ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah jeroan ikan dari pasar tradisional Kota Tarakan dan lumpur mangrove sebagai media penghasil energi listrik menggunakan sistem Microbial Fuel Cell (MFC). Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 di Laboratorium Minihatchery Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu perlakuan dengan penambahan lumpur mangrove dan perlakuan tanpa lumpur mangrove, masing-masing dilakukan tiga kali pengulangan selama 60 hari pengamatan. Limbah jeroan ikan digunakan sebagai substrat organik, sedangkan lumpur mangrove berfungsi sebagai sumber mikroorganisme elektrogenik. Pengukuran tegangan dilakukan setiap hari menggunakan multimeter digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perlakuan mampu menghasilkan energi listrik dengan kecenderungan peningkatan tegangan selama masa pengamatan. Tegangan rata-rata pada perlakuan dengan lumpur mangrove sebesar 0,7108 V, sedangkan perlakuan tanpa lumpur mangrove sebesar 0,7015 V. Tegangan maksimum yang diperoleh mencapai sekitar 0,78 V. Hasil uji statistik t-test menunjukkan bahwa perbedaan kedua perlakuan tidak signifikan secara statistik (p>0,05), namun secara deskriptif penambahan lumpur mangrove menghasilkan tegangan yang lebih tinggi dan mempercepat fase adaptasi mikroorganisme dalam sistem MFC. Penelitian ini membuktikan bahwa limbah jeroan ikan memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan limbah perikanan secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah jeroan ikan dari pasar tradisional Kota Tarakan dan lumpur mangrove sebagai media penghasil energi listrik menggunakan sistem Microbial Fuel Cell (MFC). Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 di Laboratorium Minihatchery Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu perlakuan dengan penambahan lumpur mangrove dan perlakuan tanpa lumpur mangrove, masing-masing dilakukan tiga kali pengulangan selama 60 hari pengamatan. Limbah jeroan ikan digunakan sebagai substrat organik, sedangkan lumpur mangrove berfungsi sebagai sumber mikroorganisme elektrogenik. Pengukuran tegangan dilakukan setiap hari menggunakan multimeter digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua perlakuan mampu menghasilkan energi listrik dengan kecenderungan peningkatan tegangan selama masa pengamatan. Tegangan rata-rata pada perlakuan dengan lumpur mangrove sebesar 0,7108 V, sedangkan perlakuan tanpa lumpur mangrove sebesar 0,7015 V. Tegangan maksimum yang diperoleh mencapai sekitar 0,78 V. Hasil uji statistik t-test menunjukkan bahwa perbedaan kedua perlakuan tidak signifikan secara statistik (p>0,05), namun secara deskriptif penambahan lumpur mangrove menghasilkan tegangan yang lebih tinggi dan mempercepat fase adaptasi mikroorganisme dalam sistem MFC. Penelitian ini membuktikan bahwa limbah jeroan ikan memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan limbah perikanan secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Ikan bulan-bulan (Megalops sp) merupakan jenis ikan hasil tangkapan sampingan (HTS). Umumnya, daging ikan ini diolah menjadi berbagai macam produk diversifikasi, tetapi limbah hasil samping olahan tidak dimanfaatkan. Padahal, limbah ikan bulan- bulan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti minyak ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Magnesol XL terbaik pada proses bleaching minyak ikan dan menganalisis karakteristik kimia minyak ikan bulan-bulan yang dihasilkan, seperti nilai rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu ekstraksi jeroan ikan bulan-bulan secara dry rendering pada suhu 60oC selama 1 jam dan pemurnian minyak ikan melalui proses bleaching dengan penambahan adsorben Magnesol XL 1%, 3% dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Magnesol XL terbaik pada konsentrasi 5%. Nilai rendemen minyak ikan bulan-bulan sebesar 72%. Karakteristik minyak ikan yang diperoleh, yaitu nilai asam lemak bebas 0,41%, nilai peroksida sebesar 3 mEq/kg, dan asam lemak dominan yaitu asam palmitat 32,20%. Kesimpulan penelitian ini adalah minyak ikan yang diberi adsorben Magnesol XL pada konsentrasi 5% memenuhi International Fish Oil Standard/IFOS (FFA: ≤ 1,50% dan PV: ≤ 5,00 mEq/kg).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu biota perairan yang banyak digemari oleh Masyarakat Tarakan karna mudah di peroleh. Ikan ini banyak di olah menjadi bandeng tanpa duri, namun menghasilkan limbah, berupa jeroan ikan. Jeroan dapat di olah menjadi minyak. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formula terbaik dari kombinasi minyak ikan bandeng (Chanos chanos) dan spirulina sp, serta mendapatkan karakteristik formula terbaik, (profil asam lemak dan parameter oksidasi, yaitu nilai peroksida/PV). Metode yang digunakan yaitu ekstraksi secara dry rendering pada suhu 70o C selama 45 menit. Data yang di peroleh selanjutnya di olah secara deskripktif. Hasil penelitian menunjukan nilai kadar lemak jeroan ikan Bandeng sebesar 15%. Rendemen minyak jeroan ikan Bandeng yaitu 20%. Formula terbaik yaitu F1 (penambahan 5% serbuk spirulina sp). Nilai peroksida/ peroxide value (PV) sebesar 3,0 mEq/kg. Profil asam lemak minyak ikan Bandeng (Chanos chanos) diperoleh kandungan SFA sebesar 43,03%, MUFA sebesar 22,65%, dan PUFA sebesar 10,56%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah minyak ikan yang diperoleh dari jeroan ikan bandeng yang sudah dikombinasi dengan serbuk spirulina sp dapat diproduksi menjadi suplemen makanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bulan – bulan (Megalops sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang hidup di perairan pantai dan muara sungai. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, daging ikan bulan – bulan banyak dikomsumsi oleh masyarakat, tetapi bagian jeroan ikan tidak termanfaatkan. Salah satu upaya untuk memanfaatkan jeroan ikan bulan – bulan agar tidak menajdi limbah, maka dibuatlah produk minyak ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rendemen tertinggi minyak ikan yang diekstrak secara dry rendering, dan mengkaji karakteristik minyak ikan bulan – bulan berupa rendemen, nilai asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), nilai peroksida/ peroxide value (PV), dan profil asam lemak. Metode yang digunakan dalam pembuatan minyak ikan bulan – bulan (Megalops sp.) yaitu ekstraksi secara dry rendering pada suhu 40oC, 50oC dan 60oC selama 1 jam. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar lemak jeroan ikan bulan – bulan sebesar 17,8%. Rendemen minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) yang tertinggi yaitu suhu 60oC sebesar 20,34%. Nilai asam lemak bebas/free faty acid (FFA) terendah yaitu pada perlakuan suhu 60oC sebesar 0,68%. Nilai peroksida/peroxide value (PV) yang terendah yaitu suhu 40oC sebesar 0,44%. Profil asam lemak minyak jeroan ikan bulan – bulan (megalops sp) diperoleh kandungan asam lemak jenuh/Saturated Fatty Acid (SFA) sebesar 49,6%, asam lemak tak jenuh tunggal/Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) sebesar 32,97%, dan asam lemak tak jenuh ganda/Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) sebesar 17,39%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jeroan ikan merupakan salah satu bagian dari limbah ikan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Potensi jeroan ikan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC) karena masih mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman. POC merupakan salah satu pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman hortikultura seperti tanaman mentimun (Cucumis sativus, L.). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian POC jeroan ikan gulamah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (Cucumis sativus, L.), serta mendapatkan konsentrasi POC jeroan ikan gulamah yang menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun tertinggi. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK), terdiri dari 5 taraf perlakuan, yaitu P0: 0%(Kontrol) POC, P1: 12,5% POC, P2: 25% POC, P3: 37,5% POC dan P4: 50% POC. Masing-masing taraf di ulang 5 kali. Data yang terkumpul dianalisis dengan Uji Anova dan dilanjutkan dengan Uji DMRT untuk data yang berditribusi normal dan Uji Kruskal Wallis untuk data yang tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC jeroan ikan gulamah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Konsentrasi poc jeroan ikan gulamah yang memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun terbaik adalah konsentrasi 12,5% POC. Konsentrasi ini memberi nilai rata-rata tinggi tanaman 155,9 cm, diameter batang 0,8 mm, jumlah daun 25,9 dan jumlah cabang 4 pada fase vegetatif. Sedangkan pada fase generatif konsentrasi ini memberikan nilai rata-rata jumlah bunga produktif 3,3, jumlah cabang produktif 1,4, jumlah total buah pertanaman 2,7, jumlah buah layak panen pertanaman 2,5, panjang buah 21,2 cm, diameter buah 48,5 mm, berat buah layak panen 270,2 g dan berat total buah pertanaman 675,1 g. akan tetapi, pemberian dengan konsentrasi 12,5% POC belum memberikan hasil yang maksimal.