ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi saluran pemasaran serta menganalisis biaya pemasaran, margin pemasaran, dan farmer’s share cabai rawit (Capsicum frutescens L.) di Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2026 di Kelurahan Kampung Enam dan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, serta Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling terhadap 70 petani cabai rawit. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis saluran pemasaran, margin pemasaran, biaya pemasaran, dan farmer’s share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua saluran pemasaran cabai rawit di Kota Tarakan, yaitu saluran pemasaran langsung (produsen–konsumen) yang digunakan oleh 12 petani (17,14%) dan saluran pemasaran tidak langsung (produsen–agen–pedagang pengecer–konsumen) yang digunakan oleh 58 petani (82,86%). Pada saluran pemasaran langsung tidak terdapat biaya pemasaran maupun margin pemasaran, sehingga nilai farmer’s share mencapai 100%. Sementara itu, pada saluran pemasaran tidak langsung diperoleh total biaya pemasaran sebesar Rp14.535/kg, total margin pemasaran sebesar Rp35.212/kg, dan total keuntungan lembaga pemasaran sebesar Rp20.677/kg. Nilai farmer’s share pada saluran ini sebesar 71%, yang menunjukkan bahwa petani menerima 71% dari harga yang dibayarkan oleh konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran pemasaran langsung memberikan bagian harga yang lebih besar kepada petani dibandingkan saluran pemasaran tidak langsung
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cabai rawit merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan menjadi sumber pendapatan bagi pedagang di pasar tradisional. Fluktuasi harga, perubahan permintaan, serta tingginya biaya operasional menyebabkan perlunya dilakukan analisis kelayakan usaha untuk mengetahui tingkat keuntungan dan keberlanjutan usaha perdagangan cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, dan kelayakan usaha pedagang cabai rawit di Pasar Induk Tanjung Selor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Mei 2026 menggunakan metode survei. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 20 pedagang cabai rawit. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan, pendapatan, Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), Break Even Point (BEP) Volume, Break Even Point (BEP) Penerimaan, dan Return on Investment (ROI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya total yang dikeluarkan pedagang sebesar Rp10.312.909,69 per minggu, rata-rata penerimaan sebesar Rp11.622.187,50 per minggu, dan rata-rata pendapatan sebesar Rp1.309.277,81 per minggu. Hasil analisis kelayakan menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,13, B/C Ratio sebesar 0,13, BEP Volume sebesar 1,75 kg, BEP Penerimaan sebesar Rp110.865,85, dan ROI sebesar 13%. Berdasarkan indikator tersebut, usaha perdagangan cabai rawit di Pasar Induk Tanjung Selor dinyatakan layak untuk dijalankan dan dikembangkan karena mampu menghasilkan keuntungan, menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan, serta memberikan tingkat pengembalian modal yang positif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman cabai (Gennus annuum) adalah salah satu komoditas sayuran yang sangat pontensial untuk dikembangkan dan merupakan salah satu sektor pertanian yang sangat penting dan memiliki peran strategis dalam ekonomi. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen cabai terbesar di dunia. Para petani cabai di berbagai daerah seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan berkontribusi secara signifikan dalam memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor. Salah satu upaya yang di lakukan untuk meningkatkan produksi cabai adalah dengan pemberian kitin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kitin yang efektif terhadap pertumbuhan dan produksi cabai. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama tiga bulan sejak desember 2022 hingga februari 2023 di lahan fakultas pertanian yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok satu faktor dengan perlakuan pengaruh pemberian kitin pada tanaman cabai. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 3 polybag pengamatan sehingga diperoleh 75 satuan percobaan. Faktor perlakuan terdiri dari (kontrol) P1 (Kontrol), P2 (1% kitin), P3 (2% kitin), P4 (3% kitin) dan P5 (4% kitin). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian kitin berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Rata-rata jumlah daun tertinggi terjadi pada pemberian kitin 4% (P5) yakni 5.73 helai, rata-rata tinggi tanaman terbaik juga terjadi pada pemberian kitin 4% (P5) yakni 10.73 cm dan rata-rata jumlah buah tertinggi juga dimiliki oleh P5 (4% kitin) yakni 6.03 buah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KARAKTERISTIK CENDAWAN ENDOFIT ASAL CABAI TORAJA YANG MAMPU MENEKAN PERTUMBUHAN LAYU FUSARIUM ASAL CABAI MERAH SECARA IN VITRO ABSTRAK Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang penting dan banyak dibudidayakan secara komersial. Beberapa permasalahan dalam pembudidayaan cabai merah yang dapat mengakibatkan produksi menurun salah satunya diakibatkan oleh penyakit Fusarium. Fusarium oxysporum merupakan salah satu cendawan patogen yang mampu bertahan di jaringan tanaman yang hidup atau mati. Fusarium dapat merusak tanaman sehingga mengalami kematian, untuk itu perlu dikendalikan. Salah satu pengendalian untuk mencegah penyakit ini adalah penggunaan agens hayati dengan menggunakan cendawan endofit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cendawan endofit asal tanaman cabai toraja dalam menekan pertumbuhan penyakit layu F. oxysporum secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Universitas Borneo Tarakan. Tahapan penelitian terdiri dari perbanyakan Fusarium, isolasi cendawaan endofit asal tanaman cabai Toraja, identifikasi morfologi makroskopis dan mikroskopis, uji patogenitas, uji antagonis, uji aktivitas melarutkan fosfat dan uji kemampuan mendegradasi protein. Hasil penelitian diperoleh 20 isolat cendawan endofit yang teridentifikasi hingga tingkat genus yaitu Aureobasidium, Sporisdesmium, Tricholadium, dan Chaetophaeria. Uji patogenitas menunjukkan 4 isolat cendawan endofit non patogen. Uji antagonis terhadap Fusarium oxysporum menunjukkan 2 isolat cendawan mampu menekan pertumbuhan Fusarium oxysporum pertumbuhan penyakit F. oxysporum secara in vitro. isolat D6(1) mampu menghambat sebesar 37.93% dan isolat D6(2) mampu menghambat sebesar 46.67%. Kedua isolat cendawan antagonis ini dikategorikan pengahambatan minimal dalam menekan Fusarium oxysporum.