ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hiu sungai (Glyphis fowlerae) merupakan spesies hiu langka dengan distribusi terbatas pada perairan tawar hingga estuari. Keterbatasan informasi mengenai ekologi dan pola penyebarannya menyebabkan penelitian mengenai habitat dan distribusinya penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi spasial dan temporal Glyphis fowlerae serta mengetahui karakteristik habitat berdasarkan kondisi kualitas perairan di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei lapangan dengan penentuan lokasi secara purposive sampling. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah individu, lokasi tangkapan, waktu pengamatan, laju tangkap, serta parameter kualitas perairan berupa suhu, pH, salinitas, dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 40 individu Glyphis fowlerae ditemukan pada tiga stasiun pengamatan, dengan jumlah tertinggi pada Stasiun 1 sebanyak 16 individu (40%). Distribusi temporal selama periode Oktober 2025 hingga April 2026 menunjukkan variasi jumlah individu setiap bulan, dengan jumlah tertinggi ditemukan pada April 2026 sebanyak 8 individu (20%) dan terendah pada Desember 2025 sebanyak 4 individu (10%). Nilai laju tangkap Glyphis fowlerae selama penelitian berkisar antara 1,26–2,94 kg/jam, dengan nilai tertinggi pada April 2026 sebesar 2,94 kg/jam dan terendah pada Maret 2026 sebesar 1,26 kg/jam. Kondisi kualitas perairan selama penelitian menunjukkan suhu 31,05–31,61°C, pH 6,48–6,95, salinitas 1,19–8,24 ppt, dan DO 5,12–5,83 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi spasial dan temporal Glyphis fowlerae berkaitan dengan dinamika habitat Perairan Sesayap, terutama perubahan kondisi lingkungan perairan. Informasi ini dapat menjadi dasar dalam pengelolaan habitat dan upaya konservasi hiu sungai di Perairan Sesayap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KOMPOSISI JENIS IKAN PADA SAAT PASANG PURNAMA DAN PASANG PERBANI PADA AREA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KELURAHAN PANTAI AMAL, KOTA TARAKAN Abstak Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, merupakan salah satu wilayah pesisir yang dimanfaatkan mansyarakat untuk budidaya rumput laut. Selain ideal untuk pertumbuhan rumput laut, kawasan ini secara ekologis memiliki peran sebagai habitat asuhan (Nursery ground) dan mencari makan (Feeding grounnd) untuk berbagai jenis ikan di area tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana komposisi jenis ikan di area budidaya rumput laut dengan membanding hasil tangkapan pada pasang tinggi dan pasang rendaah, serta mengetahui bagaiaman peran pasang perairan terhadap kompisis ikan dengan melakukan uji Anovad dan kontribusi faktor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan lokasi penelitian di area budidaya rumput laut dan menggunakan alat tangkap jenis jaring insang (gillnet). Berdasarkan hasil tangkapan penelitian, diperoleh sebanyak 122 individu yang tergolong kedalam 13 spesies. Pada pasang tinggi diperoleh 9 jenis dengan total 93 individu (76,23%) dan pasang rendah 6 jenis dengan total 29 individu (23,77%). Komposis jenis ikan yang paling dominan pada pasang tinggi yaitu julung – julung (Hemirafus far) dengan 62 individu (68,48%) dan jenis ikan yang dominan saat pasang rendah yaitu Kipar (Scatophagus argus) degan 10 individu (37,04%). Hasil uji anova menunjukkan perbedaan rata rata kelimpahan jenis ikan yang signifikan antara pasang yaitu F-hitung = 24,48 > F-crit =5,99 dan nilai P = 0,02 0,05 yang menegaskan bahwa adanya pengaruh nyata kondisi pasang perairan terhadap hasil tangkapan. Dengan perhitungan kontribusi faktor, kondisi pasang perairan memberikan pengaruh sebesar 80,31% terhadap keberadaan ikan. Dengan hasil tersebut dapat menegaskan adanya pengaruh pasang tinggi dan pasang rendah terhadap komposisi jenis ikan yang berasosiasi dengan rumput laut di perairan Pantai Amal Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) merupakan salah satu spesies elasmobranch yang memiliki nilai ekologis penting dan keberadaannya perlu mendapat perhatian dalam upaya pengelolaan sumber daya perairan. Informasi mengenai pertumbuhan spesies ini masih terbatas, khususnya di Perairan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) menggunakan model pertumbuhan Von Bertalanffy. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran panjang total terhadap 40 ekor sampel yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di Perairan Sesayap. Analisis data dilakukan untuk mengestimasi parameter pertumbuhan yang meliputi panjang asimtotik (L∞), koefisien pertumbuhan (K), dan umur teoritis saat panjang ikan sama dengan nol (t₀). Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan von Bertalanffy yang diperoleh adalah L∞ sebesar 117,48 cm, K sebesar 0,0097, dan t₀ sebesar 1,1274. Nilai L∞ menunjukkan panjang maksimum teoritis yang dapat dicapai oleh ikan hiu sungai, sedangkan nilai K mengindikasikan laju pertumbuhan yang relatif lambat. Hasil penelitian ini memberikan informasi dasar mengenai karakteristik pertumbuhan Glyphis fowlerae di Perairan Sesayap yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan konservasi populasi hiu sungai secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memiliki ekosistem perairan tawar yang penting bagi masyarakat dan berbagai jenis keanekaragaman hayati ikan, namun habitat alaminya terancam oleh aktivitas tambang batubara dan alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis ikan serta mengukur indeks kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi di Sungai Semendurut, Sembuak, dan Bengalun, Kabupaten Malinau. Penelitian berlangsung selama tiga bulan (Februari–April 2026) menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui survei dan observasi lapangan. Sampel ikan diambil dengan jala, pukat, pancing, dan speargun pada tiga lokasi pengamatan, sementara parameter lingkungan yang diukur meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, kecepatan arus, dan kecerahan. Analisis data memakai indeks Shannon-Wiener (H'), indeks Odum (E), dan indeks Simpson (C). Hasil menunjukkan 262 individu ikan tertangkap, terdiri dari 20 spesies, 18 genus, dan 10 famili, dengan Cyprinidae sebagai famili terbanyak dan Purut (Lobocheilos falcifer) sebagai spesies dominan (64 individu). Nilai H' berkisar 1,11–2,06 (kategori sedang), E berkisar 0,49–1, dan C berkisar 0,20–0,32 (kategori rendah), menandakan ekosistem perairan di lokasi penelitian masih relatif baik tanpa dominansi spesies tertentu yang berlebihan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perairan pulau Tarakan yang berada dalam WPPRI 716 memiliki potensi sumberdaya ikan tenggiri yang besar, namun penangkapan yang terus menerus dapat mengurangi stok populasinya. Maka perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat produktivitas penangkapan melalui analisis Catch Per Unit Effort (CPUE). Penelitian ini bertujuan mengetahui tren hasil tangkapan utama (HTU) dan hasil tangkapan sampingan (HTS) nelayan selama 5 tahun, mengetahui hubungan trip penangkapan dengan HTU dan HTS, serta mengetahui nilai CPUE keduanya. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Juni 2026 menggunakan data rekapitulasi pembelian ikan selama 5 tahun di pos pembelian ikan CV. Mekar Jaya, Kelurahan Selumit Pantai, Kota Tarakan. Hasil penelitian menggambarkan tren HTU dan HTS selama 5 tahun terakhir yang mengalami fluktuasi. Nilai CPUE HTU tertinggi tercatat pada tahun 2022 sebesar 126,1 kg/trip dan terendah pada tahun 2021 sebesar 74,4 kg/trip. Hubungan antar trip penangkapan dan HTU menggambarkan hubungan linier positif dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,743 sedangkan hubungan trip penangkapan dan HTS menunjukkan hubungan positif yang lemah dengan koefisien determinasi 0,1713. Sementara itu, hubungan antara trip penangkapan dan CPUE menggambarkan pola negatif, mengindikasikan bahwa peningkatan upaya penangkapan tidak selalu diikuti oleh peningkatan produktivitas hasil tangkapan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, produktivitas penangkapan jaring insang hanyut di Perairan Pulau Tarakan menunjukkan kondisi yang berfluktuasi selama 5 tahun terakhir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN HIU CICAK (Chiloscyllium plagiosum) HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN KOTA TARAKAN Abstrak Ikan hiu cicak (Chiloscyllium plagiosum) merupakan salah satu spesies hiu yang memiliki nilai penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Spesies ini termasuk dalam famili Hemiscylliidae dan tersebar luas di perairan tropis, termasuk perairan Indonesia. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, aktivitas penangkapan ikan yang cukup intensif menjadikan kawasan ini penting untuk dikaji dalam konteks keanekaragaman dan konservasi hiu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies hiu cicak serta menganalisis karakter morfometrik dan meristiknya di perairan sekitar Pulau Tarakan. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dengan menggunakan alat tangkap jaring insang dan pancing. Parameter morfometrik yang diukur meliputi panjang total, lebar kepala, dan tinggi tubuh, sedangkan karakter meristik mencakup jumlah sirip, gigi, dan celah insang. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat variasi dan kesesuaian karakter terhadap identifikasi spesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiu cicak yang tertangkap memiliki panjang total antara 26,5–62,5 cm dengan bentuk tubuh pipih yang adaptif terhadap kehidupan bentik. Karakter meristik yang ditemukan terdiri atas dua sirip dorsal, dua sirip pektoral, dua sirip pelvik, satu sirip anal, satu sirip kaudal, lima celah insang, serta jumlah gigi 16–34 buah, sesuai dengan ciri khas spesies C. plagiosum. Kesimpulannya, hasil ini menegaskan kesesuaian identifikasi morfometrik dan meristik ikan hiu cicak di perairan Tarakan serta memberikan data dasar penting bagi upaya pengelolaan dan konservasi populasi hiu secara berkelanjutan di wilayah tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN HIU (Elasmobranchii) DI PERAIRAN BUNYU KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA ABSTRAK Hiu (Elasmobranchii) berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, sehingga informasi distribusi spasial dan temporalnya diperlukan sebagai dasar pengelolaan perikanan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi spasial dan temporal spesies hiu di Perairan Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Desember 2024–Februari 2025. Metode yang digunakan berupa survei lapangan deskriptif kuantitatif dengan enam kali operasi alat tangkap trawl (dua kali per bulan) pada kondisi pasang mati (neap tide). Data yang dikumpulkan meliputi parameter lingkungan (suhu, salinitas, pH, kecerahan), identifikasi spesies, pengukuran morfometrik, serta pemetaan distribusi menggunakan ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga spesies hiu yang tertangkap, yaitu Sphyrna lewini (hiu martil), Rhynchobatus australiae (hiu lontar), dan Chiloscyllium punctatum (hiu batu), dengan total 50 individu. Seluruh tangkapan merupakan anakan (juvenil) yang dominan ditemukan di perairan dangkal bersubstrat pasir-lumpur. Jumlah tertinggi terjadi pada Januari, diduga dipengaruhi kondisi suhu dan arus laut yang lebih stabil. Parameter lingkungan tercatat dengan kisaran suhu 30–31,6°C, salinitas 27–30‰, pH 7,51–7,79, dan kecerahan 2,5–3,5 m. Secara spasial, sebaran hiu terfokus di zona pesisir yang beririsan dengan aktivitas nelayan lokal. Temuan ini mengindikasikan bahwa Perairan Bunyu berfungsi sebagai habitat pembesaran (nursery ground) hiu pesisir. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan berbasis konservasi untuk mendukung keberlanjutan populasi hiu sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut di wilayah Kalimantan Utara Kata kunci: Hiu, distribusi spasial, distribusi temporal, Perairan Bunyu, juvenil, konservasi perikanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan gonad ikan hiu martil (Sphyrna lewini) yang tertangkap di perairan Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Studi ini dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh data biologis yang dapat mendukung pengelolaan sumberdaya hiu secara berkelanjutan, mengingat spesies ini termasuk dalam kategori terancam punah menurut IUCN. Sampel hiu martil (Sphyrna lewini) dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan selama periode penelitian dan dianalisis di laboratorium unttuk mengidentifikasi stadium kematangan gonad. hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan gonad yang didapatkan TKG I dikarenakan gonad yang didapatkan belum mencapai dewasa siap memijah. Temuan ini menunjukkan bahwa penangkapan hiu martil (Sphyrna lewini) di perairan Tarakan banyak melibatkan individu yang belum matang gonad, yang dapat mengganggu proses reproduksi alami dan menurunkan keberlanjutan populasi. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi kebijakan pengelolaan perikanan hiu yang berfokus pada konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Muara sungai merupakan kawasan transisi yang vital bagi kelangsungan berbagai jenis ikan, terutama sebagai tempat berkembang biak, membesarkan anak, dan mencari makan. Namun, intervensi manusia dan perubahan kondisi lingkungan dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perbandingan keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap bubu payung di dua lokasi berbeda, yakni Muara Sungai Sesayap Pulau Tibi dan Muara Sungai Mamburungan di Kalimantan Utara. Penelitian berlangsung dari bulan Agustus hingga November 2024 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap Bubu Payung, Identifikasi secara morfolohi dengan menggunakan panduan buku identifikasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di Muara Sesayap Pulau Tibi lebih tinggi dibandingkan dengan Muara Mamburungan, yang dipengaruhi oleh perbedaan kualitas habitat serta intensitas aktivitas manusia. Tercatat sebanyak 16 jenis ikan dan beberapa jenis krustasea, dengan spesies dominan antara lain Mugil cephalus, Scatophagus argus, dan Plotosus canius. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan habitat alami, seperti hutan mangrove, serta pengelolaan aktivitas di kawasan muara menjadi faktor kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem perairan pesisir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian terkait reproduksi ikan khususnya tentang ukuran pertama kali matang gonad (Lm) dan ukuran pertama kali tertangkap (Lc) pada ikan senangin (Eleutheronema tetradactylum) yang didaratkan di tangkahan CV. Mentari Pagi Sebatik perlu dilakukan pengkajian, guna menjaga kelestarian dan keberadaan populasi ikan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk menerangkan sex ratio atau nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad ikan dan ukuran pertama kali matang gonad serta ukuran pertama kali tertangkap pada ikan senangin yang didaratkan di tangkahan CV. Mentari Pagi Sebatik. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi dengan pengamatan dan pengukuran ikan senangin. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember – Februari 2024. Total sampel penelitian sebanyak 300 ekor yang terdiri dari 294 ekor jantan dan 6 ekor betina. Sampel diukur panjangnya menggunakan penggaris. Pengamatan jenis kelamin dilakukan secara anatomi dengan melihat gonad ikan. Sex ratio sampel ikan senangin selama penelitian yaitu 1 : 0,02. Tingkat kematangan gonad ikan senangin jantan dan betina dominan TKG III. Hasil pengukuran Lm dan Lc sampel ikan senangin diperoleh nilai Lc > Lm (Lm = 28,920 cm; Lc = 48,695 cm), artinya sebagian besar ikan yang tertangkap di perairan Sebatik memiliki peluang untuk melakukan pemijahan dan ikan yang tertangkap sudah layak untuk ditangkap sehingga hal tersebut dapat menambah populasi ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bawal putih merupakan salah satu ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di perairan Sebatik yang ditangkap menggunakan alat tangkap jaring insang (gillnet) di daerah penangkapan di perairan Sei. Taiwan Sebatik. Analisis model dan sifat pertumbuhan Ikan bawal putih (P. argenteus) di pulau Sebatik diperlukan untuk kelengkapan data ilmiah tentang sumberdaya ikan di pulau Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk menguraikan dan menjelaskan model pertumbuhan Von Bertalanffy dan sifat pertumbuhan terkait dengan panjang berat pada ikan bawal putih (P. argenteus) yang didaratkan di pos pembelian ikan CV. Mentari Pagi Sebatik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi. Tahapan penelitian dimulai dengan pengukuran panjang dan berat sampel ikan bawal putih hingga pengolahan data panjang berat ikan sehingga menghasilkan model dan sifat pertumbuhan Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2023-Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 24 kali sampling. Hasil penelitian didapatkan model pertumbuhan ikan bawal putih (P. argenteus) menghasilkan persamaan Lt = 66,672 {1 - 2.71828 -0.0183 (t - 0.909)} dengan parameter pertumbuhan panjang infinitive atau dugaan ukuran panjang maksimal ikan yang mampu dicapai (L∞) = 66,672 cm, koefisien pertumbuhan K = 0,0183 cm/hari dan nilai dugaan umur teoritis pada panjang nol (t0) = -0,909 hari. Hubungan panjang berat ikan bawal putih (P. argenteus) bersifat allometric negative yaitu pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat dengan nilai faktor kondisi (Kn) sebesar 0,443-2,900 yang apabila nilai Kn diatas 1 maka faktor kondisi ikan bawal putih (P. argenteus) dalam kondisi yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik Desa Binalawan merupakan alat tangkap yang bersifat aktif. Alat tangkap tersebut dipergunakan oleh nelayan Sebatik dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk pengenalan jenis ikan, menguraikan persentase komposisi jenis, menganalisis hubungan panjang dan berat serta kategori hasil tangkapan pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dilakukan pada bulan Januari – Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 18 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis ikan hasil tangkapan pukat hela di perairan Sebatik selama penelitian Perak, Bawal putih, Tenggiri Papan, Talang-Talang, Gulama, Senangin, Kuro, Selangat, Tidur, Pari Sempak, Pari Jantan, Merah, Arut, Putih Cermin, Bawal Hitam, Tembang, Puput Magatan, Peperek, Beliak Mata dan Ubur - Ubur. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ikan yang paling tertinggi yaitu perak (18,3%) dan nilai yang terendah yaitu Tembang (0,4%). Berdasarkan ekor nilai yang tertinggi yaitu Puput Magatan (25,2%) dan nilai yang terendah didapatkan sebesar (0,1%) pada Pari Jantan. Kategori hasil tangkapan berdasarkan satuan berat tertinggi pada Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) sebesar 50% dan berdasarkan satuan individu (ekor) pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) sebesar 63%. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat tangkap yang digunakan pada penelitian ini termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena alat tangkap tersebut dapat menangkap segala jenis ikan dan ukuran sehingga dapat merusak lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Perairan Tarakan di Kalimantan Utara merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki kekayaan hayati cukup besar antara lain biota laut seperti kepiting bakau. Kepiting bakau betina matang ovari merupakan komoditi yang bernilai ekonomis. Informasi tentang siklus reproduksi kepiting betina di daerah ini masih sangat jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari siklus produksi kepiting bakau induk betina matang ovari di Kota Tarakan. Metode penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang didapatkan dengan melakukan survei, wawancara, dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produksi induk betina kepiting bakau di perairan Tarakan memiliki pola siklus dengan puncak produksi tertinggi terjadi pada bulan Desember hingga Februari, sedangkan produksi terendah terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober. Tingkat kematangan ovari (TKO) induk betina kepiting bakau sebagian besar berada pada TKO II sebanyak 642-833 kg dan TKO III sebanyak 2121-2794 kg. Penanganan induk kepiting bakau matang ovari (TKO I-III) dilakukan dengan cara sortir, sterilisasi, dan pengikatan kaki sebelum diangkut menggunakan wadah styrofoam yang dilengkapi dengan alas basah atau es batu untuk menjaga kelembaban. Ketersediaan induk betina kepiting bakau matang ovari sangat penting untuk mendukung kegiatan budidaya kepiting bakau dan menjaga keberlanjutan populasi di alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kota Tarakan memiliki cakupan laut yang cukup luas sehingga memiliki potensi perikanan yang cukup berlimpah. Juata Laut merupakan salah satu daerah di Kota Tarakan yang memiliki potensi perikanan di bidang hasil tangkapan. Salah satu faktor pendukung potensi perikanan adalah terpenuhinya kebutuhan oksigen bagi para biota perairan yang disuplai oleh plankton. Maka dari itu perlu dilakukannya penelitian tentang struktur komunitas plankton di perairan Juata Laut Kota Tarakan dan kondisi kualitas air dari perairan Juata Laut Kota Tarakan. Penelitian dilakukan selama ± 2 (dua) bulan dengan metode deskriptif kuantitatif dan survei sampel. Dari Hasil penelitian diperoleh 36 jenis plankton yang terdiri dari 7 kelas, 4 kelas jenis fitoplankton dan 3 kelas dari jenis zooplankton. Jenis fitoplankton yang paling sering ditemukan yaitu pada kelas Bacillariophyceae dan pada jenis zooplankton yaitu kelas Crustacea. Kelimpahan plankton termasuk dalam kategori rendah. Indeks keanekaragaman di dua stasiun pada jenis fitoplankton sedang dan pada jenis zooplankton rendah. Indeks keseragaman jenis fitoplankton termasuk kategori tinggi dan tidak ada jenis yang mendominasi dan indeks keseragaman zooplankton termasuk kategori rendah dan ada jenis yang mendominasi. Kondisi kualitas air pada perairan Juata Laut Kota Tarakan masih dalam kondisi yang optimal bagi keberlangsungan hidup plankton.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Pulau Tarakan merupakan salah satu tempat pendaratan ikan hasil dari tangkapan nelayan di perairan Tarakan dan sekitarnya. Salah satu hasil tangkapan nelayan yang di daratkan di Pulau Tarakan adalah ikan pari. Ikan pari memiliki ciri yang unik dan berbeda dengan ikan lainnya yaitu struktur tubuh yang terdiri atas tulang rawan dan sifatnya predator. Ikan Pari merupakan salah satu spesies ikan yang termasuk dalam kelas Elasmobranchii. Ikan tersebut dikenal dengan nama ikan batoid, yaitu kelompok ikan bertulang rawan yang ekornya mirip cambuk, Agar pemanfaatan sumberdaya ikan Pari di Selumit Pantai yang melimpah di perairan Pantai Selumit tetap berkelanjutan, maka perlu dilakukan pengelolaan yang rasional, salah satunya dengan mempertimbangkan aspek reproduksi, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Nisbah Kelamin, tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG). Penelitian ini difokuskan pada perkembangan dan pertumbuhan ikan pari melalui pendekatan menggunakan metode deskriftif kuantitatis yang meneliti hubungan satu peneliti atau lebih tetapi tidak melalukan perbadingan sampel penelitian yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan bahwa nisbah kelamin yang tidak seimbang namun masih di katagorikan dalam proses pendewasan karena daerah habitatnya merupakan daerah asuhan, nilai yang di dapatkan 1:1,50. Nilai Tingkat Kematangan Gonad (TKG) yang di dapatkan yaitu TKG I dan II. Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) yang di dapatkan berkisar 0,005% - 0,011%, dengan nilai IKG teringgi ikan jantan berkisar 0,013%, sedanngkan untuk nilai tertinggi ikan betina berkisar 0,011%. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa: Nisbah kelamin yang tidak seimbang dapat menyebabkan ketidak seimbangan populasi, yang dapat mempengaruhi dinamika populasi secara keseluruhan. Tingkat Kematangan gonad (TKG) yang didapatkan yaitu TKG I dan II dikarenakan gonad yang didapatkan belum mencapai dewasa siap memijah. Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) jantan lebih besar dibandingkan nilai IKG betina hal ini dikarenakan nilai IKG pada kematangan gonad yang berbeda, tetapi masih dalam masa pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Bunyu mempunyai luas 192.32 km2 memiliki potensi hasil perikanan tangkap berlimpah di wilayah lautnya, salah satunya yaitu sumberdaya ikan kerapu lumpur (Epinepheluss sp.). Epinephelus sp. merupakan ikan dikenal dengan “groupers” memiliki sifat hidup soliter, memangsa ikan dan krustase serta komoditas perikanan mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Penelitian bertujuan tentang model dan sifat pertumbuhan Epinephelus sp. Metode penelitian secara deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel purposive sampling yang dilakukan di pos penjualan ikan pulau Bunyu selama 2 bulan (Febuari-Maret 2023) dengan 8 kali sampling, menghasilkan total sampel sebanyak 240 ekor. Analisis model pertumbuhan menghasilkan parameter pertumbuhan yaitu nilai koefisien pertumbuhan (K), panjang infinitif, (L∞) dan dugaan umur pada panjang null (t0) pendekatan von Bertalanffy. Hasil penelitian menghasilkan struktur umur dengan persamaan y = 0.0142x + 2.85353 dan nilai R2 = 0.5826. Model pertumbuhan persamaan model Von Bertalanffy adalah Lt = 131.608 {1 - 2.71828-0.0194(t - 0.801835)}. Parameter pertumbuhan panjang infinitive mencapai (L∞) = 131,608 cm diperkirakan terjadi ketika ikan kerapu (Epinephelus sp.) mencapai umur 918 hari. Koefisien pertumbuhan (K) 0,0194 cm/hari dan estimasi umur pada panjang teoritis null (to) = -0,801 hari. Sifat pertumbuhan diekspresikan dalam hubungan panjang berat Epinephelus sp. menunjukkan pola pertumbuhan allometrik positif dalam total sampling. Hal ini berarti pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan panjang atau kondisi tubuh ikan kerapu cenderung gemuk atau montok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kota Tarakan memiliki karakter pulau kecil dengan kegiatan perikanan tangkap yang dominan dilakukan oleh masyarakat Tarakan dengan profesi sebagai nelayan. Terdapat banyak lokasi sebagai tempat pendaratan ikan oleh nelayan Tarakan dengan ragam alat tangkap, salah satunya alat tangkap salah satunya rawai dasar. Rawai dasar merupakan alat tangkap yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan pelagis kecil dan demersal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi ukuran (panjang total, panjang standar dan berat) serta menjelaskan ukuran pertama tertangkap (Lc) ikan kakap merah (Lutjanus sp) hasil tangkapan rawai di perairan Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Febuari 2023 dengan lokasi sampling di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kelurahan Selumit Pantai Tarakan. Pengambilan sampel ini dilakukan sebanyak 8 kali sampling dengan metode purposive sampling. Sampel adalah ikan kakap merah (Lutjanus sp) dengan jumlah total sebanyak 302 ekor. Hasil penelitian menunjukkan pengukuran sampel ikan kakap merah mempunyai panjang yang paling dominan dengan ukuran 27.9 – 34.2 cm (total), panjang standar memiliki nilai frekuensi tertinggi dengan ukuran berkisar 22.4 – 27.7 cm (PS) dan selang berat total ikan yang lebih dominan pada ukuran berat 165 – 853.0 gram. Hasil pengukuran pertama kali tertangkap (Lc) pada sampel ikan kakap merah (Lutjanus sp) diperoleh nilai ukuran panjang pertama kali tertangkap (Lc) sebesar 23.1 cm dengan nilai frekuensi ikan pertama kali tertangkap dalam kelas panjang (Fc) tertinggi yaitu 0.02294. Hasil analisis regresi ukuran panjang pertama kali tertangkap (Lc) ikan kakap merah (Lutjanus sp) diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.5158.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran ≤ 5 mm dan tidak dapat larut dalam air. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi penduduk dan banyaknya aktivitas masyarakat, menyebabkan meningkatnya jumlah limbah plastik yang dihasilkan oleh manusia secara langsung maupun tidak lanngsung. Kemungkinan adanya kontaminasi mikroplastik pada ikan yang dikonsumsi manusia tentu akan sangat merugikan bagi manusia. Salah satu ikan konsumsi yang sangat populer di Kota Tarakan adalah ikan bandeng (Chanos – chanos), dan umumnya ikan bandeng yang dikonsumsi masyarakat berasal dari tambak. sehingga dilakukan identifikasi pada sampel ikan bandeng yang berada ditambak Kota Tarakan. Metode pengambilan sampel ikan bandeng dilakukan dengan mengambil ikan bandeng sebanyak 7 ekor pada masing-masing di lokasi tambak, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dilakukan ekstraksi kemudian diuji laboratorium. Pada hasil penelitian ditemukannya keberadaan mikroplastik pada semua lokasi penelitian dengan karakteristik secara fisik pada mikroplastik diklasifikasikan berdasarkan warna, jenis, dan ukuran. Ada 6 jenis warna yang ditemukan antara lain, hitam, biru, merah, transparan, coklat, kuning. Warna yang paling dominan yaitu pada warna hitam dengan presentase 44% dan warna paling sedikit yaitu warna kuning dengan presentase 1%. Adapun empat jenis mikroplastik yang ditemukan yaitu fragmen, fiber, film, pelet dengan jenis mikroplastik yang paling dominan yaitu fiber dengan presentase 43% diikuti dengan fragmen dengan presentase 30%, film dengan presentase 27% dan pelet dengan presentase paling sedikit yaitu 1%. Ditemukan juga 9 ukuran mikroplastik yang cukup bervariasi dimana ukuran yang paling dominan terdapat pada ukuran 100-500 μm sebanyak 154 partikel dan ukuran paling sedikit yang ditemukan yaitu pada ukuran 2000-5000 μm sebanyak 4 partikel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SPESIFIKASI TEKNIS UNIT DAN KOMPOSISI IKAN TANGKAPAN UTAMA PADA PERIKANAN RAWAI (Longline) YANG DIDARATKAN DI KOTA TARAKAN ABSTRAK Kota Tarakan pulau di Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi sumberdaya hayati laut melimpah. Aktivitas penangkapan di Kota Tarakan adalah perikanan rawai (longline). Penelitian keragaan teknis dilengkapi data ilmiah komposisi jenis dan ukuran ikan, data dasar ilmiah yang berguna dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dasar dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap. Tujuan menjelaskan spesifikasi teknis (keragaaan teknis dan metode pengoperasian) unit penangkapan, menguraikan komposisi jenis dan ukuran ikan serta hubungan keragaan unit penangkapan dan hasil tangkapan. Metode riset menggunakan deksriptif kuantitatif dengan pendekatan purposive sampling yang dilakukan selama 2 bulan (Januari – Februari 2023) di tempat pendaratan ikan Selumit Pantai Kota Tarakan. Hasil riset spesifikasi teknis unit penangkapan termasuk kategori rawai (longline) dengan dimensi / keragaan rerata panjang tali utama (main line) 3.986 cm, panjang tali cabang (branch line) 156 cm, jarak antar tali cabang (space intra branch line) 344 cm, ukuran mata pancing (hook size) nomor 7, jumlah mata pancing (hook count) 1.160 unit dan gross tonase kapal 6 GT. Metode pengoperasian rawai (longline) tiga tahapan penurunan (setting), perendaman (soaking) dan penarikan / pengangkatan (hauling). Jenis ikan tertangkap terdiri atas ikan merah (Lutjanus sp.), ikan arut / gerot – gerot (Pomadasys sp.) dan ikan kuwe / putih (Caranx sp.). Komposisi ukuran Lutjanus sp. terbentuk 8 kelas, kisaran panjang total 21.5 – 73.0 cm dan berat 0.17 – 5.30 kg; Pomadasys sp. 8 kelas, kisaran panjang total 27.0 – 60.5 cm dan berat 0.20 – 3.01 kg; Caranx sp. terbentuk 7 kelas, kisaran panjang total 28.0 – 92.0 cm dan berat 0.3 – 13.6 kg. Hubungan antara keragaan unit penangkapan (variabel branch line, space intra branch line, hook number, mechine power, GT kapal) dengan hasil tangkapan rawai dasar, pada regresi berganda (secara bersama) terdapat pengaruh nyata dan pada regresi sederhana / tunggal (secara parsial) tidak terdapat pengaruh walaupun nilai korelasi dan determinasinya ada kecenderungan hubungan yang linier antar variabel. Kata Kunci: Rawai, Perairan Tarakan, Keragaan Teknis, Regresi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kota Tarakan di provinsi di Kalimantan Utara sebagai kota produsen ikan laut dengan ragam hasil tangkapan dan alat tangkap yang digunakan. Salah satu hasil tangkapan adalah ikan tembang (Sardinella sp) yang memiliki nilai ekonomis dan dimanfaatkan secara intensif sehingga perlu pengelolahan penangkapan yang baik dan berdasarkan informasi ilmiah aspek biologinya. Penelitian bertujuan menentukan hubungan panjang berat yang mendeskripsikan sifat pertumbuhan Sardinella sp. Pengambilan sampel Sardinella sp secara purposive sampling hasil tangkapan alat tangkap gillnet dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2022 dengan total 8 kali sampling pada periode spring tide. Hasil analisis panjang total dan berat didapatkan persamaan eksponensial dan linier logistik y = 0,0614.x2,3247 dan y= 2,3247x-1,2121 dengan nilai determinasi (R2) sebesar 0,9051. Analisis panjang standar dan berat didapatkan persamaan eksponensial dan linier logistik y = 0,1076x2,3256 dan y= 2,3256x-0,9683 dengan nilai R2=0,9039. Hasil dari analisis panjang cagak dan berat ikan tembang yang didapatkan dalam persamaan eksponensial dan linier yaitu y= 0,0914x2,2331 dan y= 2,3231x-1,0389 dengan nilai R2=0,9014. Pola pertumbuhan pada ikan tembang memiliki sifat allometrik negatif dengan nilai b=2,3247.