Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
Rancang Bangun Penggunaan Turbin Angin Heliks Vertical Sebagai Sumber Energi Alternatif PJU (Penerangan Jalan Umum) Kota Tarakan
Rancang Bangun Penggunaan Turbin Angin Heliks Vertical Sebagai Sumber Energi Alternatif PJU (Penerangan Jalan Umum) Kota Tarakan
Peningkatan kebutuhan listrik mendorong pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya energi angin. Penelitian ini bertujuan merancang, membuat, dan menguji prototipe turbin angin heliks sumbu vertikal sebagai energi alternatif Penerangan Jalan Umum (PJU) di Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah rancang bangun eksperimental yang mencakup perancangan mekanik-kelistrikan, pembuatan prototipe, serta pengujian lapangan (Jalan Mulawarman dan Jalan Aki Balak) dan laboratorium. Hasil pengujian menunjukkan bahwa di Jalan Mulawarman (kecepatan angin rata-rata 2,17 m/s) dihasilkan putaran 108,91 rpm dan daya rata-rata 0,01 W. Sementara di Jalan Aki Balak (kecepatan angin rata-rata 2,44 m/s) dihasilkan putaran 150,73 rpm, daya rata-rata 0,0238 W, dan daya puncak 0,0595 W. Pada pengujian laboratorium, daya tertinggi yang terukur adalah 0,1265 W pada kecepatan angin 4,6 m/s. Prototipe ini terbukti mampu mengonversi energi angin menjadi listrik, namun daya keluarannya belum memadai untuk menyuplai PJU secara mandiri. Pengembangan selanjutnya memerlukan optimasi pada rotor, transmisi, generator, pengontrol pengisian, serta integrasi hibrida angin-surya.
Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. R Di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan pelayanan yang diberikan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana (KB) untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi secara dini. Laporan ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. R usia 25 tahun G1P0A0 di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan dengan pendekatan Continuity of Care (COC). Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care. Asuhan dilakukan secara berkesinambungan sejak kehamilan usia 37 minggu 5 hari, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi literatur yang didokumentasikan menggunakan metode SOAP. Hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik. Pada proses persalinan ditemukan ketuban pecah dini sehingga dilakukan rujukan ke rumah sakit dan persalinan berlangsung secara sectio caesarea. Bayi lahir hidup berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 2.900 gram dan panjang badan 47 cm. Masa nifas berlangsung normal tanpa komplikasi, proses involusi uterus berjalan baik, dan pemberian ASI berlangsung lancar. Bayi baru lahir dalam kondisi sehat dengan pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia. Pada pelayanan keluarga berencana, Ny. R memilih kontrasepsi implant sebagai metode KB pascasalin. Kesimpulan dari asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. R menunjukkan bahwa pelayanan Continuity of Care dapat terlaksana dengan baik mulai dari kehamilan hingga keluarga berencana. Pelayanan yang berkesinambungan membantu pemantauan kondisi ibu dan bayi secara optimal serta mendukung deteksi dini komplikasi.
Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. R Di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan pelayanan yang diberikan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana (KB) untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi secara dini. Laporan ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. R usia 25 tahun G1P0A0 di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan dengan pendekatan Continuity of Care (COC). Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care. Asuhan dilakukan secara berkesinambungan sejak kehamilan usia 37 minggu 5 hari, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi literatur yang didokumentasikan menggunakan metode SOAP. Hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik. Pada proses persalinan ditemukan ketuban pecah dini sehingga dilakukan rujukan ke rumah sakit dan persalinan berlangsung secara sectio caesarea. Bayi lahir hidup berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 2.900 gram dan panjang badan 47 cm. Masa nifas berlangsung normal tanpa komplikasi, proses involusi uterus berjalan baik, dan pemberian ASI berlangsung lancar. Bayi baru lahir dalam kondisi sehat dengan pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia. Pada pelayanan keluarga berencana, Ny. R memilih kontrasepsi implant sebagai metode KB pascasalin. Kesimpulan dari asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. R menunjukkan bahwa pelayanan Continuity of Care dapat terlaksana dengan baik mulai dari kehamilan hingga keluarga berencana. Pelayanan yang berkesinambungan membantu pemantauan kondisi ibu dan bayi secara optimal serta mendukung deteksi dini komplikasi.
Peran Kelompok Masyarakat Konservasi Mandiri dalam Pelestarian Hutan Mangrove di Kelurahan Kampung Empat
Peran Kelompok Masyarakat Konservasi Mandiri dalam Pelestarian Hutan Mangrove di Kelurahan Kampung Empat
Analisis Pengaruh Elektroda Pengelasan SMAW Pada Sambungan Las Material Baja Karbon Rendah Terhadap Kekuatan Tarik Dan Metalografi
.
Analisis Pengaruh Elektroda Pengelasan SMAW Pada Sambungan Las Material Baja Karbon Rendah Terhadap Kekuatan Tarik Dan Metalografi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi elektroda pada proses pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) terhadap sifat mekanik dan karakteristik struktur mikro baja karbon rendah. Fokus penelitian diarahkan pada perbandingan kinerja elektroda E7016 dan E7018 yang banyak diaplikasikan dalam industri konstruksi dan manufaktur. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan material baja karbon rendah berketebalan 8 mm. Proses pengelasan dilakukan menggunakan kampuh V tunggal dengan sudut 60° pada posisi datar (1G) dan arus pengelasan sebesar 90 Ampere. Pengujian hasil las meliputi pengujian tidak merusak (Non-Destructive Test) menggunakan metode liquid penetrant untuk mendeteksi cacat permukaan, serta pengujian merusak (Destructive Test) berupa uji tarik berdasarkan standar ASTM A370-23 dan uji metalografi untuk mengamati struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi elektroda berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik sambungan las. Elektroda E7016 menghasilkan nilai kekuatan tarik rata-rata sebesar 135 MPa, lebih tinggi dibandingkan elektroda E7018 yang memperoleh rata-rata 117 MPa. Hasil uji penetran menunjukkan adanya cacat minor berupa porositas dan undercut pada kedua spesimen, namun masih dalam batas toleransi yang diizinkan. Pengamatan metalografi memperlihatkan perubahan ukuran butir pada daerah weld metal dan Heat Affected Zone (HAZ) yang cenderung lebih kasar dibandingkan base metal akibat siklus termal selama proses pengelasan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk aplikasi yang memprioritaskan kekuatan tarik pada baja karbon rendah dengan parameter pengelasan yang digunakan dalam penelitian ini, elektroda E7016 lebih direkomendasikan.
Rancang Bangun Alat Pemanen Sarang Walet Berpenggerak Motor Listrik DC 12 Volt
Pemanenan sarang walet secara manual masih banyak dilakukan dan memiliki kelemahan seperti resiko keselamatan kerja, waktu panen yang lama, serta potensi kerusakan sarang. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat alat pemanen sarang walet berpenggerak motor listrik DC 12 Volt, serta menguji performanya dari segi mekanik, konsumsi energi, dan efektivitas panen. Metode yang digunakan adalah rancang bangun dengan tahapan studi literatur, desain, pemilihan material, perakitan, dan pengujian di lapangan. Alat menggunakan motor DC tipe 5840-31ZY dengan transmisi poros engkol, rangka aluminium, baterai lithium-ion 9,4 Ah, serta sistem kendali PWM. Hasil uji menunjukkan motor menghasilkan torsi 1,33 N·m dengan gaya 2,89 N, lebih besar dari gaya lekat sarang walet (2,1–2,8 N). Baterai mampu menyuplai energi selama 8,54 jam dan alat berhasil memanen sarang dengan tingkat keberhasilan 100% tanpa kerusakan. Dengan demikian, alat ini layak digunakan sebagai alternatif modern yang efisien, ergonomis, dan aman.
Rancang Bangun Alat Pemanen Sarang Walet Berpenggerak Motor Listrik DC 12 Volt
Pemanenan sarang walet secara manual masih banyak dilakukan dan memiliki kelemahan seperti risiko keselamatan kerja, waktu panen yang lama, serta potensi kerusakan sarang. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat alat pemanen sarang walet berpenggerak motor listrik DC 12 Volt, serta menguji performanya dari segi mekanik, konsumsi energi, dan efektivitas panen. Metode yang digunakan adalah rancang bangun dengan tahapan studi literatur, desain, pemilihan material, perakitan, dan pengujian di lapangan. Alat menggunakan motor DC tipe 5840-31ZY dengan transmisi poros engkol, rangka aluminium, baterai lithium-ion 9,4 Ah, serta sistem kendali PWM. Hasil uji menunjukkan motor menghasilkan torsi 1,33 N·m dengan gaya 2,89 N, lebih besar dari gaya lekat sarang walet (2,1–2,8 N). Baterai mampu menyuplai energi selama 8,54 jam dan alat berhasil memanen sarang dengan tingkat keberhasilan 100% tanpa kerusakan. Dengan demikian, alat ini layak digunakan sebagai alternatif modern yang efisien, ergonomis, dan aman.
