ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kendaraan listrik merupakan solusi ramah lingkungan karena sumber tenaganya berasal dari baterai. Salah satu contohnya adalah sepeda motor listrik Beatrix, yang menggunakan baterai rakitan berkapasitas 72 Volt 20 Ah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja baterai pack rakitan yang digunakan pada Beatrix di lingkungan Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan beberapa variabel seperti kondisi lingkungan dan jarak tempuh. Kinerja yang dianalisis adalah konsumsi tegangan, kapasitas, daya, dan temperatur baterai selama proses discharging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tegangan tertinggi terjadi pada kondisi cuaca panas yaitu 6,50 volt, sedangkan tegangan terendah terjadi pada kondisi cuaca hujan yaitu 2,27 volt. Untuk konsumsi kapasitas baterai tertinggi terjadi pada kondisi cuaca panas yaitu 4,30 Ah dan kapasitas terendah terdapat pada kondisi cuaca hujan yaitu 2,13 Ah. Diferensiasi temperatur baterai tertinggi terdapat pada kondisi cuaca panas yaitu 5,3°C sedangkan diferensiasi temperatur baterai terendah terdapat pada kondisi cuaca hujan dan malam hari yaitu 1,0°C. Konsumsi daya baterai tertinggi terdapat pada kondisi cuaca panas yaitu 26,22 Wh dan konsumsi daya terendah terdapat pada kondisi cuaca hujan yaitu 4,84 Wh. Konsumsi daya spesifik baterai tertinggi terdapat pada kondisi cuaca panas yaitu 2,62 Wh/km dan konsumsi daya spesifik terendah terdapat pada kondisi cuaca hujan yaitu 0,48 Wh/km.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kendaraan listrik saat ini telah banyak digunakan di masyarakat Indonesia. Namun, dengan harga kendaraan listrik yang masih mahal, maka cara alternatifnya adalah dengan mengkonversi kendaraan motor bakar menjadi kendaraan listrik atau biasa disebut kendaraan listrik konversi. Dalam kendaraan listrik konversi, sistem transmisi daya menjadi hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa sistem transmisi motor listrik konversi menggunakan gear set pulley komersial yang dibandingkan dengan sistem transmisi statis pada kendaraan listrik konversi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujian eksperimental kuantitatif dengan cara menguji kendaraan listrik konversi pada kondisi tanpa beban dan dengan beban dengan variasi jarak 100 hingga 200 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gear set pulley memiliki performa lebih baik dibandingkan transmisi statis dengan mencapai kecepatan rata-rata 50,8 km/jam pada jarak 100 meter dengan waktu tempuh 10 detik. Sementara kecepatan sudut puli 2 mencapai 992,4 rad/s pada bukaan throttle 100%, menunjukkan performa tertinggi dibandingkan transmisi statis. Kecepatan sudut puli 1 juga optimal di angka 407 rad/s pada bukaan throttle 100%. Dapat disimpulkan bahwa gear set pulley lebih efisien dalam mentransfer tenaga dan meningkatkan kecepatan kendaraan listrik "Beatrix".
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa kendaraan listrik konversi (Beatrix) dalam berbagai kondisi lingkungan di Kota Tarakan menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Pengujian dilakukan secara langsung di lapangan yakni di sekitar Kecamatan Tarakan Timur mencakup berbagai kondisi jalan, termasuk tanjakan, turunan, dan jalan datar dengan variasi jarak tempuh (10 km, 20 km, dan 30 km) serta kondisi cuaca berbeda yaitu cuaca panas, hujan, dan malam hari. Parameter yang diukur mencakup temperatur komponen utama Beatrix, seperti baterai, ECU, dan motor listrik, serta konsumsi daya baterai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jarak tempuh listrik dan kondisi lingkungan mempengaruhi kinerja kendaraan listrik konversi. Pada kondisi cuaca panas dengan temperatur sebesar 31°C, terjadi peningkatan temperatur tertinggi pada Motor Listrik BLDC sebesar 14,47°C, ECU sebesar 10,57°C, dan Baterai sebesar 5°C. Sementara itu, pada kondisi hujan dan malam hari dengan temperatur 28°C, peningkatan temperatur lebih terkendali, dengan rata-rata kenaikan temperatur Motor Listrik BLDC di bawah 10°C dan ECU serta Baterai di bawah 5°C. Konsumsi daya tertinggi terjadi pada kondisi cuaca panas dengan nilai 26,13 Wh pada jarak 20 km, sebelum mengalami penurunan menjadi 16,83 Wh pada jarak 30 km. Sebaliknya, pada kondisi hujan, konsumsi daya menurun dari 11,01 Wh pada jarak 10 km menjadi 4,66 Wh pada jarak 30 km. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan di Kota Tarakan berpengaruh terhadap performa kenaikan temperatur kendaraan listrik konversi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kendaraan listrik saat ini telah banyak digunakan salah satunya adalah kendaraan listrik hasil konversi dari kendaraan motor bakar. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses konversi dan peforma dari sepeda motor honda beat 110 CC menjadi sepeda motor listrik (electric vehickle) 2 kW. Proses konversi dilakukan dengan mengganti sistem penggerak motor bakar menjadi motor listrik Brush Less Direct Current 2 kW, menambahkan kontroller juken 10 merek bintang racing team, menggunakan baterai GESITS serta memodifikasi sistem transimisi CVT motor bakar. Hasil pengujian motor listrik konversi, pada pengujian penggerak CVT diperoleh adanya peningkatan kecepatan pada sepeda motor listrik ketika sistem CVT dipatenkan dibandingkan tidak (CVT normal). Konsumsi daya baterai yang dihasilkan pada jalan mendatar sejauh 500 meter pada kecepatan 20, 30, 40 km/jam ialah 533,28, 1.127, dan 2.261,17 watt. Sementara konsumsi daya baterai yang dihasilkan pada jalan menanjak sejauh 100 meter pada kecepatan 20, 30, 40 km/jam ialah 1.963,65, 2.662,3, dan 3.476,52 watt. Torsi yang dihasilkan pada puli sekunder CVT sebesar 19,09 Nm pada putaran 9416 rpm dan torsi yang dihasilkan pada puli primer CVT sebesar 39,96 Nm pada putaran 4500 rpm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kendaraan listrik merupakan kendaraan yang berpenggerak motor listrik sehingga
menjadi ramah lingkungan dan dapat mengatasi masalah kelangkaan bahan bakar
minyak. Pada kendaran listrik terdapat tiga komponen utama yakni baterai,
kontroler dan motor listrik, dimana ketiga komponen ini memiliki rentang
temperatur kerja pada saat beroperasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
pengaruh kecepatan dan beban terhadap panas yang dihasilkan baterai, kontroler,
dan motor listrik pada proses pengkonversian sepeda motor bakar menjadi
kendaraan listrik. Baterai yang digunakan jenis Lithium-Ion 72V, kontroler jenis
Juken 10 EV dan motor listrik jenis BLDC 2 kW. Penelitian ini dilakukan
menggunakan metode pengujian dengan memvariasikan kecepatan dan beban.
Hasilnya menunjukkan bahwa kecepatan dan beban mempengaruhi kenaikan
temperatur sehingga masing-masing komponen terjadi perubahan nilai kalor. Kalor
tertinggi yang dihasilkan oleh komponen baterai dan motor listrik terjadi pada
beban 113 kg dan kecepatan 40 km/jam, dimana nilai kalor baterai adalah 14.128
Joule dan motor listrik 34.437 Joule. sedangkan untuk kontroler tidak mengalami
perubahan nilai kalor karena adanya sistem pendingin pada kontroler.
Electric vehicles become environmentally friendly and can overcome the problem of scarcity of fuel oil. In electric vehicles, there are three main components, namely batteries, controllers and electric motors, where these three components have a working temperature range when operating. The research aimed to determine the effect of speed and load on the heat generated by the battery, controller, and electric motor in the process of converting a combustion motorbike into an electric vehicle The battery used a 72V Lithium-lon type, Juken 10 EV type controller and 2 kW BLDC type electric motor. This research was conducted using a test method by varying the speed and load. The results showed that the speed and load affect the temperature rise, so each component changes the calorific value. The highest heat generated by the battery and electric motor components occurs at a load of 113 kg. and a speed of 40 km/h, where the calorific value of the battery is 14,128 joules and the electric motor was 34,437 joules. The controller did not change in calorific value due to the cooling system in the controller.