ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Post Weld Heat Treatment (PWHT) terhadap kekuatan tarik, struktur mikro, dan ukuran butir sambungan las SMAW pada baja karbon rendah. Pengelasan dilaiman menggunakan elektroda E7016 diameter 3,2 mm pada posisi 1G dengan kampuh V tunggal pada material tebal 8 mm. PWHT dilakukan dengan metode annealing pada suhu 600°C dengan variasi waktu penahanan 60 menit dan 90 menit. Pengujian meliputi liquid penetrant test, uji tarik berdasarkan standar ASTM A370-23, serta pengamatan struktur mikro dan analisis butir menggynakan metode metalografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa raw material memiliki kekuatan tarik rata-rata 123,43 MPa dengan regangan 13%. Spesimen tanpa PWHT Memiliki kekuatan tarik tertinggi sebesar 134,83 MPa dengan regangan 8%. Setelah PWHT 60 menit, kekuatan tarik menurun menjadi 129,6 MPa dengan regangan meningkat menjadi 10%, sedangkan PWHT 90 menit menghasilkan kekuatan tarik 128,94 MPa dengan regangan 9%. Hasil metalografi menunjukkan bahwa PWHT menghasilkan struktur mikro lebih halus dan seragam. Analisis ukuran butir menunjukkan kecenderungan pembentukan butir yang lebih seragam dan stabil pada spesimen PWHT, terutama pada waktu penahanan 90 menit. Disimpulkan bahwa PWHT mampu mengurangi tegangan sisa, memperhalus struktur mikro, serta menyeimbangkan sifat mekanik sambungan las.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perlakuan panas awal (preheat) pada proses pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) terhadap kualitas sambungan baja karbon rendah. Fokus utama penelitian adalah membandingkan hasil pengelasan antara kondisi tanpa perlakuan panas (non-preheat) dan dengan suhu preheat 200°C terhadap cacat permukaan (penetrant test), kekuatan tarik, dan perubahan struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian preheat 200°C efektif mencegah terjadinya distorsi pada spesimen dibandingkan tanpa perlakuan panas. Pada uji penetrant, kedua kondisi masih menunjukkan adanya cacat porositas pada pengelasan Preheat 200°C dan cacat undercut, spatter pada pengelasan tanpa perlakuan panas. Secara mekanik, spesimen tanpa perlakuan memiliki kekuatan tarik rata-rata tertinggi sebesar 135 MPa dengan regangan 33% (elongation). Sebaliknya, spesimen dengan preheat 200°C mengalami penurunan kekuatan tarik menjadi 122 MPa, namun nilai regangan (elongation) meningkat menjadi 34%. Analisis struktur mikro menunjukkan bahwa hasil dari perlakuan panas preheat menghasilkan struktur butir yang besar karena laju pendinginan yang lebih lambat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi elektroda pada proses pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) terhadap sifat mekanik dan karakteristik struktur mikro baja karbon rendah. Fokus penelitian diarahkan pada perbandingan kinerja elektroda E7016 dan E7018 yang banyak diaplikasikan dalam industri konstruksi dan manufaktur. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan material baja karbon rendah berketebalan 8 mm. Proses pengelasan dilakukan menggunakan kampuh V tunggal dengan sudut 60° pada posisi datar (1G) dan arus pengelasan sebesar 90 Ampere. Pengujian hasil las meliputi pengujian tidak merusak (Non-Destructive Test) menggunakan metode liquid penetrant untuk mendeteksi cacat permukaan, serta pengujian merusak (Destructive Test) berupa uji tarik berdasarkan standar ASTM A370-23 dan uji metalografi untuk mengamati struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi elektroda berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik sambungan las. Elektroda E7016 menghasilkan nilai kekuatan tarik rata-rata sebesar 135 MPa, lebih tinggi dibandingkan elektroda E7018 yang memperoleh rata-rata 117 MPa. Hasil uji penetran menunjukkan adanya cacat minor berupa porositas dan undercut pada kedua spesimen, namun masih dalam batas toleransi yang diizinkan. Pengamatan metalografi memperlihatkan perubahan ukuran butir pada daerah weld metal dan Heat Affected Zone (HAZ) yang cenderung lebih kasar dibandingkan base metal akibat siklus termal selama proses pengelasan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk aplikasi yang memprioritaskan kekuatan tarik pada baja karbon rendah dengan parameter pengelasan yang digunakan dalam penelitian ini, elektroda E7016 lebih direkomendasikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Korosi merupakan masalah degradasi material yang kritis, terutama pada baja karbon rendah yang digunakan secara luas dalam konstruksi dan industri perkapalan. Daerah sambungan pengelasan seringkali menjadi titik rentan akibat perubahan mikrostruktur dan sifat mekanik yang disebabkan oleh siklus termal pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju korosi dan struktur mikro pada daerah sambungan pengelasan baja karbon rendah yang dihasilkan menggunakan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dengan arus 90 A. Pengujian korosi dilakukan menggunakan Metode Kehilangan Berat (Weight Loss Method) selama periode empat minggu dengan air hujan sebagai media korosi. Hasil pengujian laju korosi menunjukkan bahwa spesimen yang dilas mengalami kehilangan massa yang terakumulasi dari waktu ke waktu. Laju korosi tertinggi tercatat pada Minggu ke-2 (0,222 mm/y), hal ini membuktikan bahwa pengaruh panas pada saat proses pengelasan terjadi dapat mempengaruhi laju korosi, selain pengaruh pengaruh panas proses pengelasan laju korosi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan suhu dan tingkat keasamaan media korosi itu sendiri. Selain itu sambungan las SMAW pada baja karbon rendah juga menunjukkan ketahanan korosi yang amat sangat baik terhadap paparan air hujan, meskipun kerentanan korosi perlu dipertimbangkan pada periode awal paparan. Kata Kunci: Baja Karbon Rendah, Las SMAW, Laju Korosi, Weight Loss, Struktur Mikro.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Shieled Metal Arc Welding (SMAW) adalah metode pengelasan yang memanfaatkan nyala busur sebagai pencair logam. Metode las SMAW merupakan proses las manual yang menggunakan tangan dan sangat mudah. Pengelasan dengan metode SMAW paling banyak digunakan dikarenakan metodenya mudah. Tetapi hasil dari pengelasan tergantung pada faktor arus, tebal logam, elektroda dan kampuh. Pada proses manufaktur penyambungan logam pada PT. Pertamina Bunyu welder berasumsi bahwa penyambungan dengan kampuh dan tanpa kampuh memiliki hasil yang sama. Oleh karena itu, dilakukannya penelitian ini dengan tujuan mengetahui hasil pengelasan SMAW dengan kampuh V dan kampuh I. Metode yang dilakukan adalah penetrant test, kekerasan dan struktur mikro dengan ketebalan bahan uji 8 mm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kekerasan Brinell tertinggi dengan variasi kampuh didapatkan pada spesimen kampuh V yaitu sebesar 161,6 kgf/𝑚𝑚2 untuk daerah HAZ dan pada spesimen kampuh I sebesar 124,3 kgf/𝑚𝑚2 . Kemudian pada daerah weld metal kampuh V memiliki nilai kekerasan sebesar 157,3 kgf/𝑚𝑚2 dan kampuh I 149,6 kgf/𝑚𝑚2 . sedangkan nilai kekerasan pada daerah base metal kampuh V yakni 150,3 kgf/𝑚𝑚2 dan kampuh I sebesar 126,6 kgf/𝑚𝑚2 . Pada hasil pengamatan foto struktur mikro pada variasi kampuh bahwa kampuh V lebih baik atau minim terjadinya cacat. Hal ini disebabkan karena masukan panas dan proses pendinginan pada saat proses pengelasan sehingga mempengaruhi tingkat kekerasan dan kualitas hasil pengelasan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemilihan variasi jahitan las pada baja saluran UNP untuk aplikasi mesin uji universal. Penelitian ini menggunakan uji tarik dan tekuk pada spesimen baja kanal UNP dengan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dengan variasi arus 80 A. Pengujian dilakukan di laboratorium pengujian material Institut Teknologi Nasional Malang. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa jahitan las variasi variasi K scam mempunyai kuat tarik paling tinggi yaitu sebesar 56,49 kgf/mm2, sedangkan jahitan las variasi 1 mempunyai kuat tarik paling rendah yaitu 26,17 kgf/mm2. Selain itu, hasil uji lentur menggambarkan variasi jahitan V yang dilas mencapai tegangan lentur maksimum tertinggi yaitu 105,91 MPa, sedangkan variasi lasan K mempunyai tegangan lentur maksimum terendah yaitu 98,06 MPa. Meskipun terdapat sedikit perbedaan kekuatan lentur antara jahitan variasi V dan K, namun ternyata jahitan variasi V lebih mampu menahan beban lentur yang lebih besar dibandingkan variasi jahitan I dan K.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh arus pengelasan terhadap
kekuatan mekanik baja UNP menggunakan metode pengelasan SMAW untuk
aplikasi mesin uji universal. Penelitian dilakukan dengan variasi arus pengelasan
sebesar 80A, 90A, dan 100A. Pengujian dilakukan di laboratorium pengujian
material Institut Teknologi Malang. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa
variasi arus pengelesan yang ideal untuk bagian yang kan menrima beban tarik
yang besar adalah arus 100A. Hasil pengujian tarik menunjukkan bahwa variasi
arus pengelasan yang ideal untuk bagian yang akan menerima beban tarik yang
besar adalah arus 100A. Variasi ini menghasilkan kekuatan tarik maksimum
sebesar 83,67 kgf/𝑚𝑚2. Sedangkan pada hasil pengujian bending variasi arus
pengelasan yang direkomendasikan adalah arus 90A. Variasi ini menghasilkan
tegangan bending maksimum sebesar 114,14 MPa. Meskipun variasi arus 90A dan
100A memiliki perbedaan yang tidak signifikan dalam kekuatan bending, variasi
arus 90A lebih mampu menahan beban bending yang lebih besar dibandingkan
variasi arus 80A dan 100A.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengelasan SMAW adalah suatu proses penyambungan dua buah keping logam atau lebih dengan memanfaatkan panas yang terjadi dari loncatan elektroda pada dua buah kutub yang berbeda. Material baja ST 37 merupakan jenis baja ringan atau mild steel yang banyak dijadikan sebagai bahan konstruksi rangka mesin karena jenis material ini mudah didapatkan. Gerakan zig-zag merupakan gerakan elektroda yang menyerupai gerakan untuk menjahit serta memperluas area penyambungan dan gerakan spiral merupakan gerakan elektroda yang gerakannya hampir melingkar dan dilakukan secara kontinyu. Salah satu pemanfaatan pengelasan SMAW adalah sebagai penyambung besi siku baja ST 37 pada rangka mesin pemipil jagung yang menjadi objek pada penelitian ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui kekuatan sambungan las alur zig-zag dan spiral serta mengetahui kecacatan hasil sambungan pengelasannya. Proses pengujian pada penelitian ini menggunakan tiga metode pengujian yakni NDT penetrant, metalografi, dan uji kekerasan vickers. Hasilnya untuk alur zig-zag terlihat satu kecacatan yang muncul begitu pula dengan alur spiral yang juga memiliki satu kecacatan. Untuk struktur mikronya alur zig-zag didominasi oleh fasa ferrite begitu juga dengan alur spiral, tetapi alur spiral banyak terlihat fasa perlite. Alur zig-zag memiliki nilai kekerasan 216,06 kgf/〖mm〗^2 sedangkan alur spiral memiliki nilai kekerasan 250,51 kgf/〖mm〗^2. Kedua alur pengelasan memiliki kecacatan yang sama tetapi struktur mikro dan nilai kekerasannya berbeda di mana alur spiral memiliki kekerasan lebih baik dari pada alur zig-zag.