ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan temuan terkait persamaan dan perbedaan pola kalimat kausatif analitik di antara bahasa Tidung dialek Tarakan dan Bahasa Indonesia berdasarkan kajian sintaksis. Penelitian ini berfokus pada penanda kausatif yang diungkapkan serta distribusi argumen dalam struktur klausa yang meliputi predikat kausatif. Kausatif analitik dibangun dengan dua kata kerja berbeda yang menggambarkan hubungan sebab-akibat dari sebuah peristiwa. Metode pada penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang diterapkan meliputi simak libat cakap (SLC), perekaman, pencatatan, dan teknik pancing. Fokus penelitian ini adalah untuk menguraikan bentuk dasar klausa dan kausatif analitik dalam bahasa Tidung dialek Tarakan serta Bahasa Indonesia. Proses analisis data dilakukan dengan metode agih menggunakan teknik bagi unsur langsung (BUL). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedua bahasa memiliki bentuk klausa dasar dalam jenis verbal maupun nonverbal. Kemudian terdapat perbedaan dalam pembentukan kalimat kausatif analitik kedua bahasa tersebut yang terletak pada bentuk verba kausatif dalam konstruksi kausatif analitik masing-masing bahasa. Penelitan ini mengungkapkan bahwa pembentukan kalimat kausatif analitik dalam bahasa Tidung dialek Tarakan ditandai dengan verba kaustif ‘nyusup’ [menyuruh], ‘malok’ [meminta], ‘penebusu’ [membiarkan], ‘ngentugos’ [membuat], dan ‘maksa’ [memaksa]. Sementara pada Bahasa Indonesia ditandai dengan verba ‘mempersilahkan’, ‘membiarkan’, ‘membuat’, ‘memerintahkan’, ‘menyuruh’, dan ‘meminta’. Temuan lain terkait perbedaan sintaksis kedua bahasa tersebut terletak pada pola klausa runtut kedua bahasa. Bahasa Indonesia dalam pembentukan klausa runtut sudah memiliki konstruksi pola yang bersifat paten yaitu Subjek-Predikat (S-P), sedangkan dalam bahasa Tidung dialek Tarakan pola klausa runtut tersebut selalu berubah jika terdapat pronomina ‘taka’ [kita] yang bertemu dengan verba transitif atau kata keterangan (adverbia) yang muncul sebelum subjek maka pola klausa berubah menjadi Predikat-Subjek-Objek (P-S-O).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ika Puspita.2026. Klausa Pemerlengkap Bahasa Massenrempulu Dialek Duri di Kota Tarakan (Kajian Sintaksis). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S.,M.A dan Muhammad Ilham, S.,S.M.Pd). Penelitian ini membahas klausa pemerlengkap dalam bahasa Massenrèmpulu dialek Duri di Kota Tarakan dengan kajian sintaksis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendokumentasian bahasa daerah, khususnya bahasa Massenrèmpulu dialek Duri yang masih digunakan oleh masyarakat penuturnya di lingkungan perantauan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan fungsi klausa pemerlengkap dalam bahasa Massenrèmpulu dialek Duri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa tuturan bahasa Massenrèmpulu dialek Duri yang mengandung klausa pemerlengkap. Sumber data diperoleh dari penutur asli bahasa Massenrèmpulu dialek Duri yang berdomisili di Kota Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, simak, rekam, catat, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung untuk menentukan struktur klausa utama dan klausa pemerlengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klausa pemerlengkap dalam bahasa Massenrèmpulu dialek Duri memiliki beberapa bentuk, yaitu klausa pemerlengkap verba, klausa pemerlengkap nomina, klausa pemerlengkap adjektiva, dan klausa pemerlengkap preposisional. Dari segi fungsi, klausa pemerlengkap berperan melengkapi makna unsur dalam klausa utama, seperti isi ujaran, isi pengetahuan, isi pikiran, isi harapan, isi perasaan, isi kabar, dan isi pembicaraan. Dengan demikian, klausa pemerlengkap memiliki peran penting dalam membentuk kalimat yang utuh secara sintaktis dan semantis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Indah Putri 2026. Konstruksi Aplikatif Bahasa Tidung (Kajian Sintaksis). Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan. Dosen Pembimbing Utama Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S.,M.A dan Pembimbing Anggota Nurul Hanna Fauziyyah, M.A. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan proses konstruksi aplikatif dalam Bahasa Tidung, khususnya konstruksi aplikatif instrumental dan lokatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada bulan November 2025 hingga Februari 2026 di Desa Menjelutung, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara. Data penelitian berupa tuturan lisan yang mengandung konstruksi aplikatif dalam Bahasa Tidung, sedangkan sumber data diperoleh dari penutur asli Bahasa Tidung yang berdomisili di Desa Menjelutung dan memenuhi kriteria sebagai informan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta teknik elisitasi untuk memperoleh pasangan kalimat dasar dan kalimat yang mengandung unsur aplikatif. Analisis dilakukan dengan membandingkan struktur sintaktis dan morfologis antara Bahasa Tidung dan Bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi perubahan valensi verba serta status argumen dalam konstruksi aplikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Bahasa Indonesia, konstruksi aplikatif instrumental ditandai dengan pelekatan sufiks -kan pada verba transitif, sedangkan konstruksi aplikatif lokatif ditandai dengan pelekatan sufiks -i. Afiksasi tersebut menyebabkan perubahan struktur argumen berupa penaikan unsur oblik menjadi argumen inti. Sebaliknya, dalam Bahasa Tidung tidak ditemukan proses morfologis berupa afiksasi aplikatif yang setara. Unsur instrumental dan lokatif masih ditandai oleh preposisi seperti pakai, dengan, dan de sehingga tetap berstatus sebagai oblik dan tidak mengalami penaikan menjadi objek inti. Dengan demikian, konstruksi aplikatif dalam Bahasa Tidung cenderung mempertahankan pola sintaktis dasar tanpa perubahan valensi verba secara morfologis. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan tipologis antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Tidung dalam merealisasikan konstruksi aplikatif serta memberikan kontribusi terhadap kajian morfosintaksis bahasa daerah, khususnya Bahasa Tidung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FARRAS AKBAR HARUNURASYID, 2026 Diatesis Medial dalam Bahasa Tidung dialek Tarakan (kajian sintaksis). Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP, Universitas Borneo Tarakan. (dibimbing oleh Rita Kumala Sari dan Dwi Cahyono Aji) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk dari diatesis medial yang terdapat dalam bahasa Tidung dialek Tarakan. Diatesis medial merupakan bentuk konstruksi bahasa yang menunjukan bahwa peran subjek berkedudukan sebagai pelaku sekaligus penerima tindakan yang dilakukan oleh subjek. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif serta menggunakan teknik BUL (Bagi Unsur Langsung) untuk menganalisis data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari tuturan liisan secara langsung dari penyutur masyarakat suku Tidung dengan cara menggunakan teknik SBLC (Simak, Bebas, Libat, Cakap), rekam dan catat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam bahasa Tidung dialek Tararakan terdapat adanya tipe diatesis medial yang terbentuk yaitu diatesis medial tipe perawatan tubuh, diatesis medial tipe perubahan postur tubuh, diatesis medial tipe perubahan gerakan tubuh tanpa diikuti seluruh anggota tubuh, diatesis medial tipe Gerakan langsung, diatesis medial tipe pergerakan perasaan emosi, diatesis medial tipe tak langsung dan diatesis medial tipe kognitif. KATA KUNCI: Bahasa Tidung Dialek Tarakan, Diatesis Medial, Sintaksis
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dinawati.2026. Relasi oblik dalam Bahasa Bulungan di Buluh Perindu (Kajian Sintaksis). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan ( Rita Kumalasari,M.Pd dan Dr. Asih Riyanti,M. Pd). Penelitian ini membahas mengenai bentuk dan makna relasi oblik dalam Bahasa Bulungan. Relasi oblik merupakan hubungan gramatikal non inti yang berfungsi memberikan keterangan tambahan terhadap predikat, seperti keterangan tempat,waktu,alat,tujuan, dan pihak penerima manfaat,namun tidak berperan sebagai subjek atau objek utama dalam kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian sintaksis. Data penelitian berupa tuturan lisan dan data tertulis bahasa Bulungan yang mengandung relasi oblik yang diperoleh dari penutur asli melalui teknik simak, rekam, catat, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan bentuk-bentuk relasi oblik serta mengkaji makna semantis yang terkandung dalamnya. Dari hasil penelitian diperoleh relasi oblik dalam berbagai jenis, antara lain relasi oblik lokatif, relasi oblik instrumental, data relasi oblik benefaktif, data relasi oblik tujuan, data relasi oblik temporal, dan data relasi oblik komitatif, dan relasi oblik keadaan. Dari beberapa jenis relasi oblik tersebut umumnya ditandai oleh frasa preposisional dan memiliki peran penting dalam membentuk kejelasan makna kalimat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa relasi oblik memiliki fungsi sintaksis dan semantis yang signifikan dalam struktur kalimat bahasa Bulungan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sintaksis bahasa daerah sekaligus mendukung upaya pelestarian bahasa Bulungan pada komunitas penutur Bulungan di luar wilayah asal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RISKI 2025. Diatesis dalam Bahasa Tidung (Kajian Sintaksis) (dibimbing oleh Siti Fathonah,M.Pd. dan Muhammad Ilham, S.S., M.Pd.). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk klausa dasar dan bentuk diatesis dalam bahasa Tidung dengan menggunakan pendekatan tipologi sintaksis. Bahasa Tidung, sebagai salah satu bahasa daerah di Kalimantan Utara, memiliki struktur sintaksis yang menarik untuk dikaji karena belum banyak penelitian yang mengungkapkan sistem diatesisnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, simak, catat, baca, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari penutur asli bahasa Tidung yang memenuhi kriteria linguistik sebagai sumber data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Tidung memiliki beberapa pola klausa dasar yang meliputi pola Nomina + Verba, Nomina + Nomina, Nomina + Adjektiva, Nomina + Numeralia, dan Nomina + Adverbia. Selain itu, diatesis dalam bahasa Tidung terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu diatesis aktif dan diatesis pasif. Diatesis aktif ditandai dengan verba berafiks seperti ngem-, meng-, dan nge-, sedangkan diatesis pasif ditandai dengan adanya bentuk seperti ne-, te-, ke-an, serta konstruksi tanpa afiks yang menunjukkan makna pasif. Analisis menunjukkan bahwa struktur aktif lebih dominan digunakan dalam tuturan sehari-hari, sementara bentuk pasif muncul pada konstruksi yang menonjolkan objek sebagai fokus. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi dokumentasi dan pelestarian bahasa Tidung, serta menjadi rujukan bagi penelitian linguistik lanjutan, khususnya dalam bidang sintaksis dan tipologi bahasa daerah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas tentang adjung sebagai fungsi non-argumen dalam bahasa Bugis dialek Bone. Adjung merupakan unsur sintaksis yang bersifat opsional dan berfungsi memberikan keterangan tambahan, seperti tempat, waktu, cara, maupun tujuan, tanpa menjadi bagian inti dari argumen verba. Penelitian ini menyoroti bentuk frasa yang mengisi fungsi adjung dalam bahasa Bugis dialek Bone yang digunakan oleh masyarakat suku Bone. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk frasa pengisi adjung serta fungsi yang dimunculkan dalam konstruksi kalimat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui teknik, wawancara, perekaman, dan pencatatan. Sumber data dalam penelitian ini adalah penutur asli bahasa Bugis dialek Bone yang tinggal di Sungai Pancang, Kecamatan Sebatik Utara. Data dianalisis dengan metode agih dan teknik bagi unsur langsung (BUL). Berdasarkan hasil analisis, ditemukan 26 data yang menunjukkan bahwa adjung dalam bahasa Bugis dialek Bone diisi oleh frasa preposisional sebanyak 18 data, frasa nomina sebanyak 11 data, frasa adjektiva sebanyak 5 data dan frasa verba sebanyak 4 data. Adapun fungsi adjung yang teridentifikasi meliputi keterangan waktu sebanyak 15 data, keterangan tempat sebanyak 11 data, keterangan cara sebanyak 5 data, keterangan tujuan sebanyak 4 data, keterangan alat sebanyak 2 data dan keterangan sebab sebanyak 1 data. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa meskipun bersifat opsional, adjung memiliki peran penting dalam memperjelas dan memperkaya informasi dalam struktur kalimat bahasa Bugis dialek Bone.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas mengenai variasi kalimat pasif dan bentuk argumen dalam bahasa Massenrempulu dialek Duri. Kalimat pasif merupakan bentuk turunan dari kalimat aktif transitif yang mengalami perubahan struktur, di mana objek dalam kalimat aktif dapat beralih menjadi subjek dalam kalimat pasif. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi variasi bentuk pasif serta menganalisis argumen inti maupun non-inti yang muncul dalam kalimat pasif bahasa Massenrempulu dialek Duri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, pencatatan, dan dokumentasi terhadap penutur asli bahasa Massenrempulu dialek Duri di Kota Tarakan. Data yang terkumpul diklasifikasikan dan dianalisis berdasarkan pendekatan sintaksis. Dari hasil penelitian diperoleh kalimat pasif kanonikal (agent demotion, theme promotion, dan morphological marking), kalimat pasif non-kanonikal (pasif ti- dan bare pasif), argumen inti dan data argumen non-inti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Massenrempulu dialek Duri memiliki variasi kalimat pasif yang khas, baik dari segi struktur maupun peran argumennya. Temuan ini memberikan kontribusi dalam kajian sintaksis bahasa daerah serta berperan dalam dokumentasi dan pelestarian bahasa Massenrempulu dialek Duri di tengah komunitas diaspora.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis konstruksi verba beruntun dalam bahasa Tidung (kajian tipologi sintaksis). Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan kualitatif. Data dalam kalimat ini berupa hasil rekaman suara dan wawancara yang dapat menghasilkan data kalimat. Sumber data dari penelitian konstruksi verba beruntun dalam bahasa Tidung ini masyarakat asli Suku Tidung yang berada di kota Tarakan. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah tehnik pancing, tehnik rekam, tehnik catat. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Agih kebalikan dari metode padan yang berdasarkan alat penentunya. Hasil dari penelitian yang dilakukan maka terdapat 25 data Bahasa Tidung dari 8 karakteristik pembeda antara VB dari kontruksi verba biasa atau kontruksi lain. Dari 25 data maka terdapat fungsi dari sintaksis konstruksi verba beruntun dalam bahasa Tidung
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PERILAKU SINTAKSIS VERBA DALAM BAHASA DAYAK KENYAH LEPO TAU (KAJIAN SINTAKSIS) ABSTRAK SONY INGAN, 2025. Perilaku Sintaksis Verba dalam Bahasa Dayak Kenyah Lepo Tau. (Dibimbing oleh Achmad Dicky Romadhan, S.Pd., M.Hum. dan Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S., M.A.) Pada penelitian ini untuk mendeskripsikan secara mendalam perilaku sintaksis verba dalam Bahasa Dayak Kenyah Lepo Tau. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana verba-verba tersebut berfungsi dan berinteraksi dalam struktur kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kalimat-kalimat yang mengandung verba, yang diperoleh dari rekaman percakapan sehari-hari masyarakat Desa Nawang Baru. Teknik pengumpulan data meliputi perekaman audio dan pencatatan transkripsi percakapan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara cermat untuk mengidentifikasi pola-pola sintaksis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan adanya 35 data verba yang dapat diklasifikasikan berdasarkan ketransitifannya. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada studi linguistik, terutama sintaksis bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Hasilnya juga bisa menjadi sumber informasi penting untuk melestarikan dan mengembangkan Bahasa Dayak Kenyah Lepo Tau sebagai warisan budaya nasional. Kata Kunci : Perilaku Sintaksis, Verba, Bahasa Dayak Kenyah Lepo Tau, Verba Transitif, Verba Taktransitif, Ekatransitif, Dwitransitif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini mengkaji struktur argumen inti bahasa Bugis Bone, dengan fokus pada bentuk klausa dasar serta pola argumen inti pada tatanan Bahasa Bugis Bone. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis tipologi sintaksis. Data yang digunakan berupa tuturan dari penutur asli bahasa Bugis Bone, dikumpulkan melalui teknik rekam, simak, dan catat. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara tidak berstruktur serta alat rekam sebagai dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode distribusional, dilengkapi dengan teknik bagi unsur langsung dan teknik penyisipan sebagai langkah lanjutan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis mengenai tatanan bahasa Bugis Bone, peneliti mendapatkan dua kategori utama, yaitu klausa nonverbal sebanyak 6 data yang ditemukan dan klausa verbal sebanyak 22 data yang ditemukan. Struktur klausa nonverbal mencakup: (1) Klausa nomina sebanyak 3 data (2) Klausa adjektiva sebanyak 2 data (3) Klausa numeralia sebanyak 1 data. Sedangkan struktur klausa verbal terdiri dari (1). Klausa verbal intransitif sebanyak 11 data (2). Klausa verbal aktif sebanyak 7 data, dan (4) Klausa verbal pasif sebanyak 4 data. Berdasarkan hasil analisis bentuk pola argumen inti dalam tatanan bahasa Bugis Bone, ditemukan 12 pola bentuk argumen, yaitu: S-P-O-Ket terdapat 5 contoh kalimat , S-P-O terdapat 5 contoh, S-P-Ket terdapat 3 contoh kalimat, P-O-S-Ket terdapat 2 contoh kalimat, S-O-P terdapat 1 contoh kalimat, S-P terdapat 1 contoh kalimat, P-O-S terdapat 1 contoh kalimat, P-S terdapat 1 contoh kalimat, S-P-O-Ket-Pel terdapat 1 contoh kalimat, S-Pel-P-Ket terdapat 1 contoh kalimat, jika dijumlahkan tedapat sebanyak 21 contoh data yang dianalis dan didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pada penelitian ini membahasa mengenai konstruksi verba serial bahasa Bugis Bone dengan menggunakan kajian tipologi sintaksis. Kosntruksi verba serial merupakan sebuah kalimat yang dibangun dengan terdapat dua verba atau lebih. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu teknik deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian yang didapatkan yaitu verba serial dalam bahasa Bugis dan verba serial dalam bahasa Indonesia pada umumnya memiliki kesamaan pada bagian subjek dari kalimat selalu berada didepan, walaupun dari segi bahasa jelas terlihat sangat berbeda antara bahasa Bugis dan Bahasa Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas alat uji subjek dalam bahasa Bugis Bone dengan pendekatan teori tipologi. Bahasa Bugis Bone, sebagai salah satu dialek bahasa Bugis yang digunakan di Kabupaten Bone dan beberapa wilayah lainnya, memiliki struktur sintaksis yang menarik untuk dikaji, terutama dalam menentukan kesubjekan dalam klausa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk kalimat dasar serta fungsi alat uji subjek dalam bahasa Bugis Bone. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Beberapa alat uji subjek yang digunakan meliputi struktur kanonis, perelatifan, kontrol, penyisipan adverbial, dan penaikan (raising). Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek dalam bahasa Bugis Bone selalu berada di awal klausa sebelum predikat, serta dapat diuji melalui beberapa mekanisme linguistik yang menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki kesamaan dengan struktur subjek dalam bahasa Indonesia. Selain itu, ditemukan bahwa bahasa Bugis Bone menggunakan afiks tertentu dalam membentuk konstruksi pasif yang berkontribusi pada mekanisme penaikan subjek dalam klausa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian sintaksis bahasa daerah di Indonesia serta menjadi referensi dalam pelestarian bahasa Bugis Bone. Temuan ini juga dapat digunakan dalam kajian lebih lanjut mengenai tipologi sintaksis bahasa daerah lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Maria Magdalena Amanda Sogen 2025. Argumen Inti Verba Dalam Bahasa Lamaholot Dialek Solor Barat Di Kecamatan Nunukan Tengah Kabupaten Nunukan (Kajian Sintaksis). Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan (dibimbing oleh Achmad Dicky Romadhan, S.Pd.,M.Hum dan Dwi Cahyono Aji S.S., M.A) Penelitian ini membahas tentang argumen inti verba bahasa Lamaholot dialek Solor Barat. Argumen inti merupakan unsur yang melengkapi makna verba dan biasanya mencakup subjek serta objek, baik dalam bentuk objek langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini menyoroti argumen inti verba dalam bahasa Lamaholot dialek Solor Barat, yang digunakan oleh masyarakat suku Lamaholot di Kecamatan Nunukan Tengah, Kabupaten Nunukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis argumen inti verba dalam bahasa Lamaholot dialek Solor Barat menggunakan pendekatan sintaksis. Secara spesifik, kajian ini menelaah struktur klausa dan klausa dasar dalam bahasa Lamaholot dialek Solor Barat. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, penyimakan, perekaman, pencatatan, serta dokumentasi. Data yang diperoleh diklasifikasikan berdasarkan jenisnya sebelum dianalisis dengan pendekatan sintaksis. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan 41 data yang terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu 31 data yang termasuk dalam klausa dasar dan 10 data yang tergolong dalam struktur klausa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini membahas tentang analisis kontrastif kausatif analitik antara bahasa Massenrempulu dialek Duri dan bahasa Indonesia dengan menggunakan kajian sintaksis. Kausatif analitik dibangun oleh dua verba yang berbeda untuk menyatakan sebab-akibat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik simak, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang diperoleh bejumlah 85 data melalui metode wawancara kemudian dianalisis menggunakan metode agih. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk klausa dasar dan kausatif analitik dalam bahasa Massenrempulu dialek duri dan bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan pembentukan kausatif analitik antara bahasa Massenrempulu dialek Duri dan bahasa Indonesia. penelitan ini mengungkapkan bahwa pembentukan kalimat kausatif analitik dalam bahasa Massenrempulu dialek Duri ditandai dengan verba kausatif mangkabua dan kuanni, sedangkan dalam bahasa Indonesia ditandai dengan verba kausatif membuat, menyuruh dan menyebabkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa perilaku sintaksis verba pada naskah cerita pendek berbahasa Bulungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa kalimat verba yang mengandung ketransitifan. Sumber data penelitian ini adalah sumber data yang datanya diperoleh melalui analisis yang dilakukan pada naskah cerita pendek berbahasa Bulungan. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, rekam, dan catat. Hasil dari penelitian yang dilakukan terdapat 37 (tiga puluh tujuh) data yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu ditemukan sebanyak 19 (Sembilan belas) data verba transitif yang masuk ke dalam ekatransitif karena menunjukan verba tersebut diikuti oleh objek di belakangnya dan data tersebut bisa dipasifkan, kemudian sebanyak 2 (dua) data verba transitif yang masuk ke dalam dwitransitif karena menunjukan verba tersebut menggunakan dua nomina dibelakangnya (satu sebagai objek dan satu lagi sebagai pelengkap) dan sebanyak 16 (enam belas) data untuk verba taktransitif yang datanya menunjukan bahwa tidak ada penggunaan objek dibelakangnya, adapun nomina yang terdapat di belakangnya tidak tergolong sebagai objek melainkan sebagai pelengkap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesubjekan merupakan istilah yang digunakan untuk menguji subjek dalam sebuah bahasa yang ada di dunia ini. Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan bentuk klausa dasar dan mendeskripsikan bentuk piranti uji subjek pada Bahasa Bugis Pattinjo. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan kajian sintaksis. Data dalam penelitian ini menggunakan data lisan yang bersumber dari penutur asli bahasa Bugis Pattinjo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik simak, rekam dan catat. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara yang tak berstruktur serta alat rekam untuk dokumentasi. Anialisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih, diikuti teknik bagi unsur langsung dan teknik lanjutan yaitu teknik sisip. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa klausa dasar dalam bahasa Bugis Pattinjo terdiri atas klausa nonverbal berpredikat nomina, adjektiva dan frasa prepoisional dan klausa verba, selanjutnya hasil analisis piranti uji subjek Bahasa Bugis Pattinjo menunjukkan bahwa subjek memiliki properti sebagai berikut; (1) subjek muncul pada struktur konanis pada posisi preverbal (sebelum verba), (2) subjek dapat direlatifkan dengan pemarkah ya ’yang’ (prelatifan subjek), (3) subjek dapat dikontrol, (4) dapat disisipakan adverbial berupa pemarkah kala masiang ‘besok’ dan sebo ‘kemarin’ di antara subjek sebagai argumen preverbal dengan predikat, (5) dapat dinaikkan objek langsung dan objek tak langsung (argumen yang bukan subjek) menjadi subjek melalui mekanisme penaikan (raising). Kesimpulan penelitian ini adalah subjek dalam bahasa Bugis Pattinjo sesuai dengan bahasa universal. Kata kunci : Subjek, Bahasa Bugis Pattinjo, Sintaksis ada di dunia ini. Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan bentuk klausa dasar dan mendeskripsikan bentuk piranti uji subjek pada Bahasa Bugis Pattinjo. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan kajian sintaksis. Data dalam penelitian ini menggunakan data lisan yang bersumber dari penutur asli bahasa Bugis Pattinjo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik simak, rekam dan catat. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara yang tak berstruktur serta alat rekam untuk dokumentasi. Anialisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih, diikuti teknik bagi unsur langsung dan teknik lanjutan yaitu teknik sisip. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa klausa dasar dalam bahasa Bugis Pattinjo terdiri atas klausa nonverbal berpredikat nomina, adjektiva dan frasa prepoisional dan klausa verba, selanjutnya hasil analisis piranti uji subjek Bahasa Bugis Pattinjo menunjukkan bahwa subjek memiliki properti sebagai berikut; (1) subjek muncul pada struktur konanis pada posisi preverbal (sebelum verba), (2) subjek dapat direlatifkan dengan pemarkah ya ’yang’ (prelatifan subjek), (3) subjek dapat dikontrol, (4) dapat disisipakan adverbial berupa pemarkah kala masiang ‘besok’ dan sebo ‘kemarin’ di antara subjek sebagai argumen preverbal dengan predikat, (5) dapat dinaikkan objek langsung dan objek tak langsung (argumen yang bukan subjek) menjadi subjek melalui mekanisme penaikan (raising). Kesimpulan penelitian ini adalah subjek dalam bahasa Bugis Pattinjo sesuai dengan bahasa universal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk konstruksi sintaksis pada novel KKN Di Desa Penari karya Simpleman. Konstruksi sintaksis merupakan satuan bahasa yang bermakna berupa frasa, klausa dan kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sember data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen berupa novel KKN Di Desa Penari Karya Simpleman. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan tipe frasa, klausa dan kalimat pada konstruksi sintaksis pada novel KKN Di Desa Penari karya Simpleman. Berdasarkan hasil temuan peneliti dari sumber data kalimat yang ditemukan lebih di dominasi kemunculan kalimat tunggal dibandingkan kalimat majemuk. Data diperoleh dengan menggunakan teknik baca, teknik simak dan teknik catat. Peneliti memfokuskan hasil penelitannya pada tipe kalimat tunggal berkategori S-P, S-P-O, S-P-KET, S-P-O-KET, S-P-PEL, S-P-O-PEL selanjutnya kalimat majemuk dengan tipe yang berbeda-beda. (1) Tipe kalimat Tunggal yang paling banyak muncul adalah tipe S/P/O/Pel sebanyak 26 data yag ditemukan, (2) tipe S/P/Ket sebanyak 25 yang ditemukan, (3) tipe S/P/O sebanyak 24 data yang ditemukan, (4) tipe S/P/O/Ket sebanyak 18 data yang ditemukan, (5) tipe S/P dan S/P/Pel masing-masing ditemukan sebanyak 11 data yang ditemukan peneliti. Selanjutnya peneliti menemukan pada kalimat majemuk setara hubungan makna yang banyak berupa hubungan perjumlahan yaitu konjungsi “dan”, hubungan makna antar klausa yang ditemukan pada konstruksi sintaksis pada Novel KKN Di Desa Penari Karya Simpleman dalam kalimat setara ataupun bertingkat yakni hubungan pemilihan, waktu, akibat, tujan/harapan, pengurutan dan pertentangan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan konjungsi dan kesalahan penggunaan konjungsi dalam kalimat majemuk pada cerita fantasi karya siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tarakan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik baca, teknik simak, dengan fungsi konjungsi. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat yang terdapat dalam cerita fantasi karya siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tarakan. Pada analisis data, peneliti mengkaitkan kajian teori dengan data yang terkumpul mengenai arti atau maksud penggunaan data tersebut. Hasil penelitan menunjukan bahwa terdapat penggunaan konjungsi dan kesalahan konjungsi dalam kalimat majemuk pada cerita fantasi karya siswa kelas VII SMP Negeri 4 Tarakan. Data penggunaan konjungsi dalam kalimat majemuk yang diperoleh sebanyak 32 data, penggunaan konjungsi koordinatif dalam kalimat majemuk setara sebanyak 21 data, sedangkan penggunaan konjungsi subordinatif dalam kalimat majemuk bertingkat sebanyak 11 data. Data kesalahan penggunaan konjungsi dalam kalimat majemuk sebanyak 8 data. Kesalahan konjungsi koordinatif dalam kalimat majemuk setara sebanyak 4 data dan kesalahan konjungsi subordinatif dalam kalimat majemuk bertingkat sebanyak 4 data.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan konjungsi dan kesalahan penggunaan konjungsi pada karangan cerita fantasi siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Tarakan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik baca, teknik simak, dan teknik catat. Data yang telah ditemukan kemudian diklasifikasi sesuai dengan fungsi konjungsi. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan kalimat yang terdapat dalam karangan cerita fantasi siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Tarakan. Pada analisis data, peneliti mengaitkan kajian teori dengan data yang terkumpul mengenai arti atau maksud penggunaan data tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan konjungsi dan kesalahan penggunaan konjungsi pada karangan cerita fantasi siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Tarakan. Data penggunaan konjungsi yang diperoleh sebanyak 93 data. Data kesalahan penggunaan konjungsi yang diperoleh sebanyak 124 data.