Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

14 hasil
Subjek: Pestisida
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemanfaatan Gulma Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) Sebagai Pestisida Nabati Pengendali Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Beberapa Tanaman Sayuran.

2026•

Penggunaan pestisida nabati merupakan alternatif ramah lingkungan dalam mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) yang sering menyerang tanaman sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) dan jenis tanaman terhadap mortalitas hama S. litura serta intensitas kerusakan daun. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi ekstrak kirinyuh (P) yang terdiri dari 5 taraf (0%, 20%, 40%, 60%, dan 80%) dan faktor kedua adalah jenis tanaman (T) yang terdiri dari 3 taraf (Sawi, Kangkung, dan Bayam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak gulma kirinyuh berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas hama dan intensitas kerusakan daun. Konsentrasi P4 (80%) merupakan perlakuan faktor tunggal terbaik dengan rata-rata mortalitas tertinggi mencapai 16,39% pada akhir pengamatan dan secara efektif mampu menekan intensitas kerusakan daun di tingkat yang lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol (P0). Faktor jenis tanaman (T) memberikan pengaruh nyata terhadap kerusakan daun hanya pada awal pengamatan (H1 sampai H3), namun tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas serangan hama ulat grayak. Terdapat interaksi yang nyata antara konsentrasi dan jenis tanaman terhadap intensitas kerusakan daun, dengan kombinasi perlakuan (P3T1) menghasilkan kerusakan daun terendah 37,60% pada akhir pengamatan. Sebaliknya, tidak terdapat interaksi yang nyata pada parameter mortalitas hama yang mengindikasikan bahwa daya bunuh ekstrak kirinyuh bersifat mandiri, stabil dan berspektrum luas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Efektivitas Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum) dengan Penambahan Beberapa Jenis Surfaktan terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman hortikultura seperti pakcoy (Brassica rapa L.) yang dapat menurunkan produktivitas sebesar 40-60%. Pengendalian menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) menjadi alternatif ramah lingkungan, namun sifatnya yang mudah terurai memerlukan bahan pembantu (adjuvan) seperti surfaktan untuk meningkatkan efektivitas dan daya tahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis surfaktan terhadap efektivitas ekstrak daun kemangi dan menentukan jenis surfaktan terbaik dalam mengendalikan mortalitas ulat grayak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas: P0 (Air/Kontrol negatif), P+ (Ekstrak kemangi tanpa surfaktan), P1 (Ekstrak kemangi + Tween 80), P2 (Ekstrak kemangi + Alkilaril Poliglikol Eter), dan P3 (Ekstrak kemangi + Lauryl-hydroxyethyl Cellulose-alkoxylate). Uji efektivitas dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-4 setelah aplikasi perlakuan pada daun sawi dengan parameter yang diamati meliputi waktu awal kematian, lethal time 50 (LT₅₀), aktivitas makan larva, dan persentase mortalitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan surfaktan mampu meningkatkan efektivitas ekstrak daun kemangi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan P2 (ekstrak kemangi dengan penambahan surfaktan Alkilaril Poliglikol Eter) merupakan perlakuan terbaik di antara semua perlakuan yang diuji. Pada hari ke-0, perlakuan P2 mampu menghasilkan waktu awal kematian tercepat (31 jam), nilai LT₅₀ tercepat (32 jam), kemampuannya menurukan aktivitas makan larva (7,78%), serta meningkatkan mortalitas sebesar 100%. Pada pengujian hari ke-4, perlakuan P2 konsisten dalam mempertahankan efektivitasnya dengan waktu awal kematian tercepat yaitu 34 jam, LT₅₀ tercepat yaitu 41 jam, persentase menurunnya aktivitas makan 9,39%, dan meningkatkan mortalitas larva mencapai 88,89%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Efektivitas Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilicum) dengan Penambahan Beberapa Jenis Surfaktan terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

2026•

Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman hortikultura seperti pakcoy (Brassica rapa L.) yang dapat menurunkan produktivitas sebesar 40-60%. Pengendalian menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) menjadi alternatif ramah lingkungan, namun sifatnya yang mudah terurai memerlukan bahan pembantu (adjuvan) seperti surfaktan untuk meningkatkan efektivitas dan daya tahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis surfaktan terhadap efektivitas ekstrak daun kemangi dan menentukan jenis surfaktan terbaik dalam mengendalikan mortalitas ulat grayak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas: P0 (Air/Kontrol negatif), P+ (Ekstrak kemangi tanpa surfaktan), P1 (Ekstrak kemangi + Tween 80), P2 (Ekstrak kemangi + Alkilaril Poliglikol Eter), dan P3 (Ekstrak kemangi + Lauryl-hydroxyethyl Cellulose-alkoxylate). Uji efektivitas dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-4 setelah aplikasi perlakuan pada daun sawi dengan parameter yang diamati meliputi waktu awal kematian, lethal time 50 (LT₅₀), aktivitas makan larva, dan persentase mortalitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan surfaktan mampu meningkatkan efektivitas ekstrak daun kemangi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan P2 (ekstrak kemangi dengan penambahan surfaktan Alkilaril Poliglikol Eter) merupakan perlakuan terbaik di antara semua perlakuan yang diuji. Pada hari ke-0, perlakuan P2 mampu menghasilkan waktu awal kematian tercepat (31 jam), nilai LT₅₀ tercepat (32 jam), kemampuannya menurukan aktivitas makan larva (7,78%), serta meningkatkan mortalitas sebesar 100%. Pada pengujian hari ke-4, perlakuan P2 konsisten dalam mempertahankan efektivitasnya dengan waktu awal kematian tercepat yaitu 34 jam, LT₅₀ tercepat yaitu 41 jam, persentase menurunnya aktivitas makan 9,39%, dan meningkatkan mortalitas larva mencapai 88,89%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Dalam Pengendalian Hama Kutu Daun (Aphis gossypii) Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.)

2024•

Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura penting yang dibudidayakan secara komersial. Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya tanaman cabai di Indonesia adalah serangan hama. Kutu daun (Aphis gossypii) merupakan hama utama yang menyerang daun pada tanaman cabai. Daun pepaya merupakan salah satu alternatif bahan pestisida nabati. Ekstrak tanaman ini berpotensi untuk mengendalikan populasi hama kutu daun yang merupakan hama penting pada usaha budidaya tanaman cabai merah. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui keefektifan dari penggunaan ekstrak daun pepaya dalam mengendalikan hama kutu daun (Aphis gossypii) pada tanaman cabai merah; (2) mengetahui konsentrasi yang terbaik dalam penggunaan ekstrak daun pepaya yang mampu mengendalikan hama kutu daun (Aphis gossypii) pada tanaman cabai merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun pepaya 0%, 30%, 40%, 50% dan 60%. Masing- masing perlakukan di ulang sebanyak 4 kali, sehingga terdapat 60 unit percobaan. Parameter pengamatan dalam penelitian ini terdiri dari intensitas kerusakan daun, mortalitas kutu daun, dan deskripsi gejala kematian kutu daun. Analisis data menggunakan analisis varian ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) pemberian ekstrak daun pepaya dapat mengendalikan hama kutu daun (Aphis gossypii) dan telah efektif dalam mengendalikan hama kutu daun (Aphis gossypii) yang menyerang tanaman cabai merah; (2) perlakuan P4 dengan konsentrasi 60% merupakan perlakuan terbaik yang dapat mengendalikan hama kutu daun (Aphis gossypii) yang menyerang tanaman cabai. Kata Kunci : Cabai Merah, Kutu Daun, Pestisida Nabati, Daun Pepaya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KOMPOSISI BAHAN TAMBAHAN PADA PESTISIDA NABATI DARI DAUN PEPAYA DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN KANGKUNG CABUT (Ipomoea reptans Poir)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Additional ingredients of botanical pesticides are to affect pests control. This study aimed to determine the effect of the composition of additional ingredients on the use of botanical pesticides made from papaya leaves with additional ingedients of garlic, lemongrass, and soursop leaves in controlling pests on water spinach (Ipomoea reptans poir). This Study used a randomized block design (RAK) with 5 treatments; P0= plain water, P1=papaya leaves 200 grams+1 litre of water, P2=papaya leaves 125 grams+75 grams of garlic+1 litre of water, P3=papaya leaves 125 grams+75 grams of lemongrass+1 litre of water, P4=papaya leaves 125 grams+75 grams of soursop leaves+1 litre of water. Each treatment was repeated 5 times. The results showed that the use of botanical pesticides with additional lemongrass ingredients was categorised the excellent category with plant height at 35 MST reaching 24,35 cm, root length at 35 MST reaching 22,58 cm, number of leaves reaching ± 18 strands, wet weight reaching 14 grams. The use of botanical pesticides of papaya leaves with additional lemongrass ingredients also has the potential to reduce the number of pests and reduce the level of leaf damage, as seen from observation results of the number of pests and the level of leaf damage decreasing after the application of botanical pesticides.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Efektifitas Bacillus subtilis dalam Mengendalikan Penyakit Bercak Coklat pada Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) Akibat Serangan Alternaria solani

2023•

Tanaman tomat merupakan tanaman sayuran memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi karena banyak diminati oleh konsumen dan merupakan tanaman yang mengandung zat gizi tinggi serta memiliki banyak varian olahan. Dalam berbudidaya tanaman tomat tentunya tidak terlepas dari adanya gangguan penyakit. Salah satu penyakit utama yang sering dilaporkan menyerang tanaman tomat adalah bercak coklat yang disebabkan oleh cendawan Alternaria solani. A.solani merupakan cendawan patogen yang memiliki daya tahan yang cukup baik tidak bisa dikendalikan menggunakan varietas yang resisten dan berbagai jenis bahan aktif dari fungisida sintetik. Terlebih lagi fungisida sintetik merupakan bahan kimia anorganik yang tidak mudah terurai sehingga berpotensi mencemari lingkungan pertanian. Untuk mengupayakan pengendalian yang efektif serta ramah lingkungan digunakan pengendalian hayati dengan mikroorganisme antagonis. Mikroorganisme antagonis yang digunakan adalah bakteri Bacillus subtilis. Bakteri ini telah teruji dan terbukti sebagai bakteri antagonis dan telah dipasarkan secara komersil. Dalam penelitian ini digunakan dua isolat bakteri B. subtilis yaitu isolat BS dan SK14 serta biopestisida komersil berbahan aktif bakteri Bacillus sp. (BIO.P) Perlakuan yang diberikan ternyata memberikan hasil yang efektif adalam menekan pertumbuhan cendawan A. Solani. Hal ini dibuktikan dari hasil pengamatan intensitas dan insidensi bercak pada tanaman tomat yang kecil dan berbeda nyata dengan kontrol K+ yaitu kontrol yang media tanamnya hanya diberi cendawan A. solani.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI EFEKTIVITAS SIMPLISIA BIJI BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) DENGAN KOMBINASI DAUN PANDAN (Pandanus amaryllifolius) SEBAGAI PESTISIDA NABATI TERHADAP PENGENDALI KUTU BERAS (Sitophilus oryzae) DAN POTENSI PENERAPANNYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Biji mengkudu (Morinda citrifolia) memiliki salah satu senyawa yaitu saponin dan terpenoid yang bersifat racun perut terhadap hama. Sedangkan pada daun pandan (Pandanus amaryllifolius) mengandung senyawa minyak atsiri yang dapat mengusir hama karena mengeluarkan aroma yang tidak disukai oleh hama. Penelitian ini bertujuan: 1) untuk mengetahui efektivitas dari kombinasi biji mengkudu (Morinda citrifolia) dengan daun pandan (Pandanus amaryllifolius) terhadap pengendali kutu beras; dan 2) potensi penerapannya pada pembelajaran biologi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen deskriptif. Analisis data menggunakan SPSS yaitu uji Normalitas, uji Homogenitas, uji Anova dan uji Duncan. Hasil penelitian di laboratorium selanjutnya dianalisis keterkaitannya dengan kurikulum/silabus untuk mengetahui potensi penerapannya pada pembelajaran biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biji buah mengkudu (Morinda citrifolia) dengan daun pandan (Pandanus amaryllifolius) efektif sebagai pengendali hama kutu beras. Penolakan paling efektif terhadap kutu beras yaitu pada perlakuan 5 gr biji mengkudu dengan kombinasi 25 gr daun pandan yaitu mencapai 87,5 %. Dan berdasarkan hasil uji organoleptik menunjukkan semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin rendah nilai uji organoleptik yang diberikan dari panelis. Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan hasil penelitian sebagai sumber belajar, maka penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi bagi peserta didik kelas X SMA pada KD 3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati (gen, jenis, dan ekosistem) di Indonesia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEK PENGGUNAAN BIOPESTISIDA BERBAHAN AKTIF CENDAWAN ENTOMOPATOGEN TERHADAP KOMPOSISI JENIS DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA TANAMAN KEDELAI EDAMAME

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

EFEK PENGGUNAAN BIOPESTISIDA BERBAHAN AKTIF CENDAWAN ENTOMOPATOGEN TERHADAP KOMPOSISI JENIS DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA TANAMAN KEDELAI EDAMAME Abstrak Biopestisida berpotensi sebagai alternatif pengganti pestisida sintetik. Penelitian bertujuan menguraikan komposisi jenis hama yang ditemukan pada areal budidaya tanaman kedelai, serta membandingkan intensitas serangan hama tanaman menggunakan beberapa biopestisida cendawan entomopatogen. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor perlakuan yakni Biopestisida berbahan aktif cendawan entomopatogen. Bahan aktif terdiri dari L. lecanii, B. bassiana, dan M. anisopliae, dan bahan aktif senyawa kimia sintetik (kontrol). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali sehingga diperoleh 24 petak percobaan. Data pengamatan meliputi pertumbuhan, hasil tanaman, komposisi hama, dan intensitas serangan hama. Analisis data menggunakan Uji F (analisis sidik ragam), Uji DMRT, dan Uji Chi-Square untuk kehadiran hama pada masing-masing perlakuan. Hasil Penelitian menujukkan tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, jumlah polong, berat polong, dan berat biji segar tertinggi pada perlakuan kontrol. Komposisi hama terdiri dari ulat grayak belalang, serta kepik. Tidak terdapat perbedaan kehadiran hama pada masing-masing perlakuan. Tingkat kerusakan daun terendah pada 2 MST pada perlakuan B. bassiana. Selanjutnya, 4 MST dan 6 MST pada pestisida M. Anisopliae, serta 8 MST pada L. lecanii dengan masing-masing kerusakan sebesar 16.69%, 18.59%, 20.88%, dan 20.24%. Perbedaan kerusakan daun pada perlakuan kontrol dan biopestisida B. bassiana dan M. anisopliae pada 2 MST. Jumlah polong hampa terendah pada perlakuan kontrol, mencapai 0.8 polong per tanaman. Sedangkan, intensitas kerusakan polong terendah juga pada perlakuan kontrol mencapai 3.3%. Terdapat perbedaan signifikan perlakuan kontrol dengan biopestisida. Hasil analisis ragam juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan kontrol dengan perlakuan Biopestisida terhadap kerusakan daun 4, 6, dan 8 MST, tingkat kerusakan polong, dan jumlah polong hampa. Hasil ini menunjukkan Biopestisida dapat digunakan sebagai alternatif, namun efektivitasnya tidak mampu melebihi pestisida sintetik pada budidaya tanaman Edamame. Kata Kunci: Biopestisida, Cendwan Entomopatogen, Edamame, Hama

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L) Sebagai Pestisida Nabati Pada Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Uji toksisitas ekstrak daun ketepeng cina sebagai pestisida nabati pada ikan mujair, pestisida nabati adalah produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari ekstrak daun ketepeng cina (Cassia alata L.) untuk menanggulangi hama ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Penelitian ini dilaksanaan dari bulan Januari hingga bulan Oktober 2020 yang berlokasi di Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 ulangan dan 1 control, dengan kepadatan 1 ekor/liter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat mortalitas ekstrak daun ketepeng cina yang di uji pada ikan mujair yang terbaik diperoleh pada konsentrasi 400 ppm dengan kematian 100% pada menit ke-90.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS NUTRISI TAMBAHAN PADA APLIKASI PESTISIDA BIOLOGIS Metarhizium Anisopliae

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

EFEKTIVITAS NUTRISI TAMBAHAN PADA APLIKASI PESTISIDA BIOLOGIS Metarhizium Anisopliae ABSTRAK Pestisida berbahan aktif cendawan entomopatogen sebagai agens hayati telah banyak beredar dipasaran dan digunakan petani. Penggunaan dihadapkan pada tantangan efektivitas agens hayati di lapangan. Tujuan Penelitian ini; (1) mengetahui perbedaan efektifitas pestisida biologi berbahan aktif cendawan Metarhizium anisopliae dengan nutrisi tambahan, dan (2) mengetahui nutrisi tambahan yang memiliki efektivitas tertinggi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu perlakuan yakni pengujian pestisida biologis M. anisopliae dengan nutrisi tambahan dengan penelitian perlakuan sebagai berikut; (1) Kontrol/Aquadest (M0), (2) M. anisopliae dan aquadest (M1), (3) M. anisopliae dan air gula pasir (M2), (4) M. anisopliae dan air kelapa (M3), (5) M. anisopliae dan air beras (M4), (6) M. anisopliae + air gula aren (M5), (7) M. anisopliae dan air tepung jagung (M6), dan (8) M. anisopliae dan air/ekstrak kulit udang (M7). Perlakuan diulang sebanyak 10 kali, sehinga terdapat 90 unit percobaan. Perbandingan lebih dari dua perlakuan menggunakan analisis ragam (Anova) non parametrik dengan menggunakan Uji Kruskall Wallis dan untuk perbandingan antar perlakukan menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan efektifitas pestisida cendawan Metarhizium anisopliae dengan nutrisi tambahan, khususnya penambahan air gula pasir dan jagung. Tingkat mortalitas penggunaan cendawan dengan aquadest berbeda nyata dengan pemberian nutrisi tambahan air tepung jagung. Tingkat mortalitas pada hari pertama telah mencapai 32.8% pada perlakuan menggunakan air tepung jagung, dan 25,6% untuk penambahan nutrisi air gula pasir dan meningkat pada pengamatan berikutnya. Hasil ini mengindikasikan penambahan nutrisi tambahan pada pestisida biologis dapat dilakukan, namun demikian perlu dilakukan penelitian pada tingkat atau skala lapang. Kata Kunci: Nutrisi tambahan, Pestisida Biologis, Metarhizium anisopliae

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KAJIAN PEMBERIAN PESTISIDA NABATI KIRINYUH (Chromolaena odorata L.) PADA TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) DALAM BUDIDAYA HIDROPONIK.

2021•

Budidaya tanaman hidroponik tidak terlepas dari serangan hama dan sering menyebabkan kerugian pada hasil budidaya. Penggunaan pestisida sintetik yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi hama dan pencemaran lingkungan sehingga perlu adanya upaya kajian pemanfaatan bahan sebagai pestisida nabati yang ramah terhadap lingkungan dan memiliki efektivitas sama seperti pestisida sintetik, salah satunya adalah tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata L.). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian pestisida nabati kirinyuh terhadap intensitas kerusakan daun tanaman pakcoy dan mengetahui hasil tanaman pakcoy dalam budidaya hidroponik. Penelitian dilaksanakan pada lahan yang berada di Juata Laut, Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor dan analisis ragam taraf 5%. Parameter dalam penelitian ini diantaranya adalah mengamati tingkat kerusakan daun tanaman dan mengukur berat basah tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pestisida nabati ekstrak kirinyuh memberikan pengaruh tidak nyata terhadap parameter kerusakan tanaman dan berat basah tanaman. Namun memiliki nilai rata-rata kerusakan yang relatif lebih kecil dibandingkan tanpa perlakuan. Selain itu, perlakuan P2 pemberian pestisida nabati ekstrak kirinyuh terhadap parameter kerusakan tanaman sebanyak (30 g) menghasilkan nilai rata-rata yang sama dengan penggunaan bahan pestisida sintetik dengan nilai kerusakan sebesar (33.33%). Hydroponic cultivation is inseparable from pest attacks and often causes losses in cultivation yields. Excessive use of synthetic pesticides can cause pest resistance and environmental pollution, so it is necessary to study the use of materials as vegetable pesticides that are friendly to the environment and have the same effectiveness as synthetic pesticides, one of which is kirinyuh (Chromolaena odorata L.). The purpose of this study was to determine the effect of the application of kirinyuh vegetable pesticides on the intensity of leaf damage of pakcoy plants and to determine the yield of pakcoy plants in hydroponic cultivation. The research was carried out on land located in Juata Laut, North Tarakan, Tarakan City, North Kalimantan. The research design used a Randomized Block Design (RAK) with one factor and 5% level analysis of variance. Parameters in this study include observing the level of damage to plant leaves and measuring the wet weight of the plant. The results showed that the botanical pesticide treatment of kirinyuh extract had no significant effect on the parameters of plant damage and plant wet weight. However, it has an average damage value which is relatively smaller than without treatment. In addition, the P2 treatment with the use of vegetable pesticides of kirinyuh extract on plant damage parameters as much as (30 g) resulted in the same average value as the use of synthetic pesticides with a damage value of (33.33%).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAH DESA (ORYZA SATIVA L) SETABU KECAMATAN SEBATIK BARAT KABUPATEN NUNUKAN

2021•

Produksi padi sawah Desa Setabu Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan pada hasil panennya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para petani. Proses produksi padi sawah Desa Setabu Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan di pengaruhi oleh beberapa faktor, produksi itu sendiri bisa berjalan bila persyaratan yang dibutuhkan yaitu faktor produksi sudah terpenuhi sehingga penelitian ini bertujuan untuk 1). bagaimana karakteristik petani padi sawah 2). faktor faktor apa saja yang mempengaruhi produksi padi sawah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan instansi-instansi yang terkait. Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan metode analisis regresi linier berganda dengan fungsi cobb douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel luas lahan (X1) dan variabel pupuk (X2) berpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah (Y). hal tersebut berarti bahwa setiap peningkatan luas lahan dan peningkatan pupuk berpengaruh terhadap peningkatan produksi padi sawah di Desa Setabu Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan. Variabel pestisida (X4), variabel benih dan variabel tenaga kerja berpengaruh tidak nyata terhadap produksi. Hal tersebut berarti bahwa setiap peningkatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan produksi padi sawah di Desa Setabu Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

APLIKASI EKSTRAK DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA.L) TERHADAP POPULASI KUTU DAUN (APHIDS CRACCIVORA) PADA TANAMAN KACANG PANJANG

2021•

Daun pepaya merupakan salah satu alternatif bahan pestisida nabati. Ekstrak tanaman ini berpotensi untuk mengendalikan populasi hama kutu daun yang merupakan hama penting pada usaha budidaya tanaman kacang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengetahui pengaruh pestisida nabati berbahan baku ekstrak daun pepaya untuk mengendalikan populasi hama kutu daun pada tanaman kacang panjang; dan (2) membandingkan pengaruh ekstrak daun pepaya dengan kombinasi pemberian nutrisi tanaman atau senyawa lainnya terhadap populasi kutu daun pada tanaman kacang panjang. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun pepaya 50%, serta perlakuan penambahan nutrisi yakni green tonic, multinonic, dan sabun cair pada perlakuan pemberian ekstrak daun pepaya. Masing-masing perlakukan di ulang sebanyak 7 kali, sehingga terdapat 35 unit percobaan. Analisis data menggunakan analisis varians non-parametrik yakni uji Kruskal-Wallis dan Uji Wilcoxon untuk membandingkan antar perlakuan. Hasil penelitan menunjukkan; (1) pengaruh pestisida nabati berbahan baku ekstrak daun pepaya dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama kutu daun dan mampu mengurngi populasi kutu daun, namun tidak signifikan dalam mengurangi kerusakan daun, bunga dan polong; (2) perlakuan ekstrak daun pepaya yang ditambahkan dengan aplikasi nutrisi tambahan (green tonic) cenderung memiliki perbedaan pengaruh dengan perlakuan lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI TAMBAK UDANG WINDU SISTEM TRADISIONAL DI KALIMANTAN UTARA

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI TAMBAK UDANG WINDU SISTEM TRADISIONAL DI KALIMANTAN UTARA Muhammad Rivaldi Jafar Sidik Salim, S.E., M.Si Budidaya udang windu sistem tradisional di Kalimantan Utara ini sangat dibutuhkan untuk mendorong ekspor dari sektor bagian perikanan dan dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian sehingga dapat mempenggaruhi pembangunan di Daerah Kalimantan Utara. Hasil dari budidaya udang windu dalam sistem tradisional ini juga dapat menyediakan permintaan udang windu yang sangat tinggi yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat lokal sehingga produksi budidaya udang windu dalam sistem tradisional ini harus ditingkatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah bibit, luas lahan, jumlah tenaga kerja, pemupukan lahan, pemberian pestisida, dan pemeliharaan terhadap produksi budidaya udang windu sistem tradisional yang ada di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tana Tidung. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Data diolah menggunakan Eviews9 dan responden sebanyak 52 responden sebagai sampel dengan menggunakan metode random sampling dari 110 populasi. Hasil dari penelitian ini bahwa secara parsial (uji t), bahwa jumlah bibit, luas lahan, pemberian pestisida, dan pemeliharaan berpengaruh nyata terhadap produksi, sedangkan jumlah tenaga kerja, dan pemupukan lahan tidak berpengaruh secara nyata. Secara serempak (uji f), bahwa jumlah bibit, luas lahan, jumlah tenaga kerja, pemupukan lahan, pemberian pestisida, dan pemeliharaan berpengaruh nyata terhadap produksi budidaya udang windu sistem tradisional ini. Persamaan regresi LnY = -7,629541 + 0,681558 (X1) + 0,729861 (X2) + 0,212685 (X3) + 0,055199 (X4) + 0,264375 (X5) + 0,390764 (X6) + e, dan R2 sebesar 0,755886 hal ini menunjukan bahwa sebesar 75% variabel terikat (produksi) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (jumlah bibit, luas lahan, jumlah tenaga kerja, pemupukan lahan, pemberian pestisida, dan pemeliharaan). Sedangkan sisanya 25% dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya yang belum dimasukan ke dalam model.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail