ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan dan bahan obat tradisional, sehingga kebutuhannya terus meningkat setiap tahun. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti oleh produksi yang stabil, kondisi ini menunjukkan perlunya barbaikan teknik budidaya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketebalan irisan umbi dan dosis pupuk NPK serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kota Tarakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah ketebalan irisan umbi bawang merah yang terdiri dari empat perlakuan yaitu; P0: Tanpa pengirisan umbi, P1: Pengirisan 1/2 bagian umbi, P2: Pengirisan 1/3 bagian umbi, P3: Pengirisan 1/4 bagian umbi dan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu; N1: Dosis pupuk NPK 35 gram, N2: Dosis pupuk NPK 50 gram, N3: Dosis pupuk NPK 65 gram. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat basah, berat kering, diameter umbi dan produksi per hektarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengirisan umbi sebesar 1/3 bagian umbi mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah umbi dibandingkan tanpa pengirisan maupun pengirisan 1/2 bagian umbi. Pemberian pupuk NPK dengan dosis 50 gram menunjukkan pengaruh yang lebih baik terhadap jumlah umbi dan berat kering dibandingkan dosis rendah 35 gram dan dosis tinggi 65 gram. Interaksi antara ketebalan irisan umbi dan dosis pupuk NPK tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Secara keseluruhan, kombinasi pengirisan umbi 1/3 bagian umbi dengan pemberian pupuk NPK dosis 50 gram memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah yang lebih baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Latar Belakang: Nyeri punggung pasca persalinan sering dialami ibu nifas dan dapat mengganggu aktivitas serta pemberian ASI. Penanganan farmakologis memiliki keterbatasan, terutama pada ibu menyusui. Effleurage massage merupakan terapi komplementer yang aman, efektif, dan mudah diterapkan. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan melalui effleurage massage untuk mengurangi nyeri punggung pada ibu nifas. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menerapkan asuhan kebidanan pada bayi demam pasca imunisasi menggunakan kompres bawang merah dengan pendekatan 7 langkah Varney dan format SOAP. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada Bayi , perempuan, usia 3 bulan yang mengalami demam (suhu 38,2°C) setelah imunisasi DPT dan PCV. Intervensi kompres bawang merah dilakukan selama 20 menit dengan monitoring suhu setiap 10 menit, dikombinasikan dengan pemberian ASI tambahan dan observasi kondisi umum bayi. Hasil: Setelah pemberian kompres bawang merah, terjadi penurunan suhu tubuh dari 38,2°C menjadi 37,1°C dalam waktu 25 menit. Bayi menunjukkan perbaikan kondisi dengan berkurangnya rewel, peningkatan nafsu menyusu, dan tidak ditemukan efek samping atau iritasi kulit. Orang tua menunjukkan respon positif dan antusiasme terhadap intervensi yang diberikan. Kesimpulan: Terapi komplementer kompres bawang merah terbukti efektif dalam menurunkan demam pasca imunisasi pada bayi dan dapat digunakan sebagai alternatif intervensi non-farmakologis yang aman, murah, dan mudah diaplikasikan oleh keluarga di rumah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RESPON PANJANG STEK MELATI PUTIH (Jasminum sambac) DENGAN MENGGUNAKAN EKSTRAK BAWANG MERAH Abstrak Melati putih (Jasminum sambac) merupakan salah satu tanaman bunga hias yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia yang berasal dari berbagai daerah di Asia, Afrika, dan Australia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan stek melati putih (Jasminum sambac) terhadap variasi panjang stek dengan aplikasi ekstrak bawang merah sebagai zat pengatur tumbuh alami. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu panjang stek yang terdiri dari lima taraf: 5 cm, 10 cm, 15 cm, 20 cm, dan 25 cm. Setiap perlakuan diulang empat kali. Metode penelitian meliputi perendaman stek melati putih dalam ekstrak bawang merah selama 2 jam sebelum ditanam pada media campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang (2:1:1). Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar, dan jumlah bunga pada periode waktu tertentu (15, 30, dan 45 Hari Setelah Tanam). Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% untuk mengidentifikasi perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan panjang stek 10 cm dengan aplikasi ekstrak bawang merah memberikan respon terbaik secara signifikan terhadap beberapa parameter pertumbuhan. Secara spesifik, pada pengamatan 45 HST, perlakuan stek dengan panjang 10 cm (P2) menunjukkan rerata tertinggi pada tinggi tanaman (23,50 cm), jumlah daun (12 helai), jumlah tunas (4,75), jumlah akar, panjang akar, dan jumlah bunga dibandingkan dengan perlakuan panjang stek lainnya. Dapat disimpulkan bahwa panjang stek 10 cm yang diberi perlakuan ekstrak bawang merah secara efektif meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan stek melati putih. Kata kunci: Melati Putih, Stek, Panjang Stek, Ekstrak Bawang Merah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bermaksud menjawab dua pertanyaan terkait permintaan bawang merah (Allium ascaonicum L) pada tingkat konsumen rumah tangga di Kota Taraan. Pertama, faktor-faktor apa saja yang mempenrgaruhi permintaan bawang merah? Kedua, bagaimana elastisitas permintaan bawang merah?. Skripsi ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Data yang digunakan dalam penelian ini terdiri dari data primer dan data sekuder. Pengambilan sampel konsumen digunakan dengan metode sampling kebetulan (Accidental Sampling) yakni konsumen yang sedang membeli Bawang Merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai R Square sebesar 0,861 yang berarti bahwa 86,1% variasi permintaan bawang merah dapat dijelaskan oleh variabel harga bawang merah, pendapatan, dan jumlah tanggungan sedangkan sisanya yaitu sebesar 13,9% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. Hasil uji F menunjukkan bahwa secara simultan semua variabel independent (X) berpengaruh nyata terhadap variabel dependent (Y) yang artinya input yang digunakan memberikan pengaruh nyata terhadap permintaan bawang merah di kota Tarakan. Secara parsial (uji t) variabel harga bawang merah (X1) dengan nilai Sig. sebesar 0,000 0,05 dan variabel pendapatan (X2) dengan nilai Sig. sebesar 0,037 0,05 berpengaruh signfikan terhadap permintaan bawang merah. Sedangkan untuk jumlah tanggungan (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan bawang merah dikarenakan nilai signifikannya > 0,05. Hasil elastisitas permintaan terhadap harga bawang merah bersifat inelastis, dengan nilai koefisien sebesar 0,786.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman padi ( Oryza sativa L.) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting di Indonesia karena merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Zat pengatur tumbuh (ZPT) mutlak dibutuhkan tanaman, karena tanpa ZPT tidak akan terjadi pertumbuhan walaupun unsur hara memadai. Maka dapat diberikan ZPT eksogen sebagai perlakuan terutama pada perkecambahan. Sejumlah bahan hayati diketahui memiliki potensi sebagai sumber ZPT alami baik dari tumbuhan maupun hewan. Beberapa bahan-bahan hayati tersebut adalah: Bawang merah, Air kelapa. Bawang merah diketahui juga mengandung hormon auksin. Selain itu, pada bawang merah yang telah dihancurkan akan terbentuk senyawa allithiamin yang berperan melancarkan metabolisme pada jaringan tumbuhan dan dapar bersifat fungisida dan bakterisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi terbaik dari ZPT dan air panas dalam menjaga viabilitas benih padi dari infeksi A.Besseyi selama penyemaian. Rancangan percobaan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan: U1 Kontrol (tanpa zpt) ; U2 Bawang Merah; U3 Air Kelapa; U4 Rootone F. berdasarkan hasil analisis sidik ragam yang dilakukan, pemberian perlakuan kombinasi air panas dan ZPT berpengaruh nyata terhadap parameter persentase bibit bergejala dan panjang gejala namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase benih berkecambah dan tinggi bibit.