Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

10 hasil
Subjek: Sumber Belajar Biologi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

HISTOKIMIA DAUN RUKU-RUKU (Ocimum tenuiflorum) DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ocimum tenuiflorum (ruku-ruku) adalah tumbuhan obat tradisional dari famili Lamiaceae yang digunakan sebagai penyedap masakan serta obat demam, mual, dan gangguan pencernaan. Tumbuhan obat pada umumnya memiliki struktur sekretori yang berfungsi sebagai tempat sintesis atau penyimpanan metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis struktur sekretori serta kandungan histokimia alkaloid, terpenoid, dan senyawa lipofilik pada daun O. tenuiflorum, sekaligus mengkaji potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Sayatan dibuat dengan teknik free-hand, baik paradermal maupun transversal, kemudian diuji histokimia menggunakan reagen Wagner 1% untuk alkaloid, tembaga asetat 5% untuk terpenoid, dan Sudan III 0,03% untuk senyawa lipofilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sekretori pada daun terdiri atas trikoma glandular peltat dan kapitat, selain trikoma non-glandular uniseriat yang berfungsi sebagai pelindung mekanis permukaan daun. Trikoma peltat memberikan hasil positif untuk terpenoid dan senyawa lipofilik; trikoma kapitat positif untuk alkaloid, terpenoid, dan senyawa lipofilik; sedangkan trikoma uniseriat menunjukkan hasil negatif pada semua uji. Temuan ini menunjukkan adanya diferensiasi fungsional metabolit di antara tipe-tipe trikoma glandular pada daun O. tenuiflorum. Hasil penelitian ini relevan dengan capaian pembelajaran mata kuliah Mikroteknik dan berpotensi dikembangkan menjadi panduan praktikum berbasis penelitian untuk program studi Pendidikan Biologi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Penurunan Bobot Sampah Organik Pada Pembuatan Kompos Menggunakan Metode Berkeley dan Takakura Serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Biologi

