ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Musik K-Pop banyak digemari siswa dan sering didengarkan sebagai motivasi dalam belajar, salah satunya pada pelajaran IPA. IPA menjadi salah satu mata pelajaran yang sulit dan cenderung menurunkan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa tentang musik K-Pop, mendeskripsikan minat belajar IPA, dan memahami bagaimana siswa memaknai pengaruh musik K-Pop terhadap minat belajar IPA di SMPN Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan 13 siswa kelas VII dan VIII sebagai informan yang dipilih secara purposive sampling, serta satu guru IPA sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Data hasil wawancara diolah dengan bantuan Nvivo 15, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap musik K-Pop bervariasi; sebagian siswa menilai positif karena musik tersebut menarik dan energik, sementara sebagian lain kurang tertarik dan lebih menyukai musik Indonesia. Minat belajar IPA siswa secara umum cenderung positif tetapi bersifat situasional, dipengaruhi oleh materi pelajaran dan cara guru mengajar. Penggunaan musik K-Pop ketika belajar dimaknai secara berbeda oleh setiap siswa: sebagian merasa terbantu karena menambah semangat dan mengurangi kebosanan, sedangkan sebagian lain merasa terganggu konsentrasinya, terutama pada kegiatan yang membutuhkan fokus tinggi. Dengan demikian, pengaruh musik K-Pop terhadap minat belajar IPA bersifat kondisional dan bergantung pada preferensi serta kondisi belajar masing-masing siswa. Sebagai tindak lanjut, siswa disarankan menyesuaikan penggunaan musik dengan kondisi belajar, guru disarankan menerapkan pembelajaran yang lebih bervariasi, dan peneliti selanjutnya disarankan melibatkan informan yang lebih beragam serta membandingkan belajar dengan tanpa musik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sekolah berbasis pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan keagamaan, sehingga berpotensi membentuk persepsi siswa yang khas terhadap mata pelajaran Biologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa SMA terhadap mata pelajaran Biologi di sekolah berbasis pesantren, dikaji berdasarkan aspek kognitif dan afektif dengan merujuk pada konsep persepsi sebagai proses individu dalam menerima, memahami, dan memaknai suatu objek berdasarkan pengalaman belajarnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek dua puluh siswa kelas XI dan XII MIA SMA Muhammadiyah Boarding School Tarakan yang ditentukan melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kognitif siswa memahami Biologi sebagai ilmu kehidupan yang bermanfaat dan penting bagi masa depan, meskipun sebagian mengalami kesulitan pada materi abstrak seperti sel, enzim, dan metabolisme. Secara afektif, siswa menunjukkan respons yang cenderung positif namun bervariasi, disertai preferensi terhadap praktikum dan media visual. Persepsi terhadap integrasi Biologi dengan nilai keislaman juga beragam. Dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap Biologi di sekolah berbasis pesantren bersifat multidimensi, dipengaruhi oleh pengalaman belajar serta konteks keagamaan lingkungan pesantren.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Persepsi siswa tentang cara belajar berkaitan dengan bagaimana siswa memandang dan menerapkan cara belajarnya dalam proses pembelajaran. Cara belajar yang baik dan teratur dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik sehingga mendukung pencapaian hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswa tentang cara belajar dan hasil belajar Biologi. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tanjung Palas Timur pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional non-eksperimental. Sampel berjumlah 26 siswa yang dipilih melalui total sampling. Data persepsi dikumpulkan melalui angket dengan skala Likert, berdasarkan indikator cara belajar, meliputi pembuatan dan pelaksanaan jadwal, membaca dan membuat catatan, mengulangi bahan pelajaran, konsentrasi, dan mengerjakan tugas. Data hasil belajar Biologi ranah kognitif diperoleh dari nilai ulangan harian materi sistem pernapasan manusia. Analisis data menggunakan uji statistik deskriptif dan uji korelasi Kendall’s Tau-b melalui SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata persepsi siswa sebesar 107,35 dengan kategori netral, dan rata-rata hasil belajar kognitif siswa sebesar 63,56 dengan kategori cukup. Uji korelasi Kendall’s Tau-b, menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,291 dengan nilai signifikansi 0,043 ( 0,05). Hasil tersebut menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa tentang cara belajar dengan hasil belajar Biologi dengan tingkat keeratan hubungan pada kategori rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Genetika merupakan salah satu materi biologi yang dianggap sulit oleh siswa karena sifatnya yang abstrak, terminologinya yang kompleks, serta mekanisme-mekanismenya yang sulit divisualisasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa kelas XII Kesehatan SMAS Muhammadiyah Tarakan terhadap tantangan dalam pelajaran genetika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur terhadap sepuluh siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan kategori hasil belajar. Data sekunder dalam penelitian ini berupa buku, jurnal, dokumen kurikulum, dan nilai siswa. Analisis data menggunakan analisis tematik berdasarkan enam tahapan Braun dan Clarke. Keabsahan data hasil penelitian dilakukan untuk memastikan reliabilitas data melalui member checking dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan lima tema tantangan, yaitu kognitif, emosional dan motivasi, lingkungan, sosial, dan fisik. Tantangan kognitif menjadi yang paling dominan, terutama dalam memahami konsep abstrak, istilah ilmiah, mekanisme genetika, dan mengingat materi. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran genetika yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi siswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 4 Tarakan terhadap penggunaan konteks batik sebagai pendekatan etnomatematika dalam pembelajaran matematika. Latar belakang penelitian berangkat dari permasalahan rendahnya minat dan pemahaman siswa terhadap matematika yang sering dianggap abstrak, sulit, serta jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, matematika memiliki kedekatan yang kuat dengan berbagai aktivitas budaya, termasuk pola dan struktur yang terdapat pada motif batik. Melalui pemanfaatan konteks batik, pembelajaran matematika diharapkan menjadi lebih konkret, bermakna, dan relevan dengan pengalaman siswa sehingga pembelajaran terasa lebih dekat dengan realita mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta catatan lapangan. Partisipan penelitian terdiri dari 10 siswa kelas XI DKV yang memiliki pengetahuan tentang ornamen batik dan cukup unggul dalam memahami pembelajaran matematika. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang kemudian divalidasi menggunakan teknik triangulasi dan member check untuk memastikan keakuratan temuan serta meningkatkan kepercayaan data sehingga hasil penelitian semakin dapat dipertanggungjawabkan secara baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan persepsi positif terhadap penggunaan batik sebagai konteks pembelajaran matematika. Siswa menyatakan bahwa menggabungkan konsep matematika dengan motif batik membuat pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, mudah dipahami, dan tidak membosankan. Berbagai konsep matematika berhasil diidentifikasi siswa pada motif batik, seperti transformasi geometri (translasi, rotasi, dan refleksi) serta bangun datar (segitiga, lingkaran, dan persegi panjang) pada motif Bultiya, Kawung, Obar-Abir, Bunga Raye, dan Shaho. Selain meningkatkan pemahaman konsep, pendekatan ini juga menumbuhkan motivasi belajar serta kecintaan siswa terhadap budaya lokal dan identitas daerah. Meskipun demikian, beberapa siswa yang kurang memahami etnomatematika menunjukkan persepsi yang lebih rendah. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan konteks batik dalam pembelajaran matematika efektif dalam meningkatkan pemahaman, minat belajar, dan penghargaan terhadap budaya daerah secara nyata dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mendeskripsikan hasil persepsi mahasiswa terhadap Escymo dalam kegiatan berbicara dan implementasi kegiatan Escymo dalam Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Borneo Tarakan, dengan menggunakan metode campuran. Peneliti memilih 55 mahasiswa dari kelas Al dan A2, dan menggunakan kuesioner, wawancara, dan tes berbicara sebagai instrumen penelitian. Data kualitatif dianalisis dalam tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi kesimpulan. Hasil kuesioner siswa menunjukkan bahwa 60% siswa termotivasi oleh kegiatan Escymo untuk belajar bahasa Inggris, 70,9% lebih menyukai Escymo untuk latihan berbicara, 69,1% merasa lebih mudah secara psikologis untuk berlatih bahasa Inggris dengan Escymo, 61,8% merasa bahwa Escymo mendorong mereka untuk menggunakan bahasa Inggris lebih sering, dan 70,9% merasa bahwa Escymo membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Selain itu, 65,5% percaya bahwa kegiatan Escymo dapat meningkatkan kefasihan, kosakata, pengucapan, dan kompetensi tata bahasa dalam Bahasa Inggris. Pelaksanaan kegiatan Escymo berdampak positif pada kemampuan siswa, dengan peningkatan yang nyata dalam kosakata, tata bahasa, kefasihan, pemahaman, dan kepercayaan diri. Escymo memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berlatih bahasa Inggris dalam suasana yang santai dan informal, sehingga meningkatkan kemampuan bersosialisasi mereka. Kegiatan dibagi menjadi tiga tahap: pra-kegiatan, kegiatan inti, dan pasca-kegiatan, dengan pra-kegiatan yang berfungsi sebagai pemanasan dan sesi curah pendapat, kegiatan inti yang berfokus pada materi pengajaran dan berlatih berbicara, dan pasca-kegiatan yang mengevaluasi kinerja siswa dan memberikan motivasi. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan Escymo dibuktikan dengan respon positif dari para siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem pendidikan di seluruh dunia telah terpengaruh akibat menyebarnya pandemi Covid-19. Fenomena baru ini memaksa para guru dan siswa untuk melakukan proses belajar mengajar dari rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran bahasa Inggris via online yang dilaksanakan selama pandemi Covid-19. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey. Subyek penelitian ini adalah 275 siswa dari kelas XII SMAN 1 Tarakan, SMAN 2 Tarakan, dan SMAN 3 Tarakan. Instrumen untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa 78,5% siswa menerapkan full online learning selama pandemi Covid-19 dan sisanya (21,45%) belajar sebagian di sekolah dan sebagian lagi secara online. 74,5% siswa melakukan pembelajaran daring setiap hari dan sebagian besar (49,45%) menghabiskan waktu 3-4 jam sehari. Selain itu, para siswa menyatakan bahwa mereka berinteraksi dengan guru melalui kelas online menggunakan Google Classroom, Quipper School, media sosial, email, dan video conference yang disediakan oleh guru seperti Zoom Cloud Meeting, Google Meet, dan WhatsApp Video Call. Persepsi siswa secara keseluruhan terhadap penggunaan pembelajaran daring berada pada kategori tinggi. Dimensi persepsi dilihat dari (1) minat, (2) psikologi. (3) kebutuhan, (4) suasana hati, dan (5) perhatian, dimana masing-masing dimensi dipersepsikan tinggi oleh siswa, kecuali minat yang tergolong rendah. persepsi. Hal ini dikarenakan siswa merasa kesulitan dalam memahami pelajaran (82,18%), kurang konsentrasi (73,82%), dan kurang percaya diri (70,18%) selama pembelajaran daring Meskipun menyadari pembelajaran daring memberikan manfaat, namun mereka lebih memilih belajar di sekolah (tatap muka) daripada belajar melalui pembelajaran daring karena siswa membutuhkan interaksi sosial yang nyata dan tanpa batas
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran IPA secara daring di SMPIT Ulul Albab Tarakan. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif yang di dukung dengan teknik pengumpulan data berupa angket. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas VIII Al-Mu’minun dan An-Nur yang berjumlah 49 siswa. Hasil analisis diperoleh berdasarkan hasil angket dengan rata-rata persentase 64,14% dikategorikan “Baik” terhadap aspek proses pembelajaran yang berarti selama pembelajaran daring responden dapat memahami dan mengerti terkait materi yang dijelaskan oleh guru. Pada aspek media pembelajaran diperoleh rata-rata persentase 61,62% dikategorikan “Baik” yang berarti media yang digunakan guru bervariasi seperti google classroom, google meet dan whatsApp. Pada aspek interaksi pembelajaran diperoleh rata-rata persentase 41,83% dikategorikan “Cukup Baik” yang berarti beberapa siswa aktif dalam bertanya dan mengerjakan tugas yang digunakan oleh guru. Dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi siswa terhadap pembelajaran IPA secara daring pada aspek unsur pembelajaran IPA yang berlangsung dengan baik mulai proses pembelajaran yang berlangsung, media yang digunakan guru membuat siswa tertarik saat pembelajaran dan pada interaksi pembelajaran siswa aktif dalam proses pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Tarakan terhadap proses pembelajaran online dan bagaimana nilai bahasa Inggris pada saat pembelajaran daring. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi online di kelas VIII-A, dan dokumentasi nilai semester Bahasa Inggris siswa kelas VIII. Peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa terhadap proses pembelajaran online. Untuk memverifikasi keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dokumentasi rekaman wawancara siswa. Selanjutnya peneliti melakukan observasi di kelas VIII-A untuk mengetahui proses pembelajaran online di kelas bahasa Inggris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa memberikan persepsi negatif terhadap proses pembelajaran online. Siswa menghadapi banyak kendala selama proses pembelajaran online seperti kesulitan memahami materi pembelajaran, masalah dengan akses internet dan perangkat, dan pemadaman listrik selama proses pembelajaran. Selain itu siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik selama pembelajaran online. Nilai bahasa Inggris siswa menunjukan sebanyak 10% siswa berada pada category sangat baik, 10% siswa berada pada kategori baik, 30% siswa berada pada kategori cukup dan 50% siswa berada pada category kurang baik. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa selama proses pembelajaran daring cenderung negatif berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi kelas VIII SMP Negeri 5 Tarakan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil persepsi siswa tentang pembelajaran Bahasa Inggris melalui Google Classroom untuk mengetahui sejauh mana pendapat siswa selama pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan menggunakan aplikasi pembelajaran. Desain dari penelitian ini adalah metode campuran dimana peneliti menggabungkan antara data kualitatif dengan data kuantitiatif untuk memperoleh data. Peneliti menggunakan penyajian secara deskriptif untuk menyampaikan hasil penelitian. Dalam teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan instrument kuisioner dan lembar wawancara. Subjek dari penelitian ini adalah kelas VIII-A SMP Negeri 5 Tarakan yang terdiri dari 33 siswa diambil melalui Purposive Sampling. Berdasarkan hasil angket kuisioner siswa menunjukan bahwa 1) sebanyak 51,5% siswa memilih pembelajaran dilangsungkan secara tatap muka, 2) sebanyak 60,6% siswa merasa nyaman ketika pembelajaran bahasa inggris dilangsungkan melalui google classroom, 3) sebanyak 57,6% siswa membutuhkan sumber belajar lain selain buku, 4) sebanyak 72,7% siswa merasa kesulitan memahami materi pembelajaran jika disampaikan melalui google classroom, 5) sebanyak 54,5% siswa selalu bertanya kepada guru ketika mereka tidak dapat mengucapkan bahasa inggris dengan benar dan 6) sebanyak 60,6% siswa merasa pembelajaran melalui google classroom memiliki pengaruh baik terhadap nilai pembelajaran. Berdasarkan aspek tersebut, dapat dilihat faktor persepsi yang paling mempengaruhi pembelajaran siswa ialah kesulitan siswa karena faktor kebutuhan. The purpose of this study was to describe the results of student perceptions of English learning through Google Classroom and the extent of student opinions in using learning applications. The design of this study were a mixed method where the researcher combined qualitative data and quantitative data to obtained the data. The researcher used descriptive presentation to convey the results. In data collection technique, the researcher used a questionnaire and an interview sheet as the instrument. The subject of this research were the students at class VIII-A of SMP Negeri 5 Tarakan which consists of 33 students and it was taken through purposive sampling. Based on the results of questionnaire, it showed that 1) there was 51.5% of students choose face-to-face learning, 2) 60.6% of students feel comfortable when learning English is carried out through Google Classroom, 3) there was 57.6% of students need other learning resources besides books, 4) 72.7% of students find difficulty to understand learning material if it is delivered thorugh Google Classroom, 5) 54.5% of students always ask the teacher when they cannot pronounce English correclty, and 6) 60.6% of students feel that learning through Google Classroom has a good influence on the value of learning. Based on these aspects, it can be concluded that the perception factor which most influences the student learning was students difficulties due to need factor.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa SMAN 3 Malinau terhadap pembelajaran biologi dimasa pandemi covid-19. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang didukung dengan teknik pengumpulan data berupa angket atau kuesioner. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas X MIA SMAN 3 Malinau yang berjumlah 63 siswa. Hasil analisis data diperoleh bahwa: (1) sebagian besar siswa menyatakan setuju dengan adanya media pembelajaran saat pembelajaran online berlangsung dan siswa merasa terbantu dengan media pembelajaran yang di gunakan guru; (2) sebagian besar siswa menyatakan setuju dengan interaksi pembelajaran, adanya interaksi pembelajaran membuat siswa lebih bersemangat belajar dan siswa juga aktif bertanya kepada guru.