Efektivitas Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Perkembangan Motorik Kasar Anak Prasekolah Di Kota Tarakan
Efektivitas Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Perkembangan Motorik Kasar Anak Prasekolah Di Kota Tarakan
RANCANG BANGUN POROS ENGKOL SEBAGAI TRANSMISI PADA WAVE TANK SKALA LABORATORIUM
Wave tank merupakan perangkat laboratorium untuk mengamati perilaku gelombang permukaan. Dalam pengembangan wave tank skala laboratorium poros engkol sebagai transmisi menjadi solusi untuk memperbaiki sistem penggerak yang suda ada namun gerakan yang dihasilkan kurang maksimal. Tujuan penelitian dapat membuat dan menghitung transmisi poros engkol yang dapat menghasilkan gerakan gelombang yang baik pada wave tank skala laboratorium dengan menggunakan metode penelitian secara eksperimental. Poros engkol yang dibuat berdiameter 12 cm dengan ketebalan 3 mm menggunakan bahan plat baja dengan berat 0,2 kg dengan jari-jari lubang disk poros engkol 2 cm. Gaya total yang dihasilkan dari transmisi poros engkol adalah 12,11 N, dengan torsi sebesar 0,24 N.m yang menunjukkan bahwa poros engkol dapat dengan mudah diputar oleh motor dan menghasilkan rotasi yang stabil. Gelombang yang dihasilkan dengan rata-rata tinggi gelombang 3,2 cm pada jarak 50 cm, 2,8 cm pada jarak 70 cm, dan 2,6 cm pada jarak 90 cm. Panjang gelombang yang dihasilkan juga menunjukkan variasi, dengan rata-rata 34,6 cm pada jarak 50 cm, 35 cm pada jarak 70 cm, dan 33,4 cm pada jarak 90 cm. Penurunan tinggi dan panjang gelombang ini mengindikasikan bahwa energi gelombang mengalami penurunan saat merambat melalui air.
RANCANG BANGUN POROS ENGKOL SEBAGAI TRANSMISI PADA WAVE TANK SKALA LABORATORIUM
Wave tank merupakan perangkat laboratorium untuk mengamati perilaku gelombang permukaan. Dalam pengembangan wave tank skala laboratorium poros engkol sebagai transmisi menjadi solusi untuk memperbaiki sistem penggerak yang suda ada namun gerakan yang dihasilkan kurang maksimal. Tujuan penelitian dapat membuat dan menghitung transmisi poros engkol yang dapat menghasilkan gerakan gelombang yang baik pada wave tank skala laboratorium dengan menggunakan metode penelitian secara eksperimental. Poros engkol yang dibuat berdiameter 12 cm dengan ketebalan 3 mm menggunakan bahan plat baja dengan berat 0,2 kg dengan jari-jari lubang disk poros engkol 2 cm. Gaya total yang dihasilkan dari transmisi poros engkol adalah 12,11 N, dengan torsi sebesar 0,24 N.m yang menunjukkan bahwa poros engkol dapat dengan mudah diputar oleh motor dan menghasilkan rotasi yang stabil. Gelombang yang dihasilkan dengan rata-rata tinggi gelombang 3,2 cm pada jarak 50 cm, 2,8 cm pada jarak 70 cm, dan 2,6 cm pada jarak 90 cm. Panjang gelombang yang dihasilkan juga menunjukkan variasi, dengan rata-rata 34,6 cm pada jarak 50 cm, 35 cm pada jarak 70 cm, dan 33,4 cm pada jarak 90 cm. Penurunan tinggi dan panjang gelombang ini mengindikasikan bahwa energi gelombang mengalami penurunan saat merambat melalui air.
TINJAUAN HUKUM ASAS DOMINUS LITIS JAKSA SEBAGAI PENGUASA PERKARA TERHADAP KEKUASAAN PENUNTUTAN TINDAK PIDANA KORUPSI OLEH KPK
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan terkait Asas Dominus Litis Jaksa sebagai penguasa perkara terhadap penuntutan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap tindak pidana korupsi di Indonesia. Pertama tentang masalah eksistensi hukum yang menanungi kewenangan KPK dalam melakukan penuntutan tindak pidana korupsi dimana sudah terdapat lembaga Kejaksaan yang dapat melakukan penuntutan terhadap perkara yang sama, batasan-batasan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang diubah dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Kedua tentang asas Dominus Litis yang berarti bahwa Kejaksaan merupakan satu-satunya lembaga yang dapat melakukan penuntutan, namun terdapat lembaga yang dapat melakukan penuntutan dalam hal tindak pidana korupsi serta perbandingan cara kerja lembaga anti korupsi serupa di negara yang lain dan Indonesia. Skripsi ini menggunakan metode penelitian normatif yang menggunakan kajian, riset, analisis terhadap teori-teori yang dikemukakan, serta kajian terhadap peraturan perundang-undangan. Kajian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan: pertama tentang kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dalam hal melakukan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi disamping adanya Kejaksaan serta wewenang supervisi yang dimiliki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam hal dapat mengambil alih kasus korupsi yang sedang dikerjakan oleh Kejaksaan yang dimana hal tersebut diketahui melanggar asas Dominus Litis Kejaksaan sebagai satu-satunya lembaga yang dapat melakukan penuntutan yang dianggap tidak sesuai dengan system hukum yang berlaku di Indonesia.
TINJAUAN HUKUM ASAS DOMINUS LITIS JAKSA SEBAGAI PENGUASA PERKARA TERHADAP KEKUASAAN PENUNTUTAN TINDAK PIDANA KORUPSI OLEH KPK
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan terkait Asas Dominus Litis Jaksa sebagai penguasa perkara terhadap penuntutan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap tindak pidana korupsi di Indonesia. Pertama tentang masalah eksistensi hukum yang menanungi kewenangan KPK dalam melakukan penuntutan tindak pidana korupsi dimana sudah terdapat lembaga Kejaksaan yang dapat melakukan penuntutan terhadap perkara yang sama, batasan-batasan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang diubah dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Kedua tentang asas Dominus Litis yang berarti bahwa Kejaksaan merupakan satu-satunya lembaga yang dapat melakukan penuntutan, namun terdapat lembaga yang dapat melakukan penuntutan dalam hal tindak pidana korupsi serta perbandingan cara kerja lembaga anti korupsi serupa di negara yang lain dan Indonesia. Skripsi ini menggunakan metode penelitian normatif yang menggunakan kajian, riset, analisis terhadap teori-teori yang dikemukakan, serta kajian terhadap peraturan perundang-undangan. Kajian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan: pertama tentang kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dalam hal melakukan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi disamping adanya Kejaksaan serta wewenang supervisi yang dimiliki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam hal dapat mengambil alih kasus korupsi yang sedang dikerjakan oleh Kejaksaan yang dimana hal tersebut diketahui melanggar asas Dominus Litis Kejaksaan sebagai satu-satunya lembaga yang dapat melakukan penuntutan yang dianggap tidak sesuai dengan system hukum yang berlaku di Indonesia.
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI IKAN LAIS (Kryptopterus limpok) DI SUNGAI KAYAN KECAMATAN PESO, KABUPATEN BULUNGAN
Aliran sungai Kayan di Provinsi Kalimantan Utara memiliki panjang sekitar 23.000 km. Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh sungai Kayan. Penelitian ini mengenai hubungan panjang-berat dan faktor kondisi ikan Lais yang merupakan salah satu sumberdaya ikan yang hidup di sungai ini. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari pada bulan Agustus 2020. Jumlah sampel ikan 55 ekor. Hubungan panjang-berat ikan memenuhi persamaan W=0,0102.L2,69 yang menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif. Koefisien determinasi dari persamaaan ini adalah R²=0,98 yang berarti bahwa 56% berat ikan dapat diprediksi berdasarkan panjangnya dan sebaliknya. Faktor kondisi ikan berkisar antara 0,936 dengan nilai rata-rata 1,002 yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan masih baik dan memberi makanan yang cukup bagi ikan Lais.
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI IKAN LAIS (Kryptopterus limpok) DI SUNGAI KAYAN KECAMATAN PESO, KABUPATEN BULUNGAN
Aliran sungai Kayan di Provinsi Kalimantan Utara memiliki panjang sekitar 23.000 km. Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh sungai Kayan. Penelitian ini mengenai hubungan panjang-berat dan faktor kondisi ikan Lais yang merupakan salah satu sumberdaya ikan yang hidup di sungai ini. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari pada bulan Agustus 2020. Jumlah sampel ikan 55 ekor. Hubungan panjang-berat ikan memenuhi persamaan W=0,0102.L2,69 yang menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif. Koefisien determinasi dari persamaaan ini adalah R²=0,98 yang berarti bahwa 56% berat ikan dapat diprediksi berdasarkan panjangnya dan sebaliknya. Faktor kondisi ikan berkisar antara 0,936 dengan nilai rata-rata 1,002 yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan masih baik dan memberi makanan yang cukup bagi ikan Lais.
PENGARUH PENGETAHUAN PRIBADI, PROSEDUR KERJA DAN TEKNOLOGI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. PERTAMINA TARAKAN DAN BUNYU FIELD
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan pribadi, prosedur kerja dan teknologi terhadap kinerja karyawan PT. Pertamina Tarakan dan Bunyu Field Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya pengetahuan pribadi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, prosedur kerja tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan dan teknologi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Slovin, dan didapatkan 173 orang responden dari jumlah populasi sebanyak 300 orang karyawan PT. Pertamina Tarakan dan Bunyu field. Untuk uji hipotesis digunakan model regresi linier berganda dan uji t. Metode analisis menggunakan alat analisis dengan bantuan program SPSS versi 22.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan pribadi berpengaruh positif dan signifikan, prosedur kerja tidak berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan dan teknologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan