Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: Sopan santun
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Peran Guru Dalam Menanamkan Karakter Sopan Santun Siswa Kelas II Di MI Al Fawaid Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran guru dalam menanamkan karakter sopan santun siswa kelas II di MI Al Fawaid Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Informan penelitian terdiri atas guru dan siswa kelas II. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menjalankan empat peran, yaitu sebagai pendidik, motivator, fasilitator, dan evaluator. Sebagai Pendidik, guru memberikan teladan, arahan, bimbingan, teguran, dan pembiasaan dalam menghormati orang yang lebih tua. Menggunakan bahasa sopan, menjaga kebersihan, menunggu giliran berbicara, mengucapkan terima kasih, menerapkan 3S, meminta izin serta menghargai orang lain. Sebagai Motivator, guru memberikan nasihat, pengingat, teguran, dan dorongan positif secara berkelanjutan. Sebagai Fasilitator, guru memanfaatkan sumber sumber belajar, menyediakan tempat sampah, dan menciptakan kegiatan pembelajaran yang mendukung sikap saling menghargai dan bekerja sama. Sebagai evaluator, guru mengamati, menilai, menegur, serta memantau perubahan perilaku siswa. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan S1 telah menerapkan perilaku sopan santun dalam berinteraksi dengan guru dan teman. S2 juga menunjukkan perilaku sopan santun melalui salam, bahasa yang baik, meminta izin, dan menghargai teman. S3 menunjukkan kebiasaan memberi salam, berbicara sopan, menjaga kebersihan, mengucapkan terima kasih, serta meminta izin. S1, S2, dan S3 juga terlihat mengikuti aturan berbicara dan menghargai orang lain selama pembelajaran, terutama dalam menjaga ketertiban, menghargai teman, dan mengikuti aturan pembelajaran. S4 telah menerapkan sebagian besar perilaku tersebut, tetapi masih di temukan perilaku menggangu teman dan mengajak berbicara saat pembelajaran. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan karakter sopan santun pada siswa belum konsisten, sehingga masih memerlukan arahan, pengawasan, dan pembiasaan dari guru secara berkelanjutan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengembangan Media Flashcard Magic Words Berbasis Pendidikan Karakter Sopan Santun Di Kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya karakter sopan santun peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan dalam penggunaan kata santun sehari-hari, yang dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan penggunaan teknologi yang tidak terkontrol. Metode pembelajaran konvensional dinilai belum mampu membentuk kebiasaan bersikap santun secara optimal, sehingga diperlukan media pembelajaran yang lebih inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan kemenarikan media flashcard magic words berbasis pendidikan karakter sopan santun, serta mengetahui sikap sopan santun peserta didik kelas V-C dalam penggunaan media tersebut pada kegiatan belajar maupun interaksi sehari-hari di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D yang terdiri dari empat tahapan, yaitu Define (pendefinisian), Design (perancangan), Development (pengembangan), dan Disseminate (penyebaran). Namun, penelitian ini dibatasi hanya sampai pada tahap Development, sedangkan tahap Disseminate tidak dilaksanakan karena keterbatasan waktu, biaya, dan cakupan penelitian sehingga penyebaran media secara lebih luas belum dapat dilakukan. Subjek penelitian adalah 27 peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, lembar validasi ahli, angket kemenarikan siswa, dan lembar observasi pembiasaan sikap sopan santun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media flashcard magic words dinyatakan sangat layak digunakan berdasarkan validasi ahli media (95,38%), validasi ahli bahasa (90%), dan validasi praktisi (96,36%). Tingkat kemenarikan media pada uji coba terbatas mencapai 97,92% dan pada uji coba lapangan sebesar 91,76%, keduanya termasuk kategori sangat menarik. Adapun hasil analisis sikap sopan santun peserta didik setelah menggunakan media memperoleh persentase sebesar 61,42%, yang termasuk dalam kategori cukup baik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa media flashcard magic words layak, menarik, dan cukup baik digunakan untuk membentuk karakter sopan santun peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Deskripsi Peran Guru Sebagai Fasilitator Dalam Menanamkan Karakter Sopan Santun Siswa Kelas IV Di SD Negeri 051 Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya siswa yang menunjukkan perilaku kurang sopan santun, seperti tidak memperhatikan guru saat pembelajaran, berbicara dengan suara keras, tidak mengucapkan salam ketika masuk kelas, berbicara kasar kepada teman, serta tidak meminta izin saat keluar kelas. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran guru dalam menanamkan karakter sopan santun kepada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru sebagai fasilitator dalam menanamkan karakter sopan santun siswa kelas IV di SD Negeri 051 Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru sebagai fasilitator dalam menanamkan karakter sopan santun siswa kelas IV di SD Negeri 051 Tarakan telah terlaksana dengan cukup baik. Guru berperan sebagai penyedia fasilitas belajar yang mendukung pembentukan karakter sopan santun siswa. Guru juga memberikan waktu, tenaga, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta membiasakan perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Karakter sopan santun yang ditanamkan meliputi menghormati orang yang lebih tua, tidak berkata kotor, tidak berkata kasar, tidak bersikap takabur, tidak meludah di sembarang tempat, tidak menyela pembicaraan orang pada waktu yang tidak tepat, mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan dari orang lain, menerapkan sikap (salam, sapa, senyum), meminta izin ketika ingin memasuki ruangan orang lain, meminta izin ketika keluar dari ruangan orang lain dan menghargai orang lain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa guru kelas IV SD Negeri 051 Tarakan telah menjalankan perannya sebagai fasilitator dengan baik dalam menanamkan karakter sopan santun siswa sehingga mampu mendukung terbentuknya perilaku sopan santun di lingkungan sekolah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN GURU DALAM MENANAMKAN SIKAP SOPAN SANTUN PADA SISWA KELAS IV-C DI SD NEGERI UTAMA 2 TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan peran guru dalam menanamkan sikap sopan santun pada siswa kelas IV-C di SD Negeri Utama 2 Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian guru wali kelas dan 26 siswa kelas IV-C. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru dalam menanamkan sikap sopan santun pada siswa kelas IV-C di SD Negeri Utama 2 Tarakan sudah diterapkan dengan baik melalui peran guru sebagai pendidik dan peran guru sebagai penasihat dimana guru sebagai pendidik dalam memberikan contoh sudah melakukan perannnya seperti guru melakukan pendekatan personal kemudian menjadi teladan siswa tentang baik buruknya berbicara kepada guru. Dalam melatih siswa guru sudah melakukan perannya seperti guru memberikan arahan membiasakan siswa mengucapkan kata tolong, maaf dan terimakasih, menyapa teman dengan sopan dan membudayakan senyum, salam, sapa, sopan dan santun (5S). Dalam membimbing siswa guru sudah melakukan perannya seperti guru mengamati perilaku yang tidak pantas dan tidak dapat diterima kemudian membimbing siswa. Dan peran guru sebagai penasihat ialah guru sudah memberikan masukan pada siswa yang kurang sopan saat berbicara dengan guru bahwa siswa harus menghargai perbedaan dan menghormati yang lebih tua. Guru juga memberikan masukan pada siswa yang menggunakan kata-kata kasar ketika berbicara dengan teman sebaya. Guru sudah memberikan layanan pada siswa yang membutuhkan bantuan dalam penyelesaian masalah seperti guru memahami masalah, kemudian merencanakan pemecahan dan penyelesaian masalah serta memeriksa kembali hasil yang di peroleh.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis penanaman budaya sopan santun di kelas 1-B SDN 015 Tarakan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan Penanaman Budaya Sopan Santun Di Kelas 1-B SDN 015 Tarakan. Metode penelitian yang digunakan jenis kualitatif deskriptif yang di laksanakan di SDN 015 Tarakan pada Semester Genap tahun ajaran 202.3/2024. Penelitian ini difokuskan pada peran guru dalam menanamkan budaya sopan santun sumber data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder dengan informan guru, kepala sekolah, dan data sekunder yaitu siswa kelas 1-8. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa lembar wawancara, observasi dan dokumentasi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru sebagai pendidik, pengarah, dan evaluator sudah berjalan sangat baik dalam menjalani perannya tersebut di lihat dari hasil wawancara dan observasi yang telah di lakukan kepada guru, kepala sekolah, dan siswa. Fokus utama penelitian ini: (1)Guru sebagai pendidik sudah melakukan perannya seperti mendidik dengan menggunakan metode yel-yel serta memberikan contoh kepada siswanya melalui perilaku sehari-hari. (2)Guru sebagai pengarah sudah melakukan perannya seperti mengarahkan siswa dengan memberikan nasehat o agar berbuat hal yang baik terutama dalam bersikap, guru tidak langsung memarahi anak di depan banyak orang, namun memanggil anak yang bersangkutan untuk memberi pengarahan secara 4 mata. (3)Guru sebagai evaluator sudah melakukan perannya dengan cara mengevaluasi siswanya dan juga memberikan penilaian yang sesuai dengan hasil observaxinya dan ditulis di rapot. Dan faktor haambatan yang guru dapatkan dalam menanamkan budaya sopan santun di kelas 1-B dimana faktor hambatan terdiri dari lingkungan keluarga yang broken home dan lingkungan masyarakat yang berbeda. Kata kunci: Peran guru, Sopan santun, kualitatif, sekolah dasar Abstrak This research was conducted to describe the cultivation of politeness in class 1-B of SDN 015 Tarakan. This type of research uses qualitative research, carried out at SDN 015 Tarakan in the Even Semester of the 2023/2024 academic year. This research focused on the teacher's role in instilling courtesy. The data sources in this research included primary data and secondary data from teacher informants and school principals, as well as secondary data from class 1-B students. The data collection techniques were interview sheets, observation, and nterview documentation. The results of this research demonstrated that teachers as educators, directors, and evaluators have performed very well in carrying out their roles, as seen from the interviews and observations that have been carried out on teachers, principle, and students where the teacher has carried out his role as an educator, such as educating using the shouting method and illustrating to his students. As a director, the teacher has carried out his role, such as directing students by advising them to do good things, especially in behavior. An evaluator is a teacher who has carried out his role by evaluating his students, providing assessments based on the results of his evaluation, and writing them in the report card. Moreover, the obstacle factors that teachers encounter in instilling courtesy in classes 1-B, where the obstacle factors consist of different family backgrounds and community environments. Keywords: Teacher's role, politeness, qualitative, elementary school

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN PERILAKU SOPAN SANTUN SISWA KELAS VII SMPN 13 TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sopan santun merupakan perilaku yang ditunjukan dalam kehidupan sehari-hari, seorang remaja harus dapat membedakan tindakan yang benar dan salah saat berinteraksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan dan konseling kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap peningkatan pemahaman perilaku sopan santun siswa kelas VII SMPN 13 Tarakan. Jenis penelitiani ini adalah kuantitatif dengan pendekatan eksperimen desain one group pretest-postest design. Populasi penelitian ini sebanyak 82 siswa dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling sebanyak 10 siswa. Insturmen penelitian ini menggunakan skala liker dengan mengukur aspek sopan santun bergaul dengan guru, sopan santun bergaul dengan orang tua, sopan santun bergaul dengan yang lebih tua, sopan santun bergaul dengan teman sebaya, sopan santun bergaul dengan teman lawan jenis, dan sopan santun bergaul dengan orang yang lebih muda (Supriyanti, 2008). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon dengan hasil yang diperoleh Ha diterima dan Ho ditolak melalui nilai signifikan sebesar 0,005 0,05 sehingga menunjukan bahwa ada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama terhadap peningkatan pemahaman perilaku sopan santun siswa kelas VII SMPN 13 Tarakan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Media Permainan Kartu Truth Or Dare Dalam Meningkatkan Sikap Sopan Santun Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 12 Tarakan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sikap sopan santun hidup seseorang yang memiliki nilai-nilai dan norma yang ada dilingkungan masyarakat, prilaku yang tidak merehkan atau merendahkan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh permainan kartu truth or dare dalam meningkatkan sikap sopan santun siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dengan populasi yaitu 90 dan sempel berjumlah 12 siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Tarakan. Teknik sampling menggunakan Random sempling dari populasi sehingga jumlah sampel pada penelitian ini adalah 12 siswa. Pengolahan data menggunakan teknik analisis deskriptif, teknik analisis inferensial dan uji paired sampel t.test dengan SPSS versi 26.0. Berdasarkan analisis disimpulkan bahwa berdasarkan hasil uji hipotesis, nilai signifikansi sebesar (0,000 0,05) yang artinya permainan kartu truth or dare memiliki pengaruh terhadap peningkatan sikap sopan santun siswa di SMP Negeri 12 Tarakan. Pada pemberian pretest dari 12 siswa yang menjadi sampel dalam penelitian, terdapat 3 (25%) siswa yang memiliki sikap sopan santun yang sangat rendah , 9 (75%) siswa memiliki sikap sopan santun yang rendah. Pada pemberian posttest terdapat 6 (50%) siswa yang memiliki sikap sopan santun sangat tinggi, 6 (50%) siswa yang memiliki sikap sopan santun tinggi. hasil pretest dan posttest pada indikator menghormati orang yang lebih tua, tidak berkata kotor, kasar dan takabur, tidak menyelah pembicaran pada waktu yang tidak tepat, meminta izin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang orang lain, memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan, dan mengalami perubahan nilai ditunjukkannya peningkatan pada saat pemberian posttest.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Teknik Self-Regulation Terhadap SIkap Sopan Santun Siswa Kelas X di SMAN 2 Tarakan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan bimbingan kelompok dengan teknik Self-Regulation terhadap sikap sopan santun siswa kelas X di SMAN 2 Tarakan. Sikap sopan santun merupakan perilaku seseorang yang menghargai, tidak sombong dan berakhlak mulia dengan cara menghormati orang yang lebih tua, menyapa jika bertemu dengan orang lain, berbicara dengan nada lembut dan bahasa yang santun. Ciri cirinya tidak permisi atau menegur saat berpapasan dengan guru, memanggil teman dengan nama binatang dan menyanggah guru ketika sedang berbicara, dan Self-Regulation merupakan proses metakognisi yang mengatur proses perencanaan, pemantauan/monitoring, dan evaluasi diri dalam aktivitas belajar seperti cara berfikir, pemantauan proses belajar, mengulangi pelajaran agar tercapai tujuan belajar, penguasaan pengetahuan dan keterampilan bagi individu serta pengaturan jadwal belajar guna untuk mencapai tujuan dalam belajar. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design, dengan populasi sebanyak 100 siswa dan menggunakan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling sebanyak 10 orang siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah skala sikap sopan santun. Teknik analisis data dari hasil hipotesis paired sample t-test yang diperoleh Ha diterima dikarenakan nilai signifikan 0.000 0,05 dan nilai t hitung -6.688 1.833. Sehingga ada pengaruh bimbingan kelompok dengan teknik Self-Regulation terhadap sikap sopan santun siswa Kelas X di SMAN 2 Tarakan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

penanaman karakter sopan santun di sds muhammadiyah III Al-Hilal tarakan

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini di lakukan untuk mendeskripsikan Penanaman Karakter sopan santun di SDS Muhammadiyah III Al-Hilal Tarakan. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang di laksanakan di SDS Muhammadiyah III Al-Hilal Tarakan pada Semester Genap tahun ajaran 2020/2021. Penelitian ini di fokuskan pada peran guru dalam menanamkan karakter sopan santun Sumber data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder dengan informan guru kelas dua, enam, Kepala sekolah, satu siswa kelas dua dan satu siswa kelas enam. Teknik pengumpulan data yang di gunakan berupa Lembar Wawancara, Observasi dan dokumentasi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru sebagai motivator, pengarah, fasilitator, dan evaluator sudah berjalan sangat baik dalam melakuka perannya tersebut di lihat dari hasil wawancara yang telah di lakukan kepada guru, kepala sekolah, dan siswa dimana guru sebagai motivator selalu memberikan motivasi, nasihat kepada siswanya. Selanjutnya sebagai pengarah guru selalu mengarahkan siswanya agar berbuat hal yang baik terutama sikapnya. Selain itu peran guru sebagai fasilitator memberikan fasilitats seperti cara belajar yang baik dan juga mudah untuk siswa pahami. Adapun peran guru sebagai evaluator sudah berusaha dengan baik berperan untuk selalu mengevaluasi siswanya dan juga memberikan penilaian yang sesuai dengan hasil evaluasinya. The purpose of this study was to describe how politeness character developed at SDS Muhamadiyah III Al-Hilal Tarakan. This type of research used qualitative data collection at SDS Muhammadiyah III Al-Hilal Trakan during the even semester of the 2020/2021 academic year. The topic of this study was the role of the teacher in teaching politeness characters. The data sources in this study were primary and secondary data from second and sixth grade teachers informants, the principal, one second grade student, and one sixth grade student. Interview sheets, observations, and documentation were employed as data collection strategies. The result of this study showed that teachers as motivators, directors, facilitators, and evaluators had done an excellent job in carrying out their roles, as seen by the result of interviews conducted with teachers, principals, and students, where teachers as a motivator always gave motivation and advice to his students, where teachers as a motivator always gave motivation and advice to his students. Furthermore, the teacher, as a director, consistenly encouraged his students to achieve positive things, particularly in his attitude.besides, the teacher’s role as a facilitator gave benefits such as a nice learning environment that was also simple to comprehend for students. The teachers role as an evaluator had attempted to play a part in constantly reviewing his students and offering an assessment that was consistent with the outcomes of his evaluation.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail