ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Fenomena alam yang sering terjadi di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan maupun peralatan listrik. Gedung Perpustakaan Universitas Borneo Tarakan sebagai fasilitas pendidikan yang menyimpan berbagai perangkat elektronik dan koleksi penting memerlukan sistem proteksi petir yang baik untuk mengurangi risiko kerusakan akibat sambaran petir. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem penangkal petir pada gedung tersebut untuk mengetahui tingkat keandalan dan efektivitas sistem proteksi yang terpasang. Hasil perhitungan dan analisis yang dilakukan, diperoleh nilai resistansi tanah pada Gedung Perpustakaan Universitas Borneo Tarakan sebesar 0,66 Ω yang menunjukkan bahwa sistem pentanahan pada gedung tersebut berada dalam kondisi baik. Data hari guruh selama tahun 2024 tercatat sebanyak 104 hari. Dari data tersebut diperoleh nilai indeks bahaya sambaran petir (R) sebesar 19 yang menunjukkan tingkat bahaya sambaran petir yang sangat besar. Selanjutnya diperoleh nilai kerapatan sambaran petir (Ng) sebesar 13,284 sambaran/km² per tahun. Hasil perhitungan area proteksi (Ae) pada gedung perpustakaan adalah sebesar 581.816,02 m². Berdasarkan nilai Ng dan Ae tersebut, diperoleh nilai frekuensi sambaran petir langsung per tahun (Nd) sebesar 7,72 sambaran/tahun. Sementara nilai frekuensi sambaran petir tahunan yang diperbolehkan (Nc) adalah sebesar 10⁻¹ per tahun. Karena nilai Nd lebih besar dibandingkan dengan nilai Nc (Nd > Nc), maka gedung tersebut memerlukan sistem proteksi petir yang memadai. Dari hasil analisis tersebut diperoleh nilai efisiensi sistem proteksi petir sebesar 98%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Gedung Perpustakaan Universitas Borneo Tarakan memiliki tingkat risiko sambaran petir yang tinggi sehingga memerlukan sistem proteksi petir yang efektif untuk melindungi bangunan dan peralatan di dalamnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Padang lamun berperan penting sebagai habitat biota, penstabil sedimen, dan penyedia jasa ekosistem pesisir. Pertumbuhan lamun dipengaruhi oleh karakteristik sedimen yang menjadi media perakaran. Informasi mengenai hubungan ukuran butiran sedimen dan kerapatan lamun di Pulau Maratua, khususnya desa Bohei Bukut dan desa Payung-Payung, masih terbatas sehingga perlu dikaji.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tekstur sedimen, menentukan tutupan dan kerapatan lamun, serta menganalisis hubungan ukuran butiran sedimen dengan kerapatan lamun. Metode yang digunakan adalah purposive sampling pada 24 titik pengamatan dengan transek kuadrat 50×50 cm. Analisis sedimen dilakukan dengan pengayakan kering dan klasifikasi Blott & Pye (2012), sedangkan kerapatan lamun dihitung per meter persegi. Hubungan antara sedimen dan lamun diuji menggunakan regresi linear.Hasil penelitian menunjukkan sedimen didominasi fraksi pasir dengan tekstur pasir berkerikil dan pasir sedikit berkerikil. Tiga spesies lamun ditemukan, yaitu Halodule uninervis, Halophila minor, dan Cymodocea cerulata dengan kerapatan sangat rapat (>175 ind/m²). Hasil regresi menunjukkan hubungan signifikan antara ukuran butiran sedimen dan kerapatan lamun, yang berarti semakin rapat lamun, semakin halus sedimen.K arakteristik sedimen berperan penting dalam mendukung keberadaan padang lamun, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengelolaan ekosistem pesisir berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Padang lamun adalah ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam ekologi dan biologi di kawasan pesisir dan estuari. Lamun berperan sebagai produsen dan menyediakan makanan bagi biota seperti penyu, ikan dan vertebrata lainnya. Pulau Derawan yang terleas di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu Pulau yang memiliki ekowisata padang lamun yang penting bagi kehidupan biota perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji status keberlanjutan ekologis padang lamun di Kepulauan Derawan. penelitian dilaksanakan pada Bulan Desember 2023 sampai dengan Februari 2024. Parameter penentuan dalam analisis adalah kualitas air dan lamun seperti kebauan, sampah, kecerahan, derajat keasaman (pH), amonia total, minyak dan lemak, total suspended solids(TSS), kelarutan oksigen (DO), salinitas, suhu, nitrat, tutupan dan kerapatan lamun. Data dari parameter tersebut dibuat scoring kemudian di analisis menggunakan multi domensional scaling (MDS) versi repfish untuk memperoleh nilai status keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas air memenuhi baku mutu air laut untuk wisata bahari, kondisi lamun agak rapat dan tutupan lamun kurang sehat. Berdasarkan nilai ineks status keberlanjutan diperoleh nilai 78,34 sehingga dapat di nilai bahwa perairan tersebut cukup berkelanjutan. Adapun paramater yang menyebabkan rendahnya status keberlanjutan pada dimensi ekologi padang lamun adalah kebauan (6,37) dan sampah (5,70).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Panjang memiliki ekosistem lamun yang sangat menentukan produktifitas perairan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas ekosistem lamun di Pulau Panjang Kabupaten Berau. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei -juli 2019 di Pulau Panjang di bagian wilayahUtara, Timur, Selatan, dan Barat. Pengambilandata menggunakan metode transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm yang dibagi dalam 4 kisi untuk memudahkan pengamatan. Pengamatan lamun di lapangan meliputi identifikasi tutupan, komposisi jenis, dan kerapatan. Hasil identifikasiyang ditemukan di Pulau Panjang terdapat sebanyak 7 jenis yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, danSyringodiumisoetifolium. Jumlah tutupan lamun yang didapat berkisar 67,75% -75% dan kerapatan jenis lamun berkisar 123 –2.654 tegakan/m² sedangkan lamun yang dominan ditemukan dalam setiap wilayah adalah jenis Halodule uninervis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove. Kerapatan mangrove sangat dipengaruhi oleh jenis substrat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara jenis substrat terhadap kerapatan pohon Rhizophora sp di hutan mangrove Kota Tarakan dengan membandingkan jenis substrat terhadap kerapatan spesies tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2019 metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun yaitu daerah Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) dan Kawasan Konservasi Mangrove Mamburungan Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Hasil penelitian terdapat 3 jenis substrat yaitu lempung liat berdebu, lempung berdebu dan liat berdebu. Terdapat 3 jenis vegetasi Rhizophora sp yaitu Rhizophora Apiculata, Rhizophora Mucronata dan Rhizophora Stylosa.