ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. Keberhasilan pengobatan tidak hanya dipengaruhi oleh terapi yang diberikan, tetapi juga oleh keyakinan pasien terhadap kebutuhan dan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keyakinan terhadap pengobatan pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo, Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 207 pasien hipertensi. Pengumpulan data menggunakan Beliefs About Medicines Questionnaire (BMQ) yang mengukur aspek kebutuhan atau manfaat dan kekhawatiran terhadap pengobatan. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin Perempuan (70,0%), dengan nilai Median 60 Tahun dan (min-max : 38-75 tahun) . Pendidikan terbanyak adalah Sekolah Dasar (58,0%), dan lama Masa Pengobatan dengan nilai Median 36 bulan (min-max : 3- 240 Bulan). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa (66,7%) memiliki keyakinan tinggi terhadap pengobatan, sedangkan (33,3%) memiliki keyakinan rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki keyakinan yang baik terhadap pengobatan, namun masih terdapat pasien dengan kekhawatiran terhadap penggunaan obat. Disimpulkan bahwa keyakinan terhadap pengobatan pada pasien hipertensi sebagian besar tergolong tinggi. Disarankan untuk meningkatkan edukasi keperawatan kepada pasien Hipertensi untuk memperkuat pemahaman mengenai manfaat, kebutuhan, dan keamanan pengobatan jangka panjang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang sistem pernafasan terutama diparu-paru. Dalam pengobatannya, Tuberkulosis memerlukan jangka waktu yang lama sehingga memerlukan konsistensi kepatuhan pasien dalam pengobatan. Kepatuhan menelan obat pada pasien tuberkulosis merupakan perilaku menelan obat secara teratur selama periode pengobatan yang ditentukan yaitu minimal 6 bulan atau lebih. Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran terkait kepatuhan menelan obat pasien tuberkulosis di Puskesmas X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan pendekatan cross sectinal deskripsif. Populasi penelitian berjumlah 118 responden, dengan sampel berjumlah 91 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purpose sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS). Mayoritas kepatuhan menelan obat pada responden berada pada rentang kepatuhan tinggi dengan jumlah 87 responden (95.0%), dan kepatuhan sedang sebanyak 4 responden (4.4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan menelan obat pada pasien Tuberkulosis di Puskesmas X termasuk dalam kategori tinggi. Tingkat kepatuhan yang tinggi ini berkontribusi terhadap peningkatan angka kesembuhan serta menurunkan risiko kekambuhan dan resistensi obat. Temuan ini memberikan dasar data yang dapat dijadikan acuan penelitian lebih lanjut terkait kepatuhan pengobatan Tuberkulosis di Puskesmas X Kota Tarakan. Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis, which primarily affects the respiratory system, particularly the lungs. Treatment for tuberculosis necessitates a prolonged duration, thereby requiring patients to demonstrate consistent adherence to the prescribed treatment regimen. The act of adhering to the prescribed medication regimen for patients afflicted with tuberculosis is delineated as the consistent ingestion of medications during the stipulated treatment duration, which is a minimum of six months or more. The purpose of the research was to describe the medication adherence among tuberculosis patients at the Public Health Center X. This research is quantitative research with a descriptive cross-sectional approach. The research population consisted of 118 respondents, with a sample of 91 respondents. The sampling technique used was purpose sampling. The research instrument was the Medication Adherence Report Scale (MARS) questionnaire. The majority of respondents' medication adherence was in the high adherence range, with 87 respondents (95.0%), and 4 respondents (4.4%) had moderate adherence. The results of the research showed that the level of medication adherence among tuberculosis patients at Public Health Center X was high. This high level of adherence contributed to an increase in the cure rate and a decrease in the risk of recurrence and drug resistance. These findings provide a basis for further research on tuberculosis treatment adherence at Public Health Center X in Tarakan City.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas struktur dan fungsi mantra pengobatan suku Tidung di Desa Buong Baru, Kabupaten Tana Tidung. Mantra, yang dikenal sebagai 'tawar', merupakan bagian integral dari tradisi lisan dan pengobatan tradisional yang diyakini memiliki kekuatan magis dan spiritual untuk mengobati penyakit serta mengatasi masalah kesehatan. Meskipun pengobatan modern telah dikenal, masyarakat Suku Tidung tetap digabungkan dengan mantra tradisional. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur mantra yang meliputi judul, pembuka, niat, tujuan, dan penutup, serta mengeksplorasi fungsi-fungsi mantra tersebut, yaitu fungsi budaya, kepercayaan, pendidikan, dan sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif deskripsi, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan berusia 50-82 tahun yang memahami mantra, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif, termasuk pengurangan data, penyajian data, dan penarikan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pengobatan suku Tidung memiliki struktur lima komponen, meskipun tidak semua mantra lengkap, dan berfungsi secara budaya, kepercayaan, pendidikan, dan sosial. Mantra-mantra ini berperan penting dalam tradisi pelestarian, keyakinan spiritual, pengajaran nilai-nilai, dan penguatan solidaritas komunitas. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman dan pelestarian sastra lisan serta praktik pengobatan tradisional suku Tidung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Bentuk dan Fungsi dalam tradisi pengobatan keturunan Tendangkeripuk dan Mahligai Emas di Desa Salimbatu Kecamatan Tanjung Palas Tengah melalui kajian folklor. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriftif, laporan penyajian data disajikan secara terurai dalam bentuk kata-kata maupun kalimat. Sumber data dalam penelitian ialah informan yang mengetahui tentang tradisi pengobatan tendangkeripuk dan mahligai emas. Data dalam penelitian ini adalah penggalan kalimat dari hasil wawancara terhadap informan. Pengumpulan data melalui wawancara, rekam, simak dan teknik catat. Penyajian hasil analisis data dengan analisis deskriptif. Pada analisis data terdapat dua bentuk dan tiga fungsi dalam tradisi pengobatan keturunan tendangkeripuk dan mahligai emas yang diperoleh dari informan yang berada di Desa Salimbatu yaitu folklor lisan dan folklor bukan lisan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa data pada bentuk folklor dalam tradisi pengobatan terbagi dalam dua bentuk, ialah data folklor lisan terdapat 5 data yaitu berupa nyanyian rakyat. Adapun data folklor bukan lisan terdapat 18 data yaitu berupa arsitektur rakyat, benda dan bahan pengobatan serta makanan rakyat. Sedangkan, fungsi folklor terdapat tiga, yaitu :1) sebagai alat pengesahan pranata-pranata sosial dan lembaga kebudayaan, 2) sebagai alat pemaksa dan pegawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya, dan 3) sebagai pelestarian adat. ABSTRACT This study aimed to describe the Form and Function in the medicinal tradition of Tendangkeripuk and Mahligai Emas descendants in Salimbatu Village, Tanjung Palas Tengah District through folkloric studies. The research method used a descriptive type of qualitative research. The data presentation report was presented in a description manner in the form of words and sentences. The source of the data in this study was informants who knew about the medicinal traditions of Tendangkeripuk and Mahligai Emas. The data in this study was a fragment of sentences from the results of interviews with informants. The data collection was interviews, recording, listening and recording techniques. The presentation of the results of data analysis was descriptive analysis. In data analysis, there were two forms and three functions of the medicinal tradition in Tendangkeripuk and Mahligai Emas descendants obtained from informants in Salimbatu village, namely oral and non-oral folklore. The results of the study can be concluded that the data on the form of folklore in the medicinal tradition was divided into two forms, namely oral folklore data which consisted of 5 data, namely in the form of folk songs. As for non-oral folkloric data, there were 18 data, namely in the form of folk architecture, objects and medicinal materials and people's food. Meanwhile, there were three folkloric functions, namely: (1) as a tool for social norm institutions and cultural institutions, (2) as a means of coercion and awareness so that the norms of society will always be obeyed by its collective members, and (3) as the custom preservation.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung di Desa Sesayap Hilir Kajian Semiologi Roland Barthes. Skripsi ini merupakan karya akademik untuk menganalisis Makna Mantra PengobatanTradisional Suku Tidung di Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih mendalam tentang Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung di Kalimantan Utara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriftif Kualititatif. Data penelitian ini diperoleh dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tiga pengamatan langsung dilapangan dengan Narasumber. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat Makna Mantra Pengobatan Tradisional Suku Tidung dalam Kajian Roland Barthes. Proses signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier (penanda) dan signified (pertanda) yang biasa disebut sebagai denotasi, yaitu makna sebenarnya dari tanda. Pada proses signifikasi tahap kedua digunakan isitilah konotasi yaitu makna yang paling tidak berhubungan dengan isi (bukan makna sebenarnya) dan yang terakhir yaitu tanda bekerja melalui mitos. Mitos merupakan lapisan pertanda dan makna yang paling dalam. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai makna dalam mantra pengobatan tradisional suku Tidung di Kalimantan utara dapat ditarik kesimpulan, bahwa makna mantra pengobatan suku Tidung lazim disebut sebagai tawar. Pembacaan tawar terlebih dahulu mengungkapkan permohonan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan juga meminta izin kepada kaum leluhur yang telah mewarisi mantra pengobatan tradisional tersebut, hal ini dianggap sebagai adab pembacaan mantra. Tawar pengobatan suku Tidung berasal dari bahasa arab, bahasa melayu, dan bahasa Tidung Terdapat 30 data yang berupa mantra untuk mengobati bermacam jenis penyakit. Terdapat 18 data mantra yang memiliki makna dan dapat dianalisis dan terdapat 12 data mantra yang tidak diketahui bacaannya sehingga tidak dapat dimaknai dan dianalisis.