Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: juvenil
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN HIU (Elasmobranchii ) DI PERAIRAN BUNYU KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN HIU (Elasmobranchii) DI PERAIRAN BUNYU KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA ABSTRAK Hiu (Elasmobranchii) berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, sehingga informasi distribusi spasial dan temporalnya diperlukan sebagai dasar pengelolaan perikanan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi spasial dan temporal spesies hiu di Perairan Bunyu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Desember 2024–Februari 2025. Metode yang digunakan berupa survei lapangan deskriptif kuantitatif dengan enam kali operasi alat tangkap trawl (dua kali per bulan) pada kondisi pasang mati (neap tide). Data yang dikumpulkan meliputi parameter lingkungan (suhu, salinitas, pH, kecerahan), identifikasi spesies, pengukuran morfometrik, serta pemetaan distribusi menggunakan ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga spesies hiu yang tertangkap, yaitu Sphyrna lewini (hiu martil), Rhynchobatus australiae (hiu lontar), dan Chiloscyllium punctatum (hiu batu), dengan total 50 individu. Seluruh tangkapan merupakan anakan (juvenil) yang dominan ditemukan di perairan dangkal bersubstrat pasir-lumpur. Jumlah tertinggi terjadi pada Januari, diduga dipengaruhi kondisi suhu dan arus laut yang lebih stabil. Parameter lingkungan tercatat dengan kisaran suhu 30–31,6°C, salinitas 27–30‰, pH 7,51–7,79, dan kecerahan 2,5–3,5 m. Secara spasial, sebaran hiu terfokus di zona pesisir yang beririsan dengan aktivitas nelayan lokal. Temuan ini mengindikasikan bahwa Perairan Bunyu berfungsi sebagai habitat pembesaran (nursery ground) hiu pesisir. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan berbasis konservasi untuk mendukung keberlanjutan populasi hiu sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut di wilayah Kalimantan Utara Kata kunci: Hiu, distribusi spasial, distribusi temporal, Perairan Bunyu, juvenil, konservasi perikanan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Keanekaragaman Jenis Ikan Di Area Budidaya Rumput Laut Pantai Amal Kota Tarakan

2025•

Esktensifikasi area budidaya rumput laut di pesisir Pantai Amal Kota Tarakan berimplikasi pada perubahan struktur ekosistem rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan dalam pondasi dapat mengundang kehadiran berbagai jenis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis – jenis ikan dan mengetahui tingkat keanekaragaman yang berada di area budidaya rumput laut Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Juni 2025. Sampel ikan yang diperoleh dengan menggunakan jaring insang dan bubu dasar yang di letakkan di antara bentangan pondasi rumput laut dengan memanfaatkan pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan jenis yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 1.665 individu yang diklasifikasikan menjadi 35 famili 55 genus dengan 75 spesies. Hasil kelimpahan ikan yang telah dilakukan didapatkan komposisi tertinggi terdapat pada spesies ikan bulu ayam (Coilia reynaldi) dengan nilai kelimpahan 19%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) keseluruhan lokasi pengamatan berada pada rentang 0,52-2,89, nilai keseragaman (E) berada pada rentang 0,33-0,97 dan dominansi (D) 0,21-0,91. Nilai indeks keanekaragaman keseluruhan lokasi pengamatan menunjukkan tingkat keanekaragaman spesies berada pada kondisi rendah hingga sedang, nilai keseragaman menunjukkan berada pada kondisi tertekan hingga stabil dan dominansi menunjukkan pada kondisi rendah hingga tinggi. Distribusi ukuran sampel yang diperoleh mengindetifikasi bahwa area budidaya rumput laut diperairan dipesisir kelurahan Pantai Amal berperan sebagai daerah asuhan bagi berbagai jenis ikan baik ikan bernilai ekonomis penting maupun jenis ikan lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN CACING LAUT (Nereis sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP JUVENIL UDANG WINDU (Penaeus monodon)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kalimantan Utara sebagai penghasil udang windu terbesar di Indonesia yang berkontribusi dalam usaha budidaya air payau di tambak. Udang windu banyak digemari oleh masyarakat karena memiliki kandungan protein tinggi serta asam amino yang cukup lengkap. Produk perikanan ini menjadi penyumbang devisa negara dari ekspor non-migas dengan negara tujuan utama adalah Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Salah satu permasalahan tambak tradisional adalah kurangnya ketersediaan pakan alami selama masa pemeliharaan khususnya pakan juvenil udang windu yang berumur lebih dari satu bulan hingga panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cacing laut (Nereis sp.) terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup juvenil udang windu (Penaeus monodon). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan dengan padat penebaran yang digunakan dalam setiap wadah sama yaitu 20 ekor. Hasil penelitian yang diberi pakan cacing laut (Nereis sp.) memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup juvenil udang windu (Penaeus monodon). Pada perlakuan 4 menunjukkan pertambahan panjang dan berat total yang paling tinggi dari perlakuan lainnya sedangkan pada perlakuan 3 dan 2 memiliki nilai persentase kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan 4 dan 1.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

THE POWER OF SMKK: SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI BERDASARKAN PERMEN PUPR NO. 21 TAHUN 2019

2023•Koleksi Perpustakaan

Pertama-tama Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat perkenan-Nya lah Penulis mampu menyelesaikan penulisan buku ini. Buku ini berisi materi tentang kebijakan dan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi, yang diberi judul “The Power of SMKK: Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi berdasarkan Permen PUPR No. 21 tahun 2019”. Materi yang dibahas mencakup antara lain peraturan perundangan terkait keselamatan konstruksi, implementasi SMKK dalam penyelenggaraan jasa konstruksi, dasar-dasar keselamatan konstruksi, komunikasi K3, manajemen risiko, K3 pekerjaan konstruksi serta manajemen lingkungan dan higiene. Materi yang diberikan mengacu pada Permen PUPR No. 21 tahun 2019 yang baru-baru ini diterbitkan. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang dan Penerbit UNP Press atas kesediannya untuk menerbitkan buku ini. Besar harapan penulis, buku ini dapat berguna dan bermanfaat bagi mahasiswa, akademisi, dan praktisi konstruksi serta semua kalangan yang membutuhkan untuk kemajuan Keselamatan Konstruksi di Indonesia. Kritik dan saran untuk perbaikan materi buku ini akan sangat diharapkan guna memperbaiki kualitas buku ini menjadi lebih baik lagi kedepannya. Terima kasih. Salam Safety!

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEMAMPUAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN MENGINFEKSI INANG PADA TANAH TERTUTUP MULSA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nematoda entomopatogen merupakan agens hayati pengendali hama yang umumnya beraktivitas didalam tanah. Penggunaan mulsa penutup tanah dapat mempengaruhi iklim mikro tanah dan dapat mempengaruhi aktivitas biota tanah termasuk nematoda entomopatogen. Tujuan penelitian yakni menguji dan membandingkan kemampuan nematoda entomopatogen (NEP) dalam menginfeksi inang di dalam tanah yang tertutup mulsa. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan perlakuan penggunaan mulsa jerami, mulsa plastik hitam, dan mulsa plastik silver, serta tanpa mulsa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 (enam) kali. Percobaan dilakukan dengan dua tahapan yakni pra-tanam dan tanam (fase vegetatif). Percobaan dilakukan dengan memasukkan 10 larva pada masing-masing petak perlakuan yang menggunakan mulsa selama 14 hari. Parameter kemampuan NEP menginfeksi inang berdasarkan mortalitas larva dan jumlah infective juvenile (IJ). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat mortalitas dan jumlah IJ pada penggunaan beberapa jenis mulsa. Kemampuan NEP dalam menginfeksi inang pada fase pra tanam berdasarkan tingkat kematian atau mortalitas mencapai 25–29.2%, dan jumlah IJ mencapai 665.6–894.0 IJ. Sedangkan pada fase tanam, tingkat mortalitas dan jumlah IJ mencapai 34.2- 38.3% dan 757.3-985.7 IJ. Kisaran suhu dan kelembapan pada penggunaan mulsa dan tanpa mulsa masih berada pada kisaran normal, sehingga mempengaruhi kemampuan NEP dalam menginfeksi inang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail