ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik optik sampel larutan melalui variasi konsentrasi menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada rentang panjang gelombang 350–800 nm. Variasi tingkat konsentrasi yang diuji meliputi pengenceran 1/2, 1/5, dan 1/10 untuk mengetahui pengaruhnya terhadap nilai absorbansi dan profil spektrum sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi sampel berbanding lurus dengan penurunan nilai absorbansi, yang mengonfirmasi validitas Hukum Beer-Lambert. Spektrum absorbansi pada pengenceran tertinggi (1/2) menunjukkan resolusi puncak spesifik (peak) yang optimum pada wilayah cahaya tampak (visible) dengan panjang gelombang maksimum berada pada rentang 550–600 nm dan nilai absorbansi sekitar 0,2. Seiring dengan meningkatnya faktor pengenceran pada sampel 1/5 dan 1/10, puncak spesifik tersebut mengalami degradasi dan melandai akibat konsentrasi analit yang mendekati batas deteksi instrumen (Limit of Detection). Dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi pengenceran 1/2 merupakan kondisi optimum untuk karakterisasi dan analisis kuantitatif sampel ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Simpang APILL Jl. Yos Sudarso – Jl. DR. Sutomo merupakan salah satu jalur penghubung pergerakan arus kendaraan Kota Tarakan, persimpangan ini menunjang arus lalu lintas yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan non-industri disekitarnya sehingga tingkat aktivitas disepanjang ruas jalan ini cukup tinggi. Tundaan yang terjadi akibat APILL di ruas jalan simpang tersebut khususnya pada sisi utara menyebabkan antrian kendaraan terutama pada saat jam puncak. Karakteristik lalu lintas berupa volume dan kecepatan kendaraan diamati langsung dari lokasi studi kasus, kemudian dianalisis nilai kepadatannya agar membentuk pemodelan hubungan matematis Greenshields. Hasil persamaan nilai koefisien determinasi (R2) pada sebelum APILL sebesar 0,534 dan setelah APILL sebesar 0,505 untuk menganalisis karakteristik gelombang kejut yang terbentuk. Dari pemodelan hubungan matematis diperoleh nilai volume maksimum (VM), kecepatan maksimum (SM) dan kepadatan maksimum (DM) untuk kondisi sebelum APILL VM = 969,561 smp/jam; SM = 11,743 km/jam; Dm = 82,567 smp/km dan pada kondisi setelah APILL VM= 1078,298 smp/jam; SM = 16,571 km/jam; DM = 65,073 smp/km. Perolehan analisis nilai gelombang kejut pada kondisi sebelum APILL yaitu gelombang kejut mundur bentukan ωAB = -8,681 km/jam, gelombang kejut mundur pemulihan ωCB = -11,743 km/jam, gelombang kejut maju pemulihan ωAC = 3,058 km/jam, serta panjang antrian maksimum (QM) sepanjang 453,126 meter dengan waktu penormalan selama 394,515 detik dan kondisi setelah APILL yaitu gelombang kejut mundur bentukan ωAB = -9,902 km/jam, gelombang kejut mundur pemulihan ωCB = -16,571 km/jam, gelombang kejut maju pemulihan ωAC = 6,667 km/jam, serta panjang antrian maksimum (QM) sepanjang 334,914 meter dengan waktu penormalan selama 108,098 detik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Wave tank merupakan perangkat laboratorium untuk mengamati perilaku gelombang permukaan. Dalam pengembangan wave tank skala laboratorium poros engkol sebagai transmisi menjadi solusi untuk memperbaiki sistem penggerak yang suda ada namun gerakan yang dihasilkan kurang maksimal. Tujuan penelitian dapat membuat dan menghitung transmisi poros engkol yang dapat menghasilkan gerakan gelombang yang baik pada wave tank skala laboratorium dengan menggunakan metode penelitian secara eksperimental. Poros engkol yang dibuat berdiameter 12 cm dengan ketebalan 3 mm menggunakan bahan plat baja dengan berat 0,2 kg dengan jari-jari lubang disk poros engkol 2 cm. Gaya total yang dihasilkan dari transmisi poros engkol adalah 12,11 N, dengan torsi sebesar 0,24 N.m yang menunjukkan bahwa poros engkol dapat dengan mudah diputar oleh motor dan menghasilkan rotasi yang stabil. Gelombang yang dihasilkan dengan rata-rata tinggi gelombang 3,2 cm pada jarak 50 cm, 2,8 cm pada jarak 70 cm, dan 2,6 cm pada jarak 90 cm. Panjang gelombang yang dihasilkan juga menunjukkan variasi, dengan rata-rata 34,6 cm pada jarak 50 cm, 35 cm pada jarak 70 cm, dan 33,4 cm pada jarak 90 cm. Penurunan tinggi dan panjang gelombang ini mengindikasikan bahwa energi gelombang mengalami penurunan saat merambat melalui air.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengembangan gelombang laut sebagai sumber energi dalam mengamati fenomena gelombang adalah wave tank. Wave tank merupakan alat yang digunakan untuk mempelajari karakteristik gelombang, baik untuk kepentingan akademik maupun pengembangan teknologi pemanfaatan energi laut. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat merancang wave tank skala laboratorium dan dapat menganalisis gelombang yang dihasilkan wave tank skala laboratorium dengan pembuat gelombang model exciter. Motode penelitian yang digunakan adalah merancang dan membuat alat. Rancang bangun menghasilkan ukuran exciter panjang 30 cm, lebar 7 cm, tinggi 13 cm. Wave tank model exciter membutuhkan 163,6 watt daya listrik dan putaran motor listrik 159 rpm. Pengukuran tinggi dan panjang gelombang dilakukan pada tiga titik berbeda, yaitu pada jarak 50 cm, 70 cm, dan 90 cm, dengan volume air sebesar 50% dari kapasitas total tangki. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tinggi gelombang tertinggi diperoleh pada titik 50 cm dengan 3,2 cm, sementara panjang gelombang terpanjang pada titik 70 tercatat sebesar 33 cm dengan volume air 50%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Peluang pemanfaatan energi gelombang laut sangat besar di Indonesia, mengingat Indonesia memiliki wilayah lautan yang besar. Salah satu upaya untuk memanfaatkan gelombang laut tersebut adalah membuat media yang dapat menjadi sarana dan prasarana dalam pemanfaatan gelombang laut tersebut. Pada penelitian ini dilakukan rancang bangun bangun wave tank model flap skala laboratorium. Wave tank adalah alat simulasi pembuat gelombang skala laboratorium yang digunakan untuk mengamati perilaku gelombang. Wave tank dapat meminimalisir pengunaan waktu dan biaya dalam pengembangan teknologi yang menggunakan gelombang laut sebagai sumber energinya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui cara merancang bangun serta mengetahui berapa panjang dan tinggi gelombang yang tercipta pada wave tank model flap skala laboratorium. Wave tank model flap skala laboratorium ini memiliki ukuran 150 cm x 35 cm x 35 cm dan menggunakan motor listrik dengan daya 200 watt. Wave tank membutuhkan 22 watt daya listrik dan putaran motor listrik sebesar 120 rpm. Tinggi dan panjang maksimal dari gelombang yang dihasilkan dari wave tank model flap skala laboratorium adalah dengan panjang dan tinggi 4 cm dan 36 cm dengan volume 15% air dari kapasitas penuh dari tangki.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Wave tank merupankan alat pembuat ombak skala laboratorium serta digunakan sebagai wadah penampung air dengan ukuran 150 cm x 35 cm x 35 cm. Jenis wave tank yang digunakan untuk pembuat ombak adalah wave tank model piston dan wave tank model flap. Dengan adanya wave tank yang telah dirancang maka penulis melakukan penelitian yang berjudu “analisis karakteristik gelombang pada wave tank dengan variasi rpm” penelitian ini bertujuan untuk mengukur tinggi dan panjang gelombang yang terbentuk pada tiga titik pengukuran yaitu, 40 cm, 60 cm, 100 cm dan 3 variasi rpm. Dari hasil penelitian menggunakan wave tank model piston diperoleh hasil terbaik, yaitu tinggi gelombang 2,5 cm dan panjang gelombang 23 cm. Hasil tersebut diperoleh pada titik pengukuran 40 cm dan menggunakan putaran mesin 192 rpm. Pada wave tank model flap diperoleh hasil terbaik yaitu, tinggi gelombang 1,8 cm dan panjang gelombang 30 cm. Tinggi gelombang terbaik pada wave tank model flap diperoleh pada titik pengukuran 40 cm dan menggunakan putaran mesin 12 rpm, sedangkan panjang gelombang terbaik diperoleh pada titik pengukuran 60 cm dan 100 cm dengan putaran mesin 12 rpm. Berdasarkan perbandingan tinggi gelombang dan panjang gelombang terbaik yang diperoleh pada masing-masing wave tank, dapat disimpulkan bahwa wave tank model piston lebih baik dibandingkan wave tank model flap dalam hal menghasilkan tinggi gelombang. Sebaliknya, dalam hal panjang gelombang, wave tank model flap lebih baik dibanding wave tank model piston.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Wave tank (tangki gelombang) merupakan pengaturan laboratorium untuk mengamati perilaku gerakan gelombang buatan. Wave tank ini belum bisa menghasilkan energi listik tetapi sebagai simulator pergerakan gelombang laut dan bisa dikembangkan lagi sampai menghasilkan energi gelombang (WEC). Dengan dasar inilah penulis mencoba untuk membuat wave tank skala laboratorium dengan pembuat ombak model piston yang dimana hasil rancangan ini hanya sebagai simulator gelombang laut saja. Dengan adanya wave tank ini dapat memudahkan peneliti selanjutnya untuk dikembangkan sampai menghasilkan energi listrik (WEC). Tujuan dari penelitian ini ialah dapat merancang wave tank skala laboratorium dan dapat menganalisis tinggi gelombang dan panjang gelombang yang dihasilkan pada wave tank skala laboratorium dengan pembuat ombak model piston. Metode penelitian yang digunakan ialah perancangan teknik. Rancang bangun menghasilkan ukuran rangka dengan panjang 155 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 122 cm, dengan ukuran aquarium yang digunakkan yaitu panjang 150 cm, lebar 35 cm, dan tinggi 35 cm. Tenaga motor listrik ialah 200 watt sedangkan wave tank membutuhkan 66 watt untuk menggerakan wavemaker dengan volume air 30% dari volume total aquarium. Jenis penggerak yang digunakan yaitu model piston dengan satu kecepatan saja yang diatur oleh dimmer. Hasil pengambilan data tinggi gelombang yang dihasilkan bervariasi mulai dari 1,1 cm – 2,5 cm sedangkan untuk pengambilan data panjang gelombang yang dihasilkan bervariasi juga mulai dari 10,5 cm – 20,5 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Pulau Bunyu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Pantai TPI (Tempat Pelelangan Ikan) salah satu pantai yang ada di Pulau Bunyu yang terletak di Desa Bunyu Selatan. Pantai TPI merupakan kawasan yang sering di datangi oleh penduduk untuk melakukan rekreasi. Menurut warga banyak pasir-pasir yang tergerus air laut. Maka perlu adanya informasi tentang karakteristik gelombang pada daerah tersebut yang dapat merusak pantai, salah satunya adalah dengan kajian karakteristik gelombang pecah. Peramalan gelombang di lakukan dengan perhitungan menggunakan metode hindcasting gelombang berdasarkan data angin kurun waktu 10 tahun dari stasiun BMKG Tarakan untuk mendapatkan periode dan tinggi gelombang. Dari hasil perhitungan gelombang di Pantai TPI Pulau Bunyu di dominasi oleh gelombang arah Timur dengan kecepatan angin maksimum terjadi pada bulan Maret 2020 dengan H = 2,765 m dan T= 6,880 det, Kr = 0,9404 – 1,0023 dan Ks = 0,913 – 1,244, Hb = 2,2 m, db = 0,4 dan Sudut = 17,2°. Pada gelombang angin dominan dengan H = 0,700 m dan T = 4,197 det, Kr = 0,8244-1,0545 dan Ks = 0,914-1,270 , Hb = 0,7 meter, db = 0,2 m dan Sudut = 28°. Pada Gelombang Rata-Rata dengan H = 0,720 m dan T = 4,391 det, Kr = 0,9190-0,9998 dan Ks = 0,914-1,270 , Hb = 0,74 meter, db = 0,2 m dan Sudut = 19°. Gelombang ini adalah gelombang yang merusak pantai karena tinggi gelombang lebih dari 1.00 meter. Kejadian ini hanya terjadi pada kondisi angin maksimum. Sedangkan pada kondisi besaran angin yang sering terjadi dan rata-rata, gelombang bersifat konstruktif atau tidak merusak pantai karena tinggi gelombang kurang dari 1.00 meter.