Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

7 hasil
Subjek: Seledri
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN DAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian pengaruh interval penyiraman dan komposisi media tanam terhadap pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.) untuk mengetahui pengaruh interval penyiraman dan komposisi media tanam, terhadap pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.). Penelitian dilaksanakan di screen house dan laboratorium Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan, mulai bulan Juni hingga Agustus 2025. Metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang sebanyak empat kali. Faktor pertama adalah interval penyiraman (3 hari sekali, 5 hari sekali, dan 7 hari sekali). Faktor kedua adalah komposisi media tanam (tanah murni sebagai kontrol, campuran arang sekam dan tanah, dan campuran serbuk gergaji dan tanah). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah tangkai daun, jumlah anakan, berat basah tanaman, dan berat basah akar. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) taraf 5% dan diuji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tunggal interval penyiraman memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan tanaman seledri. Sebaliknya, faktor tunggal komposisi media tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Penggunaan media serbuk gergaji dan tanah (M3) menghasilkan rata-rata tanaman tertinggi sebesar 17,00 cm pada umur 35 hari setelah tanam (HST). Interaksi antara kedua faktor memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan berat basah tanaman. Kombinasi perlakuan antara penyiraman 3 hari sekali dengan media serbuk gergaji dan tanah (P1M3) menghasilkan tinggi tanaman optimal mencapai 19,00 cm pada 35 HST. Sementara itu, kombinasi perlakuan penyiraman 5 hari sekali dengan media tanah murni (P2M1) menghasilkan rata -rata berat basah tanaman tertinggi yaitu sebesar 22,25 gram.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Sistem irigasi tetes (drip irrigation system) pada pertanaman seledri (apium graveolens, L) : Evaluasi pertumbuhan dan produksi tanaman serta analisis efisiensi dan kelayakan usaha

