ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran deep learning sebagai pendekatan yang menekankan pembelajaran bermakna, mendalam, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman guru Sekolah Dasar terhadap konsep pembelajaran deep learning di Kelurahan Mamburungan Timur, Kota Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif survei. Populasi penelitian berjumlah 86 guru, dengan sampel 39 guru. Pengumpulan data menggunakan kuesioner berskala Likert empat poin yang terdiri atas 20 pernyataan. Instrumen mengukur lima indikator, yaitu pemahaman konsep dasar, tujuan, karakteristik, strategi dan pendekatan pembelajaran pendukung, serta penerapan deep learning dalam pembelajaran. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif meliputi frekuensi, persentase, rata-rata, skor minimum, skor maksimum, dan simpangan baku. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman guru berada pada kategori tinggi, dengan rata-rata 62,49 dan simpangan baku 6,84. Sebanyak 20 guru (51,28%) berkategori tinggi, 11 guru (28,21%) sangat tinggi, dan 8 guru (20,51%) sedang. Pemahaman konsep dasar memperoleh rata-rata tertinggi, yaitu 13,05 atau 81,56% dengan kategori sangat tinggi, sedangkan penerapan dan evaluasi pembelajaran memperoleh rata-rata terendah, yaitu 11,70 atau 73,13%, namun berkategori tinggi. Dengan demikian, pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran deep learning tergolong baik, tetapi penguatan kompetensi pada aspek penerapan dan evaluasi masih diperlukan. Kata kunci: Deep learning, Pemahaman Guru, Guru Sekolah Dasar, Pembelajaran Mendalam, Survei Deskriptif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat persepsi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tarakan terhadap pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei. Populasi penelitian berjumlah 347 siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tarakan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket skala Likert 4 poin yang terdiri atas 15 butir pernyataan dan disebarkan melalui Google Form dengan teknik sampel jenuh. Dari 347 respons yang masuk, sebanyak 332 respons dinyatakan valid dan digunakan dalam analisis, sedangkan 15 respons tidak digunakan karena tidak memenuhi kriteria kelengkapan pengisian angket. Analisis data dilakukan melalui perhitungan skor rata-rata per indikator, pengkategorian tingkat persepsi berdasarkan interval skor rata-rata ke dalam tiga kategori yaitu Tinggi (3,01–4,00), Sedang (2,01–3,00), dan Rendah (1,00–2,00), serta interpretasi hasil secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat persepsi siswa terhadap pembelajaran berdiferensiasi berada pada kategori Tinggi dengan rata-rata skor sebesar 3,06. Sebanyak 161 siswa (48,5%) berada pada kategori Tinggi, 171 siswa (51,5%) berada pada kategori Sedang, dan tidak terdapat siswa yang berada pada kategori Rendah. Berdasarkan indikator penelitian, diferensiasi proses memperoleh skor rata-rata tertinggi sebesar 3,18 (kategori Tinggi), diikuti diferensiasi konten sebesar 3,04 (kategori Tinggi), sedangkan diferensiasi produk memperoleh skor rata-rata terendah sebesar 2,97 (kategori Sedang). Temuan ini mengindikasikan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi di SMP Negeri 1 Tarakan telah diterima dengan baik oleh sebagian besar siswa, sehingga pendekatan tersebut layak dipertahankan dan dikembangkan. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru matematika untuk meningkatkan kualitas diferensiasi produk yang masih berada pada kategori sedang, agar implementasi pembelajaran berdiferensiasi semakin merata dan optimal di seluruh kelas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SURVEI PEMAHAMAN SEKOLAH RAMAH ANAK PADA MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING ANGKATAN 2024 DI UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman Sekolah Ramah Anak (SRA) pada masasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Angkatan 2024 di Universitas Borneo Tarakan. Sekolah Ramah Anak merupakan konsep pendidikan yang menjamin pemenuhan hak anak, perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Penelian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian berjumlah 150 mahasiswa, sedangkan sampel penelitian sebanyak 50 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner berbasis skala Likert menggunakan Google Form. Data analisis menggunakan Statistik deskriptif berupa frekuensi dan presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mahasiswa mengenai Sekolah Ramah Anak berada pada ketegori tinggi. Dari 50 responden, sebanyak 17 mahasiswa (34,0%) berada pada kategori tinggi, 30 mahasiswa (60,0%) berada pada kategori tinggi, dan 3 mahasiswa (6,0%) berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagai besar mahasiswa telah memahami konsep, prinsip, tujuan, dan implementasi Sekolah Ramah Anak dengan baik. Pemahaman tersebut menjadi modal penting bagi mahasiswa sebagai calon guru Bimbingan dan Konseling dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran prokrastinasi akademik mahasiswa Bimbingan dan Konseling Angkatan 2023 di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian dilatarbelakangi oleh masih banyaknya mahasiswa yang menunda pengerjaan tugas akademik, terlambat mengumpulkan tugas, kurang disiplin dalam belajar, serta lebih memilih melakukan aktivitas lain yang dianggap lebih menyenangkan. Perilaku prokrastinasi akademik dapat memberikan dampak negatif terhadap prestasi belajar, keterlambatan studi, meningkatnya stres akademik, dan rendahnya produktivitas mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian berjumlah 159 mahasiswa Bimbingan dan Konseling Angkatan 2023, dengan sampel penelitian sebanyak 50 mahasiswa. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan angket prokrastinasi akademik berbentuk skala Likert yang disebarkan melalui Google Form. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif berupa persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prokrastinasi akademik mahasiswa sebagian besar berada pada kategori rendah dan sangat rendah sebanyak 45 responden (90%). Faktor yang memengaruhi prokrastinasi akademik meliputi rendahnya motivasi belajar, manajemen waktu yang kurang baik, penggunaan media sosial secara berlebihan, serta pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan untuk meningkatkan kedisiplinan belajar dan mengurangi perilaku prokrastinasi akademik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku disiplin belajar siswa di SMPN 9 Tarakan. Disiplin belajar merupakan salah satu aspek penting dalam proses pendidikan yang berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik siswa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya kedisiplinan belajar siswa yang terlihat dari keterlambatan mengumpulkan tugas, kurangnya perhatian saat pembelajaran, serta rendahnya motivasi belajar di luar jam sekolah. Faktor-faktor yang memengaruhi kedisiplinan belajar siswa antara lain adalah lingkungan keluarga, peran guru, motivasi internal, serta pengaruh media sosial dan teknologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMPN 9 Tarakan, dengan sampel yang diambil secara acak sebanyak 165 responden dari kelas VII, VIII, dan IX. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner tertutup yang terdiri dari beberapa indikator disiplin belajar, seperti Upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu, Mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan, dan Mematuhi tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari diri. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk melihat kecenderungan perilaku siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perilaku disiplin belajar siswa SMPN 9 Tarakan berada pada kategori rendah sebesar 83 siswa, dengan persentase sebesar 50,30%, yang berada pada interval 106-122. Sehingga sebagian besar siswa menunjukkan perilaku disiplin dalam hal kehadiran, mengikuti pelajaran, dan menyelesaikan tugas. Namun demikian, masih terdapat sekitar 93% siswa yang memiliki tingkat disiplin belajar rendah, terutama dalam hal upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu. Berdasarkan uraian tersebut, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa meskipun sebagian besar siswa menunjukkan perilaku disiplin belajar yang positif, masih diperlukan upaya peningkatan melalui kerja sama antara pihak sekolah, guru, dan orang tua. Strategi pembinaan karakter, penguatan motivasi belajar, dan pengawasan penggunaan teknologi menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kedisiplinan belajar yang lebih optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa kelas VII SMPN 2 Tanjung Palas Utara. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui pengaruh gaya belajar visual terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa, (2) mengetahui pengaruh gaya belajar auditorial, (3) mengetahui pengaruh gaya belajar kinestetik, dan (4) mengetahui pengaruh gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mengukur gaya belajar dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori gaya belajar dominan pada kategori sedang dengan 86% siswa visual, 63% siswa auditorial, dan 65% siswa kinestetik. Hasil regresi linier sederhana menunjukkan persamaan untuk gaya belajar visual Ŷ = 26,942 − 0,990 X, auditorial Ŷ = 24,961 − 0,558 X, dan kinestetik Ŷ = 36,902 − 2,496 X.. Artinya, setiap kenaikan satu satuan gaya belajar menyebabkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah masing-masing sebesar 0.990, 0.558 dan 2.496. Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya belajar berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Siswa dengan gaya belajar yang tinggi memperoleh hasil belajar yang optimal, sedangkan siswa dengan gaya belajar rendah menunjukkan hasil kurang optimal. Disarankan siswa menyesuaikan gaya belajar untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik.