MORFOMETRI DAN TINGKAT KEMATANGAN TELUR KEPITING BAKAU (SCYLLA SERRATA) DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN KEPITING KELURAHAN PAMUSIAN KOTA TARAKAN
Ekosistem mangrove merupakan salah satu habitat bagi kepiting bakau yang berfungsi sebagai tempat mencari makan maupun pembesaran. Penelitian bertujuan untuk mengetahui morfometri dan tingkat kematangan telur kepiting bakau betina (Scylla serrata) di KKMK Kelurahan Pamusian. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengamatan dilakukan pada 3 (Tiga) titik stasiun dan masing-masing stasiun terdiri dari 3 plot. Pada setiap plot masing-masing di pasang 2 buah bubu lipat. Hasil tangkapan yang didapatkan sebanyak 24 ekor yang terdiri dari 9 ekor betina dan 15 ekor jantan. Hasil frekuensi kelas ukuran panjang tubuh kepiting bakau terbesar di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat pada interval kelas 6 – 6,9 cm dengan persentase 38 % dari total tangkapan sebanyak 9 ekor. Hasil pengukuran lebar karapas kepiting bakau didapatkan 6 kelas ukuran lebar karapas. Perhitungan kelas ukuran lebar karapas ditentukan berdasarkan jarak interval dari ukuran lebar karapas terkecil dengan nilai 8 -12 cm dengan persentase 33%. Hasil distribusi frekuensi kelas ukuran berat tubuh kepiting bakau terbesar di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat pada interval kelas 84 – 139 gr dengan persentase 38 %. Tingkat kematangan telur kepiting bakau betina yang didapatkan di KKMK Kelurahan Pamusian terdapat TKO I, TKO II dan TKO III karena kepiting bakau memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai tempat mencari makan (Feeding ground).