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengelolaan air yang efisien sangat penting untuk mendukung pertanian berkelanjutan di tengah meningkatnya kelangkaan air akibat perubahan iklim. Praktik irigasi konvensional sering menyebabkan kehilangan air yang besar, sedangkan irigasi tetes memungkinkan penyaluran air secara presisi langsung ke zona perakaran sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan air dan produktivitas tanaman. Seledri (Apium graveolens L.), sebagai tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan sistem perakaran dangkal, sangat peka terhadap cekaman air dan membutuhkan kondisi kelembapan tanah yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pengaruh lama waktu irigasi tetes terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman seledri dan menentukan durasi irigasi tetes terbaik guna mendukung pertumbuhan tanaman seledri, (2) Membandingkan efisiensi penggunaan air antara sistem irigasi konvensional dan sistem irigasi tetes pada berbagai durasi waktu, (3) Melakukan analisis kelayakan finansial terhadap penerapan irigasi tetes pada tanaman seledri. Penelitian dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan pada Desember 2024 hingga Desember 2025. Perlakuan yang diuji meliputi irigasi tetes dengan durasi penyiraman 10, 15, dan 20 menit yang dilakukan dua kali sehari, serta penyiraman konvensional sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi irigasi tetes 20 menit menghasilkan pertumbuhan dan produksi tertinggi, dengan tinggi tanaman 17,78 cm, jumlah daun 11,78 helai, jumlah anakan 4,33, berat segar 64,03 g, dan berat kering 11,17 g. sedangkan efisiensi penggunaan air terbaik diperoleh pada durasi 10 menit sebesar 0,0033 m3/s. Analisis kelayakan finansial terhadap penerapan irigasi tetes pada tanaman seledri dengan total biaya produksi sebesar Rp. 2.101.622, total penerimaan Rp.3.660.000, dan total pendapatan Rp. 1.558.378. Nilai R/C Ratio 1,74, nilai B/C Ratio sebesar 1,34, dan BEP 0,46.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Seledri (Apium graveolens L) di Kelurahan Kampung Enam Kota Tarakan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pendapatan dan kelayakan usahatani seledri di Kelurahan Kampung Enam Kota Tarakan. Responden dalam penelitian ini terdiri dari 15 orang petani yang menggarap usahatani seledri yang ditentukan melalui metode sensus. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner. Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumentasi, catatan, jurnal dan lain-lain yang dibutuhkan dalam penelitian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah R/C Ratio, B/C Ratio, BEP produksi, BEP harga, NPV1, NPV2, dan IRR. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) rata-rata pendapatan yang diterima petani seledri di Kelurahan Kampung Enam Kota Tarakan dalam satu kali musim tanam adalah sebesar Rp. 1.417.349, (2) analisis kelayakan R/C Ratio sebesar 4,46, B/C Ratio sebesar 3,77, nilai BEP produksi sebesar 56,313 Kg, BEP harga sebesar Rp. 119,122, mendapatkan NPV1 sebesar Rp. 1,288,499, NPV2 sebesar 1,757,513, dan IRR sebesar 48%. Hal ini dapat diartikan bahwa usahatani seledri di Kelurahan Kampug Enam Kota Tarakan layak untuk diusahakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kajian pengunaan VOC urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri (apium grapeolens L.)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Seledri ( Apium graveolens L ) merupakan salah satu tanaman sayuran yang penting karena memiliki nilai ekonomis dan manfaat. Tanaman seledri umumnya digunakan sebagai bumbu yang sangat digemari masyarakat, baik di Indonesia maupun di negara-negara yang ada di Eropa, Amerika dan Asia.Adapun yang mendasari dilakukannya penelitian ini yaitu Untuk mengetahui pengaruh urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ), untuk mengetahui apakah dosis POC urin sapi yang di gunakan berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ). Penelitian ini dilaksanakan di Green house Fakultas Pertanian UniversitasBorneo Tarakan, Kalimantan Utara pada Bulan Juli – September2022.Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu fermentasi urin sapi, persiapan lahan dan pengolahan tanah, penyemaian, pindah tanam, pengaplikasian urin sapi, pemeliharaan tanaman, pemanenan, analisis data. Parameter yang akan digunakan dalam penilitian ini adalah jumlah tangkai, tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, berat basah dan berat kering (gram). Dari hasil analisis data dengan menggunakan (ANOVA) dengan taraf 5% dan tingkat kepercayaan 95%. (P0 tanpa dosis urin sapi), (P1 50 ml urin sapi + 950 ml air, (P2 100 ml urin sapi + 900 ml air), (P3 200 ml urin sapi + 800 ml air), dan (P4 400 ml urin sapi + 600 ml air). Pemberian pupuk cair urin sapi dengan konsentrasi 200 ml urin sapi + 800 ml air merupakan perlakuan terbaik karena dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seledri pada parameter tinggi tanaman 9 MST (32.13 cm), parameter jumlah tangkai 10 MST (12.55 tangkai) dengan konsentrasi 400 ml urin sapi + 600 ml air, parameter jumlah anakan 10 MST (3.44 anakan ) dengan konsentrasi pupuk cair urin sapi 50 ml + 950 ml air.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KERAPATAN NAUNGAN PARANET TERHADAP HASIL TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH KERAPATAN NAUNGAN PARANET TERHADAP HASIL TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) Abstrak Seledri (Apium graveolens L.) termansuk dalam famili Apiaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digunakan untuk penyedap dan penghiasan hidangan. Tanaman seledri dapat tumbuh baik di tempat yang bersuhu dingin, sehingga untuk mengusahakan di dataran rendah perlu penggunaan naungan. Tanaman seledri merupakan salah satu tanaman yang dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan diantarannya intensitas cahaya, suhu dan kelembaban yang tinggi. Untuk mengurangi intensitas cahaya, suhu yang tinggi serta meningkatkan kelembaban, maka salah satu upaya budidaya adalah dengan menggunakan naungan. Kerapatan naungan paranet merupakan salah satu cara untuk memanipulasi lingkungan untuk pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan kerapatan naungan paranet yang cocok untuk pertumbuhan tanaman seledri (Apium graveolens L.). Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian satu faktor dengan total 5 perlakuan yang di ulang sebanyak 5 kali dengan 4 tanaman sampel setiap disetiap perlakuan. Perlakuannya yaitu P0 = control (tanpa naungan paranet), P1=Kerapatan naungan paranet 50%, P2=Kerapatan naungan paranet 65%, P3=Kerapatan naungan paranet 75%, P4=Kerapatan naungan paranet 85%. Data yang diperoleh dianalis sidik ragam dan di uji lanjut dengan uji beda nyata terkecil taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan naungan paranet memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman yang diperoleh pada Perlakuan P4 (kerapatan naungan paranet 85%) dengan rata-rata tinggi tanaman 30,78 cm. Perlakuan P0 (tanpa naungan) memberikan hasil terbaik pada Parameter jumlah daun (8,59), jumlah anakan (5,30), warna daun (4,25) dan berat basah (31,73) dari semua perlakuan yang digunakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI GULMA SEBELUM PEMUPUKAN DAN SESUDAH PEMUPUKAN PADA TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens) DI LAHAN KELOMPOK TANI SINAR HARAPAN TARAKAN TIMUR

