ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Hiu sungai (Glyphis fowlerae ) merupakan spesies langka yang hidup di sungai, estuari, dan muara dengan tingkat kekeruhan tinggi. Sebagai predator puncak, spesies ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan, namun populasinya terancam degradasi habitat, penangkapan sampingan, dan minimnya data biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakter morfometrik, meristik, dan pola pertumbuhan hiu sungai di Perairan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Penelitian dilakukan Oktober 2025–April 2026 menggunakan metode purposive sampling dengan 40 sampel hasil tangkapan nelayan. Analisis meliputi pengukuran 23 krakter morfometrik, pengamatan visual meristik, evaluasi hubungan panjang-berat melalui persamaan, serta perhitungan faktor kondisi (Condition Factor). Hasil menunjukkan tubuh hiu sungai berbentuk fusiform dengan rasio panjang cagak terhadap panjang total sekitar 84%, mendukung kemampuan berenang secara efisien. Karakter meristik terdiri dari dua sirip punggung, dua sirip dada, dua sirip perut, satu sirip anal, satu sirip ekor, lima celah insang, serta jumlah gigi rahang atas 24–25 dan rahang bawah 27–36. Nilai eksponen pertumbuhan (b) 3,0814 pada jantan dan 3,0897 pada betina menunjukkan pertumbuhan cenderung allometrik positif, namun secara statistik mendekati isometrik. Dengan indeks rata-rata 0,666 pada jantan dan 0,645 pada betina menandakan kondisi populasi bentuk pipih. Temuan ini menyediakan informasi dasar penting untuk mendukung pengelolaan dan konservasi hiu sungai secara berkelanjutan di Perairan Sesayap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji komposisi ukuran, sebaran panjang, hubungan panjang–berat, dan faktor kondisi ikan demersal hasil tangkapan rawai dasar di perairan Pulau Sebatik, Indonesia. Pengukuran panjang total dan bobot tubuh dilakukan pada ikan yang ditangkap oleh nelayan skala kecil, dan data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi ukuran, model panjang–berat W = aLᵇ, serta faktor kondisi Fulton (K). Hasil tangkapan didominasi oleh spesies dari famili Lutjanidae, Haemulidae, Serranidae, Polynemidae, dan Carangidae, yang umum ditemukan pada komunitas ikan demersal perairan tropis. Sebaran ukuran bervariasi antarspesies, dengan dominasi individu berukuran sedang, menunjukkan struktur populasi yang relatif stabil. Nilai eksponen b pada sebagian besar spesies mendekati 3, menandakan pola pertumbuhan isometrik, sementara beberapa spesies menunjukkan kecenderungan alometrik positif. Nilai faktor kondisi umumnya berada pada kategori baik, mencerminkan kondisi fisiologis ikan yang sehat serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan informasi dasar yang penting mengenai karakteristik populasi ikan demersal di perairan Sebatik dan berkontribusi pada pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di wilayah Indonesia timur
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Abstrak Tanaman mentimun merupakan salah satu tanaman yang termasuk kedalam famili Cucurbitaceae. Salah satu permasalahan pada tanaman mentimun disebabkan oleh adanya serangan hama dan penyakit. Hama utama yang sering ditemukan pada tanaman mentimun yaitu lalat buah (Bactrocera spp.). Untuk mengurangi serangan hama lalat buah dapat digunakan beberapa perangkap yaitu perangkap kuning berperekat dan perangkap atraktan.Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas dari perangkap kuning berperekat dan atraktan terhadap populasi lalat buah serta mengetahui jenis spesies apa saja yang terdapat pada tanaman mentimun. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif yang dimana ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 spesies lalat buah yaitu: Bactrocera papayae, Bactrocera dorsalis, Bactrocera umbrosa dan Bactrocera carambolae dengan jumlah populasi sebanyak 1.000 populasi lalat buah. Berdasarkan analisis data penggunaan perangkap atraktan lebih efektif mencapai 98% dibandingkan dengan perangkap kuning berperekat 0,4% populasi lalat buah. Kerusakan yang disebabkan oleh lalat buah yaitu mencapai 95%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan usaha bidang perikanan di Indonesia saat ini sudah berkembang pesat, tercatat bahwa dalam periode tahun 2020 – 2021 pertumbuhan produksi perik anan budidaya mencapai 9,0% pertahun. Usaha pembesaran ikan konsumsi sangat bergantung dari pembenihan yang dapat menghasilkan benih yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Pakan alami yang digemari oleh ikan adalah cacing sutra karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu mencapai 52,49%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair (POC) terhadap biomassa dan populasi cacing sutra (Tubifex sp), pupuk organik cair (POC) keong mas adalah larutan dari hasil fermentasi memiliki kandungan unsur hara lebih dari satu unsur hara mikro yaitu Fe 0,02803 ppm, Zn 0,0809 ppm, Cu 0,0034 ppm, Mn 0,3996 ppm, B 0,0517 ppm, Mo 0,00001 ppm. Data dianalisis berdasarkaan Berat biomassa pertumbuhan panjang cacing sutra kemudian dianalisis secara statistik menggunakan Anova dengan program SPSS.20. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik cair (POC) keong mas memberikan pengaruh dengan berat rata-rata tertinggi K3 sebesar 10.858 g, dengan pertumbuhan harian yaitu 0,0028 g/30 ekor, populasi terbaik terdapat pada K1 yaitu sebesar 2571.50, protein 43,1-45,7 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cacing sutra merupakan salah satu jenis pakan alami yang disukai oleh benih ikan karena pertumbuhan benih sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan dan jenis pakan yang diberikan. Ampas tahu merupakan limbah organik yang dapat digunakan sebagai suplai makanan untuk menopang pertumbuhan cacing sutera karena memiliki nilai protein yang cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengunaan ampas tahu dengan dosis yang berbeda untuk pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp). Cacing sutra sebanyak 10gr dipelihara pada wadah berukuran 35cmx28cmx15cm selama 20 hari. Adapun perlakuan yang diberikan yaitu Kontrol (Lumpur 100%) P1 (Lumpur 70% dan Ampas tahu 30%) P2 (Lumpur 60% dan Ampas Tahu 40%) P3 (Lumpur 50% dan Ampas Tahu 50%). Hasil penelitian menunjukkan nilai biomassa dan populasi cacing sutra memiliki nilai yang berbeda nyata bila dibandingkan kontrol dengan nilai terbaik pada P3 dan terkecil pada kontrol. Data pengukuran kualitas air dalam kondisi yang baik yaitu suhu 26,3-27,5oC, pH 6-7 dan DO 3,1-4 mg/L. Hasil uji kandungan bahan C-organik yang terdapat pada tanah sebesar 0.59%. Berdasarkan hasil penelitian pemberian ampas tahu yang dicampurkan pada media pemeliharaan mampu meningkatkan biomassa cacing sutra dan populasi cacing sutra secara signifikan karena mengandung protein yang baik untuk pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cacing sutra (Tubifex sp) merupakan salah satu pakan alami yang dibutuhkan dalam pembenihan ikan khususnya pada fase larva, karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian fermentasi ampas tahu dan limbah sayuran terhadap pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari fermentasi ampas tahu dan kotoran ayam, fermentasi limbah sayuran dan kotoran ayam fermentasi ampas tahu, limbah sayuran dan kotoran ayam, parameter yang diamati meliputi biomassa dan populasi cacing sutra, serta kualitas air sebagai penunjang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian media ampas tahu dan limbah sayuran dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh atau berbeda nyata terhadap pertumbuhan biomassa dan populasi cacing sutra. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan dua menghasilkan cacing sutra sebanyak 13,4g dan populasi ±19,250 individu. Berdasarkan data kualitas air selama penelitian diperoleh kisaran suhu 28-29,5 °C, nilai pH kisaran 7,5-8,2 dan nilai DO kisaran 5-9.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian kotoran sapi terhadap pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp) serta mengetahui dikonsentrasi berapa yang sesuai dengan pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Media perlakuan terdiri dari perlakuan satu kotoran sapi 20% dan lumpur 80%, perlakuan dua kotoran sapi 30% dan lumpur 70%, perlakuan tiga kotoran sapi 40% dan lumpur 60%, kontrol negatif 100% lumpur, dan kontrol positif kotoran sapi hasil olahan biogas 20% dan lumpur 80%. Parameter yang diamati meliputi biomassa dan populasi cacing sutra, serta kualitas air sebagai penunjang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian media kotoran sapi dengan konsentrasi yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kepadatan populasi dan biomassa cacing sutra. Nilai populasi dan biomassa yang mengalami penaikan terdapat pada perlakuan 3 menghasilkan cacing sutra sebanyak 0,16 gram dan ±67 individu. Berdasarkan data kualitas air selama penelitian diperoleh kisaran suhu 30-32 °C, nilai pH kisaran 5-7 dan nilai do kisaran 5-9.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Penelitian terkait reproduksi ikan khususnya tentang Lm dan Lc pada hasil tangkapan rawai dasar yang ada di Pulau Tarakan perlu dilakukan pengkajian, guna menjaga kelestarian dan keberadaan populasi ikan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan data ukuran panjang total dan standar serta berat ikan, mendapatkan data karakteristik dan tingkat kematangan gonad ikan, serta menjelaskan ukuran pertama kali matang gonad dan ukuran pertama kali tertangkap ikan hasil tangkapan utama perikanan rawai dasar yang didaratkan di Kota Tarakan. Metode penelitian menggunakan metode observasi dengan pengamatan dan pengukuran ikan hasil tangkapan rawai dasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2021. Hasil pengukuran sampel ikan Arut (Pomadasys sp) diperoleh kisaran panjang total 24,7-51,9 cm, berat berkisar 237-2150 gram dan panjang standar 18,8-40,3 cm. Sampel ikan Kakap Merah (Lutjanus sp) diperoleh kisaran panjang total 32,0-50,8 cm, panjang standar 25,8-45,2 cm dan berat berkisar 509-2640 gram. Hasil pengamatan karakteristik Tingkat Kematangan Gonad (TKG) sampel ikan Arut (Pomadasys sp) berada pada TKG I-V dan sampel ikan Kakap Merah (Lutjanus sp) diperoleh TKG I-III. Hasil pengukuran Lm dan Lc sampel ikan Arut (Pomadasys sp) diperoleh nilai Lm > Lc (Lm = 30,17 cm; Lc = 25,98 cm) dan nilai Lm dan Lc pada sampel ikan kakap merah (Lutjanus sp) menunjukan Lm > Lc (Lm = 41,51 cm; Lc = 36,39 cm).