Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

16 hasil
Subjek: GULMA
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH JARAK TANAM DAN PENYIANGAN GULMA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) VAR.CILEMBU

•

Cilembu sweet potato has a bright prospect because it is increasingly needed as consumption and industrial raw material. To increase production of this variety, a good plant spacing and weeding is needed. This resaech aimed to determine the effect of ideal plant spacing and weeding time on growth and yield of Cilembu sweet potato. The research was carried out on the land of the Faculty of Agriculture, Universitas Borneo Tarakan from February to April 2019. The method used was randomized block design with 2 factors and 4 replications. The first factor was plant spacing which consisted of three treatments: J1 (20x30 cm), J2 (30x40 cm), and J3 (40x50 cm). the second factor was weeding which consisted of 4 replication: P0 (control or not weeded), P1 (1 time weeding at 15 DAP), P2 (2 times weeding at 15 and 30 DAP), P3 (3 times weeding at 15, 30 and 40 DAP). The result showed that plant spacing did not effect all growth parameters and sweet potato crop production. Whereas weed treatment gives a real influence on the growth of tendrils at 40 and 60 DHP, number of leaves at 40 DAP, stem diameter at 20 and 60 DAP. The intraction of plant spacing and weeding effects the trearment of 20x30 cm without weeding (P0J1) and the treatment of 40x50 cm with three times weeding (P3J3) on swet potato weight at 90 DAP. It is recommended to plant sweet potato ast a space of 20x30 cm without weeding (P0J1) and at 40x50 cm with three times weeding (P3J3).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK RUMPUT BELULANG (Elusine indica L.) SEBAGAI HERBISIDA NABATI PADA GULMA MENIRAN HIJAU (Phyllantus niruri L.) PADA PERTUMBUHAN PAKCOY (Brassica rapa L.)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pakcoy memiliki harga yang ekonomis dan mudah untuk didapatkan, salah satu kendala pada tanaman pakcoy yaitu gulma yang tumbuh disekitarnya, salah satu yang dapat dilakukan dalam pengendalian pakcoy yaitu penggunaan herbisida nabati yang berasal dari rumput belulang, penggunaan herbisida nabati dengan memanfaatkan alelokimia yang terdapat pada rumput belulang yang dapat mengendalikan gulma meniran hijau pada tanaman pakcoy, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok 1 faktor dengan 4 ulangan dan 7 perlakuan dengan 84 sampel, perlakuan yaitu tanpa ekstrak rumput belulang, tanpa ekstrak rumput belulang dan gulma meniran hijau, dan perlakuan pemberian ekstrak rumput belulang yaitu 20 %, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Parameter yang di amati pada tanaman pakcoy yaitu, tinggi tanaman 1 Sampai 4 MSPT, jumlah daun 1 sampai 4 MSPT, berat pupus dan berat akar, parameter gulma meniran hijau yang diamati yaitu tinggi gulma 1 Sampai 4 MSPT, jumlah daun 1 Sampai 4 MSPT, berat basah pupus, berat basah akar, berat kering pupus dan berat kering akar, dari hasil penelitian menunjukkan pada pemberian ekstrak rumput belulang tidak memberikan pengaruh yang nyata dalam mengendalikan gulma meniran hijau, dikarenakan tingkat fitotoksik dari ekstrak rumput belulang masih tergolong rendah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Gulma Imperata cylindrica L Dalam Mengendalikan Gulma Rottboellia exaltata pada Tanaman Jagung ( Zea mays L)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jagung (Zea mays L) termasuk salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat. Jagung banyak dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan komoditi yang diekspor. Namun kehadiran gulma menjadi salah satu masalah dan mengganggu dalam budidaya tanaman jagung. Salah satu jenis gulma yang ditemui pada budidaya tanaman jagung yaitu gulma Rottboellia exaltata. Maka dari itu, untuk menekan pertumbuhan gulma Rottboellia exaltata maka perlu dilakukan pengendalian salah satunya dengan menggunakan bioherbisida. Gulma yang dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida alami dalam menghambat pertumbuhan gulma yaitu gulma Imperata cylindrica L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi gulma Imperata cylindrica L dalam mengendalikan gulma Rottboellia exaltata pada tanaman jagung (Zea mays L) dan untuk mengetahui pada konsentrasi gulma Imperata cylindrica L berapakah yang paling efektif dalam mengendalikan gulma Rottboellia exaltata pada tanaman jagung (Zea mays L). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri dari 6 perlakuan ekstrak gulma Imperata cylindrica L yaitu P0 (0%), P1 (20%), P2 (40%), P3 (60%), P4 (80%) dan P5 (100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P5 dengan konsentrsi ekstrak gulma Imperata cylindrica L 100% merupakan perlakuan terbaik dalam menghambat pertumbuhan gulma Rottboellia exaltata pada parameter tinggi gulma, jumlah daun gulma, berat basah gulma dan berat kering gulma.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Respon Pemberian Ekstrak Gulma Jukut Pahit (Axonopus Compresus) Dan Gulma Alang-Alang (Imperata clydrica) Terhadap Tanaman Jagung (zea Mays) Dalam mengendalikan gulma rumput belulang (ELeusin indica L.)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilakukan untuk mengendalikan gulma rumput belulang (eleusin indica L) adapun upaya yang dilakukan adalah pengunaan pestisida nabati yaitu Gulma jukut pahit (Axonopus Compresus) Dan alang alang (Imperata Cylindrica) dan pengaturan dosis yang tepat Penelitian ini diduga akan meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung yang maksimal. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Januari 2022. Dilaksanakan di Lahan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Adapun Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cangkul, belender, gelas ukur, pengggaris,timbangan analitik, buku, pulpen, meteran. Sedangkan bahan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu: polibag, bibit jagung, pupuk kandang, gulma Axonopus Compresus dan gulma Imperata Cylindrica Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sebelas perlakuan tiga ulangan, dengan satuan percobaan 11 x3= 99 satuan percobaan dimana P0- Kontrol (Tanpa ekstrak), P0+ Racun Sintetik, P1 Tanpa Gulma, P2 Konsentrasi ekstrak (25% Axonopus Compresus), P3 Konsentrasi ekstrak (25% Imperata Cylindrica), P4 Konsentrasi ekstrak (50% Axonopus Compresus), P5 Konsentrasi ekstrak (50% Imperata Cylindrica), P6 Konsentrasi ekstrak (75% Axonopus Compresus), P7 Konsentrasi ekstrak (75% Imperata cylindrica), P8 Konsentrasi ekstrak (100% Axonopus Compresus), P9 Konsentrasi ekstrak (100% Imperata Cylindrica), Penelitian ini menggunakan dua analisis data. Analisis data Analysis of Variance (ANOVA) digunakan untuk parameter vegetatif tanaman jagung. persentasi kerusakan gulma, Analisis yang digunakan untuk menguji hasil Riset untuk parameter vegetatif tanaman jagung yaitu dengan menggunakan ANOVA dengan taraf 5%. Apabila F hitung menunjukkan berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut dengan uji DMRT kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak jukut pahit (axonopus compresus) dan extrat alang-alang (imperata cylindrica) dalam mengendalikan gulma rumput belulang (eleusin Indica L) terhadap tanaman jagung (zea mays l.) tidak menunjukan hasil yang memuaskan dimana ekstrak tersebut tidak mampu menekan pertumbuhan gulma namun berbanding terbalik dengan pengunaan pestisida kimia yang menunjukan hasil yang sangat memuaskan di saat pengaplikasian.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemanfaatan gulma sebagai bahan tambahan dalam pengembangbiakan tikus putih (mus muculus)

2023•

Gulma sebagai tumbuhan berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak, karena memiliki kandungan nutrisi, serta senyawa metabolik lainnnya khususnya bagi pengembangbiakan tikus putih. Penelitian bertujuan, (1) menguji pengaruh penggunaan gulma sebagai bahan tambahan sebagai ransum bagi pertumbuhan tikus putih; dan (2) menguji perbedaan pengaruh pertumbuhan tikus putih dengan menggunakan gulma sebagai bahan tambahan ransum tikus putih, dengan pakan lainnya. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok 1 (satu) faktor yakni gulma sebagai tambahan ransum pakan tikus, yang terdiri dari, (1) ransum komersial tanpa gulma sebagai kontrol, (2) ransum komersial ditambahkan serbuk gulma daun lebar (kelompok kacang-kacangan) (3) ransum komersial ditambahkan serbuk gulma rerumputan (rumput paspalum), dan (4), ransum ransum komersial ditambahkan serbuk gulma teki-tekian (Cyperaceae). Masing-masing perlakuan diulang 6 kali, sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Data pengamatan meliputi; (1) konsumsi pakan (ransum) selama 13 hari; (2) selisih berat akhir tikus dan awal tikus (g); (3) panjang badan tikus (cm), Selain itu, (4) dilakukan pengukuran kadar glukosa dan kolesterol dalam darah. Kadar glukosa dan kolesterol diperoleh dari sampel darah 4 (empat) ekor tikus. Hasil Penelitian menujukkan penggunaan gulma sebagai sebagai bahan tambahan ransum memberikan pertumbuhan negatif selisih berat akhir dan berat awal tikus, dan selisih panjang badan tikus, kecuali perlakuan gulma kacang-kacangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan selisih panjang badan tikus akhir dan awal. Sedangkan, perlakuan tidak terdapat pengaruh terhadap kadar, namun terdapat perbedaan pengaruh terhadap kadar glukosa tikus. Perlakuan kontrol berbeda dengan perlakuan bahan tambahan gulma daun lebar (kacang-kacangan), gulma rerumputan (paspalum), dan rumput teki. Selanjutnya, perlakuan kontrol berbeda dengan gulma daun lebar dan gulma rerumputan, namun perlakuan gulma teki tidak berbeda dengan kontrol. Sedangkan, kadar glukosa pada perlakuan kontrol berbeda dengan seluruh perlakuan gulma sebagai bahan tambahan ransum pakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Daya Tolak Beberapa Jenis Ekstrak Gulma Terhadap Hama Burung Pada Gabah Padi (Oryza Sativa L.)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Produksi Padi di Kalimantan Utara mengalami fluktuasi sejak tahun 2018 hingga tahun 2021. Salah satu penyebab terjadinya fluktuasi produksi padi disebabkan oleh gangguan organisme pengganggu tanaman yang dapat menjadi faktor pembatas produksi padi. Serangan hama dari kelompok burung (kelas Aves) dapat mengakibatkan produksi padi mengalami penurunan sebanyak 30-50% salah satunya ialah jenis hama burung gereja. Burung gereja merupakan salah satu hewan yang memiliki pertumbuhan bulbus olfaktorius atau struktur otak penciuman yang baik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji beberapa jenis gulma yang digunakan sebagai repelen (penolak) dan membandingkan daya tolak dari beberapa ekstrak gulma tersebut terhadap hama burung gereja. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan dua metode yakni, metode pilihan beragam dan metode tanpa pilihan. Tempat pelaksanan penelitian dilakukan di lapangan terbuka dan di Laboratorium Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan pada bulan Maret sampai Agustus 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 1 faktor yang terdiri dari 6 perlakuan yakni; kontrol (P1), ekstrak gulma babadotan (P2), ekstrak gulma saliara (P3), ekstrak gulma krinyuh (P4), ekstrak gulma daun sirih (P5), ekstrak gulma daun pandan (P6) dan diulang sebanyak 6 kali. Hasil penelitian menggunakan metode pilihan beragam menunjukkan tidak terdapat perbedaan antar ekstrak gulma saliara, babadotan, daun sirih, dan krinyuh, namun berbeda dengan ekstrak daun pandan dengan tingkat repelensi masing-masing yakni 75.3%, 71.4%, 67.2%, 66.1%. dan 31.1%. Sedangkan, pada pengujian tanpa pilihan terdapat perbedaan antar ekstrak gulma saliara, daun sirih, dan daun krinyuh dengan tingkat repelensi masing-masing yakni 88.5%, 82.3%, 64.4%, namun ekstrak gulma babadotan tidak terdapat perbedaan dengan ekstrak gulma daun pandan dengan tingkat daya tolak masing-masing 46.3% dan 47.5%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS ALELOPATI GULMA Cyperus compressus DAN Eleusine indica SEBAGAI BIOHERBISIDA GULMA Eleusine indica TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI DI KOTA TARAKAN

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cabai merupakan tanaman hortikultura yang banyak ditanam oleh petani di Kota Tarakan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Namun terdapat masalah dalam budidayanya yaitu adanya gulma yang tumbuh disekitarnya. Adanya gulma di lahan budidaya dapat menimbulkan kerugian dan menyebabkan kehilangan hasil panen. Gulma yang banyak ditemukan di Kota Tarakan yaitu gulma Eleusine indica. Pengendalian yang dapat dilakukan salah satunnya yaitu dengan memanfaatkan gulma Cyperus compressus dan Eleusine indica sebagai bioherbisida. Tujuannya yaitu dapat menghambat pertumbuhan gulma Eleusine indica di lahan budidaya cabai. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 1 faktor dengan 11 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, Perlakuan P0 (kontrol negatif (tanaman cabai + gulma)), P1 (kontrol positif (tanaman cabai tanpa gulma)), P2 (25% ekstrak C. compressus), P3 (25% ekstrak E. indica), P4 (50% ekstrak C. compressus), P5 (50% ekstrak E. indica), P6 (75% ekstrak C. compressus), P7 (75% ekstrak E. indica), P8 (100% ekstrak C. compressus), P9 (100% ekstrak E. indica), P10 (herbisida basmilang 10 ml per liter). Parameter pengamatan yaitu tinggi gulma, jumlah daun gulma, berat basah dan kering pupus dan akar gulma, kerusakan gulma, tinggi tanaman cabai, jumlah daun cabai, berat basah dan kering pupus dan akar tanaman cabai. Data dianalisis menggunakan ANOVA, apabila terdapat data berbeda nyata maka dilanjut dengan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P10 menunjukkan hasil terbaik pada semua parameter gulma. Sedangkan perlakuan ekstrak gulma kurang berpengaruh dalam mengendalikan gulma. Namun perlakuan P9 menunjukkan hasil lebih baik dari semua perlakuan dan paling berpotensi untuk direkomendasikan sebagai bioherbisida.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS EKSTRAK GULMA BAYEMAN (Ludwigia parviflora) DAN EKSTRAK KROKOT (Portulaca oleracea) SEBAGAI BIOHERBISIDA GULMA BELULANG (Eleusine indica) PADA TANAMAN CABAI (Capsicum frutescens )

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cabai merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Kota Tarakan, namun ketersediannya seringkali terbatas dan tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar. Kendala utama dalam budidaya cabai di Tarakan adalah adanya persaingan dengan gulma terutama gulma Eleusine indica. Teknologi pengendalian gulma menggunakan alelopati dari gulma lain seperti Ludwigia parviflora dan Portulaca oleracea adalah solusi yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Ludwigia parviflora dan ekstrak Portulaca oleracea dalam mengendalikan gulma Eleusine indica terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman cabai dan mendapatkan jenis gulma yang menghasilkan akekopati yang efektif sebagai bioherbisida.. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor, sebagai perlakuan ekstrak Ludwigia parviflora dan ekstrak Portulaca oleracea. Dengan perlakuan, P0: kontrol, P1: Ekstrak Ludwigia parviflora (25%), P2: Ekstrak Portulaca oleracea (25%), P3: Ekstrak Ludwigia parviflora (50%), P4:Ekstrak Portulaca oleracea (50%), P5: Ekstrak Ludwigia parviflora (75%), P6: Ekstrak Portulaca oleracea (75%), P7: Ekstrak Ludwigia parviflora (100%), P8: Ekstrak Portulaca oleracea (100. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun Ludwigia parviflora dengan konsentrasi 100% memiliki rata – rata yang paling tinggi dalam menghambat tinggi gulma, jumlah daun gulma, kerusakan gulma dan berat basah dan berat kering gulma. semakin tinggi konsentasi ekstrak yang diberikan terhadap gulma Eleusine indica maka berpengaruh pada penghambatan Gulma.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI KERAGAMAN GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN TARAKAN BARAT

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sektor pertanian budidaya di Tarakan Barat didominasi tanaman sayuran yang rentan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tanaman sehingga berakibat pada penurunan produksi. Salah satu OPT yang berkaitan langsung dengan budidaya sayuran adalah gulma dengan segala jenis, dampak, dan biologinyaa. Oleh sebab itu perlu tindakan identiikasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi keragaman gulma dengan mengetahui spesies gulma dan spesies gulma yang dominan dimana pelaksanaan penelitian ini pada lahan budidaya tanaman sayuran di Kecamatan Tarakan Barat yang berlangsung dari bulan Januari 2021 hingga Februari 2021. Pengambilan sampel gulma menggunakan metode kuadrat secara acak, sebanyak 50 sampel dengan ukuran petakan 1 m x 1 m. Hasil penelitian menemukan 38 jenis/spesies gulma, 24 spesies termasuk gulma golongan berdaun lebar, 10 spesies rumputan dan 4 jenis diantaranya golongan tekian. Spesies gulma dominan ialah gulma Eleusin indica dengan nilai SDR tertinggi sebesar 13,82.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI GULMA SEBELUM PEMUPUKAN DAN SESUDAH PEMUPUKAN PADA TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens) DI LAHAN KELOMPOK TANI SINAR HARAPAN TARAKAN TIMUR

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

IDENTIFIKASI GULMA SEBELUM PEMUPUKAN DAN SESUDAH PEMUPUKAN PADA TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens) DI LAHAN KELOMPOK TANI SINAR HARAPAN TARAKAN TIMUR Abstrak Seledri merupakan tumbuhan serbaguna, terutama sebagai sayuran dan obat-obatan, terdapat salah satu organisme penggangu tanaman (OPT) terhadap pertumbuhan tanaman seledri yaitu gulma. Gulma merupakan salah satu tumbuhan yang tidak dikehendaki oleh para petani, yang bisa menyebabkan kerugian dalam kegiatan budidaya tanaman. Untuk mengetahui jenis gulma maka perlu dilakukan identifikasi gulma. Dalam penelitian ini tujuan dari identifikasi adalah untuk mengetahui jenis gulma yang tumbuh dan jenis gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman seledri di kelompok tani Sinar Harapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 hingga bulan Januari 2022, dilahan budidaya tanaman seledri di kelompok tani Sinar Harapan. Pengambilan sampel gulma menggunakan metode kuadrat secara acak, sebanyak 30 sampel sebelum pemupukan dan 30 sampel sesudah pemupukan dengan ukuran petakan 1x1 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies gulma yang telah di identifikasikan sebelum pemupukan yang terdiri dari 16 spesies golongan daun lebar, 3 spesies golongan rumputan dan 2 spesies golongan teki. Identifikasi gulma sesudah pemupukan ditemukan 20 spesies gulma yang terdiri dari 15 spesies golongan daun lebar, 4 spesies golongan rumputan, 1 golongan teki. Dimana gulma yang dominan tumbuh sebelum pemupukan dan sesudah pemupukan yaitu spesies Centipeda minima yang memiliki jumlah 1185 individu dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) 29.69% sebelum pemupukan dan sesudah pemupukan yang memiliki jumlah 1516 individu dengan nilai Summed Dominance Ratio (SDR) 33.60%. Kata kunci : Gulma, Identifikasi, Seledri, Spesies, Tarakan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Gulma Sebelum Pemupukan Kedua Dan Masa Panen Pada Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans L.) Di Lahan Kelompok Tani Sinar Harapan Tarakan Timur

2022•

Tanaman kangkung merupakan salah satu tanaman yang dibudidayakan oleh kelompok tani Sinar Harapan Tarakan Timur. Kehadiran gulma pada tanaman budidaya menjadi salah satu faktor penyebab penurunan hasil akibat dari perebutan unsur hara. Untuk mengetahui jenis spesies gulma dan spesies gulma yang dominan sebelum pemupukan kedua dan masa panen pada tanaman kangkung (Ipomoea reptans L.) di lahan kelompok tani Sinar Harapan Tarakan Timur maka dilakukan identifikasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2021, di lahan budidaya tanaman sayuran Kelurahan Kp 6 Kecamatan Tarakan Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode kuadrat secara acak dengan ukuran 1 x 1 m sebanyak 30 sampel. Hasil penelitian diperoleh 19 spesies gulma dari 3 golongan gulma yaitu daun lebar sebanyak 12 spesies, rerumputan sebanyak 6 spesies, dan tekian sebanyak 1 spesies sebelum pemupukan kedua dan masa panen. Gulma yang dominan tumbuh sebelum pemupukan kedua dan masa panen yaitu dari spesies Cyperus compressus dengan nilai SDR sebelum pemupukan kedua 32,07% dan masa panen 23,35%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KAJIAN PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI GULMA SIAM (Chromolaena odorata) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica rapa L.)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Septiana. 15201010003. “Kajian Penggunaan Pestisida Nabati Gulma Siam (Cromolaena Odorata) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica rapa L)” Dibimbing oleh Mardhiana. Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Sawi hijau (Brassica rapa L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari masyarakat Indonesia. Sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dikonsumsi segar atau diolah menjadi asinan. Sawi hijau mengandung banyak antioksidan dan vitamin. Kurangnya produksi sawi terjadi karena adanya serangga hama pemakan daun, ulat grayak (Spodoptera litura) salah satu jenis hama pemakan daun yang sangat penting dan potensial menyerang tanaman sawi. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pengaruh pemberian pestisida nabati gulma siam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau serta mengetahui intensitas kerusakan tanaman akibat serangan hama. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 1 faktor dengan 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 petak percobaan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu P1 ( kontrol), P2 ( Ekstrak C. odorata konsentrasi 20 ml + 980 ml aquades), P3 (Ekstrak C. odorata konsentrasi 40 ml + 960 ml aquades), P4 (Ekstrak C. odorata konsentrasi 80 ml+ 920 ml aquades), P5 (Ekstrak C. odorata konsentrasi 160 ml + 840 ml aquades), P6 (Ekstrak C. odorata konsentrasi 320 ml + 680 ml aquades). Parameter pengamatan penelitian ini yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, intensitas kerusakan, dan berat basah tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa parameter perlakuan P3 memberikan rata-rata data yang cenderung lebih tinggi pada pengamatan tinggi tanaman 12 HST (21.26 cm), tinggi tanaman 18 HST (34.48 cm), tinggi tanaman 24 HST (36.22 cm). jumlah daun 12 HST (9.13 helai), jumlah daun 18 HST (16.03 helai), jumlah daun 24 HST (21.28 helai). Lebar daun 12 HST (8.75 cm), lebar daun 18 HST (12.7 cm), lebar daun 24 HST (13.3 cm). Parameter perlakuan P6 memberikan rata-rata data cenderung lebih rendah pada pengamatan intensitas kerusakan tanaman 12 HST (11.18 %), intensitas kerusakan tanaman 18 HST (10.2 %), intensitas kerusakan tanaman 24 HST (7.73 %). Berat basah perlakuan P3 24 HST (154.85 gram).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengelolaan Dan Komposisi Gulma Pada Areal Budidaya Tanaman Padi Di Pulau Tarakan

2021•

Pengelolaan gulma dilakukan dengan cara kultur tehnis, fisik/mekanis, biologi, dan kimia. Selain itu, pengendalian tersebut juga didukung oleh informasi tentang komposisi gulma di areal budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan serta komposisi gulma yang ada di areal budidaya tanaman padi di Pulau Tarakan. Penelitian dilaksanakan di wilayah Mamburungan, Mamburungan Timur, dan Tanjung Pasir. Pengambilan sampel menggunakan metode kuadrat dengan ukuran 50 x 50 cm sebanyak 20 titik/kuadrat per lokasi yang diambil sebanyak 3 (tiga) kali. Metode wawancara dan penggunaan kuisioner digunakan untuk mengetahui pengelolaan gulma pada masing-masing areal budidaya tanaman padi. Komposisi gulma dilakukan dengan melakukan analisis vegetasi gulma yang meliputi, nilai SDR (Sum Dominance Ratio), indeks kekayaan spesies (R), indeks keanekaragaman Shanon-Wiener (H), indeks kemerataan (E), dan Indeks kesamaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 spesies gulma yang tergolong ke dalam 9 famili. Spesies Monochoria vaginalis memiliki nilai SDR tertinggi di Mamburungan (32,7), dan Mamburungan Timur (35,9), sedangkan di Tanjung Pasir spesies Fimbristylis littoralis (32,0). Indeks kekayaan spesies dan keanekaragaman Shanon-Wiener, dan indeks kemerataan pada Mamburungan Timur (R=1,04; H’=1,34; E=0,61), Mamburungan (R=1,49; H’=1,64; E=0,64), dan Tanjung Pasir masing-masing sebesar (R=0,81; H’=1,36; E=0,70). Lokasi Mamburungan dan Tanjung pasir memiliki indeks kesamaan tertinggi yaitu sebesar 70 %, sedangkan indeks terendah pada lokasi Mamburungan dengan Mamburungan Timur yakni 55%. Pengelolaan gulma pada lokasi Mamburungan dilakukan dengan cara setelah padi dipanen lahan dibajak lalu dibiarkan, mendekati masa tanam lahan dibajak kembali, kemudian penyemprotan dilakukan sebanyak 1 kali dan penyiangan 2 kali. Sedangkan pada daerah Mamburungan Timur dan Tanjung Pasir setelah panen lahan dibiarkan, mendekati masa tanam lahan baru akan diolah kembali, kemudian penyemprotan sebanyak 2 kali dan tidak dilakukan penyiangan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN TARAKAN UTARA

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN TARAKAN UTARA Abstrak Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang memliki kandungan racun sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman. Untuk menegetahui spesies dari suatu gulma maka perlu dilakukan indentifikasi. Identifikasi gulma bertujuan untuk mengetahui spesies gulma, jumlah gulma, dan jenis gulma yang dominan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2020, yang bertempat di lahan budidaya tanaman holtikultura di Kecamatan Tarakan Utara. Motode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode acak dengan petak kuadrat berukuran 1 x 1 m sebanyak 50 sampel. Hasil penelitian yang dilakukan terdapat 29 jenis gulma yang ada di lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Utara, 20 jenis termasuk golongan berdaun lebar, 7 jenis termasuk golongan rerumputan, dan 2 jenis termasuk golongan teki-tekian. Adapun gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Utara yaitu gulma Eleusin indica dengan nilai SDR 18,92%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN DI KECAMATAN TARAKAN TIMUR

2021•

Sektor pertanian budidaya di Tarakan Timur didominasi tanaman sayuran yang rentan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tanaman sehingga berakibat pada penurunan produksi. Salah satu OPT yang berkaitan langsung dengan budidaya sayuran adalah gulma dengan segala jenis, dampak, dan biologinyaa. Oleh sebab itu perlu tindakan identiikasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi gulma dengan mengetahui spesies gulma dan spesies gulma yang dominan dimana pelaksanaan penelitian ini pada lahan budidaya tanaman sayuran di Kecamatan Tarakan Timur yang berlangsung dari bulan Oktober 2020 hingga November 2020. Pengambilan sampel gulma menggunakan metode kuadrat secara acak, sebanyak 50 sampel dengan ukuran petakan 1 m x 1 m. Hasil penelitian menemukan 39 jenis/spesies gulma, 24 spesies termasuk gulma golongan berdaun lebar, 12 spesies rumputan dan 3 jenis diantaranya golongan tekian. Spesies gulma dominan ialah gulma Cyperus compressus dengan nilai SDR tertinggi sebesar 23,11.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI GULMA PADA LAHAN BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN TARAKAN TENGAH

2021•

Gulma merupakan salah satu tumbuhan pengganggu yang dapat menyebabkan kerugian dalam kegiatan budidaya tanaman, untuk mengetahui jenis spesies gulma itu sendiri maka perlu dilakukan identifikasi gulma. Identifikasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis spesies gulma yang tumbuh dan jenis spesies gulma yang dominan tumbuh pada lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November tahun 2020, di lahan budidaya tanaman hortikultura di Kecamatan Tarakan Tengah. Metode pengambilan sampel yaitu dengan metode acak menggunakan metode petak kuadrat dengan ukuran 1 x 1 m sebanyak 50 sampel. Sebelum melakukan identifikasi gulma, hal yang perlu dilakukan yaitu melakukan survey pendahuluan ke setiap kelurahan dan ketua kelompok tani untuk mendukung hasil identifikasi gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 golongan gulma yaitu berdaun lebar sebanyak 22 jenis spesies, rerumputan sebanyak 7 jenis spesies dan teki-tekian sebanyak 3 jenis spesies. Dimana gulma yang dominan atau memiliki nilai Summed Dominance Ratio (SDR) tertinggi yaitu Eleusin indica dari golongan rerumputan yaitu sebesar 17,25%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail