ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau Scylla serrata merupakan salah satu komoditas ekonomis dan saat ini kondisi kepiting sangat memprihatinkan diakibatkan ekploitasi. Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya kepiting adalah rendahnya tingkat kelangsungan hidup dari larva kepiting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik EM4 pada pakan alami rotifera dan artemia terhadap sintasan larva kepiting, sebagai upaya pengembangan budidaya mulai dari larva kepiting bakau (Scylla serrata) sampai crablate. Penelitian dilaksanakan di mini hatchery koperasi produsen nelayan Kalimantan Utara menggunakan metode rancangan acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan meliputi pakan tanpa pengkayaan probiotik (P1) dan pakan yang diperkaya probiotik EM4 dengan dosis 0,01 ml/L (P2), 0,1 ml/L (P3), dan 1 ml/L (P4). Parameter utama yang diamati adalah tingkat sintasan larva dari stadia zoea I hingga crablate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 dengan dosis 0,01ml/L memberikan sintasan tertinggi hingga mencapai 7,50% pada fase crablate, sementara perlakuan tanpa probiotik (P1) memberikan sintasan terendah yaitu 3,33%. Penggunaan probiotik terbukti meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh larva, yang berdampak pada kelangsungan hidup larva.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Metode mutilasi pada kepiting bakau perlu dikurangi meskipun sangat memicu percepatan moulting. Uji manipulasi lingkungan pada budidaya kepiting soka perlu dilakukan yakni menggunakan kejutan salinitas air pada media pemeliharaan tanpa adanya mutilasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji proses moulting kepiting bakau (Scylla serrata) yang optimal dengan menggunakan perbedaan salinitas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan meliputi: perlakuan A salinitas 5 ppt; perlakukan B salinitas 10 ppt; perlakuan C salinitas 15 ppt; dan perlakuan D salinitas 20 ppt. Kepiting yang digunakan memiliki bobot tubuh berkisar antara 40 – 60 gram berjenis kelamin jantan dengan jumlah 16 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki waktu tercepat pada proses moulting, dengan hasil rata – rata 18 hari diikuti perlakuan B dengan lama waktu sekitar 32 hari, perlakuan C sekitar 34 hari dan perlakuan D tidak terjadi proses moulting pada waktu yang ditentukan. Hasil dari tingkat kelangsungan hidup selama penelitian adalah perlakuan B dan C memiliki tingkat kelangsungan hidup terbaik sekitar 100% sedangkan perlakuan A dan D dengan tingkat kelangsungan hidup yang cukup baik sekitar 75%. Berdasarkan uji ANOVA tidak terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekosistem mangrove merupakan salah satu habitat bagi kepiting bakau yang berfungsi sebagai tempat mencari makan maupun pembesaran. Penelitian bertujuan untuk mengetahui morfometri dan tingkat kematangan telur kepiting bakau betina (Scylla serrata) di KKMK Kelurahan Pamusian. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 3 (Tiga) titik stasiun dan masing-masing stasiun terdiri dari 3 plot. Pada setiap plot masing-masing di pasang 2 buah bubu lipat. Hasil tangkapan yang didapatkan sebanyak 24 ekor yang terdiri dari 9 ekor betina dan 15 ekor jantan. Hasil frekuensi kelas ukuran panjang tubuh kepiting bakau terbesar di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat pada interval kelas 6 – 6,9 cm dengan persentase 38 % dari total tangkapan sebanyak 9 ekor. Hasil pengukuran lebar karapas kepiting bakau didapatkan 6 kelas ukuran lebar karapas. Perhitungan kelas ukuran lebar karapas ditentukan berdasarkan jarak interval dari ukuran lebar karapas terkecil dengan nilai 8 -12 cm dengan persentase 33%. Hasil distribusi frekuensi kelas ukuran berat tubuh kepiting bakau terbesar di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat pada interval kelas 84 – 139 gr dengan persentase 38 %. Tingkat kematangan telur kepiting bakau betina yang didapatkan di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat TKO I, TKO II dan TKO III karena kepiting bakau memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai tempat mencari makan (Feeding ground).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove forest is one of the mangrove crab habitats which is used as a spawning and rearing area. The purpose of the study was to analyze the relationship between mangrove density and the abundance of mangrove crabs in the Mangrove and Crab Conservation Area, Pamusian Village, Tarakan City. The sampling method used is purposive sampling method. carried out at 3 (three) station points and each station consists of 3 plots. In each plot, 2 folding traps were installed. The results showed that the highest density of mangrove species was from the mangrove species Rhizophora mucronata, while the lowest density was from the mangrove species Lumnitzera racemosa. The highest abundance of mangrove crabs was at station 3 and the lowest was at station 2. The correlation between mangrove density and mangrove crab (Scylla serrata) was found to have a tree-level correlation with an R2 value of 0.626 (Strong), tiller level with an R2 value of 0.041 (Very weak). and the seedling level with an R2 value of 0.227 (very weak). The effect of mangrove density on mangrove crabs using a simple linear regression test of 0.65 which means that the relationship between mangroves and mangrove crabs is quite strong, namely 65% while 35% is influenced by other factors.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Oil crab berperan penting dalam proses percepatan matang ovari pada kepiting bakau dan sudah diuji dalam media pemeliharaan terkontrol di Hactcery. Pematangan ovari merupakan usaha untuk mematangkan gonad kepiting bakau, pematangan ovari pada golongan krustase termasuk kepiting dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: lingkungan, pakan dan hormonal. Metode yang dapat digunakan untuk mempercepat kematangan ovari kepiting bakau adalah menggunakan penambahan formula Oil Crab ini dapat mempercepat kematangan ovari pada kepiting bakau, Oil Crab juga dapat merangsang laju oksidasi bahan makanan, meningkatkan laju konsumsi oksigen, meningkatkan pertumbuhan dan mempercepat proses ganti kulit pada hewan crustacea. Sebagai langkah untuk mendukung perkembangan budidaya kepiting perlu dilakukan penelitian yang berhubungan dengan perkembangan ovari induk kepiting bakau dengan penambahan formula Oil Crabs pada kepiting bakau. Penambahan Oil Crab ini untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi kematangan ovari kepiting bakau. Dengan adanya Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektifitas penambahan formula Oil Crabs terhadap perkembangan ovari induk kepiting bakau sehingga dapat digunakan sebagai salah satu metode alternatif untuk penyediaan induk matang ovari. Sehingga Tujuan penelitian ini yaitu menguji efektifitas penambahan formula Oil Crab terhadap perkembangan ovari induk kepiting bakau (Scylla Serrata). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dosis Oil crab yang digunakan pada induk kepitng bakau terdiri dari 4 perlakuan yaitu A 0 ml (kontrol), B 0,2 ml, C 0,4 ml dan D 0,6 ml dan pengukuran kualitas air pada parameter DO 6,7-7,8 mg/L, suhu 27-31 °C, Salinitas 15-18 ppt dan pH 7, Amonia 0,02 ppm. Hasil penelitian dianalisa menggunakan software SPSS 23.0 dengan menunjukkan perlakuan Oil Crab berbeda nyata dengan perlakuan kontrol terhadapat kematangan ovari induk kepiting bakau. Berdasarkan dari perlakuan kontrol tidak mengalami perubahan ovari dan tidak sampai di tahap berried, hasil dari perlakuan dosis 0, 2 ml mendapatkan beriied pada hari ke 29, dan hasil dari dosis 0, 6 pada hari ke 30 sudah menggendong. Penambahan Oil Crab pada dosis 0,4 ml mendapatkan hasil yang terbaik bagi kematangan ovari kepiting bakau pada hari ke 25.