Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

11 hasil
Subjek: Ekstrak daun karamunting
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) PADA PAKAN PELLET TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN CUPANG (Betta sp)

2023•

Kegiatan budidaya cupang umumnya mengandalkan pakan alamiah, namun terdapat kendala dengan jumlah yang terbatas sehingga pembudidaya memanfaatkan pakan pellet untuk menopang pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun karamunting pada pellet terhadap pertumbuhan ikan cupang (Betta sp). Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan, pemberian pellet tanpa ekstrak 0 gr/kg (P1), pellet ditambahkan ekstrak 0,025 g (P2), pellet ditambahkan ekstrak 0,050 g (P3), pellet ditambahkan ekstrak 0,075 g (P4), dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, sintasan (SR), dan kualitas air dan data di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan spesifik (SGR) ikan cupang pada perlakuan P1 (2,16), P2 (3,43), P3 (3,07), P4 (4,16) Hasil dari uji sidik ragam (ANOVA) berdasarkan analisis statistik dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara yang diberikan ekstrak dengan tanpa pemberian ekstrak berdasarkan rerata dari standar deviasi (P>0,05). Hasil pertumbuhan bobot mutlak ikan cupang pada perlakuan P1 (0,30 gr), P2 (0,57 gr), P3 (0,70gr), P4 (0,90 gr) Bobot ikan yang paling rendah yaitu P1 sedangkan bobot yang paling tinggi adalah P4. Hasil pertumbuhan panjang mutlak ikan cupang pada perlakuan P1 (0,53 cm), P2 0,97 cm), P3 (1,60 cm), P4 (2,13 cm) Pertumbuhan panjang mutlak ikan cupang yang diperkaya dengan ekstrak daun karamunting menunjukan bahwa semakin besar dosis ekstrak yang diberikan maka akan semakin tinggi tingkat pertumbuhannya artinya kebutuhan ikan cupang terhadap ekstrak daun karamunting memberikan nilai yang positif. Hasil kelangsungan hidup (SR) pada P1 (100%), P2 (89%), P3 (100%), P4 (100%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun karamunting pada pakan pellet terhadap pertunbuhan ikan cupang berpengaruh positif pada pertumbuhan ikan cupang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMATANGAN OVARI INDUK KEPITING BAKAU (Scylla serrata.) DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) DAN PAKAN ALAMI YANG BERBEDA

2023•

Ekstrak daun karamunting dengan kombinasi pakan alami terbukti mampu mempercepat proses pematangan ovari induk kepiting bakau. Namun penggunaan ekstrak daun karamunting dengan pemberian pakan alami belum pernah diuji coba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ekstrak daun karamunting dengan kombinasi pakan alami terhadap proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu, A (kontrol) B (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami temberungun) C (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami ikan mujair) D (pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami udang krosok). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 1 mg/g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HSI, SGR, Survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 11,863% HSI 1,351% SGR 21,06% dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting dan pakan alami memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakuan kontrol

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum L) DAN HORMON TIROKSIN PADA AKTIVITAS MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla spp)

2023•

Pertumbuhan kepiting bakau melalui proses moulting membutuhkan hormon steroid. Salah satu bahan baku yang memiliki kandungan bioaktif seperti hormon steroid adalah daun karamunting (M. malabathricum L). tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stimulan moulting kepiting bakau (Scylla sp) dengan pemberian kombinasi ekstrak daun karamunting (M. malabathricum L) dan hormon tiroksin. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental, yaitu menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan A (kontrol), perlakuan B ( ekstrak karamunting 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g), perlakuan C (ekstrak karamunting 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g) dan perlakuan D (ekstrak karamunting 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase moulting pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g yaitu 100% sementara perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 memberikan hasil 80% dan perlakuan terendah didapati pada perlakuan kontrol sebesar 60 %. Hasil dari masa laten moulting didapati waktu moulting tercepat pada perlakuan 7 µg/g dan tiroksin 50 µg/g disusul pada perlakuan 5 µg/g dan tiroksin 50 µg/g selama 15 sampai 24 hari dan perlakuan 3 µg/g dan tiroksin 50 µg/g memberikan waktu selama 16 sampai 31 hari dan paling lama didapati pada perlakuan control sebesar 20 sampai 60 hari . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak daun karamunting (M. malabathcricum L) dan hormon tiroksin dapat berperan teerhadap stimulan moulting pada kepiting bakau (Scylla spp).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERCEPATAN MOULTING POST LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIRENDAM EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) DENGAN ONSENTRASI BERBEDA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Permasalahan yang sering ditemukan pada usaha pembenihan udang windu di hatchery adalah kegagalan proses moulting dan pertumbuhan yang lambat pada post larva udang windu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tumbuhan herbal ekstrak daun karamunting. Tumbuhan herbal ini memiliki senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan pada benur udang windu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) dengan konsentrasi berbeda terhadap proses ganti kulit dan pertumbuhan pada post larva udang windu. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol (tanpa ekstrak), perlakuan 25 ppm, perlakuan 50 ppm dan perlakuan 75 ppm, pemeliharaan dilakukan selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase moulting udang tertinggi didapatkan pada perlakuan 50 ppm yaitu sebesar 89 %, sedangkan prensentase moulting terendah pada perlakuan kontrol yaitu 60 %. Kecepatan masa laten molting didapatkan pada perlakuan 50 ppm yang membutuhkan 10-12 jam untuk moulting. Tingkat kelangsungan hidup benur untuk semua perlakuan berkisar antara 62-82%, SR terendah didapatkan pada perlakuan kontrol yaitu 62%. Kesimpulan perendaman ekstrak daun karamunting dengan konsentrasi berbeda memberikan pengaruh terhadap proses ganti kulit dan kelangsungan hidup postlarva udang windu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGKAYAAN PELET DENGAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) UNTUK PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI TAMBAK TRADISIONAL

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu upaya meningkatkan kualitas pelet adalah melakukan pengkayaan. Pengkayaan pelet melalui penambahan berbagai senyawa, seperti vitamin, mineral, dan tumbuhan herbal baik berupa serbuk maupun ekstrak telah banyak dilaporkan para peneliti. Tumbuhan karamunting merupakan herbal yang memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan benih udang windu. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pengkayaan pada pakan pelet dengan ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan benur udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan, yakni; perlakuan kontrol pemberian pellet tanpa ekstrak daun karamunting dan perlakuan pengkayaan pakan pellet dengan ekstrak daun karamunting sebanyak 150 mg/kg. Pakan yang diberikan sebesar 5 % dari biomassa populasi, frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari. Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan (90 hari). Parameter penelitian yang diamati adalah hasil uji T, menunjukkan respon pertumbuhan yang lebih baik terhadap laju pertumbuhan udang windu yang diberikan pakan pelet yang telah diperkaya ekstrak daun karamunting sebesar 5,13%. Pengkayaan daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu dibandingan dengan perlakuan kontrol. Tingkat kelangsungan hidup (SR) dari pemeliharaan udang windu di akhir penelitian menunjukkan nilai yang berbeda nyata antar perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup benur udang windu berkisar 49-61%. kontrol sebesar 61%, perlakuan ekstrak sebesar 49%. Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian, pengkayaan pakan pelet dengan penambahan ekstrak daun karamunting dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang windu Penambahan ekstrak daun karamunting memberikan respon yang positif pada pertumbuhan udang windu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING PADA PELLET TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI TAMBAK TRADISIONAL

2022•

Pengkayaan pakan alami menggunakan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum L) secara signifikan berpengaruh nyata pada laju pertumbuhan post larva udang windu (Penaeus monodon). Penambahan ekstrak daun karamunting pada pakan buatan belum diujicobakan, maka perlu dilakukan untuk melihat pengaruh ekstrak daun karamunting terhadap laju pertumbuhan udang windu yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini yang bertujuan untuk mengevaluasi penambahan ekstrak daun karamunting pada pellet pada laju pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon) yang dipelihara di tambak tradisional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ekperimental, terdiri dari dua perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian pelet komersil dan pelet komersil yang diperkaya dengan ekstrak. Dosis ekstrak daun karamunting yang diberikan adalah 150 mg/kg pelet. Pemeliharaan udang windu dilakukan selama 90 hari, sampling panjang dan bobot udang diamati per 30 hari. Hasil yang diperoleh menunjukkan pengkayaan pakan pellet dengan penambahan ekstrak daun karamunting berpengaruh pada laju pertumbuhan udang windu dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Diperoleh nilai pertumbuhan panjang dan bobot yang lebih tinggi yaitu; 8,05 cm dan 34 g pada perlakuan, sedangkan perlakuan kontrol adalah 6,25 cm dan 18 g. Nilai kelangsungan hidup udang windu, berkisar antara 73-100% untuk perlakuan ekstrak sedangkan untuk kontrol berkisar antara 60-80%. Dapat disimpulkan daun karamunting mampu meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasan hidup udang windu. Natural feed enrichment using melastoma leaf extract (Melastoma malabathricum L) significantly affects the growth rate of post-larval tiger prawns (Penaeus monodon). The addition of melastoma leaf extracts to artificial feed has never been tested. It is necessary to see the effect of melastoma leaf extract on the growth rate of tiger prawns reared in traditional ponds. This study aimed to evaluate the addition of melastoma leaf extract to pellets on the growth rate of tiger prawns (Penaeus monodon) reared in conventional ponds. This study used an experimental research design consisting of two treatments and five replications. The treatment given was the administration of commercial pellets and commercial pellets enriched with extracts. The dose of melastoma leaf extract given was 150 mg/kg pellets. The carried out maintenance of tiger prawns was for 90 days. The sampling of the length and weight of the shrimp every 30 days. The results obtained showed that enrichment of pelleted feed with the addition of melastoma leaf extract affected the growth rate of tiger prawns compared to the control treatment. The higher length and weight growth value was 8.05 cm and 34 g in the treatment, while the control treatment was 6.25 cm and 18 g, respectively. The survival value of tiger prawns ranged from 73-100% for the extract treatment, while the control ranged from 60-80%. Can conclude that melastoma leaves can increase tiger prawns' growth rate and survival.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

BIOENRICHMENT EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum) PADA Artemia salina SEBAGAI IMUNOSTIMULAN BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIINFEKSI Vibrio parahaemolyticus

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tingginya tingkat serangan penyakit baik bersifat infeksius maupun non-infeksius merupakan penyebab yang mempengaruhi rendahnya produksi tambak tradisional, salah satu adalah serangan bakteri Vibrio parahaemolyticus. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum) sebagai imunostimulan benur udang windu terhadap serangan bakteri V. parahaemolyticus yang diuji tantang pada benur udang windu stadia post larva usia 15 hari (PL – 15) yang diberikan pakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan 1 (kontrol), perlakuan 2 (100 ppm), perlakuan 3 (120 ppm) dan perlakuan 4 (150 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi terdapat pada perlakuan 3 yaitu persentase 64%. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kisaran yang diperoleh masih berada pada kisaran normal dan baik bagi kehidupan benur udang windu (Penaeus monodon).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KARAMUNTING DENGANFREKUENSI PENYUNTIKAN YANG BERBEDA TERHADAP PEMATANGAN OVARI KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

2021•

Ekstrak daun karamunting telah terbukti mampu mempercepat proses pematangan ovari induk kepiting bakau. Namun penggunaan ekstrak daun karamunting dengan frekuensi pemberian lebih dari satu kali belum pernah diujicoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ekstrak daun karamunting yang berbeda terhadap proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu A (kontrol), B (pemberian ekstrak daun karamunting dengan satu kali injeksi), C (pemberian ekstrak daun karamunting dengan dua kali injeksi) dan D (pemberian ekstrak daun karamunting dengan tiga kali injeksi). Dosis penyuntikan yang diberikan adalah 0.25 mg/g. Parameter pengamatan terdiri dari morfologi ovari, nilai GSI, nilai HIS, survival rate dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan nilai GSI sebesar 11,494%, HSI 3,450%, dan telah mencapai TKG IV. Pemberian ekstrak daun karamunting dengan frekuensi penyuntikan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proses pematangan ovari induk kepiting bakau dibandingkan dengan perlakukan kontrol. Karamunting leaf extract has proven accelerating the process of ovary maturation of mangrove crab broodstocks. However, the use of karamunting leaf extract with the administration frequency of more than once has never been tested before. This research aimed to figure out the effect of different karamunting leaf extract frequency administration on ovarian maturation process of mangrove crab (Scylla serrates). This study used a completely randomized design with four treatments and three repetitions. The treatments included treatment A (control), treatment B (administering karamunting leaf extract with one injection), treatment C (administering karamunting leaf extract with two injections), and treatment D (administering karamunting leaf extract with three injections). The injection dosage given was 0.25 mg/g. The observation parameters consisted of ovarian morphology, GSI value, HIS value, survival rate and water quality. The research results showed that Treatment D gave the best results with the values of GSI and HSI respectively at I I .494% and 3.450% reaching TKG IV. The administration of karamunting leaf extract with different injection frequencies significantly affected the ovarian maturation process of mangrove crab broodstocks when compared to those in the control treatment.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Optimalisasi Penggunaan Ekstrak Daun Karamunting (Melastoma Malabathricum) Pada Proses Pematangan Ovari Kepiting Bakau (Scylla Serrata)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pematangan ovari kepiting bakau dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu; pakan, hormonal, dan manipulasi lingkungan. Penggunaan ekstrak daun karamunting merupakan pendekatan hormonal. ekstrak daun karamunting berperan dalam proses pematangan ovari pada kepiting bakau dan sudah diujikan sebelumnya yang terbaik adalah dosis 1 mg namun belum ditemukan dosis optimalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari optimalisasi dosis dalam penggunaan ekstrak daun karamunting (Melastoma malabatcricum) pada proses pematangan ovari kepiting bakau (Scylla serrata) ditambak tradisional. Dosis ekstrak daun karamunting yang digunakan pada induk kepiting bakau terdiri dari empat perlakuan yaitu: A, kontrol; B, dosis 1,3 mg/100gr; C, dosis 1,5 mg/100gr; D, dosis 1,7 mg/100gr. Hasil penelitian menunjukan perlakuan C dengan nilai GSI yaitu 8,24% berbeda nyata dengan kontrol yang memiliki nilai 3,45%. Penambahan ekstrak daun karamunting pada dosis 1,5 mg/100gr sebagai stimulator maturasi kepiting bakau memberikan perkembangan ovari yang terbaik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KINERJA REPRODUKSI IKAN CUPANG (Betta sp) YANG DIBERIKAN PAKAN ALAMI YANG TELAH DIPERKAYA EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Melastoma malabatrhicum)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ikan cupang (Betta sp) mempunyai daya tarik pada warna yang dimunculkan dari tubuhnya. Saat ini harga ikan cupang bisa bernilai jutaan rupiah perekornya, tergantung kualitas warna, jenis dan ukurannya. Sehingga permintaan pasar semakin meningkat, para pembudidaya berlomba melakukan budidaya ikan hias cupang. Untuk menghasilkan benih diperlukan indukan matang gonad yang selalu tersedia. Penelitian ini bertujuan menguji tubifex yang diperkaya dengan ekstrak daun karamunting, terhadap kinerja reproduksi ikan cupang (Betta sp). Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap, yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga pengulangan. Pemberian cacing sutra diperkaya dengan ekstrak daun karamunting selama 4 jam dengan dosis yang berbeda (25 mg/L, 50 mg/L dan 75 mg/L). Parameter yang diamati meliputi; Tingkat kematangan gonad, Gonad Somatik Indeks (GSI), Spesific Growth Rate (SGR), kelangsungan hidup ikan (SR) dan kualitas air (pH, suhu dan amoniak). Perlakuan penambahan ekstrak pada pakan cacing sutra dengan dosis 25, 50 dan 75 mg/L menunjukkan morfologi ovari yang lebih berkembang dibandingkan perlakuan kontrol. Nilai GSI tertinggi terdapat pada perlakuan 25 mg/L dengan nilai 18,17% dan nilai GSI yang terendah pada perlakuan kontrol dengan nilai 7,65%. Fekunditas tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman cacing sutra melalui penambahan ekstrak daun karamunting dengan dosis 25 mg/L, yaitu 2051 butir. Nilai pertumbuhan bobot spesifik terbesar yaitu pada perlakuan 75 mg/L, terjadi penambahan berat yang lebih tinggi sebesar 1,56 dan yang paling rendah pada 25 mg/L sebesar 0,67. Tingkat kelangsungan hidup ikan cupang 100% disetiap perlakuan. Ekstrak daun karamunting dapat dijadikan sumber hormon alternatif untuk kegiatan pematangan gonad pada ikan cupang. Betta fish (Betta sp) has an attraction to the color that emerges from its body. Currently the price of betta fish can be worth millions of rupiah per head, depending on the quality of color, type and size. So that market demand is increasing, cultivators are competing to cultivate betta fish. To produce seeds, mature gonads are needed which are always available. This study aimed to test tubifex enriched with karamunting leaf extract,on the reproductive performance off betta fish (Betta sp). This study used a completely randomized design experimental design, which consisted of four treatments and three repetitions. Giving silk worms enriched with karamunting leaf extract for hours with different doses (25 mg/ L, 50 mg/L dan 75 mg/L). Parameters observed include: Gonad maturity level, Gonad Somatic Index (GSI), Spesific Growth Rate (SGR), Survival Rate (SR) and water quality (pH, suhu dan ammonia). The addition of extracts to silkworm feed at doses of 25, 50, and 75 mg/L showed a more developed ovarian morphology than the control treatment. The highest GSI value was found in the 25 mg/L treatment with a value of 18,17% and the lowest GSI value was in the control treatment with a value of 7.65%. The highest fecundity was obtained in the silkworm immersion treatment through the addition of karamunting leaf extract at a dose of 25 mg/L, which was 2051 grains. The highest specific growth rate value was in the 75 mg/L treatment, the higher weight gain was 1,56 and the lowest was at 25 mg/L at 0,67. The survival rate of betta fish is 100% in each treatment. Karamunting leaf extract can be used as an alternative hormone source for gonadal maturation activities in betta fish.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

BIOENRICHMENT EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (M. malabathricum L) PADA Artemia salina SEBAGAI IMUNOSTIMULAN PADA BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tingginya tingkat serangan penyakit baik bersifat infeksius maupun non-infeksius merupakan penyebab yang mempengaruhi rendahnya produksi tambak tradisional, salah satu adalah serangan bakteri Vibrio harveyi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun karamunting (Melastoma malabathricum L) sebagai imonustimulan benur udang windu terhadap serangan bakteri V. harveyi yang diuji tantang pada benur udang windu stadia post larva usia 10 hari (PL – 10) yang diberikan pakan metode eksperimeental yang dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan 1 (kontrol), perlakuan 2 (50 ppm), perlakuan 3 (100 ppm) dan perlakuan 4 (150 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi terdapat pada perlakuan 3 yaitu persentase 100%. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kisaran yang diperoleh masih berada pada normal yang baik bagi kehidupan benur udang windu (Penaeus monodon).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail