ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan kelompok dengan teknik role play terhadap self-efficacy pada siswa kelas IX-A SMPN 6 Tarakan. Self-efficacy merupakan keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi tugas, tantangan, serta berbagai situasi dilingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Eksperimen dan desain Pre-Experimental Design model One-Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah delapan siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala self-efficacy yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas, uji homogenitas, uji paired sample t-test, serta analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan self-efficacy setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role play. Nilai rata-rata self-efficacy meningkat dari 30,63 pada pretest menjadi 69,13 pada posttest. Hasil perhitungan N-Gain menunjukkan peningkatan sebesar 67,1%. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor, dengan tujuh siswa berada pada kategori tinggi dan satu siswa berada pada kategori sedang. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,000 0,05, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara self-efficacy siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Dengan demikian, bimbingan kelompok dengan teknik role play berpengaruh terhadap peningkatan self-efficacy siswa kelas IX-A SMPN 6 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Tersedak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran napas oleh benda asing dan dapat menyebabkan hipoksia hingga kematian apabila tidak segera ditangani. Anak usia sekolah dasar termasuk kelompok yang rentan mengalami tersedak, sehingga guru sebagai penolong pertama di lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, self-efficacy, dan sikap guru sekolah dasar dalam penanganan tersedak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 83 guru sekolah dasar yang diperoleh menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan, kuesioner self-efficacy, dan kuesioner sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik (91,6%), self-efficacy sedang (59%), dan sikap netral (62,7%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa guru sekolah dasar memiliki pengetahuan yang baik, namun self-efficacy dan sikap dalam penanganan tersedak masih perlu ditingkatkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Self-Efficacy terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas XI SMK Negeri 1 Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang ditunjukkan dari hasil belajar yang masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), serta adanya faktor afektif berupa keyakinan diri (Self-Efficacy) yang diduga memengaruhi kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Tarakan, dengan sampel sebanyak 104 siswa yang diambil menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa angket untuk mengukur Self-Efficacy dan tes uraian untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan tahapan Polya. Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Self-Efficacy terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi, Y ̂=-12,399+0,444X yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan Self-Efficacy akan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis sebesar 0,444. Selain itu, nilai signifikansi pada uji t sebesar 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis alternatif diterima. Dengan demikian, semakin tinggi Self-Efficacy siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah matematis yang dimilikinya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Self-Efficacy memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperhatikan dan meningkatkan aspek afektif siswa, khususnya Self-Efficacy, dalam proses pembelajaran matematika.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Menyusui salah satu metode yang sangat efektif untuk menentukan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Self-efficacy pada ibu menyusui memiliki peranan penting dalam melanjutkan pemberian ASI lebih lama, termasuk pemberian ASI secara eksklusif. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif, di antaranya pengetahuan ibu, kondisi sosial, budaya, ekonomi, kesehatan psikologi, dukungan keluarga, serta edukasi dari tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan kondisi psikologi dengan selfefficacy ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Sebengkok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi penelitian ini terdiri dari 239 ibu menyusui, dan sampel yang digunakan sebanyak 79 ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan, dengan teknik purposive sampling. Instrument menggunakan kuesioner dukungan keluarga, Breastfeeding Self-Efficacy Scale Short Form (BSES-SF), dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Analisis data dilakukan dengan uji fisher’s exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dukungan keluarga dengan self-efficacy ibu menyusui dengan p-value 0,010 dan terdapat hubungan kondisi psikologi dengan self-efficacy ibu menyusui dengan pvalue 0,025. Ibu menyusui yang mendapatkan dukungan keluarga dan memiliki kondisi psikologi yang baik cenderung memiliki self-efficacy yang lebih tinggi. Keluarga dapat memberikan dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional, dan dukungan penghargaan atau penilaian untuk meningkatkan self-efficacy ibu dan keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana literasi keluarga dan kepercayaan diri berkontribusi terhadap prestasi belajar bahasa Inggris siswa kelas VII di SMPN 1 Tarakan. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi korelasi prediktif. Sebanyak 60 siswa dipilih sebagai sampel melalui sampling acak berkluster dari tiga kelas yang berbeda. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta statistik inferensial dengan regresi linier berganda melalui SPSS 25.0. Temuan menunjukkan bahwa literasi keluarga dikategorikan sebagai sedang (58%), kepercayaan diri juga berada dalam rentang sedang (45%), sementara prestasi belajar bahasa Inggris secara umum baik (52%). Uji prasyarat menunjukkan bahwa data memenuhi asumsi normalitas, linearitas, homogenitas, dan tidak adanya multikolinearitas. Uji F menunjukkan tingkat signifikansi 0,001 0,05, menunjukkan bahwa literasi keluarga dan kepercayaan diri secara bersamaan berkontribusi terhadap prestasi belajar bahasa Inggris siswa. Selain itu, hasil uji t menunjukkan bahwa literasi keluarga secara signifikan mempengaruhi prestasi (p = 0.016 0.05), dan kepercayaan diri juga memberikan dampak signifikan (p = 0.038 0.05), artinya kedua faktor tersebut secara parsial berkontribusi terhadap kinerja siswa dalam bahasa Inggris. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0.214 menunjukkan bahwa dua variabel prediktor menjelaskan 21,4% variasi dalam pencapaian bahasa Inggris, sementara faktor-faktor lain di luar lingkup penelitian ini membentuk 78,6% sisanya. Kesimpulannya, penelitian ini menekankan bahwa pencapaian bahasa Inggris siswa tidak hanya dipengaruhi oleh pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh lingkungan literasi di rumah dan tingkat kepercayaan diri mereka dalam proses belajar. This study aimed to investigate the extent to which family literacy and self-efficacy contribute to the English learning achievement of seventh-grade students at SMPN 1 Tarakan. A quantitative approach employing a correlational predictive design was utilized. The sample consisted of 60 student selected through cluster random sampling from three different classes. Data were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics with multiple linear regression through SPSS 25.0. Findings indicated that family literacy was categorized as medium (58%), self-efficacy was also in the medium range (45%), while English learning achievement was generally good (52%). The prerequisite tests confirmed that the data met the assumptions of normality, linearity, homogeneity, and absence of multicollinearity. The F-test showed a significance level of 0.001 0.05, suggesting that family literacy and self-efficacy simultaneously contribute to students’ English learning achievement. Moreover, the t-test results revealed that family literacy had a significant effect on achievement (p = 0.016 0.05), and self-efficacy also made a significant impact (p = 0.038 0.05), meaning that both factors partially contributed to student performance in English. The coefficient of determination (R²) was 0.214, indicating that the two predictors explained 21.4% of the variance in English achievement, while other factors beyond the scope of this research shaped the remaining 78.6%. In conclusion, the study emphasizes that students’ English achievement is shaped not only by classroom learning but also by the literacy environment at home and their level of self-efficacy in the learning process.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan mahasiswa PGSD dalam menyelesaikan soal numerasi ditinjau dari aspek self-efficacy. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek tiga mahasiswa yang dikategorikan berdasarkan tingkat self-efficacy: rendah, sedang, dan tinggi. Data dikumpulkan melalui angket, tes numerasi, dan wawancara, serta dianalisis menggunakan tahapan Newman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy rendah melakukan kesalahan pada tahap membaca. Mahasiswa dengan self-efficacy sedang dan tinggi menunjukkan kesalahan dalam memahami soal, yang mengakibatkan muncul kesalahan pada transformasion, Prosess skill dan Encoding. Penelitian ini menegaskan pentingnya mengetahui kesalahan dalam menyelesaikan soal numerasi untuk meningkatkan kemampuan berhitung mahasiswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana tingkat kesiapan mengajar IPAS mahasiswa PGSD UBT angkatan 2020 jika ditinjau dari self-efficacy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah mixed method. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa PGSD UBT angkatan 2020 yang telah melaksanakan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan pernah mengajar IPAS. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 mahasiswa yang diambil menggunakan teknik sampling jenuh (total sampling). Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket self-efficacy dan pedoman wawancara. Berdasarkan analisis data, dapat dilihat bahwa kesiapan mengajar IPAS mahasiswa PGSD UBT jika di tinjau dari Self efficacy berada pada kategori tinggi dengan rata-rata persentase sebesar 62.91 pada kategori tinggi dan 37.08 pada kategori sedang. Hal ini terlihat dari persentase Self efficacy mahasiswa dari 6 indikator self efficacy mahasiswa yaitu: (i1) Keyakinan dalam menghadapi tugas mengajar yang sulit 20 (50%) tinggi dan 20 (50%) sedang, (i2) Keyakinan dalam merencanakan tugas mengajar IPAS 26 (65%) tinggi dan 14 (35%) sedang, (i3) Keyakinan dalam menghadapi berbagai situasi ketika mengajar IPAS 26 (65%) tinggi dan 14 (35%) sedang, (i4) Keyakinan untuk mengantisipasi situasi mengajar yang belum pernah dialami 29 (72.5%) tinggi dan 11 (27.5%) sedang, (i5) Keyakinan untuk bertahan lebih lama saat mengalami kesulitan dalam mengajar IPAS 25 (62.5%) tinggi dan 15 (37.5%) sedang dan (i6) Keuletan dalam berusaha mengatasi tantangan ketika mengajar IPAS 25 (62.5%) tinggi dan 15 (37.5%) sedang. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa kesiapan mengajar IPAS mahasiswa PGSD UBT di tinjau dari self efficacy berada pada ketegori tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII (1) SMP Negeri 11 Tarakan ditinjau dari self-efficacy. Metode dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini yaitu 2 siswa dengan self-efficacy tinggi. Peneliti mengumpulkan data dengan memberi angket, melakukan wawancara dan menganalisis dokumen. Dokumen yang digunakan adalah dokumen lembar jawaban ulangan harian siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis kualitatif Miles, Huberman dan Saldana (2014). Penelitian menunjukkan bahwa temuan yang diperoleh dalam kemampuan komunikasi matematis siswa meliputi memahami soal, representasi simbolik, menggambar situasi soal, menyusun model matematika dan menginterpretasi soal. Komunikasi matematis dalam penelitian ini terdiri dari tiga indikator yaitu menginterpretasi soal, menyusun model matematika dan menggambar situasi soal. Dalam indikator menginterpretasikan soal, subjek mampu memahami permasalahan pada soal dan menemukan informasi yang diketahui dan ditanyakan, selanjutnya subjek mampu mengubah informasi kedalam bentuk simbol dan subjek mampu merumuskan kesimpulan yang diperoleh dari menyekesaikan masalah pada soal, di indikator kedua yaitu menyusun model matematika subjek mampu menentukan dan menjelaskan konsep matematika dalam menyelesaikan masalah pada soal. Terdapat beberapa keunikan dalam penelitian ini, diantaranya Subjek A selalu menggambarkan situasi soal ketika mengerjakan soal yang berkaitan dengan geometri sedangkan Subjek N tidak mengikuti aturan penulisan matematis walaupun demikian Subjek N paham dalam menggerjakan dan mampu menjawab soal dengan benar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Self-efficacy merupakan faktor penting dalam kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika masih sangat kurang. Salah satu faktor penyebabnya adalah self-efficacy siswa yang kurang. Tujuan dari penelitian ini, adalah 1) untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII SMPN 3 Tarakan, 2) untuk mendeskripsikan self-efficacy siswa kelas VIII SMPN 3 Tarakan berdasarkan kategori pemecahan masalah matematika. Model penelitian yang digunakan adalah mixed methods sequential explanatory. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 2 siswa pada kategori tinggi, 1 siswa pada kategori sedang, dan 2 siswa pada kategori rendah. Teknik pengumpulan data menggunakan tes kemampuan pemecahan masalah matematika dan wawancara self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika kelas VIII SMPN 3 Kota Tarakan masih tergolong rendah. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan persentase hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika yang di dominasi oleh siswa dengan kategori kemampuan pemecahan masalah matematika yang rendah, yaitu sebesar 94,9%. Kemampuan pemecahan siswa pada kategori rendah hanya memenuhi aspek memahami masalah, namun tidak tepat dan lengkap. Banyak juga siswa kategori rendah yang tidak memberikan jawaban sama sekali, jika terdapat jawaban tertulis hanya menunjukkan bahwa siswa tidak paham dengan soal sehingga jawaban tidak berarti. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kategori tinggi dan sedang menunjukkan bahwa subjek dapat memenuhi setiap aspek kemampuan pemecahan masalah, yakni (1) memahami masalah, (2) menganalisis masalah, (3) menyelesaikan masalah, dan (4) menarik kesimpulan. Self-efficacy siswa dengan kemampuan pemecahan masalah matematika kategori tinggi, sedang, dan rendah berbeda-beda. Siswa dengan kategori tinggi dan sedang melakukan usaha maksimal agar mampu menyelesaikan suatu masalah. Siswa kategori rendah cenderung cepat menyerah dan melakukan kecurangan ketika menemukan masalah yang sulit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu ada pada setiap jenjang pendidikan di sekolah, dari mulai pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan jenjang yang lebih tinggi Perkuliahan. Kemandirian adalah kemampuan seseorang saat sedang akan melaksanakan semua aktivitas pribadi. Self-Efficacy atau dalam terjemahan Bahasa Indonesianya yakni efikasi diri adalah keyakinan individu pada kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau tindakan yang mampu dilaksanakan guna memperoleh sebuah tujuan. Hasil observasi yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 5 Tanjung Selor bahwa permasalahan kemandirian belajar Bahasa Indonesia dan Self-Efficacy pada peserta didik masih ada. Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas (independent) Self-Efficacy dan variabel terikat (dependent) Kemandirian Belajar Belajar. Taknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuesioner (angket), dan dokumentasi. Hasil penelitian ini mengunuakan perangkat aplikasi SPSS Version 26 yang menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh self-efficacy terhadap kemandirian belajar Bahasa Indonesia kelas VII-B SMP Negeri 5 Tanjung Selor. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t diperoleh bahwa hasil analisis pengujian thitung sebesar 1,259. Karena nilai thitung ttabel yaitu 1,259 1,708 maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis O (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Kata Kunci : Self-Efficacy, Kemandirian Belajar, SPSS Version 26
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan mengajar matematika mahasiswa PGSD UBT jika ditinjau dari self-efficacy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kuantitatif deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa aktif PGSD UBT yang telah melaksanakan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 63 mahasiswa yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket self-efficacy dan pedoman wawancara. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian dan pembahasan, menunjukkan self-efficacy mahasiswa berada pada kategori rendah sebesar 9,52%, kategori sedang sebesar 80,95%, dan kategori tinggi sebesar 9,52%. Dapat disimpulkan bahwa self-efficacy mahasisa PGSD UBT dalam mengajar matematika berada pada kategori sedang yakni 80,95%. Beberapa temuan tambahan menunjukkan bahwa self-efficacy mahasiswa dapat dilihat dari tingkat penguasaan materi matematika, pengalaman mengajar matematika di sekolah dasar, keterampilan menjelaskan, keterampilan pengelolaan kelas, keterampilan mengadakan variasi, persepsi mahasiswa terhadap matematika, kemampuan menjawab pertanyaan, dan kemampuan berinovasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan self-efficacy siswa kelas XII MIPA SMA Negeri 2 Tarakan dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian, yaitu satu siswa gender maskulin dan satu siswa gender feminin dengan klasifikasi self-efficacy tinggi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari angket self-efficacy, Bem Seks Role Inventory, tes kemampuan pemecahan masalah, pedoman wawancara, dan dokumentasi yang telah disesuaikan dengan kriteria self-efficacy dalam pemecahan masalah matematika milik Polya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan deskripsi antara siswa gender maskulin dan gender feminin. Subjek maskulin memiliki keyakinan yang tinggi akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Akan tetapi, subjek maskulin lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain dan masih belum bisa mengendalikan emosi serta rasa cemasnya secara optimal. Subjek sering kali membutuhkan bantuan dari guru maupun teman sebaya dalam prosesnya mengerjakan masalah matematika. Meskipun demikian, subjek bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalahan matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika. Subjek dengan gender feminin memiliki keyakinan diri akan kemampuannya memecahkan masalah matematika. Subjek feminin mampu mengendalikan emosi dan rasa cemas serta mampu meminimalisir ketergantungan terhadap bantuan orang lain, baik guru mata pelajaran maupun teman sebaya. Subjek feminin bersungguh-sungguh mengerjakan pemecahan masalah matematika dan mampu meyakinkan diri serta menyelesaikan permasalah matematika dengan baik dan meminimalisir gangguan yang timbul selama proses pemecahan masalah matematika.