ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan remaja generasi alfa di era digital menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah gizi dan perilaku. Status gizi secara teoritis dapat berperan dalam perkembangan fungsi kognitif dan regulasi emosi yang berpotensi memengaruhi perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan masalah perilaku pada remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan gizi normal di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif analitik dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 2.209 remaja generasi alfa yang diperoleh menggunakan teknik total sampling berdasarkan data pemeriksaan kesehatan dari seluruh Puskesmas di Kota Tarakan. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan masalah perilaku diukur menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja generasi alfa memiliki status gizi kurang, yaitu sebesar 55,7%, dan mayoritas berada pada kategori perilaku normal sebesar 68,4%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,557 (>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara masalah perilaku berdasarkan status gizi pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa masalah perilaku tidak berbeda secara signifikan antara remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan normal. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif terhadap masalah perilaku remaja perlu memperhatikan faktor lain, seperti kondisi psikologis, pola asuh, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan penggunaan media digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih merupakan kelompok usia yang rentan mengalami masalah status gizi dan gejala emosional. Perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, disertai perbandingan sosial dan perkembangan persepsi terhadap citra tubuh baik positif atau negatif yang dapat memengaruhi gejala emosional. Perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja laki-laki dan perempuan menunjukkan respons gejala emosional yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan komparatif analitik menggunakan data sekunder. Desain penelitian ini adalah | analitik Cross-Sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 578 remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Jumlah responden paling banyak berjenis kelamin perempuan berjumlah 53,8% (331 remaja), sedangkan responden laki-laki berjumlah 46,2% (267 remaja). Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder dari hasil skrining Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan data antropometri yaitu, tinggi badan dan berat badan remaja di Puskesmas Kota Tarakan tahun 2025. Hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square diperoleh nilai p value 0,001, bahwa terdapat perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih. Perbedaan gejala emosional pada kategori abnormal lebih tinggi pada remaja perempuan (42,4%) dibandingkan laki-laki (16,9%). Sementara itu, pada kategori normal sebagian besar lebih tinggi pada remaja laki-laki (70,8%) dibandingkan remaja perempuan (45,7%). Remaja perempuan memiliki proporsi gejala emosional abnormal yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai gejala emosional pada remaja laki-laki dan perempuan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda. Dukungan lingkungan yang positif dan penerimaan terhadap kondisi fisik remaja diharapkan dapat membantu menurunkan risiko munculnya masalah gejala emosional pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Vitamin D dan zat besi merupakan mikronutrien penting bagi pertumbuhan bayi, mineralisasi tulang, transport oksigen, fungsi imun, dan status gizi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pemberian kombinasi vitamin D, suplemen tambah darah, dan status gizi bayi usia 6 bulan-2 tahun di Praktik Dokter Anak Kabupaten Bulungan. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menggunakan desain retrospektif dengan data sekunder terhadap 35 bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan diambil secara total sampling pada periode April 2025-April 2026. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar bayi berjenis kelamin laki-laki (62,9%), memiliki berat badan lahir normal (82,9%), memperoleh kombinasi vitamin D dan suplemen tambah darah secara rutin (65,7%), dan seluruh bayi mengalami kenaikan berat badan pada kontrol ulang (100%). Berdasarkan kategori status gizi BB/U, 71,4% bayi memiliki berat badan normal, 14,3% berat badan kurang, 5,7% berat badan sangat kurang, dan 8,6% berisiko berat badan lebih. Temuan ini menegaskan bahwa pemberian suplemen perlu disertai kepatuhan wali, pencatatan dosis dan durasi yang jelas, serta pemantauan BB/U berkala agar bayi di luar kategori normal segera memperoleh evaluasi gizi dan tindak lanjut tenaga kesehatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Underweight masih menjadi salah satu permasalahan gizi pada balita yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Status gizi ibu selama kehamilan merupakan salah satu faktor yang diduga berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan berpotensi memengaruhi status gizi anak pada masa balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi ibu selama kehamilan dengan underweight pada balita di Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 67 balita usia 12–59 bulan dengan kategori underweight dan severely underweight yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari buku kohort ibu hamil, buku register ibu hamil, dan rekam medis balita underweight periode tahun 2020–2025. Status gizi ibu selama kehamilan diukur menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA) dan dikategorikan menjadi Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan tidak KEK, sedangkan tingkat keparahan underweight ditentukan berdasarkan indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 ibu (59,7%) mengalami KEK dan 27 ibu (40,3%) tidak mengalami KEK. Sebanyak 43 balita (64,2%) termasuk kategori underweight dan 24 balita (35,8%) termasuk kategori severely underweight. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi ibu selama kehamilan dengan tingkat keparahan underweight pada balita. Disimpulkan bahwa status gizi ibu selama kehamilan berdasarkan pengukuran LILA tidak berhubungan secara signifikan dengan underweight pada balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting, terutama di wilayah perbatasan yang memiliki keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Data Puskesmas Long Bawan menunjukkan tingginya angka kejadian anemia pada ibu hamil sehingga diperlukan identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Menganalisis hubungan usia, paritas, status gizi (LILA), dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Long Bawan Kabupaten Nunukan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data sekunder dikumpulkan secara retrospektif dari register Antenatal Care (ANC) periode April 2025 sampai April 2026 dan dianalisis pada satu waktu penelitian. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 131 ibu hamil. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% (α=0,05). Sebagian besar responden berada pada kategori usia tidak berisiko (78,6%), paritas tidak berisiko (95,4%), status gizi tidak KEK (90,1%), dan jarak kehamilan tidak berisiko (77,9%). Prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 62,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,276), paritas (p=0,671), status gizi (p=0,261), dan jarak kehamilan (p=0,170) dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Usia, paritas, status gizi (LILA), dan jarak kehamilan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Long Bawan. Tingginya prevalensi anemia yang ditemukan menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah perbatasan. Kata Kunci: Anemia, ibu hamil, usia, paritas, status gizi, jarak kehamilan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Perubahan pola hidup remaja generasi alfa di era digital dapat memengaruhi kondisi kesehatan fisik dan emosional. Status gizi yang tidak optimal berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja, termasuk munculnya gejala emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan gejala emosional pada remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan gizi normal di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif analitik dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 2.209 remaja generasi alfa yang diperoleh menggunakan teknik total sampling berdasarkan data pemeriksaan kesehatan seluruh Puskesmas di Kota Tarakan tahun ajaran 2024–2025. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan gejala emosional diukur menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis data menggunakan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,001 yang berarti terdapat perbedaan gejala emosional berdasarkan status gizi pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan. Remaja generasi alfa dengan status gizi kurang lebih tinggi berada pada kategori gejala emosional normal (68,6%), sedangkan proporsi gejala emosional abnormal lebih tinggi ditemukan pada remaja dengan status gizi normal (31,1%). Kesimpulan penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa status gizi berhubungan dengan perbedaan gejala emosional pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan, meskipun kondisi emosional remaja juga dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan penggunaan media digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui pemantauan status gizi, edukasi kesehatan, serta skrining kesehatan emosional secara berkala guna mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Status gizi bayi merupakan indikator penting untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan anak. Status gizi yang baik mencerminkan terpenuhinya kebutuhan zat gizi sesuai kebutuhan tubuh, sedangkan ketidakseimbangan asupan dapat menyebabkan malnutrisi dan mengganggu tumbuh kembang bayi. Salah satu faktor yang memengaruhi status gizi adalah tingkat pengetahuan ibu mengenai pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Pengetahuan yang baik terkait waktu pemberian, jenis makanan, tekstur, frekuensi, dan jumlah MP-ASI sesuai usia bayi berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan sebanyak 74 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga diperoleh 74 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner tingkat pengetahuan ibu dan data status gizi berdasarkan indikator berat badan menurut panjang badan (BB/PB). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan baik tentang pemberian MP-ASI (81,1%) dan sebagian besar bayi memiliki status gizi normal. Hasil uji statistik menunjukkan p-value=0,000, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan. Diperlukan peningkatan edukasi kepada ibu mengenai pemberian MP-ASI yang tepat untuk mendukung status gizi optimal dan mencegah masalah gizi sejak dini
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Sosial ekonomi menjadi salah satu penyebab tidak langsung yang menyebabkan gangguan gizi, terutama pada anak balita. Komponen faktor sosial ekonomi terdiri dari pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Penelitian ini akan meneliti ketiga indikator utama, yaitu pendidikan orang tua, pekerjaan ibu, dan penghasilan keluarga karena ketiga komponen ini memiliki peran signifikan dan saling berhubungan dalam menentukan kualitas gizi balita. Penelitian dilakukan dengan metode non eksperimental kuantitatif menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional di Posyandu Padaidi Kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non Probability Sampling dengan pendekatan Accidental Sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar karakteristik dengan pengukuran sosial ekonomi yang meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan ibu, dan penghasilan keluarga. Serta, status gizi balita yang diambil berdasarkan perbandingan berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan Uji Fisher's Exact Test. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ayah (p=0,394), pendidikan ibu (p=0,602), dan pekerjaan ibu (p=0,638) dengan status gizi balita di Posyandu Padaidi Kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan. Faktor penghasilan berhubungan dengan status gizi balita di Posyandu tersebut dengan nilai p=0,034. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengetahuan mengenai pemilihan bahan makanan bergizi, pengolahan makanan, dan variasi makanan yang sesuai dengan kemampuan keluarga untuk meningkatkan gizi balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah suatu pengukuran sederhana dalam menentukan status gizi seseorang. Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku setelah melakukan pembelajaran yang berhubungan dengan kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menilai, serta kecerdasan intelektual individu. Penelitian ini betujuan untuk melihat hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan hasil belajar kognitif siswa di SMPN 8 Tanjung Selor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas siswa memiliki status gizi kurang, namun hasil belajar kognitif siswa berada dalam kategori baik sekali. Hasil analisis dengan menggunakan uji spearman’s diperoleh nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,055 > 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif siswa tidak memilki keterkaitan yang signifikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pendidikan dan kesehatan, khususnya mengenai keterkaitan antara status gizi dan capaian akademik. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi sekolah, guru, dan orang tua agar tidak hanya berfokus pada aspek gizi, tetapi juga memperhatikan faktor lain seperti motivasi, metode pembelajaran, dan lingkungan belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA AKHIR DI SMA HANG TUAH KOTA TARAKAN ABSTRAK Remaja merupakan fase penting dalam perkembangan, terutama bagi perempuan yang mulai mengalami siklus menstruasi sebagai bagian dari kematangan organ reproduksi. Siklus ini sangat dipengaruhi oleh status gizi. Ketidakseimbangan gizi, dapat mengganggu keseimbangan hormon dan menyebabkan menstruasi tidak teratur, seperti jarak antar menstruasi yang terlalu panjang (oligomenorea) atau terlalu pendek (polimenorea). Tujuan penelitiaan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada remaja. Metode penelitian adalah Cross Sectional. Populasi penelitian ini siswi SMA Hang Tuah Kota Tarakan sebanyak 160 responden dan sampel sebanyak 114 responden, dengan menggunakan teknik rendom sampiling. Instrumen penelitian menggunakan lembar ceklis dan alat ukur tinggi badan (microtoise) dan alat ukur berat badan (timbangan digital). Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil data, lebih dari setengahnya responden memiliki status gizi normal 64 responden (54.1%), status gizi kurang 25 responden (25%), status gizi lebih 21 responden (18.4%), dan status gizi obesitas 4 responden (3.5%). Siklus menstruasi normal 64 responden (54.1%), oligomenorea 25 responden (25%), dan polimenorea 25 responden (25%). Ada hubungan signifikan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada remaja akhir ( 0.001). Oleh karena itu, status gizi sangat penting dalam mendukung kesehatan reproduksi pada remaja, khususnya dalam menjaga siklus menstruasi yang teratur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia dalam kehamilan merupakan masalah yang harus mendapatkan penanganan khusus karena prevalensi yang masih tinggi. Dampak yang mugkin timbul pada ibu hamil dengan anemia dalam kehamilan tidak terjadi hanya pada ibu hamil tetapi juga berdampak pada bayi baru lahir. Kejadian anemia dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain usia ibu saat hamil, paritas, frekuensi kunjungan ANC, status gizi, status ekonomi, tingkat pendidikan, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe. Tujuan penelitian ini adalah untuk Menganalisis faktor-faktor penyebab anemia pada ibu hamil di Puskesmas daerah perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan utara tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Tehnik Sampel menggunakan non probability sampling yaitu teknik purposive sampling dengan total besar sampel sebanyak 83 orang berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari catatan rekam medik pasien, buku KIA ibu hamil dan kohort ibu tahun 2023-2024. Uji hubungan akan menggunakan uji chi-square serta uji multivariat menggunakan Uji Regresi Linier Ganda menggunakan program SPSS versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara anemia dengan usia ibu dengan p-value sebesar 0,000, anemia dengan umur kehamilan dengan p-value sebesar 0,009, anemia dengan paritas dengan p-value sebesar 0,000, anemia dengan status gizi dengan p-value sebesar 0,000. Diantara variabel yang ada, status gizi memiliki hubungan paling dominan terhadap kejadian anemia berdasarkan hasil uji multivariat dengan hasil nilai Coeffisients B sebesar -0,596. Berdasarkan hal tersebut, anemia memiliki hubungan terhadap usia ibu, umur kehamilan, paritas, dan status gizi, dengan faktor status gizi sebagai faktor yang paling berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Daerah Perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara Tahun 2024. Diharapkan bagi petugas Kesehatan dapat memberikan perhatian terhadap usia ibu, usia kehamilan, paritas, dan status gizi ibu hamil untuk mengurangi kejadian anemia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
ABSTRAK Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan disertai dengan perubahan yang memerlukan zat-zat gizi yang jumlahnya lebih banyak dengan kualitas yang tinggi (Ariani, 2017). Balita sangat rentan terhadap kelainan gizi karena pada saat ini mereka membutuhkan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita yaitu faktor secara langsung yakni, kurangnya asupan makanan, dan penyakit infeksi yang mungkin di derita si Anak dan faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung yaitu: pendapatan orang tua, ketersediaan pangan dalam rumah tangga, pola makan, sanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan, pekerjaan orang tua, dan pengetahuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu mengenai status gizi pada balita usia 3 – 5 tahun menurut BB/TB.penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Teknik pengambilan Sampel dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling, populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 3 - 5 tahun dengan jumlah sampel 67 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner yang diedarkan secara tertulis berupa formulir untuk mendapatkan tanggapan, informasi dan jawaban. Berdasarkan hasil penelitian terdapa 55 responden yang memiliki pengetahuan baik (82%), 11 responden yang memiliki pengetahuan cukup (16%), 0 responden yang memiliki pengetahuan kurang (0%).Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan wawasan terkait tentang status gizi balita disegala .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia dalam kehamilan merupakan kondisi ibu hamil dengan kadar hemoglobin (Hb) 11 g/dL pada trimester I dan III sedangkan pada trimester II kadar hemoglobin (Hb) 10,5 g/dL. Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia yaitu usia, kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe, dan status gizi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran usia, status gizi, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe dengan anemia pada ibu hamil TM III di wilayah kerja Puskesmas Gunung Lingkas. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil TM III dengan anemia di wilayah kerja puskesmas gunung lingkas. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling sebanyak 50 responden, dengan pengumpulan data menggunakan kuesionare. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran usia, status gizi, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe dengan anemia pada ibu hamil TM III di Puskesmas Gunung Lingkas menunjukkan karakteristik responden berusia 20- 35 tahun memiliki jumlah presentase lebih banyak sebesar 33 responden (66,0%), KarakteristikrespondenstatusgizidenganIMTgemuk memilikijumlahpresentase lebih banyak sebesar 27 responden (54,0%), sedangkan karakteristik responden kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe sebagian besar dari 50 ibu hamil TM III dengan anemia patuh dalam mengonsumsi tablet Fe sebanyak 37 responden (74,0%), sedangkan yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet Fe sebanyak 13 responden (26,0%). Kesimpulan penelitian yang dilakukan menemukan bahwa ibu hamil usia 20-35 tahun dan status gizi berlebih lebih banyak yang menderita anemia pada TM III, sedangkan untuk mengonsumsi tablet Fe mayoritas responden patuh dalam mengonsumsinya.