ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi minyak atsiri lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) terhadap kualitas kimia, fisik, dan organoleptik nugget sayur selama penyimpanan, serta menentukan konsentrasi yang paling efektif dalam mempertahankan mutu produk. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Mei 2026 di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Borneo Tarakan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan lima perlakuan, yaitu P0 (0%), P1 (0,05%), P2 (0,10%), P3 (0,15%), dan P4 (0,20%) minyak atsiri lengkuas merah, masing-masing diulang lima kali. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 5, 10, dan 15 penyimpanan suhu dingin. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar 1,8 cineole, warna, tekstur, aroma, dan rasa. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak atsiri lengkuas merah tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air nugget sayur, tetapi berpengaruh nyata terhadap kadar 1,8 cineole, warna, tekstur, aroma, dan rasa selama penyimpanan. Perlakuan P4 menghasilkan kadar 1,8 cineole tertinggi pada seluruh waktu pengamatan, yaitu 17,61% pada hari ke-0 dan 13,82% pada hari ke-15. Namun, perlakuan P2 memberikan tingkat penerimaan panelis yang lebih baik terhadap rasa pada akhir penyimpanan. Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi minyak atsiri lengkuas merah 0,10% (P2) merupakan perlakuan yang paling efektif dalam mempertahankan kualitas nugget sayur selama penyimpanan 15 hari karena mampu menjaga keseimbangan antara kandungan senyawa aktif dan penerimaan organoleptik produk.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan praproses yang berbeda terhadap karakter fisik dan kimia minyak atsiri serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) serta menentukan perlakuan yang paling efektif. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan pada Januari 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan enam perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan meliputi batang serai utuh dan dicacah yang dikeringkan pada suhu 50°C, 60°C, dan 70°C sebelum proses distilasi uap. Parameter yang diamati meliputi kadar air bahan baku, kadar air dalam minyak, indeks bias, rendemen, kadar sitronelal, kadar sitronelol, dan warna minyak atsiri. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan praproses berpengaruh terhadap karakter fisik dan kimia minyak atsiri serai wangi. Perlakuan pengeringan dan bentuk bahan mampu memengaruhi kadar air, rendemen, indeks bias, serta kandungan sitronelal dan sitronelol sehingga berpengaruh terhadap mutu minyak yang dihasilkan. Perlakuan praproses yang tepat menghasilkan minyak dengan kualitas lebih baik dan mendekati persyaratan Standar Nasional Indonesia. Penelitian ini memberikan informasi mengenai teknik praproses yang dapat diterapkan untuk meningkatkan mutu minyak atsiri serai wangi sebagai bahan baku industri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas dan kuantitas minyak nilam sangat dipengaruhi oleh proses ekstraksi dan lama waktu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis pelarut dan lama ekstraksi serta interaksinya terhadap hasil dan kualitas minyak nilam. Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Mei 2025 di Laboratorium Nutrisi Fakultas Perikanan Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu jenis pelarut (aquades, etanol 96%, dan heksana) serta lama ekstraksi (30, 60, dan 90 menit), dengan tiga ulangan sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati meliputi volume minyak, rendemen minyak, warna, indeks bias, dan kadar patchouli alkohol. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf kepercayaan 5% apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut berpengaruh nyata terhadap nilai indeks bias minyak nilam, sedangkan lama ekstraksi dan interaksi kedua faktor tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen dan volume minyak. Seluruh perlakuan menghasilkan warna minyak kuning muda dan kadar patchouli alkohol ≥30% yang telah memenuhi standar SNI minyak nilam. Dengan demikian, pemilihan jenis pelarut yang tepat berperan penting dalam menentukan kualitas minyak nilam yang dihasilkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas dan kuantitas minyak nilam sangat dipengaruhi oleh proses ekstraksi dan lama waktu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis pelarut dan lama ekstraksi serta interaksinya terhadap hasil dan kualitas minyak nilam. Penelitian dilaksanakan pada bulan April–Mei 2025 di Laboratorium Nutrisi Fakultas Perikanan Universitas Borneo Tarakan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu jenis pelarut (aquades, etanol 96%, dan heksana) serta lama ekstraksi (30, 60, dan 90 menit), dengan tiga ulangan sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Parameter yang diamati meliputi volume minyak, rendemen minyak, warna, indeks bias, dan kadar patchouli alkohol. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf kepercayaan 5% apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pelarut berpengaruh nyata terhadap nilai indeks bias minyak nilam, sedangkan lama ekstraksi dan interaksi kedua faktor tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen dan volume minyak. Seluruh perlakuan menghasilkan warna minyak kuning muda dan kadar patchouli alkohol ≥30% yang telah memenuhi standar SNI minyak nilam. Dengan demikian, pemilihan jenis pelarut yang tepat berperan penting dalam menentukan kualitas minyak nilam yang dihasilkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
POTENSI MINYAK ATSIRI PADA BEBERAPA TANAMAN HERBAL INDONESIA SEBAGAI ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN Abstrak Menurut data yang diperoleh dari Indonesian Essential Oil: The Scents of Natural Life, terdapat sekitar 40 jenis tanaman yang diproduksi di Indonesia yang berpotensi sebagai sumber aromaterapi dan sekitar 12 tanaman penghasil minyak atsiri lainnya masih dalam tahap pengembangan skala industri. Tanaman-tanaman tersebut merupakan tanaman yang memiliki variasi aromatik karena terdapat kandungan minyak esensial yaitu minyak atsiri. Mengetahui potensi minyak atsiri pada beberapa tanaman herbal Indonesia sebagai antimikroba dan antioksidan. Jenis tanaman yang digunakan yaitu daun serai (Cymbopogon nardus), sirih (Piper betle), singkil (Premna serratifolia L), salam (Eugenia polyantha). Minyak atsiri diperoleh dengan cara destilasi selama 4 jam, kemudian pada pengujian antimikroba menggunakan bakteri Ralstonia solanacearum dengan metode difusi agar sumuran yang terdapat 3 konsentrasi dan pada pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH dengan 1 konsentrasi. Pada pengujian antimikroba dan antioksidan diberi ulangan sebanyak 3 kali. Hasil dari pengujian antimikroba pada daun salam dengan konsentrasi 100% didapatkan hasil persentase penghambatan sebesar 100%, kemudian pada daun serai didapatkan rendemen persentase penghambatan sebesar 71,29% dengan konsentrasi 100%. Pada pengujian antioksidan minyak atsiri daun sirih didapatkan hasil persentase penghambatan sebesar 92,54% dengan konsentrasi 100 ppm. Kata Kunci : Destilasi minyak atsiri, antimikroba, antioksidan. POTENTIALS OF ESSENTIAL OILS IN SEVERAL INDONESIAN HERBAL PLANTS AS ANTIMICROBIALS AND ANTIOXIDANTS Abstract According to data obtained from Indonesian Essential Oil The Scents of Natural Life, there are about 40 types of plants produced in Indonesia that have the potential as a source of aromatherapy and about 12 other essential oil-producing plants are still in the industrial scale development stage These plants have aromatic variations because they contain essential oils. The purpose of this study was to find out the potential of essential oils in several Indonesian herbal plants as antimicrobials and antioxidants The types of plants used were Lemongrass (Cymbopogon nardhues). Betel (per hele), Singkil (Premna serratifolia L.), and Bay Leaves (Eugenia polyantha) The essential oil was obtained by distillation for 4 hours, then in antimicrobial testing using the bacterium Ralstonia solanacearum with the agar diffon method, there were 3 concentrations and in the antioxidant test using the DPPH method with I concentration The antimicrobial and antioxidant tests were repeated 3 times. The results of antimicrobial testing on Bay Leaves with a concentration of 100% obtained the percentage of inhibition of 100%, then on Lemongrass leaves the yield of inhibition percentage was 71.29% with a concentration of 100% In the antioxidant test of Betel leaf essential oil, the percmage of indobition was 92 54% with a concentration of 100 ppm Keywords Essential oil distillation, antimicrobial, antioxidant