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

IDENTIFIKASI GULMA SEBELUM PEMUPUKAN DAN SESUDAH PEMUPUKAN PADA TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens) DI LAHAN KELOMPOK TANI SINAR HARAPAN TARAKAN TIMUR Abstrak Seledri merupakan tumbuhan serbaguna, terutama sebagai sayuran dan obat-obatan, terdapat salah satu organisme penggangu tanaman (OPT) terhadap pertumbuhan tanaman seledri yaitu gulma. Gulma merupakan salah satu tumbuhan yang tidak dikehendaki oleh para petani, yang bisa menyebabkan kerugian dalam kegiatan budidaya tanaman. Untuk mengetahui jenis gulma maka perlu dilakukan identifikasi gulma. Dalam penelitian ini tujuan dari identifikasi adalah untuk mengetahui jenis gulma yang tumbuh dan jenis gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman seledri di kelompok tani Sinar Harapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 hingga bulan Januari 2022, dilahan budidaya tanaman seledri di kelompok tani Sinar Harapan. Pengambilan sampel gulma menggunakan metode kuadrat secara acak, sebanyak 30 sampel sebelum pemupukan dan 30 sampel sesudah pemupukan dengan ukuran petakan 1x1 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies gulma yang telah di identifikasikan sebelum pemupukan yang terdiri dari 16 spesies golongan daun lebar, 3 spesies golongan rumputan dan 2 spesies golongan teki. Identifikasi gulma sesudah pemupukan ditemukan 20 spesies gulma yang terdiri dari 15 spesies golongan daun lebar, 4 spesies golongan rumputan, 1 golongan teki. Dimana gulma yang dominan tumbuh sebelum pemupukan dan sesudah pemupukan yaitu spesies Centipeda minima yang memiliki jumlah 1185 individu dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) 29.69% sebelum pemupukan dan sesudah pemupukan yang memiliki jumlah 1516 individu dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) 33.60%. Kata kunci : Gulma, Identifikasi, Seledri, Spesies, Tarakan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MASKULINISASI IKAN CUPANG (Betta sp) MENGGUNAKAN EKSTRAK SELEDRI (Apium graveolens)

2020•

Penggunaan ekstrak seledri dalam proses maskulinisasi ikan cupang diharapkan akan meningkatkan hormon testosteron. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak seledri terhadap persentase ikan cupang jantan dengan cara maskulinisasi. Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Biota uji dalam penelitian ini adalah larva ikan cupang umur 7 hari yang direndam dalam media yang mengandung ekstrak seledri dengan konsentrasi berbeda selama 8 jam. Perlakuan terdiri dari penambahan ekstrak seledri sebanyak 5 mg/L (P1), 10 mg/L (P2), 20 mg/L (P3), 40 mg/L (P4), 80 mg/L (P5), dan tanpa penambahan ekstrak seledri sebagai kontrol (P0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak seledri dengan perbedaan konsentrasi berpengaruh signifikan terhadap persentase ikan cupang jantan, tetapi tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup. Perlakuan P2 dengan konsentrasi 10 mg/L adalah perlakuan terbaik, menghasilkan 73,33% ikan cupang jantan setelah dua bulan masa pemeliharaan. Nilai kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan Kontrol (P0) yaitu sebesar 100%, sedangkan nilai kelangsungan hidup terendah diperoleh pada perlakuan P5 yaitu sebesar 63,33%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail