Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

ASNITA

4 karya publik ditemukan.

2024: 22022: 2

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Gulma Imperata cylindrica L Dalam Mengendalikan Gulma Rottboellia exaltata pada Tanaman Jagung ( Zea mays L)

2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jagung (Zea mays L) termasuk salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat. Jagung banyak dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan komoditi yang diekspor. Namun kehadiran gulma menjadi salah satu masalah dan mengganggu dalam budidaya tanaman jagung. Salah satu jenis gulma yang ditemui pada budidaya tanaman jagung yaitu gulma Rottboellia exaltata. Maka dari itu, untuk menekan pertumbuhan gulma Rottboellia exaltata maka perlu dilakukan pengendalian salah satunya dengan menggunakan bioherbisida. Gulma yang dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida alami dalam menghambat pertumbuhan gulma yaitu gulma Imperata cylindrica L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi gulma Imperata cylindrica L dalam mengendalikan gulma Rottboellia exaltata pada tanaman jagung (Zea mays L) dan untuk mengetahui pada konsentrasi gulma Imperata cylindrica L berapakah yang paling efektif dalam mengendalikan gulma Rottboellia exaltata pada tanaman jagung (Zea mays L). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri dari 6 perlakuan ekstrak gulma Imperata cylindrica L yaitu P0 (0%), P1 (20%), P2 (40%), P3 (60%), P4 (80%) dan P5 (100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P5 dengan konsentrsi ekstrak gulma Imperata cylindrica L 100% merupakan perlakuan terbaik dalam menghambat pertumbuhan gulma Rottboellia exaltata pada parameter tinggi gulma, jumlah daun gulma, berat basah gulma dan berat kering gulma.

KEMAMPUAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN MENGINFEKSI INANG PADA TANAH TERTUTUP MULSA

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Nematoda entomopatogen merupakan agens hayati pengendali hama yang umumnya beraktivitas didalam tanah. Penggunaan mulsa penutup tanah dapat mempengaruhi iklim mikro tanah dan dapat mempengaruhi aktivitas biota tanah termasuk nematoda entomopatogen. Tujuan penelitian yakni menguji dan membandingkan kemampuan nematoda entomopatogen (NEP) dalam menginfeksi inang di dalam tanah yang tertutup mulsa. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan perlakuan penggunaan mulsa jerami, mulsa plastik hitam, dan mulsa plastik silver, serta tanpa mulsa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 (enam) kali. Percobaan dilakukan dengan dua tahapan yakni pra-tanam dan tanam (fase vegetatif). Percobaan dilakukan dengan memasukkan 10 larva pada masing-masing petak perlakuan yang menggunakan mulsa selama 14 hari. Parameter kemampuan NEP menginfeksi inang berdasarkan mortalitas larva dan jumlah infective juvenile (IJ). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat mortalitas dan jumlah IJ pada penggunaan beberapa jenis mulsa. Kemampuan NEP dalam menginfeksi inang pada fase pra tanam berdasarkan tingkat kematian atau mortalitas mencapai 25–29.2%, dan jumlah IJ mencapai 665.6–894.0 IJ. Sedangkan pada fase tanam, tingkat mortalitas dan jumlah IJ mencapai 34.2- 38.3% dan 757.3-985.7 IJ. Kisaran suhu dan kelembapan pada penggunaan mulsa dan tanpa mulsa masih berada pada kisaran normal, sehingga mempengaruhi kemampuan NEP dalam menginfeksi inang.

KEMAMPUAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN MENGINFEKSI INANG PADA TANAH TERTUTUP MULSA

2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nematoda entomopatogen merupakan agens hayati pengendali hama yang umumnya beraktivitas didalam tanah. Penggunaan mulsa penutup tanah dapat mempengaruhi iklim mikro tanah dan dapat mempengaruhi aktivitas biota tanah termasuk nematoda entomopatogen. Tujuan penelitian yakni menguji dan membandingkan kemampuan nematoda entomopatogen (NEP) dalam menginfeksi inang di dalam tanah yang tertutup mulsa. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan perlakuan penggunaan mulsa jerami, mulsa plastik hitam, dan mulsa plastik silver, serta tanpa mulsa. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 (enam) kali. Percobaan dilakukan dengan dua tahapan yakni pra-tanam dan tanam (fase vegetatif). Percobaan dilakukan dengan memasukkan 10 larva pada masing-masing petak perlakuan yang menggunakan mulsa selama 14 hari. Parameter kemampuan NEP menginfeksi inang berdasarkan mortalitas larva dan jumlah infective juvenile (IJ). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat mortalitas dan jumlah IJ pada penggunaan beberapa jenis mulsa. Kemampuan NEP dalam menginfeksi inang pada fase pra tanam berdasarkan tingkat kematian atau mortalitas mencapai 25–29.2%, dan jumlah IJ mencapai 665.6–894.0 IJ. Sedangkan pada fase tanam, tingkat mortalitas dan jumlah IJ mencapai 34.2- 38.3% dan 757.3-985.7 IJ. Kisaran suhu dan kelembapan pada penggunaan mulsa dan tanpa mulsa masih berada pada kisaran normal, sehingga mempengaruhi kemampuan NEP dalam menginfeksi inang.