ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Advances in digital technology have generated new opportunities for English language learning beyond formal classroom environments. This study explores university students' experiences in utilizing Instagram as an informal platform for English language learning, focusing on their speaking skills, self-confidence, perceptions, challenges, and the meanings they ascribe to these learning experiences. Employing a qualitative approach, this research adopted a netnographic method. The study collected data through observations, video content analysis, documentation, and semi-structured interviews with four university students. The data were interpretively analysed to understand the students' learning experiences, practices, perceptions, strategies, and challenges. The findings indicate that Instagram contributes positively to the development of students' speaking skills and self-confidence. Through authentic English content, observing pronunciation and expressions, and repeated speaking practice, students improved their pronunciation, fluency, vocabulary, grammar, and content organization. Students perceived Instagram as a user-friendly, flexible, engaging, and relevant learning medium. However, students faced several challenges, including difficulty understanding pronunciation variations and accents, limited vocabulary, distractions from entertainment content, information overload, and a lack of academic feedback. To overcome these hurdles, students employed self-regulated strategies such as rewatching videos, utilizing captions, taking notes on new vocabulary, following trusted educational accounts, and managing their study time. This study concludes that Instagram can serve as an effective informal learning environment that complements formal instruction. Crucially, speaking skills and self-confidence do not develop automatically through mere exposure to content; rather, they result from an active process involving content selection, observation, practice, evaluation, reflection, and interaction. These findings suggest that educators may consider integrating Instagram as a supplementary resource for authentic and contextual speaking activities.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan reflektor aluminium foil dan seng aluminium terhadap kinerja panel surya monokristalin berkapasitas 50 Wp. Penelitian menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan pengujian selama 30 hari pada pukul 06.00–18.00 WITA. Pengujian dilakukan menggunakan panel yang sama dengan membandingkan tujuh kondisi, yaitu tanpa reflektor serta penggunaan reflektor aluminium foil dan seng aluminium pada sudut 30°, 60°, dan 90°. Untuk menjaga konsistensi pengukuran, posisi panel dipertahankan dan alat ukur intensitas radiasi ditempatkan sejajar dengan bidang permukaan panel surya. Parameter yang diamati meliputi intensitas radiasi matahari, suhu permukaan panel, tegangan, arus, daya keluaran, dan efisiensi. Daya keluaran dihitung berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan arus, sedangkan efisiensi ditentukan dari perbandingan daya keluaran terhadap daya masukan matahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya rata-rata panel tanpa reflektor sebesar 13,80 W. Penggunaan aluminium foil menghasilkan daya rata-rata sebesar 14,56 W pada sudut 30°, 15,61 W pada sudut 60°, dan 13,55 W pada sudut 90°. Sementara itu, penggunaan seng aluminium menghasilkan daya rata-rata sebesar 14,60 W, 15,58 W, dan 13,58 W pada sudut 30°, 60°, dan 90°. Peningkatan daya terbesar diperoleh pada aluminium foil 60°, yaitu sebesar 13,12% dibandingkan kondisi tanpa reflektor. Efisiensi tertinggi diperoleh pada seng aluminium 60° sebesar 10,46%, sedangkan aluminium foil 60° menghasilkan efisiensi sebesar 10,44%. Berdasarkan kondisi dan konfigurasi pengujian yang digunakan, sudut 60° menunjukkan kinerja paling baik dibandingkan variasi sudut lainnya. Hasil penelitian ini terbatas pada jenis panel, konfigurasi reflektor, lokasi, waktu, dan kondisi lingkungan selama pengujian sehingga tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh kondisi pengoperasian panel surya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
The purpose of the research was to reveal the significant impact of implementing the role-based jigsaw method on seventh-grade students' reading comprehension at SMPN 1 Tarakan. This research employed one group pretest-posttest design and involved 32 students from Class VII-3. Data were collected through multiple-choice reading comprehension tests administered before and after the intervention. The results showed that students' average scores increased from 57.81 on the pre-test to 77.66 on the post-test. A paired t-test revealed a statistically significant difference between the pre-test and post-test scores (t=-14.248, df=31, p0.001). Therefore, the null hypothesis (Ho) was rejected, and the alternative hypothesis (H.) was accepted. Students were seen discussing the assigned reading passages in Expert Groups and sharing their understanding in Home Groups while carrying out the cognitive and functional roles assigned to them. The N-Gain effectiveness score of 47% indicates that the implementation of this method is categorized as "Less Effective" based on the effectiveness criteria used. However, because this research employed one group pretest-posttest design without a control group, these findings must be interpreted within the limitations of the research design and do not establish a direct cause-and-effect relationship. Through the division of cognitive and functional roles within the group, students are encouraged to actively participate in text comprehension, discussions, taking responsibility for tasks, and sharing information with other group members. Based on the research findings, English teachers are advised to implement the role-based jigsaw method as an alternative reading instruction strategy that can encourage student engagement and improve comprehension. Future researchers are advised to use a more comprehensive research design, such as including a control group and extending the duration of the intervention, in order to obtain optimal and in-depth results.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Vocabulary mastery constitutes a fundamental component of English language learning, supporting students' ability to comprehend and use the language effectively. However, many junior secondary school students encounter persistent challenges in understanding meaning, recognizing word forms, and applying vocabulary appropriately in context. This study investigates the impact of Video-Based Experiential Learning (VBEL) on vocabulary mastery among Grade VIII students at SMPN 7 Tarakan. The research utilized a pre-experimental one-group pretest-posttest design with 22 students from a single class, selected based on specific research criteria. Data were collected using a validated vocabulary test that assessed three key dimensions: form, meaning, and usage. The results were analyzed through descriptive statistics, paired-samples t-tests, and effect size calculation (Cohen's d). The findings indicate that VBEL significantly enhanced overall vocabulary mastery, as evidenced by an increase in pretest and posttest scores from 23.08 to 28.59 (a gain of 5.50 points), with a Cohen's d of 0.51, representing a medium effect size (p = .026). Nevertheless, the three vocabulary dimensions exhibited uneven developmental patterns: the form dimension demonstrated the greatest improvement, the meaning dimension remained relatively unchanged, and the usage dimension declined. These results offer preliminary insight into VBEL's potential for English as a Foreign Language (EFL) vocabulary learning at the junior secondary level in Indonesia, while also emphasizing that vocabulary development may not progress uniformly across all dimensions during short-term interventions. Due to the limitations of the research design, these findings should be interpreted with caution and not broadly generalized. Future studies are encouraged to employ a quasi-experimental design with a control group, conduct pilot testing of instruments prior to data collection, and extend the intervention duration to enhance the validity of the findings and deepen understanding of VBEL implementation in more diverse learning contexts.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan membaca yang dialami siswa serta kebutuhan dukungan yang diperlukan dalam memahami teks bacaan bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Subjek penelitian adalah 61 siswa kelas IX.6 dan IX.7 di SMPN 3 Tarakan yang dipilih berdasarkan rekomendasi guru Bahasa Inggris sebagai kelas yang merepresentasikan kemampuan membaca siswa. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu persepsi kemampuan membaca siswa, kesulitan membaca teks bahasa Inggris, serta kebutuhan dukungan pembelajaran membaca. Data dikumpulkan melalui Google Form dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi, persentase, mean, dan standar deviasi menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami beberapa kesulitan dalam membaca teks bahasa Inggris, terutama dalam memahami kosakata baru, memahami kalimat yang panjang dan kompleks, mengingat detail informasi, serta menemukan makna tersirat dalam teks. Nilai rata-rata pada item kesulitan membaca berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa kesulitan membaca masih cukup sering dialami oleh siswa. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa membutuhkan berbagai bentuk dukungan pembelajaran. Dukungan digital menjadi kebutuhan tertinggi, diikuti oleh dukungan kosakata, dukungan visual, dan dukungan guru, sedangkan kerja kelompok berada pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesulitan membaca siswa tidak hanya berkaitan dengan aspek linguistik, tetapi juga dengan strategi pembelajaran dan bentuk dukungan yang diberikan selama proses membaca. Oleh karena itu, guru disarankan untuk mengintegrasikan penggunaan teknologi digital, pengajaran kosakata sebelum membaca, serta penggunaan media visual guna membantu meningkatkan pemahaman membaca siswa. This study aimed to describe the reading difficulties experienced by students and the support needs required to understand English reading texts. The research employed a descriptive quantitative method using a survey approach. The participants were 61 ninth-grade students from classes IX.6 and IX.7 at SMPN 3 Tarakan, selected based on the English teacher’s recommendation as representative classes of students’ reading ability levels. The research instrument was a questionnaire consisting of several sections, including students’ perceptions of reading ability, reading difficulties in English texts, and learning support needs for reading comprehension. Data were collected through a Google Form questionnaire and analyzed using descriptive statistics, including frequency, percentage, mean, and standard deviation with SPSS. The findings indicated that students still experienced several difficulties in reading English texts, particularly in understanding unfamiliar vocabulary, comprehending long and complex sentences, remembering detailed information, and identifying implied meanings in texts. The mean scores of reading difficulty items were categorized at a moderate level, indicating that reading difficulties were still frequently experienced by students. Furthermore, the results revealed that students required various forms of learning support. Digital support was identified as the most needed support, followed by vocabulary support, visual support, and teacher support, while group work support was categorized at a lower level of need. Based on these findings, it can be concluded that students’ reading difficulties are not only related to linguistic aspects but also to instructional strategies and the types of support provided during the reading process. Therefore, teachers are recommended to integrate digital technology, vocabulary pre-teaching activities, and visual media to help improve students’ reading comprehension.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
THE USE OF DUOLINGO BASED LEARNING IN ENGLISH SPEAKING SKILLS: A CASE STUDY AT SMPN 3 TARAKAN ABSTRACT This research examines the use of Duolingo-based learning as a technology-assisted approach to develop speaking skills at SMPN 3 Tarakan. Using a qualitative case study design, the study involved three junior high school students with different levels of English proficiency high achievers (S1), average achievers (S2), and low achievers (S3) as participants. Data were collected through semi-structured interviews, classroom observations, and documentation during three sessions conducted in May 2025. Findings indicate progressive improvement in six indicators of speaking skills (active engagement, fluency, accuracy, interaction skills, confidence, and adaptability) in all three participants over the observation period, albeit at different rates according to individual proficiency levels. (S1) demonstrated consistent and strong performance across all dimensions, (S2) showed significant improvement, particularly in fluency and interaction skills, while (S3) demonstrated the most significant affective shift, moving from communicative withdrawal and language anxiety in the initial session to greater participation and resilience in the final session. Additionally, this study examined how students used and perceived Duolingo-based learning across three sub-dimensions: prior experience with the app, perceived impact on speaking development, and expectations for technology-mediated learning. All three participants reported generally positive perceptions, recognizing Duolingo's low-pressure, game-based environment as supportive of pronunciation awareness, vocabulary development, and communicative confidence. The study concluded that the use of Duolingo-based learning as a supplementary resource within a structured EFL speaking program can result in meaningful communicative improvements across a range of learner achievement levels, particularly when combined with classroom-based communicative instruction.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kadar aspal merupakan parameter krusial dalam menentukan kualitas perkerasan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) pada infrastruktur bandar udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar aspal aktual pada campuran AC- WC yang dihampar di Taxiway Bandar Udara Juwata Tarakan dengan membandingkan hasil pengujian melalui metode Sentrifugal dan metode Refluks terhadap Job Mix Design (JMD). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan mengambil sampel lapangan melalui teknik core drill. Hasil ekstraksi secara statistik menggunakan uji t-test independen untuk membandingkan kedua metode tersebut, serta uji ANOVA untuk menilai kesesuaiannya dengan nilai JMD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar aspal menggunakan metode Sentrifugal adalah 4,99%, sedangkan metode Refluks adalah 5,68%, dibandingkan dengan nilai JMD sebesar 5,70%. Meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode (p-value 0,25 > 0,05), evaluasi teknis berdasarkan Spesifikasi Bina Marga menunjukkan bahwa metode Refluks memiliki deviasi yang sangat kecil (0,02%) dan memenuhi batas toleransi ±0,3%. Sebaliknya, metode Sentrifugal menghasilkan deviasi sebesar 0,71% yang melampaui batas toleransi tersebut. Hasil Penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengendalian mutu pada campuran beraspal perkerasan taxiway serta menjadi referensi dalam pemilihan metode ekstraksi aspal dilaboratorium.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study examines how speaking assessment is carried out under the Merdeka Curriculum at SMP Muhammadiyah 2 Tarakan, with a focus on diagnostic and students. Using a descriptive qualitative design, data were gathered from document formative assessment practices and on how they are perceived by both the teacher and analysis (teaching modules and assessment rubrics), classroom observations, and semi- structured interviews. The participants were one English teacher and nine seventh- ability levels. The data were analyzed thematically, and credibility was strengthened grade speaking through source triangulation. The findings show that diagnostic and formative assessments were implemented in an organized and differentiated way, aligned with Merdeka Curriculum principles, through activities such as interactive games and paired dialogues. However, students' experiences did not always match the teacher's intentions. In particular, students reported that assessment criteria were not clearly communicated, and many experienced considerable speaking anxiety-both of which became major barriers. Even so, students felt that these classroom activities helped them participate more actively and gradually build confidence, which they associated with improvement in speaking. These results point to the need for clearer, more consistent communication of assessment rubrics and for structured instructional strategies that address affective factors, especially anxiety, so that formative assessment can work more effectively within a supportive and inclusive learning environment.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
This study aims to analyze students’ difficulties in understanding TOEFL-like Reading, a reading test designed based on the TOEFL ITP format and implemented in the Borneo English Test (BET), among students of the English Education Department at Universitas Borneo Tarakan. This research employed a descriptive qualitative design involving 28 students from the 2020 cohort. Data were collected through document analysis of BET scores, questionnaires, and interviews. The document analysis revealed that most students were classified at the A1 and A2 levels, while only three students reached the B1 level based on the CEFR, and none achieved the B2 or C1 levels. These findings indicate a low level of students’ academic reading competence. The results of the questionnaires and interviews revealed that the main difficulties experienced by students included limited vocabulary, low inferential ability, difficulties in answering detail and unstated detail questions, and limited background knowledge. In addition, time constraints and text complexity further hindered reading comprehension. To cope with these difficulties, students tended to use strategies such as identifying the meanings of unfamiliar vocabulary, rereading texts, and practicing with TOEFL-like materials, while systematic reading strategies such as skimming and scanning were still rarely applied. This study concludes that vocabulary mastery and the effective use of reading strategies play an important role in improving students’ performance in TOEFL-like Reading.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study investigated the impact of the shadowing technique on the pronunciation skills of year 10 students at SMK Kesehatan Kaltara Tarakan. The research was motivated by students’ limited proficiency in English pronunciation, influenced by insufficient intensive practice, mother tongue interference, and low confidence. Shadowing, which involves the immediate and repeated imitation of native speaker pronunciation, was implemented to improve segmental accuracy, suprasegmental features and connected speech. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was employed. The sample comprised 17 pharmacy students selected for their low average pronunciation scores. Research instruments included oral tests, field notes, and video recordings. Results showed a substantial increase in average pronunciation scores from 7.53 to 14.00. The Wilcoxon test produced a significance value of 0.000 (p 0.50), confirming the effectiveness of the technique. Qualitative data supported these findings, showing greater student participation, improved confidence, and gradual enhancement in pronunciation accuracy. The shadowing technique is thus shown to be a practical, interactive, and effective method for improving pronunciation in vocational English learning. Penelitian ini mengkaji dampak teknik shadowing terhadap kemampuan pengucapan siswa kelas 10 di SMK Kesehatan Kaltara Tarakan. Penelitian ini didorong oleh keterbatasan kemampuan pengucapan bahasa Inggris siswa, yang dipengaruhi oleh kurangnya latihan intensif, gangguan bahasa ibu, dan rendahnya kepercayaan diri. Teknik shadowing, yang melibatkan peniruan langsung dan berulang terhadap pengucapan penutur asli, diterapkan untuk meningkatkan akurasi segmen, fitur suprasegmental, dan pengucapan yang terhubung. Desain pra-eksperimental satu kelompok dengan tes pra dan pasca diterapkan. Sampel terdiri dari 17 siswa farmasi yang dipilih berdasarkan skor rata-rata pengucapan yang rendah. Alat penelitian meliputi tes lisan, catatan lapangan, dan rekaman video. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor rata-rata pengucapan dari 7,53 menjadi 14,00. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai signifikansi 0,000 (p 0,50), mengonfirmasi keefektifan teknik ini. Data kualitatif mendukung temuan ini, menunjukkan partisipasi siswa yang lebih besar, peningkatan kepercayaan diri, dan peningkatan bertahap dalam akurasi pengucapan. Teknik shadowing terbukti sebagai metode praktis, interaktif, dan efektif untuk meningkatkan pengucapan dalam pembelajaran bahasa Inggris vokasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
AN ANALYSIS OF CODE SWITCHING AND CODE MIXING USED IN EFL LEARNING ON ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSES COURSE Abstract This study aimed to analyze the forms and factors influencing code-switching and code-mixing in leartung English as a foreign language (EFL) in the English for Specific Purposes (ESP) course This study uses a descriptive qualitative approach with data obtained through observation and interviews with fourth-semester students in the English Education Department at Borneo Tarakan University The study results showed that three types of code-switching are often used inter sentential switching, intra-sentential switching, and tag-switching in addition, three types of code-mixing were identified insertion, alternation, and congruent lexicalization. The main factors that encourage students to use code-switching and code-mixing include limited vocabulary in English, the desire to clarify the message, build familiarity with the audience, and adjust to the context of a particular topic These findings indicate that code-switching and code-mixing are functional and adaptive linguistic strategies in the ESP learning process, not as a form of language weakness but as a communication tool that supports an adequate understanding of the material
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi dan memproyeksikan inflasi, pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi di Kota Tarakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data sekunder yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan selama periode 2015–2024. Estimasi inflasi dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu PDRB Deflator dan Indeks Harga Konsumen (IHK), serta dianalisis menggunakan metode rata-rata aritmetika dan tren kuadratik. Proyeksi ke depan (2025–2030) juga dilakukan terhadap tingkat inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi dengan model kuadratik sebagai alat prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi Kota Tarakan mengalami fluktuasi dengan puncak tertinggi sebesar 7,69% pada tahun 2022, dan turun drastis menjadi 1,97% pada 2024. Proyeksi menunjukkan tren inflasi yang stabil dan menurun hingga 1,79% pada tahun 2030. Pengangguran diproyeksikan turun dari 5,21% pada 2025 menjadi 4,79% pada 2030, sementara pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, meningkat dari 5,63% menjadi 8,45% pada periode yang sama. Fenomena ekonomi ini tidak sepenuhnya mengikuti teori Kurva Phillips, karena inflasi dan pengangguran menurun secara bersamaan. Namun, hubungan negatif antara pengangguran dan pertumbuhan ekonomi selaras dengan Hukum Okun. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan berbasis data, memperkuat sektor ekonomi riil, serta merancang kebijakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis estimasi dan proyeksi inflasi, pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Utara. Dengan menggunakan data sekunder dari sumber-sumber resmi, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian ini mencakup periode 2010 – 2023 fenomena Philip curve inflasi dengan pengangguran dan Okun Law. Selajutnya dengan menggunakan metode proyeksi pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran di Provinsi Kalimantan Utara. Menggunakan metode linier sederhana dan kuadratik. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa hasil nilai inflasi riil yang di hitung menggunakan nilai dari produk domestik bruto deflator dengan inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara diproyeksi pada tahun 2024 diperkirakan meningkat dari 4,88 persen, hingga mencapai 4,94 persen, pada tahun 2030. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan meningkat dari 4,04 persen, pada tahun 2024 hingga mencapai 4,67 persen, pada tahun 2030, mencerminkan potensi masalah dalam stabilitas pasar kerja di Kalimantan Utara. Pertumbuhan ekonomi diproyeksi menurun dari 4,05 persen, hingga mencapai 3,27 persen, pada tahun 2030, mencerminkan potensi perkembangan ekonomi yang sangat tidak stabil dan memerlukan perhatian serta strategi yang serius untuk mengatasi potensi penurunan yang lebih lanjut. Temuan ini menujukkan perlunya kebijakan yang terarah untuk mengatasi masalah inflasi dan tingkat pengangguran serta untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi dan proyeksi inflasi, pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan dengan data sekunder publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS). Data penelitian ini dimulai dari tahun 2008-2023. Penelitian ini menggunakan metode estimasi inflasi dan proyeksi inflasi, pengangguran, pertumbuhan ekonomi dengan trend kuadratik. Hasil penelitian ini estimasi inflasi rata – rata sesuai pertumbuhan uang dan barang, produk domestik bruto deflator dan badan pusat statistik Indonesia bahwa dari tahun 2008 – 2023 mengalami penurunan sebesar 1,04 dibandingkan dengan badan pusat statistik sebesar 2,61 persen. Pada proyeksi inflasi mengalami peningkatan dari tahun 2024 – 2030, untuk nilai proyeksi inflasi menunjukkan bahwa inflasi pada tahun 2024 diperkirakan akan meningkat dari 2,71 persen dan terus meningkat pada tahun 2030 akan menjadi sebesar 3,31 persen, ini menunjukkan bahwa biaya hidup secara keseluruhan diperkirakan akan naik dalam periode tersebut. Proyeksi pengangguran pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pengangguran diperkirakan akan meningkat dari sebesar 6,20 persen dan terus meningkat pada tahun 2030 menjadi sebesar 8,67 persen, ini menandakan bahwa pasar kerja mungkin akan mengalami tekanan yang lebih besar dalam hal menciptakan lapangan kerja dan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 diperkirakan akan meningkat sebesar 4,87 persen dan terus meningkat pada tahun 2030 menjadi sebesar 6,67 persen menunjukan prospek ekonomi yang sangat positif dan potensi untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi di tahun-tahun berikutnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study aims to describe students’ perception towards English as Medium Instruction (EMI) used by English teachers in teaching English in Junior High School at SMPIT Ulul Albab Tarakan. The research method was qualitative method. This research was conducted in class VII Ad-Dhuha, VII Al Buruj, VII Al-Qamar, and VII As-Sajdah. To collect data, researcher used a questionnaire with purposive sampling technique. The questions were designed to measure students’ attitudes towards English, students’ understanding of English, students’ perception of their English, and students’ prception of the language used by their English teacher in class. The study result showed that most students agreed that EMI was predominantly applied by English teachers in teaching English subjects. By applying EMI in the classroom improves students’ English proficiency with appropriate English standards, motivates students to learn English, increase self-confidence, helps them to understand English textbooks or articles, and helps them to understand international cultures.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui karakteristik tanah dan jenis tanah dari hasil pengujian CPT, menganalisis daya dukung pondasi tiang pancang akibat gaya lateral. Untuk mengetahui besarnya kapasitas lateral ultimit yang bisa ditahan oleh tiang, dapat diketahui besarnya gaya lateral ijin, selain itu juga dapat mengetahui besarnya defleksi pada pondasi tiang pancang. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode broms, metode konvensional, metode p -y cruve dan metode elemen hingga dengan dua kondisi tiang ujung bebas dan tiang ujung jepit. Berdasrkan analisis di peroleh jenis tanah lempung pada kedelaman 0.00 – 1.80 m, jenis tanah lanau lempungan pada kedalaman 2.00 – 2.80 m, jenis tanah pasir lanauan pada kedalaman 3.00 – 3.40 m, jenis tanah lanau lempungan pada kedalaman 3.60 – 3.80 m, dan jenis tanah pasir pada kedalaman 4.00 – 5.00 m, berdasakan analisis metode brom’s tiang ujung bebas Hijin = 18.67 kNm dan defleksi tiang ujung bebas yo = 0.0020 m, metode brom’s tiang ujung jepit Hiji = 36 kNm dan defleksi tiang ujung jepit yo = 0.003 m, perhitungan metode konvensional Kondisi tiang melebihi momen maksimum yang bekerja pada tiang dan melampaui tahanan momennya sendiri dan besaran defleksi yang terjadi pada metode ini melebihi 0.006 m defleksi yang disarakan, metode p – y curve mendefinisikan hubungan lateral dan defleksi antara tanah digambarkan oleh kurva, sumbu p tahanan tanah per satuan panjang tiang dan sumbu – y adalah defleksi tiang, berdasarkan analisis menggunakan metode elemen hingga tiang ujung bebas di hasilkan besaran nilai perpindahan horizontal sebesar yo = 0.05 m, analisis menggunakan metode elemen hingga tiang ujung jepit dihasilkan besaran nilai perpindahan horizontal sebesar yo = 0.019 m.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kontekstual terhadap kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 3 Tarakan. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2022/2023 di SMP Negeri 3 Tarakan. Jenis penelitian ini yaitu kuasi eksperimen dengan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Posttest Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 3 Tarakan. Instrumen penelitian ini adalah berupa soal tes uraian berjumlah sepuluh soal berpikir reflektif terkait materi zat aditif dan adiktif. Sampel penelitian yaitu peserta didik kelas VIII-1 sebanyak 31 orang dan VIII-2 sebanyak 32 orang dengan penentuan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent sample t-test, diperoleh hasil dengan nilai signifikan 0.03, yang artinya nilai Sig ≤ 0,05 maka Ha diterima dan H0 ditolak. Berdasarkan hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan model pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan kemampuan berpikir reflektif peserta didik di SMP Negeri 3 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan berpikir reflektif meliputi menafsirkan masalah, membuat kesimpulan, menilai, menganalisis, kreatif dan aktifitas metakognitifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa kelas VIII.2 SMP Negri 3 Tarakan ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pemilihan subjek dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik purposive sampling. Dalam penelitian ini siswa perempuan sudah melakukan semua tahapan indikator dari berpikir reflektif yaitu reacting menyebutkan yang ditanyakan, menyebutkan yang diketahui, menyebutkan hubungan antara yang diketahui dan ditanyakan, lalu comparing mengaitkan soal yang pernah ditanyakan dengan soal yang pernah dihadapi dan contemplanting mendeteksi kesalahan atau memperbaiki jika ada kesalahan dan membuat kesimpulan. sedangkan siswa laki-laki sudah melakukan semua tahapan indikator dari berpikir reflektif yaitu reacting menyebutkan yang ditanyakan, menyebutkan yang diketahui, menyebutkan hubungan antara yang diketahui dan ditanyakan , lalu comparing mengaitkan soal yang pernah ditanyakan dengan soal yang pernah dihadapi dan contemplanting mendeteksi kesalahan atau memperbaiki jika ada kesalahan dan membuat kesimpulan. Namun di sini siswa laki-laki masih ada keraguan saat mendeksripsikan atau menjelaskan kembali jawaban nya. Kemampuan berpikir reflektif matematis siswa kelas VIII.2 di SMP Negeri 3 Tarakan sudah tergolong baik. Siswa laki-laki dan siswa perempuan mampu memanuhi 3 indikator dari berpikir reflektif. Siswa perempuan disini terlihat lebih mengekspresikan jawabannya melalui wawancara, memberikan penjelasan disetiap jawaban yang diberikan. Berbeda dengan siswa laki-laki yang menjawab sesuai dan seadanya saja, siswa laki-laki kurang memberikan penjelasan yang lebih runtut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Menyelesaikan persoalan matematika memerlukan proses berpikir, baik dalam menganalisis soal hingga menemukan konsep dari penyelesaian masalah tersebut. Salah satu meteri yang tergolong sulit yaitu materi geometri, hal ini karena penyelesaian masalah geometri tidak hanya membutuhkan hafalan rumus melainkan membutuhkan pemahaman konsep. Kemampuan berpikir reflektif dibutuhkan dalam matematika sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya untuk mengatasi berbagai kebingungan dalam menyelesaikan masalah matematika. Materi Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan karakteristik berpikir reflektif mahasiswa PGSD Universitas Borneo Tarakan dalam menyelesaikan masalah geometri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data terdiri atas lembar tes, transkip thinkaloud, dan wawancara mendalam. Triangulasi data yang digunakan yaitu triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa memenuhi indikator aspek berpikir reflektif pada aspek techniques, monitoring, insight, dan conceptualization pada saat menyelesaikan masalah geometri. Terdapat empat karakteristik berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geometri (1) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, dan menemukan solusi. (2) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu mengalami kondisi kebingungan lagi, kemudian ditindaklanjuti, kemudian mengalami kebingungan lagi, lalu ditindaklanjuti kembali, dan menemukan solusi. (3) subjek mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, kemudian menemukan solusi. (4) subjek mengalami kebingungan, lalu ditindaklanjuti, kemudian menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, lalu menyadari kesalahan lagi, kemudian ditindaklanjuti kembali yang akhirnya menemukan solusi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
This study investigated studens diticulties in speaking Engish in EFL and the strategies students use to overcome these dificulties The research data was obtained using a qualitative descriptive method The fiflh-semester students from the English Education Depariment were selected as the informants usinga purposive sampling technique. Research data was collected by interviewing students with in-depth semi-structured interviews. The results of this study indicated that students experience difficulties in speaking English. The first factor was social culture; 1) family involvement, 2) student living environment, and 3) peer involvement. The second factor is psychological; 4) feeling afraid, and 5) feeling ashamed. The third factor was linguistics; 6) local dialect, 7) word pronunciation, 8) grammar knowledge, 9) vocabulary, and 10) filler. The fourth factor was general knowledge, including 11) world/ topic knowledge, 12. limited study time and 13) need for understanding, Student strategies to overcome these difficulties included taking English courses, using English as daily communication, making dialogues with family/peers, attending an English community, practicing speaking through online games, reading tongue twisters, preparing material earlier, and looking for material from the intemnet/leamning websites. This study implied that having good speaking is affected by the social environment, motivation, language proficiency, and world knowledge. Besides, it requires effective leamning strategies to make an improvement.