ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Areal budidaya tanaman perkebunan berpotensi sebagai sumber agens hayati bakteri entomopatogen, sehingga eksplorasi atau penyelidikan terhadap potensi agens hayati masih perlu dilakukan di Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui potensi bakteri entomopatogen dari berbagai lokasi di areal budidaya tanaman perkebunan Kalimantan Utara; (2) membandingkan potensi bakteri entomopatogen dari berbagai lokasi budidaya tanaman perkebunan di Kalimantan Utara. Penelitian ini melakukan pengambilan sampel tanah, melakukan isolasi bakteri, dan seleksi bakteri entomopatogen dengan menggunakan serangga umpan. Potensi bakteri entomopatogen dibedakan berdasarkan jumlah dan ciri-ciri makroskopis koloni isolat bakteri yang diperoleh dari masing-masing lokasi, dan tingkat kematian serangga umpan dibandingkan dengan kontrol pada seleksi bakteri entomopatogen. Analisis data menggunakan analisis deskripsi dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan; (1) terdapat 13 isolat bakteri, (2) areal budidaya tanaman kopi di Malinau memiliki isolat bakteri tertinggi, (3) hasil seleksi menemukan 7 (tujuh) isolat bakteri yang berpotensi sebagai bakteri entomopatogen, (4) lokasi budidaya tanaman kopi di Malinau memiliki jumlah isolat yang berpotensi sebagai entomopatogen lebih tinggi dari lokasi lainnya. Namun, isolat ST6-4U2 pengenceran 10-1 yang berasal dari tanah di areal perkebunan kelapa sawit di Sebuku memiliki potensi virulensi tertinggi sebagai bakteri entomopatogen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•
Area budidaya tanaman perkebunan berpotensi sebagai sumber agens hayati cendawan entomopatogen, sehingga eksplorasi atau penyelidikan terhadap potensi agens hayati masih perlu dilakukan di Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui potensi cendawan entomopatogen dari berbagai lokasi di area budidaya tanaman perkebunan Kalimantan Utara; (2) membandingkan potensi cendawan entomopatogen dari berbagai lokasi budidaya tanaman perkebunan di Kalimantan Utara. Penelitian ini melakukan pengambilan sampel tanah, melakukan isolasi cendawan, dan seleksi cendawan entomopatogen dengan menggunakan serangga umpan. Potensi cendawan entomopatogen dibedakan berdasarkan jumlah dan ciri-ciri makroskopis koloni isolat cendawan yang diperoleh dari masing-masing lokasi, dan tingkat kematian serangga umpan dibandingkan dengan kontrol pada seleksi cendawan entomopatogen. Analisis data menggunakan analisis deskripsi dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan; (1) terdapat 16 isolat cendawan, (2) area budidaya tanaman kopi di Malinau memiliki isolat cendawan tertinggi, (3) hasil seleksi menemukan 4 (empat) isolat cendawan yang berpotensi sebagai cendawan entomopatogen, dan (5) terdapat perbedaan tingkat mortalitas isolat yang berpotensi sebagai cendawan entomopatogen. Serta, isolat ST16-3 pengenceran 10-1 yang berasal dari tanah di area perkebunan kelapa sawit di Sebuku memiliki potensi tertinggi sebagai cendawan entomopatogen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tingkat Keberhasilan Kombinasi Perangkap dan Umpan Terhadap Pengendalian Hama Tikus Pada Pembudidayaan Jamur Tiram ( Pleurotus Ostreatus )di Kabupaten Berau
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EFEK PENGGUNAAN BIOPESTISIDA BERBAHAN AKTIF CENDAWAN ENTOMOPATOGEN TERHADAP KOMPOSISI JENIS DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA TANAMAN KEDELAI EDAMAME Abstrak Biopestisida berpotensi sebagai alternatif pengganti pestisida sintetik. Penelitian bertujuan menguraikan komposisi jenis hama yang ditemukan pada areal budidaya tanaman kedelai, serta membandingkan intensitas serangan hama tanaman menggunakan beberapa biopestisida cendawan entomopatogen. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor perlakuan yakni Biopestisida berbahan aktif cendawan entomopatogen. Bahan aktif terdiri dari L. lecanii, B. bassiana, dan M. anisopliae, dan bahan aktif senyawa kimia sintetik (kontrol). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali sehingga diperoleh 24 petak percobaan. Data pengamatan meliputi pertumbuhan, hasil tanaman, komposisi hama, dan intensitas serangan hama. Analisis data menggunakan Uji F (analisis sidik ragam), Uji DMRT, dan Uji Chi-Square untuk kehadiran hama pada masing-masing perlakuan. Hasil Penelitian menujukkan tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, jumlah polong, berat polong, dan berat biji segar tertinggi pada perlakuan kontrol. Komposisi hama terdiri dari ulat grayak belalang, serta kepik. Tidak terdapat perbedaan kehadiran hama pada masing-masing perlakuan. Tingkat kerusakan daun terendah pada 2 MST pada perlakuan B. bassiana. Selanjutnya, 4 MST dan 6 MST pada pestisida M. Anisopliae, serta 8 MST pada L. lecanii dengan masing-masing kerusakan sebesar 16.69%, 18.59%, 20.88%, dan 20.24%. Perbedaan kerusakan daun pada perlakuan kontrol dan biopestisida B. bassiana dan M. anisopliae pada 2 MST. Jumlah polong hampa terendah pada perlakuan kontrol, mencapai 0.8 polong per tanaman. Sedangkan, intensitas kerusakan polong terendah juga pada perlakuan kontrol mencapai 3.3%. Terdapat perbedaan signifikan perlakuan kontrol dengan biopestisida. Hasil analisis ragam juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan kontrol dengan perlakuan Biopestisida terhadap kerusakan daun 4, 6, dan 8 MST, tingkat kerusakan polong, dan jumlah polong hampa. Hasil ini menunjukkan Biopestisida dapat digunakan sebagai alternatif, namun efektivitasnya tidak mampu melebihi pestisida sintetik pada budidaya tanaman Edamame. Kata Kunci: Biopestisida, Cendwan Entomopatogen, Edamame, Hama
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nematoda entomopatogen merupakan agens hayati pengendali hama yang umumnya beraktivitas didalam tanah. Penggunaan mulsa penutup tanah dapat mempengaruhi iklim mikro tanah dan dapat mempengaruhi aktivitas biota tanah termasuk nematoda entomopatogen. Tujuan penelitian yakni menguji dan membandingkan kemampuan nematoda entomopatogen (NEP) dalam menginfeksi inang di dalam tanah yang tertutup mulsa. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan perlakuan penggunaan mulsa jerami, mulsa plastik hitam, dan mulsa plastik silver, serta tanpa mulsa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 (enam) kali. Percobaan dilakukan dengan dua tahapan yakni pra-tanam dan tanam (fase vegetatif). Percobaan dilakukan dengan memasukkan 10 larva pada masing-masing petak perlakuan yang menggunakan mulsa selama 14 hari. Parameter kemampuan NEP menginfeksi inang berdasarkan mortalitas larva dan jumlah infective juvenile (IJ). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat mortalitas dan jumlah IJ pada penggunaan beberapa jenis mulsa. Kemampuan NEP dalam menginfeksi inang pada fase pra tanam berdasarkan tingkat kematian atau mortalitas mencapai 25–29.2%, dan jumlah IJ mencapai 665.6–894.0 IJ. Sedangkan pada fase tanam, tingkat mortalitas dan jumlah IJ mencapai 34.2- 38.3% dan 757.3-985.7 IJ. Kisaran suhu dan kelembapan pada penggunaan mulsa dan tanpa mulsa masih berada pada kisaran normal, sehingga mempengaruhi kemampuan NEP dalam menginfeksi inang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan nematoda entomopatogen sebagai agens pengendali hayati masih terbatas penggunaanya. Hal ini disebabkan alternatif media pembawa untuk aplikasi umumnya hanya menggunakan air. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui jenis media pembawa NEP yang dapat digunakan untuk aplikasi; dan (2) membandingkan efektifitas media pembawa apakah yang efektif digunakan untuk aplikasi NEP. Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni metode eksperimen dengan perlakuan: (1) media air; (2) media spons cair; (3) media T. mollitor; (4) media tepung kedelai ditambah dog food dan 1 larva terinfeksi NEP; (5) media tepung jagung ditambah dog food dan larva terinfeksi NEP; dan (6) media tepung jagung ditambah limbah kulit udang dan larva terinfeksi NEP. Masing unit percobaan diulang sebanyak 7 kali. Hasil penelitian menunjukkan tingkat mortalitas tertinggi (80%) pada media pembawa spons cair, namun tidak terdapat perbedaan tingkat mortalitas antar media pembawa. Selain itu, media spons cair memiliki jumlah infective juvenile (IJ) tertinggi (56,8 IJ), dan berbeda nyata hanya dengan media tepung jagung ditambah limbah kulit udang dan larva terinfeksi NEP. Penggunaan media air, spons cair, dan larva terinfeksi dapat menjadi alternative untuk aplikasi NEP, sedangkan penambahan tepung limbah udang tidak direkomendasikan karena diduga mempegaruhi aktivitas NEP terhadap inang, sehingga perlu dikaji kembali. Kata kunci: Media Pembawa, Nematoda Entomopatogen, Spons Cair.