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini bertujuan membandingkan penurunan bobot sampah organik pada proses pengomposan menggunakan metode Berkeley dan Takakura serta mengkaji potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen melalui Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu metode pengomposan, dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Bahan yang digunakan sampah organik berupa sisa sayuran, daun kering, dan serbuk gergaji dengan penambahan aktivator EM4. Penurunan bobot ditentukan berdasarkan perubahan bobot awal dan akhir bahan hingga berakhirnya proses dekomposisi. Parameter pendukung selama proses pengomposan meliputi suhu, pH, dan kelembapan, sedangkan hasil akhir dianalisis berdasarkan suhu, pH, kelembapan, C-organik, N-total, dan rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penurunan bobot metode Berkeley sebesar 176,85 g/hari, lebih tinggi dibandingkan Takakura sebesar 146,30 g/hari. Namun uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan Sig 0,135 (Sig> 0,05). Karakteristik akhir kompos relatif sama. Berdasarkan SNI, nilai pH, kelembapan, dan N-total memenuhi persyaratan, sedangkan suhu, C-organik dan rasio C/N masih belum memenuhi persyaratan. Hasil penelitian berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi dalam bentuk modul ajar pada materi Ekologi dan Lingkungan. Abstract This study aimed to compare the reduction in organic waste weight during the composting process using the Berkeley and Takakura methods and to examine its potential as a biology learning resource. This study employed a quantitative approach using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) involving one factor, namely the composting method, with two treatments and three replications. The materials consisted of organic waste, including vegetable residues, dried leaves, and sawdust, with the addition of EM4 as an activator. Weight reduction was determined based on the difference between the initial and final weights of the materials at the end of the decomposition process. Supporting parameters monitored during the composting process included temperature, pH, and moisture content, while the final compost characteristics were analyzed based on temperature, pH, moisture content, organic carbon (C-organic), total nitrogen (N-total), and the C/N ratio. The results showed that the mean weight reduction using the Berkeley method was 176.85 g/day, which was higher than that obtained using the Takakura method (146.30 g/day). However, the One-Way ANOVA results indicated that this difference was not statistically significant, with a significance value of 0.135 (p > 0.05). The final characteristics of the compost produced by the two methods were relatively similar. Based on the Indonesian National Standard (SNI), the pH, moisture content, and total nitrogen values met the required standards, whereas temperature, organic carbon, and the C/N ratio did not yet meet the specified requirements. The findings of this study have potential applications as a biology learning resource in the form of a teaching module for topics related to Ecology and the Environment.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS HISTOKIMIA DAN TIPE STRUKTUR SEKRETORI PADA TUMBUHAN SIRIH TUMPANG AIR (Peperomia pellucida) SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sirih tumpang air (Peperomia pellucida (L.) Kunth) merupakan tumbuhan herbal yang secara empiris dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional karena kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid dan terpenoid yang tersimpan dalam struktur sekretori. Penelitian terdahulu baru sebatas mengkaji keberadaan senyawa melalui ekstraksi umum tanpa menggambarkan lokasi dan distribusinya secara histokimia. Penelitian ini bertujuan menganalisis tipe struktur sekretori, mengidentifikasi lokasi kandungan senyawa dalam sel dan jaringan, serta mengkaji potensi P. pellucida sebagai sumber belajar biologi, menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui sayatan tangan bebas (free hand section) pada batang dan daun serta uji histokimia (reagen Wagner, kupri asetat, dan Sudan IV). Hasil menunjukkan P. pellucida memiliki dua tipe struktur sekretori, yaitu trikoma kelenjar peltate eksternal batang dan daun yang positif alkaloid, serta sel idioblas internal hanya daun yang positif terpenoid; senyawa lipofilik tidak terdeteksi pada kedua struktur. Setiap struktur hanya menyimpan satu golongan metabolit secara spesifik, menunjukkan efisiensi pemisahan jalur biosintesis. Data tipe, ukuran, kerapatan, dan lokasi senyawa pada struktur sekretori dinilai relevan dikembangkan sebagai sumber belajar biologi, khususnya pada mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, dalam bentuk modul atau lembar kerja praktikum berbasis riset lokal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS STRUKTUR SEKRETORI DAN HISTOKIMIA TERPENOID RIMPANG PADA FAMILI ZINGIBERACEAE SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Rimpang dari Familı Zingiberaceae dikenal sebagai sumber rempah, obat tradisional, dan golongan senyawa bioaktif, misalnya terpenoid umumnya senyawa metabolit terakumulasi pada struktur khusus yang disebut dengan struktur sekretori Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tipe sel sekretori, menganalisis ukuran dan kerapatan selnya, mendeskripsikan kandungan terpenoid melalui ujı hıstokimia, serta mengkaji potensi hasilnya sebagai sumber belajar biologi. Sampel berupa rimpang kunyit putih (Curcuma zedoaria), kunyit kuning (Curcuma longa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jahe merah (Zingiber officinale var rubrum), jahe putih (Zingiber officinale vat, amarum), dan kencur (Kaempferia galanga). Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif melalui sayatan melintang tangan bebas, pengamatan mikroskopis, dan ujı histokımia menggunakan reagen kupri asetat 3-5% dengan tiga kali ulangan. Hasil menunjukkan bahwa sel idioblas merupakan satu-satunya struktur sekretori pada keenam rimpang, tanpa trikoma kelenjar, rongga sekretori, maupun saluran sekretori. Sel idioblas terbesar dijumpai pada kencur (609,18 = 48,95461,67± 41,05 µm) dan terkecil pada temulawak (393,25 + 102,39×362,51 + 111,28 µm) Kerapatan tertinggi terdapat pada kunyit kuning (31,33 ± 1,15 mm²) dan terendah pada kencur (8,677,23 mm²), yang mengindikasikan kecenderungan ukuran dan kerapatan sel idioblas berbanding terbalik. Seluruh sampel positif terpenoid, ditandai endapan berwarna kuning pada sel idioblas, sehingga sel tersebut berfungsi sebagai tempat akumulasi terpenoid. Hasil penelitian ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar pada mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan berupa modul atau lembar kerja praktikum.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEANEKARAGAMAN JAMUR MAKROSKOPIS KAWASAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE BEKANTAN (KKMB) KOTA TARAKAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jamur makroskopis merupakan fungi yang memiliki tubuh buah berukuran relatif besar dan dapat diamati secara langsung. Jamur ini dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk ekosistem mangrove yang memiliki substrat berupa kayu lapuk, batang matiKeberadaannya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, salah satunya salinitas, meskipun beberapa jenis mampu beradaptasi pada salinitas tertentu. Peran utama jamur terlihat dalam proses dekomposisi bahan organik, terutama serasah di lingkungan hutan dan sistem agroforestri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jamur makroskopis, kondisi parameter lingkungan, nilai indeks keanekaragaman, serta potensi pemanfaatannya sebagai sumber belajar Biologi di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan (KKMB) Kota Tarakan, dilakukan dengan metode survei eksploratif menggunakan garis transek dan plot berukuran 5 x 5 m pada tiga stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan (KKMB) ditemukan 169 individu jamur makroskopis yang tergolong ke dalam 13 genus. Jamur yang paling dominan adalah Auricularia. sedangkan genus lain yang ditemukan antara lain Shizophyllum, Trametes, Ganoderma, Daldania, dan Fuscoporia. Sebagaian besar jamur ditemukan pada substrat kayu lapuk yang memiliki kelembapan tinggi sehingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh buah jamur. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) yang diperoleh sebesar 2,07 yang termasuk kategori sedang. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas jamur makroskopis di kawasan penelitian memiliki tingkat keanekaragaman yang cukup baik dengan distribusi individu yang relatif merata dan tidak didominasi secara berlebihan oleh satu spesies tertentu. Kondisi lingkungan berupa suhu, pH tanah, salinitas, intensitas cahaya, dan jenis substrat turut memengaruhi keberadaan jamur lokasi penelitian. Hasil penelitian berpontensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar Biologi SMA kelas X pada Kurikulum Merdeka, khususnya materi keanekaragaman hayati, fungi, dan ekosistem. Pemanfaatan potensi lokal melalui hasil penelitian ini dapat mendukung pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan dekat dengan lingkungan peserta didik.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT SUKU TORAJA DI DESA SAPAN KUA-KUA KABUPATEN TORAJA UTARA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian etnobotani bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat, bagian dari tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan pengaplikasian tumbuhan sebagai obat tradisional, dan potensinya sebagai sumber belajar biologi oleh suku Toraja di Desa Sapan Kua-Kua Kecamatan Buntao Kabupaten Toraja Utara Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi dengan fokus kajian etnobotani. Data penelitian diperoleh dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Responden penelitian ini adalah ketua adat, bidan kampung, orang yang dituakan, dan individu yang mengetahui lebih tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penelitian terdapat 32 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh suku Toraja di Desa Sapan Kua-Kua, tumbuhan tersebut didominasi oleh famili Zingiberaceae. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat adalah daun, batang, akar, bunga, buah, tunas, rimpang dan umbi lapis. Tumbuhan yang digunakan sebagai obat diolah dengan cara direbus, diparut, disaring, dibakar, diseduh, dikupas, dikunyah, ditumbuk, diremas, dimemarkan dan diiris. Masyarakat mengaplikasikan obat-obatan tersebut dengan cara diminum, dioleskan, ditiupkan, dikonsumsi langsung dan dikumur. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber belajar biologi pada jenjang SMA/MA kelas X khususnya pada materi keanekaragaman hayati. Sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran biologi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Ethnobotanical research aims to determine the types of plants used as medicine, the parts of the plants used, how to process and apply plants as traditional medicine, and their potential as a source of biological learning by the Toraja tribe in Sapan Kua-Kua Village, Buntao District, North Toraja Regency, South Sulawesi Province using a qualitative descriptive method with an ethnographic approach with a focus on ethnobotanical studies. Research data was obtained by interviews, observation and documentation. Respondents to this research were traditional leaders, village midwives, elders, and individuals who knew more about the use of medicinal plants. The results showed that in the research there were 32 types of plants used as medicine by the Toraja tribe in Sapan Kua-Kua Village, these plants were dominated by the Zingiberaceae family. The parts of plants used as medicine are leaves, stems, roots, flowers, fruit, shoots, rhizomes and tubers. Plants used as medicine are processed by boiling, grating, filtering, burning, brewing, peeling, chewing, pounding, kneading, bruising and slicing. People apply these medicines by drinking, smearing, blowing, consuming directly and gargling. The results of this research can be used as a biology learning resource at the SMA/MA class X level, especially on biodiversity material. So the results of this research can be used to support biology learning which does not only focus on theory, but also provides learning experiences that are relevant to students' lives.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Kawasan Hutan Lindung Sekitar Bukit Mas Tarakan serta Potensinya sebagai Sumber Belajar Biologi

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan kelompok tumbuhan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan serta berpotensi dimanfaatkan sebagai bioindikator lingkungan. Kawasan Hutan Lindung sekitar Bukit Mas, Kota Tarakan memiliki keanekaragaman flora yang cukup tinggi, namun informasi ilmiah mengenai jenis-jenis tumbuhan paku di kawasan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan paku yang terdapat di kawasan tersebut serta menganalisis potensinya sebagai sumber belajar biologi pada jenjang SMP/MTs. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode survei eksploratif melalui teknik jelajah bebas (free roaming). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling pada area seluas 1,4 hektar atau sekitar 5% dari total luas kawasan dengan mempertimbangkan kondisi habitat yang lembap dan teduh. Identifikasi tumbuhan paku dilakukan berdasarkan pengamatan langsung terhadap karakter morfologi tumbuhan paku yang ditemukan di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan Hutan Lindung sekitar Bukit Mas ditemukan 7 famili dan 7 genus tumbuhan paku, yaitu Aspleniaceae (Asplenium), Polypodiaceae (Pyrrosia), Nepherolepidaceae (Nephrolepis), Lycoopodiaceae (Lycopodiaella), Gleicheniaceae (Dicranopteris), Blechnaceae (Blechnum), serta Pteridaceae (Adiantum). Hasil penelitian ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi pada materi klasifikasi makhluk hidup melalui draf panduan praktikum berbasis lingkungan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Dan Klasifikasi Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Di Kawasan Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan Serta Pemanfaatannya Sebagai Sumber Belajar Biologi

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tumbuhan lumut (Bryophyta) yang terdapat di kawasan Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan serta mengkaji potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei eksploratif dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilaksanakan melalui pengamatan langsung di lapangan terhadap ciri morfologi lumut dengan bantuan tabel pertelaan, dokumentasi visual, pencatatan mikrohabitat, serta identifikasi lanjutan di laboratorium menggunakan mikroskop binokuler. Untuk mendukung analisis ekologi, dilakukan pula pengukuran faktor lingkungan meliputi suhu, intensitas cahaya, kelembapan udara, dan pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam jenis lumut yang termasuk dalam kelas Bryopsida, yaitu Leucobryum javense, Rhynchostegium sp., Hypnum cupressiforme, Dicranum scoparium, Gymnostomiella vernicosa, dan Brachythecium sp. Seluruh jenis ditemukan pada kondisi lingkungan yang lembap dengan suhu rata-rata 26°C, intensitas cahaya 449 lux, pH tanah 5,6, dan kelembapan udara 77,7%, yang mendukung pertumbuhan optimal lumut di daerah tropis. Setiap jenis menunjukkan karakter morfologi yang khas serta kemampuan adaptasi terhadap berbagai substrat, seperti tanah, batang pohon, dan batu. Keanekaragaman tumbuhan lumut yang ditemukan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati, klasifikasi tumbuhan, ekologi, dan adaptasi organisme. Pemanfaatan hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung pembelajaran biologi yang bersifat kontekstual dan berbasis potensi lokal.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KEANEKARAGAMAN SEMUT (Hymenoptera: Formicidae) DI HUTAN PENELITIAN UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

2025•

Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan merupakan kawasan hutan tropis yang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, salah satunya adalah semut (Hymenoptera: Formicidae) yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keanekaragaman semut di Hutan Penelitian Universitas Borneo Tarakan serta mengkaji potensi pemanfaatannya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling yang dikombinasikan dengan metode kuadran. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode hand collecting dan pitfall trap pada 20 plot berukuran 15 m × 15 m. Identifikasi spesies semut dilakukan berdasarkan karakteristik morfologi menggunakan kunci determinasi serangga. Data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan indeks dominansi Simpson (C), serta didukung oleh pengukuran parameter lingkungan yang meliputi suhu, kelembapan udara, pH tanah, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 8.985 individu semut yang tergolong ke dalam 17 spesies dan 5 subfamili, yaitu Myrmicinae, Dolichoderinae, Formicinae, Ponerinae, dan Dorylinae. Subfamili Dolichoderinae memiliki jumlah individu tertinggi, dengan spesies Dolichoderus thoracicus sebagai spesies paling dominan, sedangkan spesies dengan jumlah individu terendah adalah Aenictus gracilis. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan kategori keanekaragaman sedang, dengan tingkat dominansi rendah hingga sedang. Temuan ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi pada materi keanekaragaman hayati dan ekosistem di tingkat SMA, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Capung (Odonata) di Kawasan Agrowisata Air Terjun Karungan dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar dalam Pembelajaran Biologi

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman dan dominansi jenis capung (Odonata) di Kawasan Agrowisata Air Terjun Karungan, Kota Tarakan, serta menganalisis potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah (field method), menggunakan jaring serangga untuk menangkap capung, serta pengukuran faktor lingkungan Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung indeks keanekaragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 spesies capung yang berasal dari dua famili, yaitu Libellulidae dan Coenagrionidae, dengan jumlah total 348 individu. Indeks keanekaragaman (H') yang diperoleh sebesar 1,85 termasuk kategori sedáng, sedangkan nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,19 termasuk kategori rendah, menunjukkan bahwa kawasan penelitian memiliki ekosistem yang relatif stabil dengan penyebaran spesies yang cukup merata dan tidak ada spesies yang mendominasi secara berlebihan. Hasil penelitian berpotensi dijadikan sumber belajar kontekstual pada materi keanekaragaman hayati, dan ekologi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail