ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan hukum terkait tindak pidana penipuan dengan manipulasi menggunakan telepon seluler serta bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku. Fokus utama penelitian ini menempatkan gawai mobile device sebagai alat utama instrumentum delicti yang digunakan pelaku dalam melakukan tindak pidana penipuan karena sifatnya yang mudah digunakan, bersifat personal, dan dapat menjangkau korban secara cepat. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan melalui data wawancara di Polres serta studi kasus putusan pengadilan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak pidana penipuan dengan manipulasi melalui telepon seluler dapat dikaitkan dengan ketentuan hukum pidana dalam KUHP serta Pasal 28 ayat (1) jo. Pasal 45A ayat (1) UU ITE mengenai penyebaran berita bohong dan menyesatkan yang menimbulkan kerugian dalam transaksi elektronik. Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan konsep antara manipulasi, penipuan, sugesti, dan hipnotis. Manipulasi dalam tindak pidana ini dilakukan melalui teknik memengaruhi korban dengan memanfaatkan komunikasi, emosi, serta kepercayaan korban agar mengikuti arahan pelaku.Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku dapat diterapkan apabila terpenuhi unsur kesengajaan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, serta adanya kerugian yang dialami korban. Adapun kendala dalam penegakan hukum meliputi penggunaan identitas palsu, keterbatasan pembuktian elektronik, serta kesulitan pelacakan pelaku. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi digital dan kesadaran hukum masyarakat, serta penguatan kemampuan aparat penegak hukum dalam menangani tindak pidana penipuan berbasis teknologi. Kata Kunci: Penipuan, Manipulasi, Gawai, UU ITE, Literasi Digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan pemanfaatan media sosial oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor agribisnis di Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara, yang lebih dominan menggunakan sosial media WhatsApp namun belum mengoptimalkan platform sosial media berbasis algoritma seperti Instagram dan TikTok. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran media sosial dalam meningkatkan penjualan UMKM agribisnis serta menganalisis kendala dalam pemanfaatannya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis tematik dengan bantuan aplikasi NVivo 12 Pro, melibatkan 10 informan kunci yang dipilih secara purposive sampling untuk mewakili sub-sistem agribisnis (hulu, on-farm, dan hilir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan nyata melalui empat fungsi, yaitu sarana promosi, pembentuk dan penguatan merek, perluasan jangkauan pasar, serta peningkatan penjualan, dengan WhatsApp sebagai platform yang paling banyak digunakan. Seluruh informan mencatatkan kenaikan penjualan melalui empat mekanisme transformasi digital, yaitu eliminasi perantara, perluasan geografis ke transaksi nyata, efisiensi biaya pemasaran, dan konversi stok menjadi arus kas. Keempat mekanisme tersebut melalui uji Cluster Analysis membentuk tiga kluster pola transformasi strategi: digitalisasi supply chain, ekspansi pasar dan basis pelanggan, serta inovasi model bisnis. Namun, efektivitas pemanfaatan media sosial masih terhambat oleh empat kategori kendala yang saling berkaitan dengan pemilihan jenis media sosial sebagai kendala paling dominan, diikuti literasi digital, serta modal/SDM dan infrastruktur jaringan yang sama-sama belum optimal. Dengan demikian, media sosial berperan sebagai katalisator pertumbuhan UMKM agribisnis yang efektivitasnya bergantung pada kesiapan digital pelaku usaha. Penelitian ini menyarankan agar pelaku UMKM mengoptimalkan platform di luar WhatsApp serta meningkatkan kemampuan dalam mengelola konten. Pemerintah disarankan mempercepat pemerataan infrastruktur dan pelatihan literasi digital, sementara peneliti selanjutnya memperluas cakupan informan dengan data keuangan yang lebih terverifikasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi digital secara efektif, aman, etis, dan bertanggung jawab dalam kegiatan akademik. Mahasiswa Pendidikan Biologi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan perlu memiliki literasi digital yang memadai agar bisa bersaing di era digital. Literasi digital mencakup kemampuan menggunakan teknologi, memahami informasi digital, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil literasi digital mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan dengan cakupan populasi yang lebih luas, mencakup mahasiswa dari angkatan 2020 hingga 2024. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 164 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket berdasarkan empat aspek literasi digital, yaitu digital skill, digital safety, digital ethics, dan digital culture. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, profil literasi digital mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan memperoleh Indeks Literasi Digital (IDL) sebesar 2,41 yang termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan angkatan, nilai IDL tertinggi diperoleh angkatan 2022 sebesar 3,03 dengan kategori tinggi. Sedangkan angkatan lainnya berada pada kategori sedang, yaitu pada angkatan 2020 dengan IDL 2,30, angkatan 2021 2,24, angkatan 2023 2,26 dan angkatan 2024 2,06. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan tingkat literasi digital mahasiswa antar angkatan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan telah memiliki kemampuan literasi digital yang cukup baik, namun masih diperlukan peningkatan kompetensi digital secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penyebaran berita hoaks melalui media sosial telah menjadi masalah serius di era digital, termasuk di Kota Tarakan yang mengalami dampak negatif berupa kepanikan dan keresahan akibat dari berita hoaks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya penyebaran berita hoaks serta upaya penegakan hukum yang dilakukan di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode empiris dengan pendekatan kualitatif. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang baik, jelas, dan dapat memberikan data sedetail mungkin tentang objek yang diteliti dan juga untuk menggambarkan permasalahan penyebaran berita hoaks di Kota Tarakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran hoaks di Kota Tarakan disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor internal yang terdiri dari rendahnya literasi digital, motif pribadi, dan rendahnya kesadaran hukum, serta faktor eksternal yang terdiri dari kemudahan akses internet, anonimitas pengguna, algoritma media sosial dan manipulasi digital. Dari segi Penegakan hukum yang dilakukan oleh penegak hukum dalam hal ini Kepolisian Resor Tarakan dilaksanakan melalui dua upaya pendekatan, yaitu pendekatan preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran serta pendekatan represif untuk menindak pelanggaran yang telah terjadi. Namun efektivitas dalam penegakan hukumnya masih sangat kurang, karena terhambat oleh keterbatasan personel, sarana prasarana, dan keterbatasan teknologi. sehingga dalam hal ini, penanganan hoaks memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan peningkatan literasi digital masyarakat, penguatan kapasitas aparat penegak hukum, dan dukungan pemerintah serta teknologi yang memadai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan literasi digital mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi sampel merupakan keseluruhan mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan angkatan 2021 yang berjumlah 58 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner (angket) pada 30 responden berdasarkan teknik Simple Random Sampling (SRS). Teknik analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital responden dalam delapan aspek yang meliputi: Functional skill and beyond, Creativity, Collaboration, Comunication, The ability to find and select information, Critical thinking and evaluation dan Cultural and social understanding, serta E-Safety, termasuk dalam kategori “Sangat Baik” dengan rentang nilai presentase 83,15% hingga 88,06%. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi digital mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan berada pada kategori “Sangat Baik”
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Literasi digital merupakan upaya pemanfaatan teknologi untuk memahami, mengakses, merangkai dan berbagi informasi sebagai kompetensi dalam mengembangkan keterampilan membaca dan menulis. Pelajar harus menguasai literasi digital agar tidak terpengaruh hoax dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan literasi digital mahasiswa pendidikan biologi dan mengetahui faktor-faktor yang dapat mendukung literasi digital mahasiswa pendidikan biologi dalam mengikuti proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitiannya adalah mahasiswa Pendidikan Biologi yang berjumlah 78 mahasiswa dengan menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa pendidikan biologi memiliki kemampuan literasi digital pada setiap komponen penggunaan media digital (use skill) 53%, kemampuan berpikir kritis 66%, dan kemampuan komunikasi 59%. Mayoritas siswa memiliki keterampilan dasar dalam mengelola platform digital, namun masih perlu peningkatan terutama dalam mencari informasi dan menyesuaikan cara berkomunikasi, kemampuan menganalisis informasi dengan baik dan berkomunikasi secara efektif melalui media digital. Keterbatasan literasi digital dapat menyebabkan kesulitan dalam mengakses informasi yang dibutuhkan siswa, meningkatkan risiko terpapar informasi yang salah, menghambat kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi, serta menghambat peluang kerja. Penelitian di masa depan perlu menggali lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi literasi media digital, penggunaan internet, dan mengkaji dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.