ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Campuran Open Graded Friction Course (OGFC) 13 memiliki kemampuan drainase yang baik, namun rentan terhadap kerusakan berupa raveling, rendahnya stabilitas, dan kehilangan aspal (draindown). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan serat daun nanas terhadap kinerja campuran dan menentukan kadar optimum serat. Metode yang digunakan meliputi eksperimen laboratorium dengan pengujian secara langsung terhadap benda uji dengan variasi kadar serat 0,25%; 0,50%; 0,75%; dan 1,00%. Pada tiap variasi kadar serat dibuat sebanyak 30 buah benda uji pada kadar aspal optimum 5,65%. Sebanyak 10 benda uji untuk pengujian raveling, 10 benda uji untuk pengujian draindown, dan 10 benda uji untuk pengujian stabilitas dan permeabilitas. Sehingga, total benda uji berjumlah 120 buah benda uji. Penelitian ini dilaksanakan dengan merujuk pada Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2025, Standar Nasional Indonesia dan Spesifikasi Australian Asphalt Pavement Association (AAPA) 1997. Penambahan serat daun nanas meningkatkan stabilitas hingga 1239,33 kg pada kadar serat 0,50%, draindown 0,07% pada kadar serat 0,25%, permeabilitas 0,41 cm/s pada kadar serat 0,50%, dan raveling 52,89% pada kadar serat 0,50%. Serat daun nanas efektif meningkatkan stabilitas, draindown, dan permeabilitas, hanya belum mampu memenuhi standar raveling. Sehingga, diperoleh kadar serat optimum pada variasi 0,50%. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi variasi panjang serat dan kadar serat disekitar nilai optimum.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kualitas mikroorganisme lokal (mol) kulit nanas dan mikroorganisme lokal (mol) limbah ikan sebagai bioaktivator dalam menguraikan limbah organik sayuran serta mengetahui mikroorganisme lokal (mol) yang lebih efektif digunakan sebagai bioaktivator dalam mempercepat proses penguraian limbah organik sayuran. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental dengan memberikan 4 perlakuan penambahan bioaktivator mol kulit nanas (P1), mol limbah ikan (P2), mol kulit nanas + mol limbah ikan (P4), serta menggunakan kontrol (P0) sebagai pengendali perlakuan. Analisis data yaitu Uji Prasyarat (Uji Normalitas dan Uji Homogenitas), Uji Hipotesis (Anova Satu Arah) dan Uji Lanjut (Duncan). Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, tekstur, warna, dan bau. Berdasarkan hasil pengamatan, kompos dengan penambahan bioaktivator mol kulit nanas membutuhkan waktu 19-21 hari untuk matang, sedangkan kompos dengan bioaktivator mol limbah ikan memerlukan waktu 23-27 hari. Uji statistik menggunakan metode One Way Analiysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat signifikansi α 0,05 menunjukkan adanya perubahan yang signifikan antara kedua jenis bioaktivator. Dari parameter yang dianalisis, kompos dengan penambahan mol kulit nanas menunjukkan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan kompos yang menggunakan mol limbah ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Pemantauan hama kumbang dapat menggunakan perangkap dan bahan pemikat (atraktan), namun ditentukan oleh berbagai faktor, misalnya jenis perangkap dan bahan pemikat, tinggi perangkap, dan ekosistem disekitar lokasi pemasangan perangkap. Penelitian ini bertujuan; (1) mendeskripsikan efektivitas penggunaan perangkap dengan berbagai ketinggian dan pemikat yang berbeda, dan (2) menguraikan faktor lainnya yang mempengaruhi efektivitas perangkap berdasarkan faktor iklim, fluktuasi, dan posisi perangkap terhadap hama kumbang tanduk yang terperangkap di areal perkebunan kelapa. Penelitian ini menggunakan metode survey terhadap 9 (sembilan) jenis perangkap yakni feromon dengan masing-masing ketinggian 1, 2, dan 3 m, dengan pemikat terdiri dari feromonas (Ethyl 4-methyloctanoate), buah nanas dan mangga kweni. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa buah nanas dan mangga kweni tidak efektif digunakan untuk memerangkap hama kumbang tanduk, sedangkan feromonas (Ethyl 4-methyloctanoate) efektif memerangkap hama kumbang tanduk. Selain itu, tinggi perangkap tidak mempengaruhi efektivitas atau kemampuan dalam memerangkap hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L.) yang terperangkap di perkebunan kelapa. Faktor lainnya yang mempengaruhi efektivitas perangkap yakni faktor iklim seperti curah hujan, cahaya matahari dan angin dapat mempengaruhi hasil tangkapan hama kumbang tanduk di areal perkebunan kelapa karena faktor-faktor tersebut mempengaruhi perilaku, siklus hidup, dan populasi kumbang tanduk, serta efektivitas perangkap yang digunakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kandungan nutrisi dalam pakan buatan vang dibutuhkan oich ikan umumnya diformulasikan dari bahan mentah nabati dan hewani secara bersama-sama untuk mencapai kandungan nutrisi yang seimbang Nanas mengandung enzim bromelin yang berfungsi memecah protein pakan menjadi asam amino sehingga mudah diserap Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kadar nutrisi pada tepung kulit nanas serta menyimpulkan kualitas kandungan nutrisi tersebut Penelitian ini menggunakan campuran antara tepung komersil dan tepung kulit nanas yaitu Perlakuan 1 85 gram TK-15 gram TKN Perlakuan 2 80 gram TK 20 gram TKN Hasıl dari penelitian ini yaitu kadar lemak terbaik pada perlakuan 2 sebesar 10,12%, kadar karbohidrat terbaik pada perlakuan 1 sebesar 36%, serta kadar air terbaik pada perlakuan 2 sebesar 4.69%. Kesimpulan danı penelitian ini adalah kandungan kadar lemak, karbohidrat serta kadar air pada tepung kulit nanas yang dicampurkan dengan pakan komersil dengan dosis masing- masing sebesar 15 gram dan 20 gram dapat dikategorikan cukup baik untuk digunakan sebagai bahan pakan ikan Kata Kunci Pakan buatan. Tepung kulit nanas, Kandungan nutrisi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakan merupakan sala satu peran penting produksi dalam kegiatan budidaya ikan. Pakan buatan merupakan pakan yang di buat dengan forulasi tertentu berdasarkan pertibangan kebutuhan nutrisi ikan (Isnawati). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam tepung kulit nanas yaitu mengetahui kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar air pada pakan yang menyimpulkan kualitas nutrisi pada suatu pakan ikan yang telah di uji. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kualitas air dan laboratorium Nutrisi, Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Berdasarkan hasil pengujian proksimat penambahan tepung kulit nanas pada pakan komersil dapat meningkatkan kadar protein dan lemak. Kadar protein mencapai 37,86%-51,41% pada campuran tepung kulit nanas dengan pakan komersil, lebih tinggi di bandingkan pakan komersil saja yang hanya 30%. sementara itu, kadar lemak pada campuran mencapai 10,2%.-10,8%, lebih tinggi dari pakan komersil saja yang hanya 6,2%. Ketiga sampel memenuhi standar SNI, untuk kadar karbohidrat minimal 15%. Namun, kadar air pada semua sampel melebihi batas maksimal 12% sesuai standar, dengan kadar air tertinggi 21%, pada campuran tepung kulit nanas dengan pakan komersil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nata merupakan hasil proses fermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum yang dapat mengubah karbohidrat menjadi selulosa. Karbohidrat dibutuhkan oleh Acetobacter xylinum untuk berkembang dengan baik hingga menjadi nata. Kulit nanas, kulit pisang dan air kelapa memiliki kandungan karbohidrat yang cukup memadai dalam pembuatan nata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh terhadap ketebalan nata, rendemen nata, kadar air dan vitamin C, untuk mengetahui perlakuan mana yang menunjukkan hasil paling optimum terhadap karakteristik nata. Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompk (RAK) dengan (3) perlakuan yaitu P1 ( kulit nanas), P2 (kulit pisang) dan P3 (air kelapa) dengan sembilan (9) pengulangan sehingga terdapat 27 satuan uni percobaan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif yaitu ketebalan nata, rendemen nata, kadar air dan kadar vitamin C, sedangkan kualitatif meliputi hasil uji organoleptik terhadap rasa, aroma, warna dan tekstur berdasarkan tingkat kesukaan 20 panelis terhadap nata Yang dihasilkan, Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan ketebalan nata Yang memiliki nilai paling tinggi adalah P3 (air kelapa) sebesar 0,98 cm, rendemen nata Yang memiliki nilai paling tinggi adalah P3 ( air kelapa) sebesar 72,44%, kadar air yang paling tinggi adalah P2 (kulit pisang) sebesar 98,72 dan vitamin C yang memiliki nilai tertinggi yaitu P1 (kulit nanas) sebesar 13,11. Sedangkan nata dengan hasil uji organoleptik paling baik yaitu pada aspek aroma, warna dan tekstur namun kurang disukai pada aspek rasa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis sayuran dari family Cucurbitaceae yang popular ditanam di Indonesia. Pupuk organik cair (POC) merupakan larutan hasil pembusukan bahan-bahan organik seperti sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia. Kulit nanas mengandung unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah kulit nanas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (C.sativus L.). Mengetahuai dosis terbaik pada pemberian pupuk organik cair limbah nanas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (C.sativus L.) Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2022 – Maret 2023 di lahan Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu factorial dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah konsentrasi pupuk organik cair limbah nanas dengan 4 taraf yaitu, P0 (Kontrol), P1 (POC 15 ml), P2 (POC 30 ml), P3 (POC 45 ml), P4 (POC 60 ml). Analisis data yaitu Anova dengan satu faktorial dan uji Duncan dengan taraf 5%. Kesimpulan, Pemberian pupuk organik cair limbah kulit nanas memberikan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman 2 MST , jumlah buah, berat total buah, panjang buah dan diameter buah. Namun tidak berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman 3, 4 dan 5 MST, jumlah daun 2, 3, 4 dan 5 MST, dan berat satuan buah. Perlakuan P3 (45 ml) menunjukkan perlakuan terbaik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Hama penggerek buah kopi (Hypotenemus hampei) atau PBKo merupakan salah satu hama yang menyebabkan kehilangan hasil dan menurunkan produksi tanaman kopi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan; (1) melakukan pemantauan hama PBKo menggunakan beberapa bahan pemikat (atraktan); dan (2) membandingkan efektivitas bahan pemikat tersebut pada beberapa lokasi di Kabupaten Malinau. Penelitian dilaksanakan di lokasi Semboak Warot dan Kaliamok. Perangkap yang didalamnya terdapat pemikat terdiri dari dua jenis yakni perangkap Puslit Kopi dan Kakao Jember dengan pemikat Hypotan dan perangkap botol yang dikombinasikan dengan buah nanas. Masing-masing lokasi dipasang perangkap dipasang sebanyak 4 (empat) titik perangkap dengan waktu pemasangan selama 15 hari. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan fluktuasi hama PBKo, serta Uji Mann Whitney untuk membandingkan efektivitas pemikat. Hasil penelitian menunjukkan hama PBKo yang terperangkap menggunakan pemikat Hypotan sebanyak 385 ekor, dan pemikat buah nanas hanya ditemukan 33 ekor di lokasi Semboak Warot. Sedangkan, pada lokasi Kaliamok, jumlah hama PBKo yang terperangkap menggunakan pemikat Hypotan sebanyak 176 ekor, dan pemikat buah nanas hanya ditemukan 16 ekor. Fluktuasi tertinggi hama PBKo yang terperangkap pada hari pertama hingga hari kelimabelas di lokasi Semboak Warot dengan menggunakan pemikat Hypotan. Berdasarkan analisis perbandingan dua rata-rata menggunakan Uji Man Whitney menunjukkan terdapat perbedaan jumlah hama PBKo yang terperangkap menggunakan pemikat Hypotan dan buah nanas. Hasil ini mengindikasikan bahwa pemikat hypotan dapat digunakan sebagai bahan montoring hama PBKo, dan uah nanas memiliki potensi sebagai alternatif pengganti Hypotan tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pakan yang harus diberikan dengan kebutuhan nutrisi harus sesuai untuk menunjang pertumbuhan ikan, sumber energi utama untuk ikan adalah protein. Buah nanas mengandung enzim bromelin yang dapat diperoleh dari tanaman nanas baik dari tangkai, kulit, daun, buah, maupun batang dalam jumlah yang berbeda. Enzim Bromelin merupakan salah satu jenis enzim protease mampu menghidrolisis ikatan peptida pada protein atau polipeptida menjadi molekul yang lebih kecil yaitu asam amino, sedangkan daun pepaya adalah tumbuhan penghasil enzim papain yang merupakan golongan enzim protease sulfihidril. Tujuan dari penelitian yakni untuk mengetahui pengaruh dari pemberian tepung kulit nanas dengan kombinasi tepung daun pepaya pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan konsentrasi yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Data yang diperoleh dari observasidan pengamatan secara langsung di lapangan. Rancangan percobaan menggunakan metode rancangan acak lengkap. Dari hasil penelitian perlakuan F adalah perlakuan terbaik setiap perlakuan pengolah data menggunakan Aplikasi Excell dan dianalisis dengan mengunakan static one way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%, Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kombinasi tepung daun papaya sebanyak 25% dan tepung kulit nanas sebanyak 75% merupakan hasil terbaik dengan nila pengukuran Panjang Mutlak (2.35) cm, Berat Mutlak (5.10) gram, Pertumbuhan Spesifik (0.188) %, Rasio Konversi Pakan (0.388) gram dan Kelangsungan Hidup (100) %. ABSTACT Feed should be given to properly fulfill the nutrition needs for supporting the fish growth. The main energy source of fish is protein. Pineapple contains bromelin enzyme obtained from the pineapple plant starting from stalk, peel, leaf, fruit and stem in different number. Bromelin enzyme is one type of protease enzyme which has the ability to hydrolyze the peptide bond of protein or polypeptide into smaller molecure of amino acid, while pepaya leaf produces papain enzyme which is classfied into sulfhydlyl protease enzyme. The purpose of this research is to figure out the influence of combination between pineapple peel flour and pepaya leaf flour to the growth and survival of tilapia (Oreochormis niloticus) with different concentrations. This research used experimental research. The data optained from direct observations in the field. This experimental research used a completery randomized design. This research results show the treatmen F was the best one. In each treatment, the data were processed using excell application and the analyzed using the static one-way ANOVA with the confindence level of 95%. The research results show that the addition of combination between 25% pepaya leaf flour and 75% pineapple peel flour had the best result as proven witch the tilapia’s absolute length of 2.35 cm, absolute weight of 5.10 gram, spacific growth of 0.188%. feed conversion ratio of 0.388 gram, and survival of 100%