ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN HARAPAN DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang dapat memengaruhi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan sehingga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Salah satu faktor psikologis yang diduga berhubungan dengan kualitas hidup adalah harapan. Harapan yang baik dapat meningkatkan motivasi pasien dalam menjalani pengobatan, melakukan perawatan diri, serta mempertahankan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara harapan dengan kualitas hidup pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner State Hope Scale (SHS) untuk mengukur harapan dan Diabetes Quality of Life (DQOL) untuk mengukur kualitas hidup. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara harapan dengan kualitas hidup pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan nilai p = 0,014 dan r = 0,267, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi lemah. Berdasarkan temuan ini pasien Diabetes melitus tipe 2 diharapkan dapat terus meningkatkan harapan untuk kualitas hidup yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan prevalensi tinggi di wilayah pesisir, termasuk area kerja Puskesmas Karang Rejo, Kota Tarakan. Hipertensi menurunkan kualitas hidup karena menimbulkan gejala fisik, kecemasan, keterbatasan beraktivitas, dan kesulitan mengelola diet serta pengobatan. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mengeksplorasi kualitas hidup pasien hipertensi dewasa yang tinggal di wilayah pesisir. Metode pengambilan data menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan wawancara semi-terstruktur pada 12 partisipan usia >18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mengidentifikasi enam tema utama yang merefleksikan penurunan kualitas hidup: (1) Beban Gejala pada Daily Life, (2) Kekhawatiran dalam Ketidakpastian Hipertensi, (3) Keterbatasan dalam Keseharian, (4) Kontrol Diet dan Kompromi Diet, (5) Hidup dengan Keterikatan dan Kelalaian Terhadap Obat, serta (6) Kekuatan Dukungan bagi Penderita Hipertensi. Disimpulkan bahwa pasien hipertensi di wilayah pesisir mengalami penurunan kualitas hidup yang dipengaruhi oleh gejala fisik dan kecemasan terkait penyakit, serta tantangan dalam mengelola pola makan dan kepatuhan obat. Meskipun ada tantangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan mengelola pola makan serta obat, dukungan dari keluarga sangat membantu pasien mengatasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi penyakitnya. Peneliti mengharapkan agar penelitian selanjutnya dapat mengembangkan studi ini dengan memperhatikan keterbatasan yang ada, sehingga penelitian ini mampu berkembang lebih lanjut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas hidup merupakan bagian yang penting dalam kehidupan orang dewasa yang hidup dengan hipertensi. Hipertensi menyebabkan pasien sering mengalami keluhan fisik, keterbatasan aktivitas, gangguan tidur, dan ketidakpuasan terhadap lingkungan mereka, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hipertensi di wilayah rural pesisir. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain descriptive dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 298 pasien hipertensi yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner WHOQOL-BREF versi Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden yang mengikuti penelitian berada pada tingkat kualitas hidup kategori baik (51%). Kesimpulan penelitian bahwa tingkat kualitas hidup pasien hipertensi di wilayah rural pesisir berada pada kategori baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dewasa merupakan kelompok usia yang rentan akan perubahan fisik, psikologis dan sosial. Semakin bertambahnya usia seseorang, maka tekanan darah juga akan semakin meningkat. Hipertensi pada orang dewasa dikaitkan dengan proses penuaan dari dewasa menjadi pra lansia terjadi perubahan pada tubuh. Kesadaran diri dan kualitas hidup adalah salah satu faktor pencetus terjadinya tekanan darah meningkat, kurangnya kesadaran diri pada seseorang akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesadaran diri dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan hipertensi. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah orang dewasa dengan hipertensi di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 162 responden. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Blood Pressure Awareness Scale and Insight Scale (BASIS) dengan 10 item pertanyaan dan kuesioner WHOQOL – BREF dengan 26 pertanyaan. Penelitian ini menggunakan uji statistik chi-square. Hasil uji chi- square menunjukan tidak terdapat hubungan antara kesadaran diri dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan hipertensi dengan nilai (P=0,166). Hasil penelitian ini orang dewasa dengan hipertensi sebagian besar berusia 40-49 tahun, berjenis kelamin perempuan, bekerja sebagai IRT, berpendidikan terakhir SLTA, memiliki riwayat hipertensi 1 bulan-3 tahun dan memiliki riwayat keluarga menderita hipertensi, memiliki kesadaran diri baik dan kualitas hidup baik. Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan antara kesadaran diri dan kualitas hidup pada orang dewasa dengan hipertensi di Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan. Sehingga perlu dilakukan edukasi terkait hipertensi untuk meningkatkan atau mempertahankan kesadaran diri agar kualitas hidupnya menjadi lebih baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gagal Ginjal Kronik terjadi karena kemunduran fungsi dari ginjal ireversibel yang terjadi beberapa bulan atau tahun. Keadaan ini mengakibatkan ketidakmampuan dalam mempertahankan keseimbangan substansi tubuh atau akumulasi cairan dan produk sisa yang memerlukan penggantian ginjal atau terapi dialysis. Terapi hemodialisis merupakan terapi pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dari peredaran darah manusia yang akan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD dr. H. Jusuf SK Kalimantan Utara. Jenis penelitian deskritif dengan menggunakan desain cross sectional study. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RSUD dr. H. JUSUF SK Kalimantan Utara yang berjumlah 100 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner dari WHOQoL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dan pekerjaan dengan p value 0,369 dan 0,398 sedangkan dengan jenis kelamin, pendidikan, lama HD, frekuensi HD ditemukan ada hubungan dengan masing-masing p value 0,036 ; 0,011; 0,034 dan 0,008. Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, pendidikan, lama hemodialisa dan frekuensi hemodialisa dengan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisa, sedangkan usia dan pekerjaan tidak mempunyai hubungan dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisa di RSUD dr. H. Jusuf SK. Saran pada penelitian selanjutnya untuk dapat memasukkan variable seperti dukungan keluarga, kecemasan dan faktor ekonomi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gagal ginjal kronik terjadi di semua provinsi di Indonesia. Penyakit gagal ginjal kronik yang sudah mencapai stadium akhir dan ginjal tidak berfungsi lagi, diperlukan hemodialisis untuk mengganti fungsi ginjal. Berdasarkan laporan Indonesia Renal Registry (2014), adanya peningkatan pasien hemodialisis yaitu 9396 orang, dan di tahun 2018 provinsi Jawa Timur memiliki pasien hemodialisis sebesar 23,14%. Data yang diperoleh dari RSUD dr.H.Jusuf SK pada bulan Juli 2022 menunjukkan jumlah pasien yang rutin menjalani hemodialisis berjumlah 126 orang. Hemodialisis membutuhkan waktu yang lama dan harus dijalani dengan rutin, dan dapat mengganggu aktivitas penderita seperti bekerja, olahraga, makan, minum dan kegiatan lainnya. Hemodialisis dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dalam berbagai aspek kehidupan seperti aspek fisiologis, psikologis, dan sosial ekonomi. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga berdampak pada keluarga dan masyarakat. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik di RSUD dr. H. Jusuf SK. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel 125 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kualitas hidup dengan lamanya menjalani hemodialisis dengan nilai korelasi 0,0180,05. Diharapkan pasien gagal ginjal kronik dapat menjalani hemodialisis secara teratur dan menjaga pola hidup sehat agar dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN HERNIATED NUCLEUS PULPOSUS (HNP) DI RSUD DR. H. JUSUF SK TARAKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA Indonesia menetapkan target pada tahun 2030 mengurangi angka kematian dini akibat penyakit tidak menular. Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang sering disebut dengan sakit punggung bagian bawah (low back pain) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang umum dijumpai pada seluruh masyarakat, baik secara global maupun nasional. Sekitar 90% HNP terjadi di area lumbosacral spine, 8% di area cervical spine dan 1% hingga 2% di area thoracic spine. Apabila seseorang terdiagnosis HNP maka perlu dilakukan perawatan secara profesional dengan durasi waktu yang cukup lama dan biaya yang mahal disertai resiko kejadian berulang. Hal ini tentu akan berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan diantaranya kondisi ekonomi, keharmonisan keluarga, kualitas kehidupan dan kejiwaan seseorang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup pasien Herniated Nucleus Pulposus (HNP) di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian studi penampang analitis (analytic cross-sectional study). Populasi pada penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa medis HNP. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sebanyak 51 responden. Hasil data variabel berdistribusi tidak normal setelah diuji menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Uji Spearman Rank menunjukkan hasil uji statistik bahwa nilai signifikansi 0,000 0,05 dengan coefficient correlation -0,75** sehingga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dengan kualitas hidup dengan kekuatan hubungan kuat dan arah hubungan negatif. Kesimpulan semakin tinggi tingkat depresi maka semakin rendah kualitas hidup pasien HNP atau semakin rendah tingkat depresi maka semakin tinggi kualitas hidup pasien