ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Penelitian ini mengevaluasi dampak pendapatan per kapita, upah minimum, dan inflasi terhadap pola konsumsi di Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif daengan analisis regresi linier berganda, penelitian ini memanfaatkan data deret waktu sekunder periode 2015–2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam model ini, pola konsumsi (Y) ditetapkan sebagai variabel dependen, sedangkan pendapatan per kapita (X1), upah minimum provinsi (X2), dan inflasi (X3) bertindak sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, pendapatan per kapita dan upah minimum yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pola konsumsi, sedangkan inflasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Namun, secara simultan, ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh signifikan. Hasil penelitian ini diproyeksikan menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi terkait stabilitas harga, standar upah, dan penguatan daya beli masyarakat. Kata kunci: Pendapatan Perkapita, Upah Minimum, Inflasi, Pola Konsumsi Masyarakat, Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konsumsi pangan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi pangan pada mahasiswa pendatang di Universitas Borneo Tarakan. Mahasiswa pendatang sering menghadapi tantangan dalam menjaga pola makan yang sehat akibat keterbatasan waktu, akses terhadap makanan bergizi, dan penyesuaian dengan lingkungan baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling terhadap 100 responden mahasiswa angkatan 2021 yang berasal dari luar Kota Tarakan dan tinggal di kos. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa cenderung mengonsumsi makanan cepat saji dan instan. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi ketersediaan pangan, harga, pengaruh teman sebaya, waktu, dan pengetahuan gizi. Berdasarkan hasil uji regresi, diketahui bahwa variabel harga, pengaruh teman sebaya, waktu, dan pengetahuan gizi berpengaruh signifikan terhadap pola konsumsi pangan, sedangkan ketersediaan pangan tidak berpengaruh signifikan. Pengetahuan gizi merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi pola konsumsi pangan mahasiswa. Oleh karena itu, peningkatan literasi gizi di kalangan mahasiswa sangat penting untuk mendorong pola makan yang lebih sehat dan seimbang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pola: konsumsi dan tabungan, porsi belanja: pangan dan non pangan. Segmentasi Penggunaan dompet digital dalam konsumsi dan menabung jika dilihat berdasarkan usia dan suku bangsa di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode mix method dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Jenis data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh dengan metode accidental sampling melalui penyebaran kuesioner kepada 80 responden ibu rumah tangga. Meliputi empat tempat belanja yang mewakili empat kecamatan di Kota Tarakan yaitu Sinar Terang Baru, SR Baru, HG Mart, dan Big Mart. Analisis data dilakukan dengan dua pendekatan yaitu deskriptif kualitatif dan uji chi square dibantu dengan program SPSS 22. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola konsumsi rumah tangga lebih dominan dibandingkan pola menabung, dengan nilai MPC sebesar 0,525 dan MPS sebesar 0,475. Temuan ini memperkuat fakta bahwa hasrat konsumsinya lebih besar dari hasrat menabung. Porsi belanja rumah tangga juga lebih besar dialokasikan untuk kebutuhan pangan, terutama bahan makanan pokok, dengan pengeluaran mayoritas di atas Rp1.500.000. Analisis uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara usia dan suku bangsa dengan pola konsumsi dan tabungan (Asymp. Sig. 0,05). Semakin muda usia, semakin tinggi tingkat konsumsi yaitu lebih Rp. 1.500.000, yang berdampak pada rendahnya pola tabungan yaitu Rp500.000 – Rp1.000.000 (rendah). Dari sisi suku bangsa, suku Bugis memiliki pola konsumsi tertinggi lebih Rp. 1.500.000 karena pendapatannya tinggi dan tabungan rendah. Sementara itu, kelompok suku Jawa, dan suku Asli Kalimantan berada di rentang Rp500.000 – Rp1.000.000 (rendah). Kelompok suku lainnya seperti sunda, toraja, dan timur menunjukkan pola konsumsi kurang dari Rp500.000 (sangat kecil) dengan pola menabung berada di rentang Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 (rendah) dikarenakan pendapatannya rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis pencapaian inklusi keuangan terhadap program bantuan pemerintah melalui pola konsumsi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder hasil publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), Bank Indonesia (BI) dan Kementriaan Sosial. Data penelitian ini dimulai dari tahun 2015-2022 secara triwulanan. Penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS versi 26. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan yaitu Analisis Jalur (Path Analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agen laku pandai dan kartu ATM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap program keluarga harapan, terdapat e-money (server based) berpengaruh positif dan signifikan terhadap program keluarga harapan, terdapat hubungan pola konsumsi dengan program keluarga harapan berpengaruh positif dan signifikan. Agen laku pandai, kartu ATM, dan e-money (sever based) dan pola konsumsi secara keseluruhan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap program keluarga harapan sebesar 31,6%, pengaruh agen laku pandai dan pola konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap program keluarga harapan sebesar 92,2%, pengaruh kartu ATM dan pola konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap program keluarga harapan sebesar 41,6% dan pengaruh e-money (server based) dan pola konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap program keluarga harapan sebesar 52,0%.