ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) merupakan salah satu spesies elasmobranch yang memiliki nilai ekologis penting dan keberadaannya perlu mendapat perhatian dalam upaya pengelolaan sumber daya perairan. Informasi mengenai pertumbuhan spesies ini masih terbatas, khususnya di Perairan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) menggunakan model pertumbuhan Von Bertalanffy. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran panjang total terhadap 40 ekor sampel yang diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di Perairan Sesayap. Analisis data dilakukan untuk mengestimasi parameter pertumbuhan yang meliputi panjang asimtotik (L∞), koefisien pertumbuhan (K), dan umur teoritis saat panjang ikan sama dengan nol (t₀). Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan von Bertalanffy yang diperoleh adalah L∞ sebesar 117,48 cm, K sebesar 0,0097, dan t₀ sebesar 1,1274. Nilai L∞ menunjukkan panjang maksimum teoritis yang dapat dicapai oleh ikan hiu sungai, sedangkan nilai K mengindikasikan laju pertumbuhan yang relatif lambat. Hasil penelitian ini memberikan informasi dasar mengenai karakteristik pertumbuhan Glyphis fowlerae di Perairan Sesayap yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan konservasi populasi hiu sungai secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hiu sungai Glyphis fowlerae merupakan spesies hiu yang sangat langka dan memiliki nilai konservasi tinggi. Informasi mengenai aspek reproduksi spesies ini di Indonesia masih terbatas sehingga diperlukan penelitian untuk mendukung upaya pengelolaan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis aspek reproduksi Glyphis fowlerae yang meliputi Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG), dan nisbah kelamin di Perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2025 hingga April 2026 menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 40 ekor hiu yang merupakan hasil tangkapan sampingan (bycatch) nelayan rawai dijadikan sampel penelitian. Parameter yang diamati meliputi panjang total, berat tubuh, berat gonad, dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 15 ekor hiu yang gonadnya dapat diamati secara makroskopis, terdiri atas 12 ekor jantan dan 3 ekor betina, sedangkan 25 ekor lainnya tidak ditemukan gonad. Seluruh sampel yang memiliki gonad berada pada Tingkat Kematangan Gonad I (immature). Nilai Indeks Kematangan Gonad jantan sebesar 0,68 ± 0,35%, sedangkan betina sebesar 0,82 ± 0,26%, yang menunjukkan bahwa gonad masih dalam tahap perkembangan awal dan belum memasuki fase reproduksi aktif. Nisbah kelamin keseluruhan adalah 1:1, yaitu masing-masing 20 ekor jantan dan 20 ekor betina. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hiu sungai yang tertangkap di Perairan Sungai Sesayap didominasi oleh individu juvenil, sehingga penelitian ini menjadi informasi dasar mengenai aspek reproduksi Glyphis fowlerae di wilayah tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) merupakan spesies elasmobranch yang hidup di perairan tawar dengan status konservasi Critically Endangered serta memiliki distribusi yang terbatas, termasuk di Perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Informasi mengenai ekologi makan spesies ini masih sangat terbatas, sehingga diperlukan kajian ilmiah untuk mendukung upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebiasaan makan G. fowlerae berdasarkan isi lambung sebagai indikator ekologi makan. Penelitian dilakukan menggunakan metode analisis isi lambung terhadap 40 sampel ikan dengan panjang tubuh 52–99 cm dan berat 1.100–7.100 gram. Analisis meliputi jumlah (N), berat (W), frekuensi kemunculan (F) jenis makanan, Indeks Bagian Terbesar (Index of Preponderance), serta Indeks Kepenuhan Lambung (ISC). Hasil analisis menunjukkan bahwa G. fowlerae bersifat karnivora dengan komposisi makanan utama berupa udang (IP = 75,70%), diikuti ikan (IP = 16,95%), serasah (IP = 4,65%), dan organisme tidak teridentifikasi (IP = 2,71%). Total berat isi lambung yang teridentifikasi mencapai 579,31 gram. Nilai ISC menunjukkan variasi antar individu yang mengindikasikan perbedaan aktivitas makan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa G. fowlerae merupakan predator aktif yang sangat bergantung pada krustasea, terutama udang, sebagai sumber makanan utama di ekosistem Sungai Sesayap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan komoditas perikanan air tawar bernilai ekonomi tinggi yang hidup pada sistem sungai dan estuari. Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, merupakan salah satu habitat alami udang galah yang belum banyak dikaji secara komprehensif dari aspek bioekologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi (nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad/TKG, indeks kematangan gonad/IKG), aspek pertumbuhan (hubungan panjang–berat dan faktor kondisi), parameter lingkungan (DO, salinitas, pH, suhu), serta pola distribusi spasial dan temporal udang galah. Penelitian dilakukan pada tiga stasiun (hulu, tengah, hilir) dengan total sampel 300 ekor. Analisis reproduksi dilakukan melalui identifikasi TKG dan perhitungan IKG, sedangkan pertumbuhan dianalisis menggunakan persamaan hubungan panjang–berat (W = aLᵇ) dan faktor kondisi. Parameter kualitas air diukur secara langsung di lapangan. Distribusi spasial dianalisis berdasarkan kelas ukuran antar stasiun, sedangkan distribusi temporal dibandingkan antara fase spring tide dan neap tide. Hasil penelitian menunjukkan nisbah kelamin relatif seimbang (1:1,02). TKG betina didominasi tahap IV, menunjukkan aktivitas reproduksi aktif. Nilai IKG betina lebih tinggi dibanding jantan pada seluruh stasiun. Hubungan panjang–berat menunjukkan pola pertumbuhan allometrik positif pada jantan (b = 3,1342; R² = 0,896) dan allometrik negatif pada betina (b = 2,9366; R² = 0,9127). Parameter kualitas air masih berada pada kisaran optimal (DO 6,7–7,2 mg/L; pH 6,6–7,2; suhu 26,9–32,4°C; salinitas 0‰). Distribusi spasial didominasi kelas ukuran menengah (13–18 cm), dengan kecenderungan individu lebih besar ditemukan di hilir. Distribusi temporal menunjukkan dominasi ukuran menengah pada fase spring tide maupun neap tide. Disimpulkan bahwa populasi udang galah di Sungai Sesayap berada dalam kondisi pertumbuhan aktif dan reproduktif, dengan struktur ukuran yang relatif stabil serta kualitas lingkungan yang mendukung keberlanjutan populasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Muara sungai merupakan kawasan transisi yang vital bagi kelangsungan berbagai jenis ikan, terutama sebagai tempat berkembang biak, membesarkan anak, dan mencari makan. Namun, intervensi manusia dan perubahan kondisi lingkungan dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perbandingan keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap bubu payung di dua lokasi berbeda, yakni Muara Sungai Sesayap Pulau Tibi dan Muara Sungai Mamburungan di Kalimantan Utara. Penelitian berlangsung dari bulan Agustus hingga November 2024 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap Bubu Payung, Identifikasi secara morfolohi dengan menggunakan panduan buku identifikasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di Muara Sesayap Pulau Tibi lebih tinggi dibandingkan dengan Muara Mamburungan, yang dipengaruhi oleh perbedaan kualitas habitat serta intensitas aktivitas manusia. Tercatat sebanyak 16 jenis ikan dan beberapa jenis krustasea, dengan spesies dominan antara lain Mugil cephalus, Scatophagus argus, dan Plotosus canius. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan habitat alami, seperti hutan mangrove, serta pengelolaan aktivitas di kawasan muara menjadi faktor kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem perairan pesisir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tidak adanya alternatif lain selain jalur transportasi air dalam penyeberangan Rute Tarakan – Kabupaten Tana Tidung membuat maraknya penyeberangan yang terjadi di pelabuhan – pelabuhan di Kota Tarakan, pemilihan tempat penyeberangan yang disesuaikan dengan kebutuhan penumpang maupun pemberhentian rute, membuat variasi tempat awal penyeberangan (pelabuhan) di Kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tarif angkutan penumpang dengan kemampuan dan kesediaan penumpang dalam membayar yang disesuaikan dengan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) speedboat. Data yang didapat merupakan hasil wawancara kepada responden, pemilik (owner), mandor, dan pegawai dari speedboat itu sendiri di Pelabuhan Tengkayu I dan Pelabuhan Belakang Ramayana. Terdapat lima rute dalam penelitian ini, dari Kota Tarakan menuju Kabupaten Tana Tidung, yaitu Rute Tarakan – Sesayap, Tarakan – Bebatu, Tarakan – Menjelutung, Tarakan – Sengkong, Tarakan - Tideng Pale.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bermaksud untuk menjawab dua pertanyaan terkait dengan Kebijakan pengelolaan sampah di kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung. Pertama bagaimana peraturan kebijakan tentang pengelolaan sampah di Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidurng ? kedua bagaimana partisipasi masyarakat dalam program perencanaan pengelolaan bank sampah di Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung? Skripsi ini merupakan penelitian normatif dengan menggunakan objek kajian mengenai kebijakan pengelolaan sampah di Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung. Penelitian ini menggunakan pendekatan ketentuan hukum, yakni peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sampah. Data yang digunakan dalam skripsi ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data priemer yaitu data yang didapatkan melalui norma-norma dasar seperti Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Data sekunder diperoleh dari buku, jurnal,artikel, data-data dari internet. Hasil dari penelitian ini, Penulis menyimpulkan bahwa Kebijakan pengelolaan sampah di Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung secara umum sudah cukup berjalan dengan baik namun belum optimal. Hal tersebut dikarenakan masih terdapatnya sejumlah hambatan yang mengganggu jalannya kebijakan pengelolaan sampah tersebut didukung oleh sejumlah faktor yang mempengaruhi kebijakan tersebut. faktor-faktor tersebut adalah faktor komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi dan Partisipasi masyarakat yang kurang dalam mewujudkan kebijakan otonomi daerah terhadap pelayanan publik bidang persampahan. Hal ini merupakan salah satu kendala terbesar yang dialami oeleh Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Tana Tidung dalam mewujudkan kabupaten yang bersih dan sehat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sero (guiding barrier) merupakan alat tangkap ikan yang sifatnya menetap di daerah penangkapan (fishing ground). Hasil tangkapan guiding barrier di Perairan Muara Sesayap Kalimantan Utara mempunyai kelimpahan yang tinggi dalam jenis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan komposisi hasil tangkapan menggunakan alat tangkap Sero, meliputi kelimpahan hasil tangkapan, komposisi jenis dan ukuran hasil tangkapan alat tangkap Sero di Perairan Muara Sesayap Kalimantan Utara. Penelitian telah dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif selama 3 kali pengambilan sampel (sampling) dalam 2 bulan. Hasil identifikasi selama penelitian didapatkan sebanyak 30 spesies sebanyak 2.112 ekor dengan berat 112,688 kg. Hasil tangkapan Sero meliputi hasil tangkapan utama (HTU) sebesar 10%, hasil tangkapan sampingan (HTS) sebesar 70% dan hasil tangkapan buangan (HTB) sebesar 20%. Komposisi ukuran yang didapatkan pada ikan kakap putih (Lates sp) yaitu berkisar antara 13,5-29,3 cm dan memiliki 6 kelas, didominasi oleh ukuran 21,78-24,53 cm. Kisaran ukuran pada ikan kakap merah (Lutjanus sp) yaitu berkisar antara 9-31 cm dan memiliki 6 kelas, dominan pada kisaran ukuran 12,67-16,33 cm. Kisaran ukuran pada ikan bawal putih (Pampus sp) yaitu berkisar antara 13-16,5 cm dan memiliki 2 kelas dengan kisaran ukuran pada kelas pertama yaitu 13,0-14,75 cm dan pada kelas kedua yaitu berkisar 14,76-16,51 cm, kisaran ukuran yang didapatkan menunjukkan bahwa spesies yang tertangkap termasuk kedalam katagori yuwana.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Udang galah merupakan spesies air payau, memiliki rasa yang enak dan gurih, serta nilai ekonomis yang tinggi dan sangat digemari oleh masyarakat pada umumnya. Udang galah merupakan hasil tangkapan utama nelayan Desa Sesayap dan ketersediannya melimpah di habitat alaminya yaitu Perairan Sungai Sesayap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, faktor kondisi dan perbandingan rasio kelamin M. Rosenbergii. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung di lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling berdasarkan daerah tangkapan nelayan, yang menggunakan alat tangkap jaring jala. Penelitian ini dilakukan pada bulan September - November 2020 di Perairan Sungai Desa Sesayap. Hasil penelitian didapatkan hasil tangkapan udang galah 237 ekor dimana jantan sebanyak 71 ekor dan betina 166 ekor. Rasio kelamin M. Rosenbergii jantan dan betina adalah 1:2,1. Berdasarkan hubungan panjang dan berat M. Rosenbergii jantan memiliki pertumbuhan yang bersifat Allometrik positif yaitu pertumbuhan berat lebih cepat dibandingkan panjangnya dan betina memiliki pertumbuhan bersifat Allometrik Negatif dimana pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan bobotnya. Hasil analisis data faktor kondisi terhadap bentuk tubuh udang galah terdapat beberapa variasi di setiap pengambilan sampel udang galah jantan dan betina, yaitu didapatkan hasil keseluruhanya diataranya, kurus 56%, proposional 3%, gemuk 42%. Korelasi dari hubungan panjang berat yang didapatkan antara udang jantan dan betina yaitu kuat
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
natural enemies' potential as natural controller in sesayap DAS area of Tana Tidung district must be investigated. the purpose of this study was to identify the most common form of natural enemy and the relationship between natural enemies and rice farming locations in the DAS Sesayap, particularly in tana tidung regency. data was collected from tideng pale, gunawan, sesayap hilir, rian, and tana merah. traps, swing nets, and yellow tray traps were used to sample each place five times. the results revealed that the insect group's natural enemies included 32 families, 44 genera, 44 species, and 836 individuals there were 11 families 12 genera, 13 species , and 347 individual species in the araneae family. delichoderus taschenbergi (24,7%) was the most numerous predatory insect species, followed by chlaenius nigricans (19,9%) and anoplolepis gracilipes (17,8%). predator natural adversaries were frequently linked to gunawan and rian's places. meanwhile, the site of bandan bikis had a corellations with parasitoid natural enemies. furthermore, natural enemies had a weaker relationship with the tana merah and tideng pale places than with other sites.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengetahuan tentang data hama dan penyakit tanaman padi merupakan bagian penting dari strategi pengendalian organisme pengganggu tersebut (OPT). Penelitian ini bertujuan; (1) mengetahui jenis hama dan penyakit yang dominan pada tanaman padi, serta upaya pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi di wilayah DAS Sesayap, khususnya Kabupaten Tana Tidung. Lokasi pengambilan data di Tideng Pale, Gunawan, Sesayap Hilir, Rian, dan Tana Merah. Tiap-tiap lokasi dilakukan pengambilan sampel sebanyak 5 (lima) titik dengan menggunakan perangkap jebak, perangkap nampan kuning, dan wawancara. Serta, pengamatan langsung terhadap gejala penyakit dan pengelolaan OPT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 spesies hama kelompok insekta, 4 hama non insekta, dan 2 gejala penyakit. Nilai indeks kekayaan (R), kemerataan (E), dan keankeragaman (H’) hama insekta tertinggi di lokasi Gunawan (R=2.74., E=0.84, dan H’=2.27). Indeks kesamaan menunjukkan Tideng Pale dan Gunawan memiliki kesamaan komposisi spesies tertinggi (100%). Spesies Leptocorisa oratoria (walang sangit) dan Arphia conspersa (belalang) memiliki hubungan erat dengan habitat di Tideng Pale dan Gunawan. Penyakit tanaman bercak coklat tertinggi di Tana Merah, dengan nilai intensitas kerusakan tidak mutlak sebesar 79.2%. Selanjutnya, pengelolaan dilakukan dengan pemilihan benih, pemupukan, pengaturan jarak tanam, dan penggunaan pestisida yang masih bertumpu pada penggunaan pestisida sintetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•
Perikanan tugu merupakan perikanan tangkap yang memiliki nilai penting bagi produktifitas perikanan tangkap di Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan komposisi dan kelimpahan jenis ikan hasil tangkapan pada perikanan tugu Kabupaten Tana Tidung pengumpulan data sebanyak 4 kali dalam 2 bulan, dimana tiap sebulannya dilakukan sebanyak 2 kali sampling berlokasi di perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap komposisi dan kelimpahan jenis ikan hasil tangkapan tugu didapatkan 16 jenis biota yang tertangkap. Kelimpahan tertinggi dari Macrobrachium lanchesteri., dengan nilai 62,84 %, spesies dengan kelimpahan terendah yaitu Toxotes microlepis dengan nilai rata-rata 1,37 %. Biota tersebut mendiami perairan Sungai Sesayap secara temporal dan permanen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas perairan Sungai Sesayap di Kacamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau dengan parameter yang diukur adalah suhu, salinitas, kecerahan, kekeruhan, pH, DO, BOD, COD dan amonia. Penelitian dilakukan selama 1 bulan tepatnya pada bulan Desember tahun 2019 dengan 4 kali pengambilan sampel air ke lokasi penelitian. Penelitian yang dirancang menggunakan metode purpossive sampling, kemudian dilakukan dengan analisis secara deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Hasil penelitian yang dilakukan diketiga stasiun yang berbeda di Sungai Sesayap Kecamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau diperoleh bahwa suhu 26-28 oC, salinitas 0 ppt, kekeruhan 126-309 NTUs, kecerahan 9,20-16,60 cm, pH 6,59-7,14, DO 5,35-5,77 mg/L, COD 160-549 mg/L, BOD 1,39-2,22 mg/L dan Amonia 0,10-0,21 mg/L. Berdasarkan baku mutu menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, semua karameter kualitas air yang diukur masih memenuhi standar baku mutu yang dipersyaratkan atau masih tergolong baik.