ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Usahatani hortikultura berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan, gizi, dan pendapatan masyarakat, termasuk di Kelurahan Mamburungan Timur, Kecamatan Tarakan Timur. Namun, penyuluhan pertanian di wilayah ini belum optimal karena rendahnya partisipasi petani, terbatasnya pemanfaatan media digital, jumlah penyuluh, kebiasaan berusahatani turun-temurun, dan beban administrasi penyuluh. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi penyuluhan pertanian dalam meningkatkan usahatani hortikultura. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2026 menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 16 responden petani dan ketua kelompok tani serta 1 penyuluh pertanian sebagai key informan. Analisis data menggunakan SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan faktor internal memiliki nilai IFAS sebesar 1,24, dengan kekuatan berupa penguasaan materi, kemampuan komunikasi, kesesuaian metode, dan intensitas penyuluhan, sedangkan kelemahannya meliputi rendahnya partisipasi petani dan terbatasnya pemanfaatan media digital. Faktor eksternal memiliki nilai EFAS sebesar 1,14, dengan peluang berupa metode partisipatif, media digital, pelibatan petani utama atau penyuluh swadaya, dan komunikasi dua arah, sedangkan ancamannya berupa kebiasaan pertanian turun-temurun, beban administrasi penyuluh, dan informasi media sosial yang tidak terverifikasi. Nilai X sebesar 1,24 dan Y sebesar 1,14 menempatkan strategi pada Kuadran I (SO). Strategi diarahkan pada pemanfaatan kekuatan penyuluh melalui metode partisipatif, demonstrasi, media digital, komunikasi dua arah, serta pelibatan petani utama atau penyuluh swadaya untuk meningkatkan efektivitas penyuluhan dan usahatani hortikultura.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Partisipasi petani hortikultura dalam kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Tideng Pale Kabupaten Tana Tidung menunjukkan tingkat yang beragam, baik dalam kehadiran, keterlibatan dalam diskusi, maupun penerapan materi penyuluhan dalam kegiatan usahatani. Kondisi tersebut mendorong perlunya kajian mengenai peran penyuluh pertanian dalam mendorong partisipasi petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penyuluh pertanian dalam mendorong partisipasi petani hortikultura serta mengidentifikasi peran yang paling mendorong partisipasi petani. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penentuan informan secara purposive sampling. Informan dalam penelitian ini berjumlah 30 petani hortikultura. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12 Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh pertanian dalam mendorong partisipasi petani terlaksana melalui empat peran utama, yaitu fasilitator, motivator, edukator, dan komunikator. Sebagai fasilitator, penyuluh membantu petani memperoleh informasi, teknologi, dan solusi usahatani. Sebagai motivator, penyuluh memberikan dorongan dan semangat kepada petani. Sebagai edukator, penyuluh meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagai komunikator, penyuluh membangun komunikasi dua arah dengan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran edukator merupakan peran yang paling mendorong partisipasi petani dan dipilih oleh 11 informan. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan petani terhadap pengetahuan dan keterampilan menjadi faktor utama yang mendorong partisipasi dalam kegiatan penyuluhan pertanian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi petani hortikultura terhadap efektivitas penyuluhan pertanian di Desa Tideng Pale, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan populasi berjumlah 56 petani hortikultura yang tergabung dalam tiga kelompok tani dan sebanyak 35 petani ditetapkan sebagai responden menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Instrumen penelitian menggunakan skala Likert 5 poin dan terlebih dahulu diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata (mean) untuk mengetahui persepsi petani pada empat dimensi, yaitu materi penyuluhan, metode penyuluhan, kompetensi penyuluh, dan manfaat penyuluhan. Selanjutnya, tingkat efektivitas penyuluhan berdasarkan persepsi petani dianalisis menggunakan indeks persepsi dengan membandingkan skor aktual dan skor maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap materi penyuluhan memperoleh nilai rata-rata 4,20 dengan kategori baik, metode penyuluhan sebesar 4,23 dengan kategori sangat baik, kompetensi penyuluh sebesar 4,28 dengan kategori sangat baik, dan manfaat penyuluhan sebesar 4,15 dengan kategori baik. Secara keseluruhan, indeks persepsi petani terhadap efektivitas penyuluhan pertanian sebesar 84,4% dan termasuk dalam kategori sangat efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani di Desa Balansiku, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan. Potensi pengembangan tanaman ini cukup besar, namun pendapatan petani masih bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis karakteristik petani mentimun di Desa Balansiku, dan (2) menghitung besaran pendapatan petani di Desa Balansiku. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan survei. Sampel yang digunakan sebanyak 25 petani mentimun yang dipilih dengan metode sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan menyebar kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menghitung total penerimaan, total biaya produksi, dan pendapatan petani serta menggunakan Benefit-Cost Ratio (BCR) untuk menentukan kelayakan usaha tani mentimun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas petani mentimun di Desa Balansiku berada dalam kelompok usia 31-40 tahun (36%) dengan tingkat pendidikan yang didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (36%). Luas lahan yang digunakan berkisar antara 0,5 hingga lebih dari 1 hektar, dengan 48% petani memiliki lahan lebih dari 1 hektar. Rata-rata pendapatan total petani per musim tanam adalah Rp4.345.200,00 dengan total biaya produksi sebesar Rp1.113.800,00, sehingga pendapatan bersih yang diperoleh adalah Rp3.231.400,00. Analisis Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 3,90 (>1) menunjukkan bahwa usaha tani mentimun di Desa Balansiku menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani meliputi harga jual mentimun yang stabil, tingkat produktivitas tanaman, luas lahan yang dikelola, serta kondisi lingkungan seperti cuaca dan serangan hama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini menganalisis perilaku kewirausahaan dalam konteks petani dan usaha kecil, dengan penekanan pada petani hortikultura di Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menganalisis pengaruh karakteristik kewirausahaan, kompetensi manajemen, dan faktor sosio-demografi terhadap intensi kewirausahaan petani dengan menggunakan Teori Perilaku Berencana (TPB). Data telah dikumpulkan dari 260 responden menggunakan metode angket, observasi, wawancara, dan studi dokumenter. Analisis dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) mengindikasikan bahwa karakteristik kewirausahaan seperti percaya diri, kemandirian, dan kepemimpinan memiliki dampak yang signifikan terhadap intensi dan perilaku berwirausaha. Meskipun kompetensi manajemen dan teknis tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, dukungan lingkungan seperti pendidikan dan pelatihan kewirausahaan serta akses permodalan dari pemerintah terbukti memiliki peranan yang penting. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam untuk pengembangan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani melalui kewirausahaan, serta berfungsi sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya di bidang ini
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman hortikultura merupakan komponen penting dalam pembangunan pertanian. Tanaman hortikultura dibagi menjadi empat jenis yaitu tanaman buah, tanaman sayur, tanaman hias dan tanaman obat. Komoditas hortikultura merupakan salah satu penyedia gizi berupa serat, vitamin, protein dan lain-lain yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data penyebaran dan populasi hama pada tanaman hortikultura di Kota Tarakan serta membuat peta sebaran dari hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hama pada tanaman hortikultura di Kota Tarakan tersebar tidak merata dan sangat dipengaruhi oleh faktor geografis seperti topografi, jenis tanah, kelembapan, curah hujan dan pasokan makanan. Daerah dengan kelembapan tinggi, tanah dengan drainase buruk, atau daerah dataran rendah cenderung memiliki tingkat infestasi hama yang lebih tinggi. Sehingan di kecamatan Tarakan Taimur, Tarakan Barat dan Tarakan Utara memiliki memiliki keanekaragaman yang berbeda. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) terbukti efektif dalam memetakan sebaran hama di berbagai wilayah Tarakan. SIG membantu mengidentifikasi lokasi atau area rawan serangan hama sehingga tindakan pencegahan dan pengendalian dapat lebih terfokus. Data spasial yang di dapatkan seperti titik koordinat, jenis tanaman, jenis hama dan gejala serangan. Diaman data yang di dapatkan merupakan data hasil penelitian langsung di lapangan dan wawancara kepada petani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertanian merupakan salah satu sektor riil yang dapat berperan sangat nyata dalam meningkatkan pendapatan negara, dimana terdapat beberapa subsektor penunjang salah satunya subsektor tanaman hortikultura meliputi berbagai jenis tanaman hias, sayuran, buah-buahan dan tanaman obat. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan permintaan akan sayuran terus bertambah, menjadi peluang besar bagi petani sayuran untuk lebih meningkatkan usahataninya. Namun disadari betul bahwa petani pada umumnya masih dalam kondisi serba kekurangan sehingga pemenuhan kebutuhan jangka pendek lebih diprioritaskan dibandingkan jangka panjang. Tujuan penelitian ini, (1) untuk mengetahui karakteristik petani sayuran yang ada di Kecamatan Tarakan Timur, (2) untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan penerapan prinsip ekologi dalam pertanian berkelanjutan pada usahatani sayuran di Kecamatan Tarakan Timur dan (3) untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan prinsip ekologi dalam pertanian berkelanjutan pada usahatani sayuran di Kecamatan Tarakan Timur. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tarakan Timur pada bulan November 2023 sampai dengan selesai. Metode responden dalam penelitian ini yaitu purposive sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda dan uji hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik petani di Kecamatan Tarakan Timur berdasarkan umur yaitu petani yang berumur 34-39 tahun sebanyak 24 orang, pendidikan yaitu petani yang berpendidikan selama 5-9 tahun sebanyak 29 orang, lama berusahatani yaitu 1-15 tahun sebanyak 28 orang dan luas lahan yaitu 100 m2-3399 m2 sebanyak 45 orang. Tingkat pengetahuan petani yaitu pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 87% sedangkan tingkat penerapan yaitu pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 100%. Faktor yang mempengaruhi tingkat penerapan prinsip ekologi dalam pertanian berkelanjutan pada usahatani sayuran di Kecamatan Tarakan Timur secara nyata adalah pendidikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui virus pada tanaman hortikultura di Kota Tarakan serta insidensinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei lapangan, pengambilan sampel, dan uji kesesuaian inang. Survei dilakukan di setiap kecamatan yang berada di Kota Tarakan untuk mengumpulkan data tanaman hortikultura yang terinfeksi penyakit virus dan untuk memperoleh data tingkat insidensi penyakit virus dengan kriteria minimal 500 tanaman dalam satu lahan budidaya. Tanaman sampel yang menunjukkan adanya gejala infeksi penyakit virus di uji kesesuaian inangnya menggunakan metode pelukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa virus ditemukan menginfeksi tanaman hortikultura dengan insidensi yang bervariasi. Virus yang ditemukan Chilli yellow leaf curl virus (CYLCV), Tomatto yellow leaf curl virus (TYLCV), Eggplant yellow leaf virus (EYLV), Cucumber mosaic virus (CMV), dan Watermelon mosaic virus (WMV).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perencanaan usaha tani dilakukan sebagai bentuk pengelolaan usaha tani, Meskipun secara eksplisit umumnya petani tidak melakukan perencanaan usaha tani, akan tetapi secara implisit mereka sudah melakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kegiatan perencanaan usaha tani berdasarkan klafisikasi pada tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Timur, (2) mengevaluasi usaha tani pada tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Timur. Penetuan sampel ini menggunakan teknik non probality sampling secara kuota dengan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 21 orang. Metode analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui perencanaan dan kendala dalam usaha tani. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan kelayakan finansial usaha tani dengan menganalisis nilai R/C ratio dan BEP (produksi, harga, penerimaan). Hasil penelitian perencanaan yang dilakukan petani berdasarkan klasifikasi usaha tani hortikultura di Kecamatan Tarakan Timur sebagai berikut berdasarkan coraknya dalam merencanakan usaha taninya petani menanam tanaman hortikultura sayuran bertujuan untuk dijual hasilnya (komersil), berdasarkan bentuk usaha tani petani berusaha tani secara individu bukan secara kelompok, berdasarkan pola usaha tani dikarenakan tanaman yang diusahakan adalah hortikultur sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, selada, daun bawang, seledri, kacang panjang, terong, timun, lombok, gambas, jagung, maka termasuk usaha tani lahan kering, dan berdasarkan tipe usaha taninya cara berbudi daya dilakukan dengan sistem monokultur. Adapun Kendala yang terjadi adalah ketidak mampuan dalam menyusun rencana secara tertulis dan kurangnya atau ketidaktahuan akses informasi terkait sumber daya yang akan digunakan dalam usaha tani. Hasil analisis kelayakan finansial usaha tani dari nilai R/C ratio sebesar 1,29. BEP produksi sebesar 31 Kg per Ha, BEP harga sebesar Rp.8.040 per Kg, dan BEP Penerimaan sebesar Rp.835.121 per Ha. Nilai BEP produksi, BEP harga, dan BEP penerimaan semuanya dikatakan layak karena lebih kecil dari nilai produksi rata-rata per Ha yaitu 498 Kg, harga rata-rata per kg Rp 14.821, dan penerimaan per Ha Rp 5.171.791.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS WILAYAH BASIS DAN TREND PERKEMBANGAN PRODUKSI TANAMAN HORTIKULTURA DI KOTA TARAKAN ABSTRAK Salah satu tanaman sektor pertanian yang banyak diusahakan oleh masyarakat adalah tanaman hortikultura yang berperan sebagai sumber gizi masyarakat, penyedia lapangan pekerjaan, dan penunjang kegiatan agrowisata dan agroindustri. Tujuan Penelitian ini adalah : (1) Mengetahui tanaman hortikultura basis di Kota Tarakan (2) Mengetahui trend perkembangan produksi tanaman hortikultura basis di Kota Tarakan (3) Mengetahui peramalan produksi tanaman hortikultura basis di Kota Tarakan pada tahun 2016-2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis location quotient (LQ), trend linier, peramalan (Forecasting). Hasil analisis LQ menunjukan bahwa terdapat 6 tanaman hortikultura basis di Kecamatan Tarakan Timur, 6 tanaman hortikultura basis di Kecamatan Tarakan Tengah, 8 tanaman hortikultura basis di Kecamatan Tarakan Barat, dan 5 tanaman hortikultura basis di Kecamatan Tarakan Utara. Berdasarkan hasil analisis trend tanaman hortikultura di Kota Tarakan, tanaman hortikultura yang mengalami peningkatan diantaranya bawang daun, cabai besar, kangkung, dan bayam, tanaman hortikultura yang cenderung menurun diantaranya bawang merah, cabai rawit, tomat, terung, melon, dan tanaman hortikultura yang berfluktuasi yaitu petsai/sawi, kacang panjang, buncis, ketimun, semangka. Berdasarkan hasil peramalan produksi tanaman hortikultura di Kota Tarakan maka disimpulkan bahwa tanaman hortikultura yang akan mengalami peningakatan ditahun yang akan datang yaitu bawang merah, bawang daun, terung, ketimun, melon, semangka. Adapun saran penelitian ini Pemerintah Kota Tarakan melalui kebijakannya diharapkan dapat mempertahankan dan mengembangkan tanaman hortikultura yang menjadi basis pada setiap kecamatan sebagai komoditas unggulan sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat lebih memperhatikan tanaman hortikultura yang di datangkan dari luar daerah atau non basis di Kota Tarakan yang masih bisa dikembangkan dalam wilayahnya sehingga tidak tergantung dengan wilayah lain.