Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Fuse
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENERAPAN INHALASI DIFFUSER DENGAN AROMA TERAPI PEPPERMINT DALAM PENINGKATAN BERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG ANGGREK B RSUD dr.H. JUSUF SK KOTA TARAKA

2026•

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, yang memicu peningkatan produksi sekret dan menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Terapi non-farmakologis, seperti penggunaan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint, berpotensi sebagai intervensi pendukung untuk mengencerkan sekret dan memperbaiki pola napas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint dalam menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Metode yang digunakan adalah deskriptif studi kasus dengan subjek dua pasien anak (An. N dan An. K, usia 5 tahun) yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat pneumonia. Intervensi dilakukan selama tiga hari perawatan dengan durasi 15–20 menit per sesi menggunakan diffuser ultrasonik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi selama 3x24 jam, terjadi perbaikan klinis yang signifikan pada kedua pasien. Frekuensi pernapasan (RR) menurun dari rentang 42- 44x/menit menjadi 22x/menit (mendekati rentang normal), saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari 94% menjadi 98%, serta suara napas tambahan ronchi berkurang drastis atau hilang. Sputum yang semula kental dan berwarna kuning kehijauan menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa penerapan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint efektif sebagai intervensi pendukung untuk meningkatkan bersihan jalan napas, mengencerkan sekret, dan menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Disarankan bagi tenaga keperawatan untuk mempertimbangkan intervensi ini sebagai bagian dari standar prosedur operasional (SPO) asuhan keperawatan komplementer pada kasus gangguan sistem respirasi anak.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS BUDIDAYA SISTEM BIOFLOK MENGGUNAKAN AERASI UNIRING TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Teknologi bioflok dapat memperbaiki kualitas air di dalam media pemeliharaan ikan lele intensif dan bioflok juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan aerasi uniring pada teknologi bioflok terhadap laju pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan menggunakan metode analisis regresi linear. Ikan lele dumbo yang digunakan memiliki panjang 6 cm dan berat rata-rata 1,55 gram. Ikan lele dumbo dipelihara selama 30 hari menggunakan aerasi uniring dan batu aerasi yang terdiri dari 5x ulangan. Masing-masing perlakuan diberikan padat tebar yang sama yaitu sebanyak 50 ekor/200 liter. Hasil penelitian menunjukan perlakuan aerasi uniring menghasilkan oksigen terlarut yang lebih optimal pada kisaran 4,3 – 5,71 mg/l, laju pertumbuhan spesifik yaitu sebesar 5,9±0,1%, kelangsungan hidup ikan sebesar 98±0,30%, pertumbuhan panjang mutlak sebesar 5±0 cm, pertumbuhan bobot mutlak sebesar 7,52±0,32 gram. Nilai FCR sebesar 0,78±0,05, dan volume flok sebesar 18,8±1,78 ml/liter. Kesimpulan penelitian ini aerasi uniring dapat digunakan untuk bioflok.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Penggunaan Diffuser Oksigen Berbeda Terhadap Kualitas Air Pada Budidaya Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Sistem Bioflok.

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Aerasi merupakan transfer gas oksigen atau penambahan oksigen ke dalam air yang sangat penting dalam budidaya bioflok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan diffuser berbeda terhadap kualitas air pada budidaya Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) dengan sistem Bioflok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan menggunakan metode analisis regresi linear. Ikan lele dumbo yang digunakan memiliki panjang 6 cm dan berat rata-rata 1,55 gram. Ikan lele dumbo dengan menggunakan sistem bioflok dipelihara selama 30 hari dengan dua perlakuan dan lima ulangan yaitu P1 (Selang diffuser/uniring), dan P2 (Batu Aerasi), masing-masing perlakuan diberikan padat tebar yang sama yaitu sebanyak 50 ekor/200 liter. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji t. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan aerasi yang berbeda pada budidaya ikan lele dumbo dengan menggunakan sistem bioflok menghasilkan parameter kualitas air oksigen terlarut dan volume flok yang berbeda nyata sig.(2-tailed)0,05. Nilai rata-rata oksigen terlarut pada perlakuan berkisar P1 4.40-5.49 mg/L dan P2 4.19-4.77 mg/L. Data volume flok yang dihasilkan pada P1 22 ml/L, P2 20 ml/L. Parameter suhu berkisar antara 28-31ᵒC, pH berkisar P1 7.52-8.63 P2 7.46-8.45, amoniak berkisar antara 0.00-0.08 mg/L , nitrit berkisar antara 0.02-0.2 mg/L , nitrat berkisar antara 0.04-40 mg/L , fosfat berkisaran 0.00-0.015 mg/L, dan parameter TSS, alkalinitas, kelimpahan fitoplankton, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi berdasarkan uji statistik (uji t) menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata sig.(2-tailed>0,05). Kualitas air dari masing-masing perlakuan menunjukkan kisaran yang layak untuk mendukung budidaya ikan lele dumbo dengan sistem bioflok.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOORDINASI RELE ARUS LEBIH, PEMUTUS BALIK OTOMATIS (RECLOSER), DAN FUSE PADA JARINGAN DISTRIBUSI 20 kV FEEDER 2 PT.PLN(PERSERO) TARAKAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Keandalan pada jaringan distribusi diperlukan untuk menjaga kontinuitas penyaluran tenaga listrik hingga ke konsumen. Tingkat keandalan dipengaruhi jumlah pemadaman dan lama pemadaman. Pemadaman dapat terjadi karena pemeliharaan atau gangguan, gangguan yang sering terjadi adalah gangguan hubung singkat. Dalam mengatasi gangguan hubung singkat ini diperlukan koordinasi antar pengaman jaringan distribusi agar dapat mengisolasi gangguan dan melindungi jaringan distribusi serta peralatan yang berada di jaringan tersebut. Pada skripsi ini dibahas mengenai koordinasi dari peralatan pengaman yaitu rele arus lebih, pemutus balik otomatis (recloser), dan fuse pada jaringan distribusi 20 kV PT. PLN (Persero) Tarakan. Koordinasi ini dilakukan untuk memperoleh sistem pengaman yang benar menggunakan program komputer. Penelitian ini mensimulasikan arus gangguan satu fasa ke tanah dan tiga fasa. Dari hasil simulasi diperoleh hasil sistem proteksi yang sudah terkoordinasi bahwa apabila terjadi gangguan yang pertama kali bekerja yaitu pemutus balik otamtis (recloser) mebuka dan menutup dengan cepat, kemudian apabila gangguan masih ada setelah recloser menutup kembali fuse bekerja memutus gangguan, apabila fuse gagal bekerja maka rele arus lebih mumutus gangguan dan recloser menutup kembali. Apabila gangguang masih ada recloser akan membuka secara tetap (lock out).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail