ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman hortikultura seperti pakcoy (Brassica rapa L.) yang dapat menurunkan produktivitas sebesar 40-60%. Pengendalian menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) menjadi alternatif ramah lingkungan, namun sifatnya yang mudah terurai memerlukan bahan pembantu (adjuvan) seperti surfaktan untuk meningkatkan efektivitas dan daya tahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis surfaktan terhadap efektivitas ekstrak daun kemangi dan menentukan jenis surfaktan terbaik dalam mengendalikan mortalitas ulat grayak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas: P0 (Air/Kontrol negatif), P+ (Ekstrak kemangi tanpa surfaktan), P1 (Ekstrak kemangi + Tween 80), P2 (Ekstrak kemangi + Alkilaril Poliglikol Eter), dan P3 (Ekstrak kemangi + Lauryl-hydroxyethyl Cellulose-alkoxylate). Uji efektivitas dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-4 setelah aplikasi perlakuan pada daun sawi dengan parameter yang diamati meliputi waktu awal kematian, lethal time 50 (LT₅₀), aktivitas makan larva, dan persentase mortalitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan surfaktan mampu meningkatkan efektivitas ekstrak daun kemangi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan P2 (ekstrak kemangi dengan penambahan surfaktan Alkilaril Poliglikol Eter) merupakan perlakuan terbaik di antara semua perlakuan yang diuji. Pada hari ke-0, perlakuan P2 mampu menghasilkan waktu awal kematian tercepat (31 jam), nilai LT₅₀ tercepat (32 jam), kemampuannya menurukan aktivitas makan larva (7,78%), serta meningkatkan mortalitas sebesar 100%. Pada pengujian hari ke-4, perlakuan P2 konsisten dalam mempertahankan efektivitasnya dengan waktu awal kematian tercepat yaitu 34 jam, LT₅₀ tercepat yaitu 41 jam, persentase menurunnya aktivitas makan 9,39%, dan meningkatkan mortalitas larva mencapai 88,89%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman hortikultura seperti pakcoy (Brassica rapa L.) yang dapat menurunkan produktivitas sebesar 40-60%. Pengendalian menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) menjadi alternatif ramah lingkungan, namun sifatnya yang mudah terurai memerlukan bahan pembantu (adjuvan) seperti surfaktan untuk meningkatkan efektivitas dan daya tahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis surfaktan terhadap efektivitas ekstrak daun kemangi dan menentukan jenis surfaktan terbaik dalam mengendalikan mortalitas ulat grayak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas: P0 (Air/Kontrol negatif), P+ (Ekstrak kemangi tanpa surfaktan), P1 (Ekstrak kemangi + Tween 80), P2 (Ekstrak kemangi + Alkilaril Poliglikol Eter), dan P3 (Ekstrak kemangi + Lauryl-hydroxyethyl Cellulose-alkoxylate). Uji efektivitas dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-4 setelah aplikasi perlakuan pada daun sawi dengan parameter yang diamati meliputi waktu awal kematian, lethal time 50 (LT₅₀), aktivitas makan larva, dan persentase mortalitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan surfaktan mampu meningkatkan efektivitas ekstrak daun kemangi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan P2 (ekstrak kemangi dengan penambahan surfaktan Alkilaril Poliglikol Eter) merupakan perlakuan terbaik di antara semua perlakuan yang diuji. Pada hari ke-0, perlakuan P2 mampu menghasilkan waktu awal kematian tercepat (31 jam), nilai LT₅₀ tercepat (32 jam), kemampuannya menurukan aktivitas makan larva (7,78%), serta meningkatkan mortalitas sebesar 100%. Pada pengujian hari ke-4, perlakuan P2 konsisten dalam mempertahankan efektivitasnya dengan waktu awal kematian tercepat yaitu 34 jam, LT₅₀ tercepat yaitu 41 jam, persentase menurunnya aktivitas makan 9,39%, dan meningkatkan mortalitas larva mencapai 88,89%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Biosurfaktan merupakan senyawa permukaan aktif yang ramah lingkungan dan dapat digunakan dalam berbagai industri seperti farmasi, kosmetik, detergen, serta sebagai pengemulsi di industri makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengeksplorasi potensi isolat bakteri simbion sponge Clathria sp. dari perairan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, sebagai penghasil biosurfaktan. Penelitian dilakukan dalam tujuh tahap, yaitu pembuatan dan sterilisasi media, premajaan isolat bakteri simbion, produksi biosurfaktan, serta uji kualitatif oil spreading, drop collapse, dan hemolisis untuk menilai aktivitas biosurfaktan yang dihasilkan. Dari 23 isolat bakteri simbion Clathria sp., 15 isolat terbukti memiliki kemampuan menghasilkan biosurfaktan berdasarkan uji oil spreading dengan zona bening yang bervariasi antara 10,33 mm hingga 12,67 mm. Uji drop collapse menghasilkan 17 isolat dengan hasil positif, yang ditunjukkan oleh tetesan mendatar. Sementara itu, hasil uji hemolisis menunjukkan bahwa 3 isolat menghasilkan hemolisis beta, 15 isolat menghasilkan hemolisis alfa, dan 5 isolat tidak menunjukkan aktivitas hemolitik. Isolat SC01, SC02, SC03, SC04, SC05, SC06, SC07, SC08, SC09, SC11, SC12, SC13, SC14, SC15, dan SC16 merupakan isolat yang menunjukkan potensi biosurfaktan yang paling signifikan, dengan hasil yang konsisten dalam uji oil spreading, drop collapse, dan hemolisis. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa isolat bakteri simbion Clathria sp. memiliki potensi besar sebagai sumber biosurfaktan alami yang ramah lingkungan, menawarkan peluang pengembangan lebih lanjut dalam aplikasi industri yang berkelanjutan.