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan, pertama, mengetahui pengaruh harga barang itu sendiri, harga barang lainnya, pendapatan, jumlah tanggungan dan pendidikan terhadap permintaan komoditas hortikultura sayuran di masa pandemi Covid 19 di Kota Tarakan. Kedua, mengetahui perbedaan yang signifikan terhadap permintaan komoditas hortikultura sayuran sebelum pandemi dan saat pandemi Covid 19 di Kota Tarakan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pasar Ghuser, Pasar Dayak dan Pasar Tenguyun di Kota Tarakan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis Uji beda Wilcoxon dan analisis regresi linier berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, karakteristik konsumen yang berbelanja di Pasar Kota Tarakan ialah perempuan dengan usai rata-rata diatas 40 tahun pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga dengan status istri. Kedua, sebelum pandemi dan saat pandemi terdapat perbedaan yang signifikan terhadap permintaan hortikultura sayuran. Dimana permintaan hortikultura sayuran mengalami penurunan. Ketiga, faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintaan bayam dan sawi yaitu harga sayur itu sendiri sedangkan harga tahu, pendapatan, jumlah tanggungan dan pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan bayam dan sawi. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintaan kangkung yaitu harga sayur itu sendiri dan jumlah tanggungan sedangkan harga tahu, pendapatan, jumlah tanggungan dan pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan kangkung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Potensi hama dan musuh alami di lanskap budidaya tanaman hortikultura di kota Tarakan perlu dikaji sebagai dasar dalam pengelolaan hama dan pemanfaatan musuh alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis hama dan musuh alami pada berbagai lanskap budidaya tanaman hortikultura, serta bagaimana hubungan perbedaan pola lanskap terhadap potensi hama dan musuh alami tersbut. Terdapat 4 lokasi yakni Gunung Amal, Mamburungan, Juata Permai, dan Kampung 6. setiap lokasi dilakukan pengambilan sampel sebanyak 9 titik dengan menggunakan perangkap jebak dan perangkap nampan kuning. Hasil penelitian menunjukkan lanskap areal budidaya tanaman hortikultura memiliki potensi hama dari kelompok insekta terdiri dari 7 famili, 10 genus, 11 spesies, dan 485 individu. Selain itu, potensi musuh alami dari kelompok insekta terdiri dari 7 famili, 8 genus, 8 spesies, dan 273 individu, serta kelompok Araneae terdiri dari 1 famili, 1 genus, 1 spesies, dan 91 individu individu spesies. Spesies yang berpotensi sebagai hama yakni Phlaeoba sp di lokasi Gunung Amal (44.3%), dan Mamburungan (41%), serta spesies Maladera sp1 di lokasi Juata Permai (67%) dan Kampung 6 (47.2%). Sedangkan, musuh alami yakni Oxyopes salticus di lokasi Gunung Amal (44.3%), dan Juata Permai (41%), serta spesies Rhaphium elegantulum di lokasi Kampung 6 (67%), dan Mamburungan (47,2%). Terdapat perbedaan nilai indeks keanekaragaman antar lokasi penelitian. Lokasi Mamburungan memiliki nilai indeks tertinggi. Selain itu, berdasarkan nilai kekayaan spesies, keanekaragaman Shannon, dan kemerataan indeks keanekeragaman cenderung mempengaruhi komposisi hama, namun tidak untuk potensi musuh alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS STRUKTUR LANSKAP AREAL BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP KEANEKARAGAMAN CAPUNG DI PULAU TARAKAN Ruben Sampe, abdul Rahim Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan Jalan AmaL Lama Nomor 1 Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, 77123 Email: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan; (1) melakukan analisis struktur lanskap pada area budidaya tanaman hortikultura berdasarkan SIG di pulau Tarakan; dan (2) mengetahui hubungan karakteristik lanskap dengan keanekaragaman capung (Ordo: Odonata) di pulau Tarakan. Pengambilan contoh capung pada 4 lokasi yakni Tarakan Timur, Tarakan Utara, Tarakan Barat, dan Tarakan Tengah. Selain itu, dilakukan analisi lanskap, pengambilan data suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan Ph air. Indeks keanekaragaman lanskap(H), indeks kekayaan jenis (R), indeks keanekaragaman Shannon (H), indeks kemerataan(E), regresi, diagram venn dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan struktur lanskap terdiri dari beberapa jenis tapak yakni tapak budidaya tanaman sayuran, tanaman buahbuahan, rawa/kolam, pemukiman, hutan sekunder. Indeks keanekaragaman lanskap tertinggi di Tarakan Barat. Komposisi spesies capung di Pulau Tarakan terdiri dari 3 famili, 10 genus, 17 spesies. Indeks kekayaan spesies tertinggi di Tarakan Timur, sedangkan indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan tertinggi di Tarakan Barat. Terdapat hubungan antara keanekaragaman lanskap dan keanekaragman capung, misalnya tanaman sayuran menyebabkan area lebih terbuka dan disukai oleh capung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN TARAKAN UTARA Abstrak Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang memliki kandungan racun sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman. Untuk menegetahui spesies dari suatu gulma maka perlu dilakukan indentifikasi. Identifikasi gulma bertujuan untuk mengetahui spesies gulma, jumlah gulma, dan jenis gulma yang dominan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2020, yang bertempat di lahan budidaya tanaman holtikultura di Kecamatan Tarakan Utara. Motode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode acak dengan petak kuadrat berukuran 1 x 1 m sebanyak 50 sampel. Hasil penelitian yang dilakukan terdapat 29 jenis gulma yang ada di lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Utara, 20 jenis termasuk golongan berdaun lebar, 7 jenis termasuk golongan rerumputan, dan 2 jenis termasuk golongan teki-tekian. Adapun gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Utara yaitu gulma Eleusin indica dengan nilai SDR 18,92%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Gulma merupakan salah satu tumbuhan pengganggu yang dapat menyebabkan kerugian dalam kegiatan budidaya tanaman, untuk mengetahui jenis spesies gulma itu sendiri maka perlu dilakukan identifikasi gulma. Identifikasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis spesies gulma yang tumbuh dan jenis spesies gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November tahun 2020, di lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Tengah. Metode pengambilan sampel yaitu dengan metode acak menggunakan metode petak kuadrat dengan ukuran 1 x 1 m sebanyak 50 sampel. Sebelum melakukan identifikasi gulma, hal yang perlu dilakukan yaitu melakukan survey pendahuluan ke setiap kelurahan dan ketua kelompok tani untuk mendukung hasil identifikasi gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 golongan gulma yaitu berdaun lebar sebanyak 22 jenis spesies, rerumputan sebanyak 7 jenis spesies dan teki-tekian sebanyak 3 jenis spesies. Dimana gulma yang dominan atau memiliki nilai Summed Dominance Ratio (SDR) tertinggi yaitu Eleusin indica dari golongan rerumputan yaitu sebesar 17,25%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Daerah yang menjadi basis tanaman hortikultura sayuran yaitu pada Kecamatan Tarakan Utara yang merupakan salah satu daerah utama penghasil sayuran. Namun, petani hortikultura sayuran yang ada di Kecamatan Tarakan Utara perekonomiannya masih menengah kebawah. Hal ini dikarenakan sulitnya memperoleh bantuan modal yang disebabkan ketidakmampuan dalam menyediakan agunan dan karena persyaratan yang tidak dapat dipenuhi oleh para petani. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Agar mengetahui sumber dan jenis pembiayaan lembaga usahatani hortikultura sayuran di Kecamatan Tarakan Utara (2) Untuk mengetahui aksesibilitas terhadap sumber pembiayaan di Kecamatan Tarakan Utara. Metode penentuan sampel yaitu dengan menggunakan metode Snowball sampling dan analis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menjelaskan sumber dan jenis pembiayaan lembaga usahatani hortikultura sayuran di Kecamatan Tarakan Utara adalah dari sumber pembiayaan lembaga informal dan formal, Adapun sumber pembiayaan lembaga informal berasal dari: Tengkulak dan Rentenir. Sumber pembiayaan dari lembaga formal berasal dari Kur Bank Bri, Baznas dan Dinas Pertanian. Aksesibilitas petani hortikultura sayuran terhadap sumber pembiayaan yang mudah diakses adalah berasal dari Lembaga Informal yaitu Tengkulak dan Rentenir karena dalam prosedurnya tidak mensyaratkan agunan dan mekanisme peminjaman pada lembaga ini relatif sangat cepat dan sederhana, sesuai dengan kemampuan petani. Pada umumnya lembaga informal lebih menekankan pada persyaratan kejujuran dan kepercayaan. Hal ini bisa dilihat dari, apabila petani terlambat membayar pinjaman maka sanksi dari lembaga ini hanya berupa Bunga yang semakin hari bertambah, teguran/peringatan. Namun, karena kemudahan dalam mengaksesnya maka petani banyak memilih menggunakan sumber pembiayaan dari lembaga ini.