ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan salah satu komoditas utama dalam sektor budidaya air tawar. Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi, salah satunya dengan peningkatan nutrisi pakan menggunakan probiotik EM4. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik EM4 pada pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan dosis yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan P1 (Pakan Pellet/kontrol), P2 (30 ml/kg pakan), P3 (40 ml/kg pakan), dan P4 (50 ml/kg pakan). Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari sebanyak 5% dari bobot ikan. Benih ikan yang digunakan sebanyak 120 ekor yang berukuran 3-4 cm dengan padat tebar 1 ekor/liter. Data yang telah diperoleh ditabulasikan dan dianalisis menggunakan aplikasi software SPSS 29 yang meliputi Analisis Ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EM4 pada pakan dengan dosis berbeda memberikan pengaruh nyata (P≤0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan Tingkat kelulushidupan. Sementara hasil yang terbaik adalah perlakuan P3 (dosis 40 mL/kg pakan).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK EM4 DENGAN DOSIS YANG BERBEDA PADA PAKAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN LELE (Clarias Sp). ABSTRAK Budidaya ikan lele yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya menggunakan pakan buatan sekitar 60-75% dari total biaya produksi yang dikeluarkan. Harga pakan buatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sehingga dibutuhkan alternatif untuk meminimalkan penggunan pakan buatan tanpa mengurangi komposisi nutrisi pakan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh penambahan probiotik EM4 dengan dosis yang berbeda pada pakan terhadap laju pertumbuhan benih Ikan Lele (Clarias Sp). Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Benih ikan lele yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran 4-5 cm dan padat penebaran 1 ekor/liter (volume wadah 10 l). Benih ikan sebelum dilakukan pengujian terlebih dahulu diadaptasikan selama 7 hari. Rancangan penelitian ini menggunakan Perlakuan yaitu: P1 tanpa penambahan probiotik EM4 (kontrol), P2 (30 ml/kg pakan), P3 (40 ml/kg pakan), dan P4 (50 ml/kg pakan). Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari sebanyak 5% dari bobot ikan. Data yang diperoleh ditabulasikan dan dianalisis menggunakan aplikasi software SPSS 29 yang meliputi Analisis Ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik EM4 pada pakan dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P≤0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan tingkat kelangsungan hidup. hasil yang terbaik adalah perlakuan P3 (pakan crumble dengan dosis 40 ml/kg pakan). Penambahan probiotik EM4 pada pakan dapat meningkatkan pertumbuhan berat dan panjang yang lebih tinggi yaitu 3.29 gr dan 6.8 cm dan kelangsungan hidup benih ikan lele sebesar 98%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sawi hijau merupakan jenis sayur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya mulai dari golongan masyarakat kelas bawah hingga golongan masyarakat kelas atas. Selain tanaman sawi terdapat juga tanaman bayam yang menjadi tanaman konsumsi bagi sebagian besar masyarakat pada umumnya. Media tanam (cocopeat) merupakan media tanam yang ideal dalam budidaya tanaman sayur , hal ini dikarenakan sifat dari (cocopeat) yang porous dan mampu menyimpan air dengan baik. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan tanaman sawi dan bayam pada pemberian (cocopeat) dengan komposisi yang berbeda. Untuk dapat mengetahui hasil dari penggunaan dan pemanfaatan penggunaan (cocopeat) terhadap tanaman sawi dan bayam. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 8 ulangan sehingga di dapatkan 32 unit percobaan dengan taraf dosis:P0=0gram/petak,P1=550gram/petak,P2=750gram/petak,P3=950gram/petak. Analisis data yang digunakan yaitu Anova dengan satu faktor dan dilanjutkan uji DMRT dengan taraf 5%. Kesimpulan Pengaplikasian (cocopeat) pada media tanam dengan dosis 950 gram memberikan pengaruh pertumbuhan yang berbeda nyata pada tanaman sawi (Brassica juncea L.) dan tanaman bayam (Amaranthus SP.). Pengaplikasian cocopeat dengan dosis 950 gram memberikan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman sawi dan bayam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Seledri ( Apium graveolens L ) merupakan salah satu tanaman sayuran yang penting karena memiliki nilai ekonomis dan manfaat. Tanaman seledri umumnya digunakan sebagai bumbu yang sangat digemari masyarakat, baik di Indonesia maupun di negara-negara yang ada di Eropa, Amerika dan Asia.Adapun yang mendasari dilakukannya penelitian ini yaitu Untuk mengetahui pengaruh urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ), untuk mengetahui apakah dosis POC urin sapi yang di gunakan berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman seledri ( Apium graveolens L ). Penelitian ini dilaksanakan di Green house Fakultas Pertanian UniversitasBorneo Tarakan, Kalimantan Utara pada Bulan Juli – September2022.Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu fermentasi urin sapi, persiapan lahan dan pengolahan tanah, penyemaian, pindah tanam, pengaplikasian urin sapi, pemeliharaan tanaman, pemanenan, analisis data. Parameter yang akan digunakan dalam penilitian ini adalah jumlah tangkai, tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, berat basah dan berat kering (gram). Dari hasil analisis data dengan menggunakan (ANOVA) dengan taraf 5% dan tingkat kepercayaan 95%. (P0 tanpa dosis urin sapi), (P1 50 ml urin sapi + 950 ml air, (P2 100 ml urin sapi + 900 ml air), (P3 200 ml urin sapi + 800 ml air), dan (P4 400 ml urin sapi + 600 ml air). Pemberian pupuk cair urin sapi dengan konsentrasi 200 ml urin sapi + 800 ml air merupakan perlakuan terbaik karena dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seledri pada parameter tinggi tanaman 9 MST (32.13 cm), parameter jumlah tangkai 10 MST (12.55 tangkai) dengan konsentrasi 400 ml urin sapi + 600 ml air, parameter jumlah anakan 10 MST (3.44 anakan ) dengan konsentrasi pupuk cair urin sapi 50 ml + 950 ml air.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia, karena kemampuan adaptasinya yang baik terhadap lingungan. Ikan nila bersifat omnivora dengan emampuan mampu mencerna maanan secara efisien. Pertumbuhan ikan nila sangat dipengaruhi oleh nutrisi pakan, maka untuk memenuhinya diperlukan pakan alami yang mengandung nutrisi tinggi salah satunya adalah cacing sutra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan cacing sutra (Tubifex sp) dengan dosis yang berbeda teradap pertumbuhan larva ikan nila (O. niloticus), metode yang digunakan adalah rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan P1 yaitu pemberian pakan buatan 5% dari bobot tubuh (control), P2 yaitu pemberian pakan cacing sutra (Tubifex sp) dengan dosis 5% dari bobot tubuh, P3 yaitu pemberian pakan cacing sutra (Tubifex sp) dengan dosis 6% dari bobot tubuh dan P4 yaitu pemberian pakan cacing sutra (Tubifex sp) dengan dosis 7% dari bobot tubuh. Parameter yang diamati selama penelitian yaitu pertumbuhan berat mutlak (PBM), pertumbuhan panjang mutlak (PPM), peningkatan warna dan survival rate (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbeda terhadap benih ikan nila (Oreochromis niloticus) berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, dan kelansungan hidup. Perlakuan terbaik dengan pemberian cacing sutra 5 %).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan salah satu komoditas utama dalam perikanan budidaya di Indonesia. Beberapa kelebihan atau keunggulan ikan lele dibandingkan dengan jenis ikan lainnya yaitu pertumbuhannya relatif lebih cepat serta pemeliharaannya yang mudah, tahan terhadap penyakit dan tahan terhadap buruknya kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan Tubifex sp dengan dosis yang optimal terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele Sangkuriang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu pakan pelet dengan dosis 7% (P0), cacing sutra dengan dosis 7% (P1), cacing sutra dengan dosis 10% (P2), cacing sutra dengan dosis 13% (P3) dengan pemberian pakan 3 kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan Tubifex sp tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele. Pemberian pakan terbaik dalam peningkatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele yaitu pada perlakuan P3 yaitu pemberian pakan cacing sutra 13% menghasilkan pertumbuhan panjang sebesar 4,6 cm dan pertambahan berat sebesar 2,51 g lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan alami cacing sutra dengan dosis yang berbeda memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan panjang, pertumbuhan berat, laju pertumbuhan harian, tingkat kelangsungan hidup benih. Dosis pemberian pakan yang optimal terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih lele terdapat pada perlakuan dengan pemberian pakan cacing sutra 13%. Kata Kunci: Benih Ikan Lele (Clarias gariepinus), Cacing Sutra (Tubifex sp), Dosis pakan, Pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
OPTIMALISASI DOSIS POLY ALUMINIUM CHLORIDE (PAC) PADA SAMPEL AIR BAKU PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM TIRTA ALAM TARAKAN Abstrak Kebutuhan terhadap air bersih menjadi dasar pemanfaatan sungai sebagai sumber air baku. Air baku yang dimanfaatkan umumnya memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan Poly Aluminium Chloride (PAC) sebagai koagulan untuk menjernihkan air. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dosis optimum Poly Aluminium Chloride (PAC) pada pengolahan air baku di Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Alam Tarakan. Penelitian dilakukan dengan membandingkan penggunaan Poly Aluminium Chloride (PAC) konsentrasi 1 % dan 2 %. Data yang dikumpulkan meliputi nilai kekeruhan dan nilai pH sebelum dan sesudah pengolahan yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum. Hasil penelitian menunjukkan dalam penggunaan PAC 1 % dengan kekeruhan awal 25,4 NTU dan pH awal 7 didapatkan hasil yang sesuai dengan baku mutu pada dosis 0,5 ppt dengan nilai kekeruhan 4,04 NTU dan pH 6,92 serta dosis 0,6 ppt nilai kekeruhan menjadi 1,37 NTU dan pH 6,91. Pada penggunaan PAC 1 % dengan kekeruhan awal 56 NTU dan pH 6,92 yaitu pada dosis 0,5 ppt dengan nilai kekeruhan 4,88 NTU dan pH 6,88 sedangkan dosis 0,6 ppt menjadi 3,29 NTU dan pH 6,86. Pada penggunaan PAC 2 % dengan kekeruhan awal 25,4 NTU dan pH 7 pada dosis 0,3 ppt menurunkan kekeruhan menjadi 3,74 NTU dan pH 6,81; dosis 0,4 ppt menjadi 2,42 NTU dan pH 6,78; dosis 0,5 ppt menjadi 0,89 NTU dan pH 6,75 serta dosis 0,6 ppt menjadi 0,30 NTU dengan pH 6,73. Sedangkan, pada kekeruhan awal 56 NTU dengan pH 6,92 pada dosis 0,3 ppt nilai kekeruhan menjadi 4,73 NTU dan pH 6,79; dosis 0,4 ppt menjadi 4,66 NTU dan pH 6,80; dosis 0,5 ppt menjadi 2,31 NTU dan pH 6,77 serta dosis 0,6 ppt menjadi 1,80 NTU dan pH 6,77. Dosis optimum yang diperoleh adalah 0,6 ppt dengan konsentrasi larutan 2 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ketersediaan unsur hara P yang rendah merupakan salah satu permasalahan pengelolaan lahan masam di Sebatik. Rendahnya ketersediaan unsur hara P pada lahan masam disebabkan oleh pH tanah yang rendah dan tingginya kelarutan Al-dd. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan P adalah dengan meningkatkan pH tanah dan menurunkan kelarutan Al-dd melalui penambahan bahan pembenah tanah yaitu biochar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh jenis biochar terhadap ketersediaan P; 2) pengaruh dosis biochar terhadap ketersediaan unsur hara P; dan 3) pengaruh kombinasi jenis dan dosis biochar terhadap ketersediaan unsur hara P pada tanah masam di Sebatik. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 Faktor, yaitu jenis biochar (tempurung kelapa dan cangkang sawit) dan dosis biochar ( 0, 0,5, 1,0 dan 1,5 g), menghasilkan 8 kombinasi perlakuan, diulang 3 kali menghasilkan 24 unit percobaan, yang diinkubasi pada 0, 21 dan 42 hari. Parameter yang diamati adalah pH tanah, kandungan C-organik, kelarutan Al-dd, dan P-tersedia tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan jenis dan dosis biochar mampu meningkatkan ketersediaan P dari saangat rendah menjadi sedang. Katersediaan unsur hara P tertinggi diperoleh pada pemberian biochar cangkang sawit (6,36 ppm), dosis biochar sebesar 1,5 g (8,64-8,80 ppm), dan pada kombinasi biochar tempurung kelapa dengan dosis 1,5 g (8,80 ppm).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman krisan merupakan tanaman hias yang berasal dari dataran Cina berupa perdu dan memiliki berbagai macam-macam warna serta spesies-spesies. Produksi tanaman krisan di Indonesia mulai meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan produksi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi usaha untuk tanaman krisan. Permasalahan yang sekarang dihadapi Indonesia dalam budidaya tanaman krisan adalah masih mengimpor bibit dari luar negeri seperti Belanda, Jerman, Amerika Serikat dan Jepang. Mengetahui pengaruh stek anakan, cabang dengan dosis pupuk NPK Mutiara pada pembungaan krisan (Chrysanthimum indicum L.). stek yang di uji yaitu anakan tanaman krisan dan cabang tanaman krisan, sedangkan dosis pupuk NPK Mutiara yang digunakan 2 Gram + polybag + tanah 5 kg, 4 Gram + polybag + tanah 5 kg dan 6 Gram + polybag + tanah 5 kg. Hasil dari pengujian stek anakan menghasilkan lebih banyak cabang yang mengeluarkan bunga, sedangkan stek cabnag lebih cepat mengeluarkan bunga. Interaksi terhadap stek anakan, cabang dan dosis pupuk NPK Mutiara yang berbeda berpengaruh nyata terhadap pengamatan. Tinggi tanaman pada P2N3, jumlah daun P2N3, jumlah anakan P2N2, jumlah cabang P2N3, jumlah cabang yang mengeluarkan bunga P2N2, dan jumlah bunga pada batang utama P2N3. Namun dari stek anakan dan cabang yang lebih berpengaruh terhadap dosis pupuk NPK Mutiara atau yang lebih baik pertumbuhan nya yaitu terdapat pada perlakuan dosis pupuk yaitu 6 gram atau pada P2N3.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Pada tahun 2018 produksi padi di Indonesia mencapai 11.377. 934, 44 ton dan mengalami penurunan mencapai 10.677.877,15 ton pada tahun 2019. Sedangkan pada Provinsi Kalimantan Utara, data produksi padi yang dihasilkan pada tahun 2018 di kabupaten Malinau sebesar 8.230,39 ton sedangkan pada tahun 2019 sebesar 6. 564,07 ton. Penyebab menurunya produksi hasil panen padi yaitu kurang optimalnya pemberian pupuk. Pemupukan yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi, hal ini karena pupuk berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah yang di gunakan sebagai media tanam. Mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK Phoska dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan tiga kultivar padi sawah (Oryza sativa L) Malinau. Jenis kultivar padi yang digunakan yaitu Unggul Lokal Malinau, Mente Susu dan Unggul Muncul dengan beberapa dosis pupuk NPK yaitu 34,7 g, 69,4 g dan 104,1 g. Pengaplikasian pupuk dilakukan secara bertahap dimana setiap pengaplikasian pupuk di berikan P0=sebagai kontrol (tanpa pembrian pupuk), P1=34,7. P2=69,4 dan P3=104,1 gram pada 2 MST ,4 MST dan 6 MST. Dengan cara memberikan langsung ke media tanam sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Hasil uji DMRT interaksi antara 3 Kultivar dan dosis pupuk diketahui bahwa dari ketiga kultivar (Unggul Lokal Malinau, Mente Susu dan Unggul Muncul) yang digunakan memiliki angka yang lebih baik dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3) terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan. Sedangkan pada panjang daun hasil yang baik yaitu K1dan K3 (Unggul Lokal Malinau dan Unggul Muncul) dengan penggunaan dosis pupuk 69,4 gram (P2), kemudian pada K2 (Mente Susu) nilai kontrol (P0) lebih tinggi. Pada jumlah daun dikeathui bahwa K1 (Unggul Lokal Malinau) memiliki jumlah daun yang lebih banyak dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3), kemudian K2 dan K3 (Mente Susu dan Unggul Muncul) lebih banyak menghasilkan daun dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3). Kata Kunci : Pada tahun 2018 produksi padi di Indonesia mencapai 11.377. 934, 44 ton dan mengalami penurunan mencapai 10.677.877,15 ton pada tahun 2019. Sedangkan pada Provinsi Kalimantan Utara, data produksi padi yang dihasilkan pada tahun 2018 di kabupaten Malinau sebesar 8.230,39 ton sedangkan pada tahun 2019 sebesar 6. 564,07 ton. Penyebab menurunya produksi hasil panen padi yaitu kurang optimalnya pemberian pupuk. Pemupukan yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi, hal ini karena pupuk berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah yang di gunakan sebagai media tanam. Mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK Phoska dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan tiga kultivar padi sawah (Oryza sativa L) Malinau. Jenis kultivar padi yang digunakan yaitu Unggul Lokal Malinau, Mente Susu dan Unggul Muncul dengan beberapa dosis pupuk NPK yaitu 34,7 g, 69,4 g dan 104,1 g. Pengaplikasian pupuk dilakukan secara bertahap dimana setiap pengaplikasian pupuk di berikan P0=sebagai kontrol (tanpa pembrian pupuk), P1=34,7. P2=69,4 dan P3=104,1 gram pada 2 MST ,4 MST dan 6 MST. Dengan cara memberikan langsung ke media tanam sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Hasil uji DMRT interaksi antara 3 Kultivar dan dosis pupuk diketahui bahwa dari ketiga kultivar (Unggul Lokal Malinau, Mente Susu dan Unggul Muncul) yang digunakan memiliki angka yang lebih baik dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3) terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan. Sedangkan pada panjang daun hasil yang baik yaitu K1dan K3 (Unggul Lokal Malinau dan Unggul Muncul) dengan penggunaan dosis pupuk 69,4 gram (P2), kemudian pada K2 (Mente Susu) nilai kontrol (P0) lebih tinggi. Pada jumlah daun dikeathui bahwa K1 (Unggul Lokal Malinau) memiliki jumlah daun yang lebih banyak dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3), kemudian K2 dan K3 (Mente Susu dan Unggul Muncul) lebih banyak menghasilkan daun dengan pemberian dosis pupuk 104,1 gram (P3). Rice production in Indonesia reached 11,377. 934.44 tons in 2018 and decreased to 10,677,877.15 tons in 2019. While in North Kalimantan Province, data on rice production produced in 2018 at Malinau Regency was 8,230.39 tons, and in 2019, it was 6,564.07 tons. The main cause of the production decline was the lack of optimal fertilizer application. Good fertilization affects the growth of rice plants, this is because fertilizer plays an important role in providing nutrients to the soil. By knowing the effect of applying NPK Phoska with different doses on the growth of three malinau rice cultivars (oryza sativa 1.). The types of rice cultivars used were Unggul Local Malinau, Cashew Milk and Unggul Muncul with several doses of NPK fertilizer, namely 34.7 g, 69.4 g and 104.1 g. Fertilizer application was carried out in stages where each application of fertilizer was given PO as a control (without fertilizer application), P1 34.7. P2 -69.4 and P3 = 104.1 grams at 2 MST ,4 MST and 6 MST. By giving directly to the planting medium based on predetermined doses The results of the DMRT interaction test between three rice cultivars and the doses of fertilizer showed that the three cultivars (Unggul Lokal Malinau, Mente Susu and Unggul Muncul) have better numbers with a fertilizer doses of 104.1 grams (P3) based on plant height and number of tillers. While on leaf length was KI and K3 (Local Superior Malinau and Unggul Muncul) with the use of a fertilizer dose of 69.4 grams (P2), then at K2 (Cashew Milk) the control value (PO) was higher. In the number of leaves, it was found that K1 (Local Superior Malinau) has more leaves with a dose of 104.1 grams of fertilizer (P3), then K2 and K3 (Mente Susu and Unggul Muncul) produced more leaves with a dose of 104 fertilizer, 1 gram (P3)
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
ABSTRAK Ketoasidosis diabetik ( KAD) adalah keadaan dekompensasi metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia, asidosis dan ketosis yang terjadi krena kelainan skreksi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Metode penulis deskriptif yaitu studi kasus melalui teknik pengumpulan data, wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi dan studi kepustakaan. Dengan mengunakan pendekatan proses keperawatan keperawatan yang meliputi langkah-langkah pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Diagnosa yang didapatkan pada Tn. T adalah ketidak stabilan gulkosa dalam darah behubungan dengan resistensi insulin, nyeri akut berhubungan dengan angen pecedra fisiologis, ganguan intergitas kulit behubungan dengan perubahan sirkulasi, gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan musculoskletal Intervensi yang telah dilakukan dan kriteria hasil yang telah disusun berdasarkan prioritas masalah maka penulis menemukan semua masalah diagnosa keperawatan dapat teratasi.penulis mampu melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif, menemukan faktor pendukung, penghambat dan menemuan kesenjangan teori dan kasus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ketoasidosis diabetikum adalah keadaan yang ditandai dengan asidosis metabolik akibat pembentukan keton yang berlebihan, ketoasidosis diabetikum juga merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang serius. Dalam penyusunan laporan akhir ini penulis menggunakan metode studi kasus, yaitu metode ilmiah yang menggambarkan keadaan nyata yang sedang terjadi, dan semua kegiatan hanya memusatkan perhatian pada kasus secara intensif, dimulai dengan pengumpulan data, analisis data, merumuskan masalah intervensi, dan implementasi serta evaluasi yang telah dilakukan. Dari hasil pengumpulan data didapatkan lima masalah keperawatan yaitu ketidakstabilan kadar glukosa darah, hipervolemia, nyeri akut, gangguan mobilitas fisik, risiko defisit nutrisi. Berdasarkan hasil evaluasi ada dua masalah keperawatan yang dapat di atasi dan tiga masalah keperawatan yang belum teratasi. Adapun faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung pasien yang sangat koperatif, komunikasi yang baik dengan pasien dan tenaga kesehatan lain, faktor penghambat yaitu keterbatasan sarana dan prasarana rumah sakit, Sehingga perawat diharapkan melaksanakan tugas sebagai care giver yang memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan komprehensif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. T DENGAN DIAGNOSA KETOASIDOSIS DIABETIKUM DI RUANG CEMARA RUMAH SAKIT UMUM KOTA TARAKAN ABSTRAK Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama di sebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif. Kematian akibat KAD di RSCM tercatat dari januari 2002 Mei 2006 adalah sebanyak 12 orang dari 62 penderita kasus KAD, sedangkan pada juni 2006 Maret 2011 tercatat kematian dari kasus kada menurun menjadi 1 orang dari 40 penderita kasus KAD. Dari data tersebut yang menjadi latar belakang penulis mengambil kasus Ketoasidosis Diabetik dalam penulisan Laporan Tugas Akhir. Dalam penyusunan laporan tugas akhir ini penulis menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan dengan tahapan pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Tujuan umum laporan tugas akhir ini adalah mendapatkan pengalaman nyata asuhan keperawatan yang dilakukan secara holistik dan komprehensif. Subjek penelitian adalah Tn. T dengan Ketosidosis Diabetik di Ruang Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan dari tanggal 22 Maret 2021 sampai dengan 25 Maret 2021. Penulis menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus pada Tn. T dimulai dari pengkajian, diagnosa, Intervensi harus disesuaikan dengan kondisi dan sarana prasarana. Evaluasi hasil yang didapatkan semua intervensi keperawatan telah di laksakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Aplikasi pupuk organik bersamaan dengan waktu tanam dan setelah tanam belum banyak dikaji, sehingga belum ada informasi yang cukup terkait waktu aplikasi pupuk kandang yang tepat untuk dikombinasikan dengan aplikasi urea untuk menghasilkan serapan dan efisiensi serapan unsur hara N yang tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji pengaruh waktu aplikasi pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan jagung dan sifat tanah, mengetahui dosis urea yang tepat terhadap serapan N terbaik, mengetahui pengaruh dosis Urea terhadap pertumbuhan jagung dan sifat tanah serta mengkaji pengaruh kombinasi waktu aplikasi pupuk kandang ayam dan dosis urea terhadap pertumbuhan jagung dan sifat tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2020 hingga Januari 2021. Rancangan acak lengkap, yang terdiri dari 2 faktor yaitu waktu aplikasi dengan tiga taraf yakni 1 minggu sebelum tanaman (W1), pada saat tanam (W2), dan 1 minggu setelah tanam (W3). Kemudian pupuk kandang ayam (T) terdiri atas empat taraf yaitu urea 0 kg/ha (D0), Urea 100 kg/ha (D1), Urea 200 kg/ha (D2), Urea 300 kg/ha (D3). Hasil penelitian, perlakuan dosis urea (D) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah daun selama pertumbuhan, berat panen, kering oven tanaman, dan pH tanah. Selanjutnya perlakuan waktu pemberian pupuk kotoran ayam (W) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun selama pertumbuhan, berat panen dan kering oven tanaman, namun signifikan terhadap peningkatan pH tanah. Kemudian pemberian pupuk kotoran ayam seminggu setelah tanam (W3) menghasilkan pH tanah yang tertinggi. Kombinasi perlakuan waktu pemberian pupuk kotoran ayam dan dosis urea (DW) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah daun selama pertumbuhan, berat panen, kering oven tanaman dan pH tanah. Namun signifikan terhadap peningkatan kandungan karbon organik tanah. Terakhir pemberian pupuk kotoran ayam seminggu setelah tanam dengan dosis urea 100 kg/ha (W3D1) mampu meningkatkan kandungan karbon organik tanah yang tertinggi sekitar 6,14%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Komoditi ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan yang penting dan mengambil peran dalam pembangunan sektor pertanian, metode pemeliharaan ubi jalar dimulai dari pemilihan bibit unggul, pemberian pupuk, dan perawatan yang sesuai. Pemberian pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, pupuk organik yang digunakan pada penelitian ini mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro seperti N (1,91 %), P (1,94 %), dan K (2,36 %), maupun unsur hara mikro Ca, Mg, Mn, Fe, Cu, dan Zn. Selain dari pemberian pupuk, salah satu usaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi ubi jalar yaitu dengan mengatur tinggi bedengan yang tepat. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubi jalar dengan cara memodifikasi dosis pupuk organik dan tinggi bedengan. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor pertama dosis pupuk organik dengan 4 taraf (0, 5, 10, dan 15 ton/Ha) dan faktor kedua yaitu tinggi bedengan dengan 3 taraf (20, 30, dan 40 cm) diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianilisis dengan menggunakan sidik ragam dan diuji lanjut dengan menggunakan uji BNT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk organik berpengaruh nyata dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubi jalar terhadap parameter jumlah daun, berat segar umbi, dan diameter umbi dengan dosis perlakuan terbaik adalah P3 (2100 g/ bedeng), serta tidak berpengaruh nyata terhadap parameter panjang umbi. Perlakuan tinggi bedengan hanya berpengaruh nyata dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil terhadap parameter berat segar umbi dengan tinggi bedengan perlakuan terbaik T2 (30cm). serta tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun, panjang umbi, dan diameter umbi. Dan pengaruh interaksi dosis pupuk organik dan tinggi bedengan hanya berpengaruh nyata dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil terhadap parameter berat segar umbi dengan interaksi perlakuan terbaik P3T2 (2100 g/ bedeng + 30 cm). serta tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun, panjang umbi, dan diameter umbi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau dengan memodifikasi dosis pupuk organik cair dan pemberian mulsa organik. Penggunaan bahan organik sebagai pupuk organik cair (POC) dimaksudkan untuk menambah unsur hara bagi tanaman. Limbah tahu dapat memberikan nilai tambah bagi kesuburan tanah karena limbah tahu mengandung N, P, K Ca, Mg dan C organik yang berpotensi meningkatkan kesuburan tanah. Pemakaian mulsa organik merupakan salah satu pemanfaatan bahan organik yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Mulsa dapat berperan dalam mengubah keadaan iklim mikro yang dapat mempengaruhi sifat tanah, menguntungkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan peningkatan hasil tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan menggunakan rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu faktor 1 dosis pupuk organik cair (POC) dengan 4 taraf dan faktor 2 mulsa organik dengan 3 taraf diulang sebanyak 3 kali. Parameter Pengamatan yaitu tinggi tanaman, lebar daun, diameter batang, jumlah daun, berat biji, berat polong, bjumlah cabang jumlah polong. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis pupuk organik cair (POC) berpengaruh nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman, lebar daun, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, berat polong, berat biji dan jumlah polong, dengan dosis terbaik pada perlakuan 90 ml/tanaman (L1), dan pada Mulsa organik berpengaruh nyata pada parameter lebar daun dengan perlakuan terbaik mulsa jerami (M1). Interaksi perlakuan terbaik pada mulsa organik + POC 90 ml/tanaman (M1L1) yang diaplikasikan memberikan pengaruh nyata pada parameter jumlah daun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sawi merupakan tanaman hortikultura yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena memiliki kandungan gizi dan manfaat bagi kesehatan. Sawi ini banyak diusahakan para petani karena mempunyai banyak potensi untuk terus dikembangkan dan mudah dibudidayakan serta memiliki nilai ekonomis tinggi, dari daun hingga batangnya. Beberapa faktor penunjang keberhasilan budidaya tanaman sawi salah satunya adalah ketersedian unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan dan hasil tanaman sawi tersebut. Upaya yang biasa dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan budidaya tanaman sawi yaitu, menggunakan pupuk dengan dosis yang tepat. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yaitu cangkang telur ayam. Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki keadaan dan kandungan hara tanah sehingga dapat mengembalikan kesuburan tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian tepung cangkang telur ayam pada pertumbuhan dan hasil tanaman sawi caisim Brassica junceae L dan mengetahui dosis tepung cangkang telur ayam yang optimal pada pertumbuhan dan hasil tanaman sawi caisim Brassica junceae L. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2019 di Asrama St. Eugenius Demazenod Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor yang terdiri dari lima perlakuan, P0 (0 g), P1(10 g), P2 (20 g), P3 (30 g), P4 (40 g). dan lima ulangan. Parameter pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, lebar daun, jumlah daun, panjang daun, dan berat basah. Hasil dari penelitian ini menunjukan Pemberian pupuk cangkang telur ayam mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman sawi pada 7, 14, dan 21 hst serta hasil tanaman sawi pada 24 hst Pemberian pupuk tepung cangkang telur ayam dengan dosis 40 g (P4) mampu memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman 14 hst (26.81 cm), 21 hst (40.34 cm), lebar daun 14 hst (10.79 cm) dan jumlah daun 14 hst (7.04 cm), 21 hst (12.68 cm), panjang daun 24 hst (22.88 cm ) dan berat basah 24 hst (175.03 g ).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman wijen dengan memodifikasikan dosis pupuk organik dan jarak tanam. Pemberian pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Pupuk kandang yang akan digunakan adalah jenis kotoran ayam dan sapi yang mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro seperti N, P dan K, maupun unsur hara mikro Ca, Mg dan S. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi wijen yaitu dengan mengatur jarak tanam tepat. Peningkatan produksi wijen dapat dilakukan dengan cara perbaikan tingkat kerapatan tanam. Penelitian ini dilaksanakan di lahan warga Kampung Bugis, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor 1 dosis pupuk organik dengan 4 taraf dan faktor 2 jarak tanam dengan 3 taraf diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis pupuk organik berpengaruh nyata pada pertumbuhan panjang daun, jumlah cabang, jumlah polong, panjang polong, panjang akar dan berat 1000 biji dengan dosis terbaik pada perlakuan P3 (50 gr pupuk kandang ayam dan 50 gr kandang sapi), dan pada perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, jumlah cabang, panjang polong, panjang akar dan berat 1000 biji dengan perlakuan terbaik J3 (60x25cm). Interaksi perlakuan terbaik pada P3J3 (50gr pupuk kandang ayam dan 50 gr pupuk kandang sapi dan jarak 60x25 cm) yang diaplikasikan memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman, panjang daun, diameter batang dan panjang akar.