilai DO 8.0 mg/L. Pemberian tepung testis sapi dan ekstrak daun karamunting terhadap proses maskulinisasi ikan nila dapat dijadikan sebagai sumber hormon alternatif selain hormon testosteron sintetik dalam kegiatan produksi benih ikan nila tunggal kelamin menjadi jantan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemanfaatan kotoran sapi dan fly ash dalam bentuk briket komposit dikaji sebagai pendekatan pemanfaatan limbah sekaligus kandidat bahan bakar pendamping pada skema co-firing PLTU. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik briket berdasarkan variasi rasio kotoran sapi dan fly ash serta variasi jenis dan kombinasi perekat alami, kemudian mengestimasi potensi energi listrik secara teoretis. Penelitian eksperimental dilakukan pada 24 formulasi dengan rasio kotoran sapi dan fly ash sebesar 30:60, 40:50, 50:40, dan 60:30. Perekat yang digunakan yaitu tapioka, rumput laut, dan molase dengan variasi perekat tunggal 10% serta kombinasi dua perekat masing-masing 5%. Parameter pengujian meliputi kadar air, persentase residu pembakaran, nilai kalor menggunakan kalorimeter bom, dan durasi pembakaran. Estimasi energi listrik dihitung berdasarkan nilai kalor, massa sampel, dan asumsi efisiensi konversi 40%. Hasil penelitian menunjukkan kadar air sebesar 2,1–6,7%, persentase residu pembakaran 21–42%, dan nilai kalor 5,42–8,95 MJ/kg. Formulasi 60% kotoran sapi, 30% fly ash, dan molase 10% menghasilkan nilai kalor tertinggi sebesar 8,95 MJ/kg dengan kadar air 3,0% dan residu pembakaran 22%. Pada massa sampel 64 g, formulasi tersebut menghasilkan energi termal total sekitar 572,5 kJ dan estimasi energi listrik teoretis sebesar 63,61 Wh per sampel. Persentase residu pembakaran dalam penelitian ini tidak diperlakukan sebagai kadar abu standar karena pengujian tidak menggunakan furnace dengan temperatur dan waktu terkontrol. Selain itu, estimasi energi listrik belum merepresentasikan keluaran aktual PLTU, sehingga kelayakan co-firing masih memerlukan pengujian campuran dengan batu bara, evaluasi emisi, slagging/fouling, dan performa boiler.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Peternakan sapi potong memiliki peran penting dalam penyediaan sumber protein dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga keberlanjutan usahanya menjadi aspek yang perlu dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan: (1) menilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi dan ekonomi usaha peternakan sapi potong Bapak Sholeh; serta (2) mengidentifikasi dan mengkaji atribut sensitif dimensi ekologi dan ekonomi yang berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha peternakan sapi potong Bapak Sholeh. Metode yang digunakan adalah metode Rapfish dengan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS), Leverage Analysis, dan Monte Carlo. Penelitian ini dilakukan di Usaha Peternakan Sapi Potong Bapak Sholeh Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Tarakan Barat menggunakan teknik Purposive Sampling yang memiliki Kriteria tertentu. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, serta data sekunder dari instansi terkait dan literatur pendukung. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan, indeks keberlanjutan usaha peternakan sapi potong Bapak Sholeh berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan nilai 51,73. Secara rinci, dimensi ekologi memperoleh indeks 65,88 (cukup berkelanjutan) dan dimensi ekonomi memperoleh indeks 37,57 (kurang berkelanjutan). Sebanyak tujuh atribut sensitif mempengaruhi keberlanjutan, yaitu pengadaan bibit, serangan penyakit, penanganan hama dan penyakit, kesesuaian agroklimat, persaingan usaha, bantuan ternak dan asuransi, serta hasil pengolahan limbah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH PEMBERIAN JENIS PUPUK ORGANIK CAIR NASA DAN PUPUK ORGANIK PADAT KOTORAN SAPI TERHADAP PRODUKSI TANAMAN TERONG UNGU (Solanum melongena L.) Abstrak Pemberian pupuk organik cair selain menambah unsur hara juga memperbaiki agregat tanah, sehingga tanah menjadi gembur dan memudahkan perakaran tanaman menembus tanah serta menyerap unsur hara dalam memenuhi kebutuhannya. Penggunaan kotoran sapi menjadi pupuk untuk kesuburan tanah tidak hanya akan melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi dari kotoran sapi. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman terong ungu. Melalui pemberian POC NASA dan pupuk kotoran sapi dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh POC NASA dan Pupuk kotoran sapi terhadap hasil produksi tanaman terong ungu. Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Pada bulan Februari sampai dengan Mei 2023. Dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama; POC NASA(N) dengan 4 taraf Konsentrasi (2 ml, 4 ml, 6 ml, 8 ml) POC NASA/1 liter air. Dan faktor kedua; Pupuk Kotoran Sapi (K) dengan 4 taraf (10 ton ha-1 atau setara 150 g polybag-1, 20 ton ha-1 atau setara 225 g polybag-1, 30 ton ha-1 atau setara 300 g polybag-1, 40 ton ha-1 atau setara 375 g polybag-1). Parameter yang diamati yaitu; Panjang buah, Berat buah, Diameter buah, dan jumlah buah. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian yang telah dilaksakan dapat disimpulkan bahwa pemberian POC NASA dengan berbagai konsentrasi dan pupuk kotoran sapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi tanaman terong ungu. Interaksi POC NASA dan pupuk kotoran sapi pada perlakuan N1K1 mempunyai kecenderungan meningkatkan tinggi tanaman terong ungu Yuvita F1 sedangkan N4K4 cenderung memberikan hasil terendah. Kata kunci: Terong Ungu, Pupuk Organik Cair NASA, Pupuk Kotoran Sapi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Seledri ( Apium graveolens L ) merupakan salah satu tanaman sayuran yang penting karena memiliki nilai ekonomis dan manfaat. Tanaman seledri umumnya digunakan sebagai bumbu yang sangat digemari masyarakat, baik di Indonesia maupun di negara-negara yang ada di Eropa, Amerika dan Asia.Adapun yang mendasari dilakukannya penelitian ini yaitu Untuk mengetahui pengaruh urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ), untuk mengetahui apakah dosis POC urin sapi yang di gunakan berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ). Penelitian ini dilaksanakan di Green house Fakultas Pertanian UniversitasBorneo Tarakan, Kalimantan Utara pada Bulan Juli – September2022.Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu fermentasi urin sapi, persiapan lahan dan pengolahan tanah, penyemaian, pindah tanam, pengaplikasian urin sapi, pemeliharaan tanaman, pemanenan, analisis data. Parameter yang akan digunakan dalam penilitian ini adalah jumlah tangkai, tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, berat basah dan berat kering (gram). Dari hasil analisis data dengan menggunakan (ANOVA) dengan taraf 5% dan tingkat kepercayaan 95%. (P0 tanpa dosis urin sapi), (P1 50 ml urin sapi + 950 ml air, (P2 100 ml urin sapi + 900 ml air), (P3 200 ml urin sapi + 800 ml air), dan (P4 400 ml urin sapi + 600 ml air). Pemberian pupuk cair urin sapi dengan konsentrasi 200 ml urin sapi + 800 ml air merupakan perlakuan terbaik karena dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seledri pada parameter tinggi tanaman 9 MST (32.13 cm), parameter jumlah tangkai 10 MST (12.55 tangkai) dengan konsentrasi 400 ml urin sapi + 600 ml air, parameter jumlah anakan 10 MST (3.44 anakan ) dengan konsentrasi pupuk cair urin sapi 50 ml + 950 ml air.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK PADAT DAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir) DI KOTA TARAKAN
ABSTRAK
Aplikasi bahan organik sebagai pembenah tanah mampu memperbaiki kesuburan tanah. Peranan dari pembelahan tanah digunakan tergantung pada jenis dan sifatnya, yakni penggunaan pupuk urea, pupuk kandang ayam, dan pupuk kandang sapi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kandungan dari pupuk organik dan anorganik serta hubungannya dengan pertumbuhan tanaman kangkung darat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakukan yaitu PO = Pupuk urea dengan konsentrasi 0.75 g/polybag, P1 = Pupuk kandang ayam dengan konsentrasi 62,5 g/polybag, P2 = POC ayam dengan konsentrasi 500 mL/polybag, P3 = Pupuk kandang sapi dengan konsentrasi 62,5 g/polybag, P4 = POC sapi dengan konsentrasi 500 mL/polybag. Perlakuan tersebut diberikan sebanyak 4 X yaitu pada waktu 1 minggu sebelum tanaman, 1 minggu setelah tanam, 2 minggu setelah tanam dan 3 minggu setelah tanam. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman, banyak daun, panjang daun, lebar daun, panjang akar, dengan iterval waktu pengamatan setiap 1 minggu sekali serta berat basah dan berat kering oven tanaman yang diamati pada saat panen vegetatif umur 4 minggu setelah tanam. Pada penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan P1 pupuk kandang ayam memberikan nilai rata-rata tertinggi pada tinggi tanaman, banyak daun, panjang daun, lebar daun, berat basah dan berat kering tanaman dengan nilai 42.90%, 20.24%, 15.31%, 4.69%, 30,24%, 3,07% dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan P3 pupuk kandang sapi yang memberikan nilai tertinggi pada panjang akar dengan nilai 10,62%. Pada penelitian ini perlakuan dari P1 dan P3 memberikan nilai terbaik terhadap produktifitas tanaman kangkung darat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berdasarkan data produksi tanaman sayuran dan buah-buahan semusim dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan tahun 2019-2021, melaporkan bahwa produksi tanaman bayam pada tahun 2019 sebesar 26.377 kuintal dengan luas panen 496 ha, tahun 2020 sebesar 27.545 kuintal dengan luas panen 460 ha dan 2021 sebesar 23.779 kuintal dengan luas panen 433 ha. Hal tersebut menunjukkan bahwa produksi bayam di kota Tarakan mengalami penurunan dan memerlukan peningkatan produksi yang mampu meningkatkan produksi bayam salah satunya dengan menggunakan hidroponik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian nutrisi AB mix dan biourine sapi dan mengetahui adanya perlakuan yang mampu memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan 4 ulangan Data hasil penelitian dianalisis sidik ragam dan di uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan taraf 5 %. Pemberian AB mix dan Biourine sapi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam pada hidroponik dengan sistem wick. Pemberian 15 ml/liter air AB mix merupakan perlakuan terbaik karena mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam pada parameter tinggi tanaman 4 MST (21,66 cm), jumlah daun 4 MST (± 8 helai), lebar daun 4 MST (6.47 cm), Panjang akar (18,57 cm), dan Diameter batang (0,60 cm). Pemberian 15 ml/liter air AB mix mampu meningkatkan hasil tanaman bayam dengan berat basah tumbuhan pada 4 MST mencapai 14,96 gram pertanaman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian kotoran sapi terhadap pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp) serta mengetahui dikonsentrasi berapa yang sesuai dengan pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Media perlakuan terdiri dari perlakuan satu kotoran sapi 20% dan lumpur 80%, perlakuan dua kotoran sapi 30% dan lumpur 70%, perlakuan tiga kotoran sapi 40% dan lumpur 60%, kontrol negatif 100% lumpur, dan kontrol positif kotoran sapi hasil olahan biogas 20% dan lumpur 80%. Parameter yang diamati meliputi biomassa dan populasi cacing sutra, serta kualitas air sebagai penunjang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian media kotoran sapi dengan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kepadatan populasi dan biomassa cacing sutra. Nilai populasi dan biomassa yang mengalami penaikan terdapat pada perlakuan 3 menghasilkan cacing sutra sebanyak 0,16 gram dan ±67 individu. Berdasarkan data kualitas air selama penelitian diperoleh kisaran suhu 30-32 °C, nilai pH kisaran 5-7 dan nilai do kisaran 5-9.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman jagung (Zea mays L) merupakan tanaman pangan penting di Indonesia yang kaya kandungan gizi dan memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Salah satu faktor penunjang pada keberhasilan budidaya jagung adalah ketersediaan hara yang cukup serta lingkungan tumbuh yang optimal bagi pertumbuhan vegetatif tanaman jagung. Pemenuhan kebutuhan unsur hara pada tanaman jagung dapat diperoleh dari media tanamnya sendiri maupun penambahan pupuk dari luar. Pupuk yang dianjurkan dan baik digunakan adalah urin sapi selain menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman, juga dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian urin sapi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagun (Zea mays L). Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kampung satu Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - Juni 2020. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan. Dengan parameter pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, dan berat kering. Hasil penelitian adalah sebagai berikut, pemberian urin sapi pada tanaman jagung mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif jagung, yaitu pada tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), berat basah (gram) berat kering (gram). Pemberian urin sapi dengan perlakuan P1 konsentrasi 300 ml/L memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung (Zea Mays L) yaitu pada parameter tinggi tanaman 3MST - 8 MST (14,3 cm), (18,2 cm), (21 cm), (24,9 cm), (28,8 cm), (31,6 cm), parameter jumlah daun 3 MST – 8 MST (3,8 helai), (4,9 helai), (5,7 helai), (6,6 helai), (7,2 helai), (7,9 helai), parameter berat basah (24,3 gram), dan berat kering (9,9 gram).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGEMBANGAN TERNAK DISUATU WILAYAH DI PENGARUHI SDA DAN SDM SERTA KOMODITAS YANG DITANAM DAN DIMANFAATKAN SEBAGAI SUMBER PAKAN TERNAK, MAKA DIPERLUKAN ANALISIS POTENSI. PENELITIAN INI BERTUJUAN MENGETAHUI TERKAIT KECAMATAN YANG BERPOTENSI MENJADI BASIS PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG DAN MENGIDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG. PENELITIAN INI DILAKUKAN DI KOTA TARAKAN DILAKUKAN PADA DESEMBER 2019 SAMPAI JUNI 2020. JENIS PENELITIAN INI DESKRIPTIF KUANTITATIF. PENENTUAN SAMPEL MENGGUNAKAN KUOTA DIMANA SAMPEL YANG DIAMBIL 40 PETERNAK YANG TERBAGI 4 KECAMATAN, DATAA YANG DIGUNAKAN ADALAH DATA PRIMER YANG DIPEROLEH DARI PETERNAK SAPI POTONG DAN DATA SEKUNDER DARI BPS KOTA TARAKAN, DINAS PERTANIAN, PANGAN DAN PERIKANAN KOTA TARAKAN. METODE YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS ADALAH ANALISIS LQ UNTUK POTENSI BASIS KECAMATAN, ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH MENGGUNAKAN ANALISIS KEPADATAN TERNAK. HASIL PENELITIAN INI ADALAH NILAI LQ KECAMATAN TARAKAN UTARA SEBESAR 1,44 DAN KECAMATAN TARAKAN TIMUR SEBESAR 1,59 MENJADI WILAYAH BASIS TERNAK SAPI POTONG. BERDASARKAN POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH DAN ANALISIS SPASIAL BAHWA KECAMATAN TARAKAN UTARA MENJADI PRIORITAS PERTAMAN DALAM WILAYAH PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN. KECAMATAN TARAKAN TIMUR DAN KECAMATAN TARAKAN TENGAH MENJADI PRIORITAS KEDUA DALAM WILAYAH PENYEBARAN, PENGEMBANGAN DAN PEMANTAPAN. KECAMATAN TARAKAN BARAT MENJADI PRIORITAS TERAKHIR MENJADI WILAYAH PEMANTAPAN DAN WILAYAH PENYEBARAN.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRACT Silkworms (Tubifex tubifex) are natural fish feed that used in the maintenance of ornamental fish and consumption, particularly on the phase of the juvenile. The study aimed to determine the effect of the utilization of the waste of cow and catfish in silkworm cultivation with a recirculation system to increase productivity and biomass of silkworm. The research method used was experimental, consisting of two treatments, such as the waste of cow and catfish with four replications. The results showed the highest productivity and biomass of the silkworm obtained in the treatment of the catfish waste was 170 g and for the treatment of the cow waste, it showed a lower biomass rate was 76 g. The results of water quality measurements during the study showed temperatures ranging from 24.7 to 29.7 C °, pH was in the range of 7, ammonia levels (NH3) ranged from 0.557-3 mg / L, nitrate levels ranged from 0.235 to 0.391 mg / L, and dissolved oxygen (DO) ranged from 2.01 to 4.49 ppm. The conclusion showed that treatment with catfish wastes has a significant effect on the increase of the silkworm biomass (Tubifex tubifex), The final total weight was 170 g with the average weight of 27.5 g and the nutrient content was