ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perlakuan panas awal (preheat) pada proses pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) terhadap kualitas sambungan baja karbon rendah. Fokus utama penelitian adalah membandingkan hasil pengelasan antara kondisi tanpa perlakuan panas (non-preheat) dan dengan suhu preheat 200°C terhadap cacat permukaan (penetrant test), kekuatan tarik, dan perubahan struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian preheat 200°C efektif mencegah terjadinya distorsi pada spesimen dibandingkan tanpa perlakuan panas. Pada uji penetrant, kedua kondisi masih menunjukkan adanya cacat porositas pada pengelasan Preheat 200°C dan cacat undercut, spatter pada pengelasan tanpa perlakuan panas. Secara mekanik, spesimen tanpa perlakuan memiliki kekuatan tarik rata-rata tertinggi sebesar 135 MPa dengan regangan 33% (elongation). Sebaliknya, spesimen dengan preheat 200°C mengalami penurunan kekuatan tarik menjadi 122 MPa, namun nilai regangan (elongation) meningkat menjadi 34%. Analisis struktur mikro menunjukkan bahwa hasil dari perlakuan panas preheat menghasilkan struktur butir yang besar karena laju pendinginan yang lebih lambat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Korosi merupakan masalah degradasi material yang kritis, terutama pada baja karbon rendah yang digunakan secara luas dalam konstruksi dan industri perkapalan. Daerah sambungan pengelasan seringkali menjadi titik rentan akibat perubahan mikrostruktur dan sifat mekanik yang disebabkan oleh siklus termal pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju korosi dan struktur mikro pada daerah sambungan pengelasan baja karbon rendah yang dihasilkan menggunakan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dengan arus 90 A. Pengujian korosi dilakukan menggunakan Metode Kehilangan Berat (Weight Loss Method) selama periode empat minggu dengan air hujan sebagai media korosi. Hasil pengujian laju korosi menunjukkan bahwa spesimen yang dilas mengalami kehilangan massa yang terakumulasi dari waktu ke waktu. Laju korosi tertinggi tercatat pada Minggu ke-2 (0,222 mm/y), hal ini membuktikan bahwa pengaruh panas pada saat proses pengelasan terjadi dapat mempengaruhi laju korosi, selain pengaruh pengaruh panas proses pengelasan laju korosi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan suhu dan tingkat keasamaan media korosi itu sendiri. Selain itu sambungan las SMAW pada baja karbon rendah juga menunjukkan ketahanan korosi yang amat sangat baik terhadap paparan air hujan, meskipun kerentanan korosi perlu dipertimbangkan pada periode awal paparan. Kata Kunci: Baja Karbon Rendah, Las SMAW, Laju Korosi, Weight Loss, Struktur Mikro.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Shieled Metal Arc Welding (SMAW) adalah metode pengelasan yang memanfaatkan nyala busur sebagai pencair logam. Metode las SMAW merupakan proses las manual yang menggunakan tangan dan sangat mudah. Pengelasan dengan metode SMAW paling banyak digunakan dikarenakan metodenya mudah. Tetapi hasil dari pengelasan tergantung pada faktor arus, tebal logam, elektroda dan kampuh. Pada proses manufaktur penyambungan logam pada PT. Pertamina Bunyu welder berasumsi bahwa penyambungan dengan kampuh dan tanpa kampuh memiliki hasil yang sama. Oleh karena itu, dilakukannya penelitian ini dengan tujuan mengetahui hasil pengelasan SMAW dengan kampuh V dan kampuh I. Metode yang dilakukan adalah penetrant test, kekerasan dan struktur mikro dengan ketebalan bahan uji 8 mm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kekerasan Brinell tertinggi dengan variasi kampuh didapatkan pada spesimen kampuh V yaitu sebesar 161,6 kgf/𝑚𝑚2 untuk daerah HAZ dan pada spesimen kampuh I sebesar 124,3 kgf/𝑚𝑚2 . Kemudian pada daerah weld metal kampuh V memiliki nilai kekerasan sebesar 157,3 kgf/𝑚𝑚2 dan kampuh I 149,6 kgf/𝑚𝑚2 . sedangkan nilai kekerasan pada daerah base metal kampuh V yakni 150,3 kgf/𝑚𝑚2 dan kampuh I sebesar 126,6 kgf/𝑚𝑚2 . Pada hasil pengamatan foto struktur mikro pada variasi kampuh bahwa kampuh V lebih baik atau minim terjadinya cacat. Hal ini disebabkan karena masukan panas dan proses pendinginan pada saat proses pengelasan sehingga mempengaruhi tingkat kekerasan dan kualitas hasil pengelasan.