ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kabupaten Malinau di Provinsi Kalimantan Utara, khususnya Desa Putat, memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk tumbuhan dari family Menispermaceae, salah satunya daun Sengkubak dengan nama ilmiah Pycnarrhena Cauliflor. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem deteksi kesegaran berbasis citra menggunakan metode deep learning khususnya CNN untuk mengklasifikasikan jenis kesegaran daun Apa (sengkubak) kedalam tiga kriteria yaitu daun sengkubak segar, daun sengkubak tidak segar, daun sengkubak rusak. Dataset penelitian ini terdiri dari 1500 citra awal data primer daun sengkubak dengan tiga kriteria kesegaran, yang kemudian diproses melalui tahap preprocessing dan augmentasi sehingga menghasilkan 2500 citra. Pembagian dataset terdiri dari 80% data latih, 10% data validasi, dan 10% data uji. Model CNN dengan arsitektur VGG16 yang dilatih menunjukkan akurasi pelatihan sebesar 99.27%. Evaluasi menggunakan data validasi menunjukkan performa model secara keseluruhan berdasarkan nilai f1-score berada pada kisaran 99-100%. Sementara itu, data uji menghasilkan precision 100%, untuk daun sengkubak rusak, meskipun terdapat sedikit kesalahan dengan recall sebesar 96% dan fi-score 98%. Untuk daun sengkubak segar precision, recall, dan f1-score rata-rata mencapai 100%. Sedangkan untuk daun sengkubak tidak segar precision 97%, recall 100%, dan f1-score 98%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, model CNN dengan arsitektur VGG16 menunjukkan performa yang baik dalam mengklasifikasikan kesegaran daun sengkubak, meskipun masih terdapat beberapa kesalahan pada pengujian. Faktor kesalahan tersebut disebabkan oleh kurangnya variasi tekstur daun, keterbatasan keragaman data latih, dan kualitas citra. Sistem ini diharapkan menjadi sistem deteksi yang inovatif dan standar kualitas yang lebih objektif untuk daun sengkubak vetsin alami masyarakat Dayak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tempe merupakan salah satu makanan yang digemari masyarakat Indonesia. Daun sengkubak (Pycharrhena Cauliflora (Miers) Diels) merupakan tumbuhan yang banyak ditemui salah satunya di daerah Kalimantan Utara yang dapat digunakan sebagai pengganti MSG. penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap tempe kedelai dengan penambahan daun sengkubak (Pycharrhena Cauliflora (Miers) Diels); dan 2) Untuk mengetahui potensi tempe kedelai dengan penambahan daun sengkubak (Pycharrhena Cauliflora (Miers) Diels) sebagai sumber belajar biologi SMA. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket. Analisis data dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skorsing setiap jawaban dari panelis untuk mengetahui kualitas produk (organoleptik). Hasil penelitian kemudian dianalisis keterkaitannya dengan kurikulum untuk mengetahui potensinya terhadap pembelajaran biologi SMA. Hasil uji organoleptik menunjukan bahwa tempe kedelai dengan penambahan MSG mendapatkan nilai 81,1, tempe kedelai dengan penambahan 40 gram daun sengkubak mendapatkan nilai 67,5, tempe kedelai dengan penambahan 50 gram daun sengkubak mendapatkan nilai 62,5, dan tempe kedelai dengan penambahan 60 gram daun sengkubak mendapatkan nilai 60,6. Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi bagi peserta didik kelas X SMA pada materi bioteknologi konvensional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tempe rempah daun sengkubak merupakan makanan hasil fermentasi menggunakan bahan dasar kedelai dan tambahan daun sengkubak. Daun sengkubak adalah daun yang berasal dari Kalimantan. Tempe rempah daun sengkubak berpotensi dikembangkan menjadi LKPD berbasis potensi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan respon peserta didik terhadap Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Pembuatan Tempe Rempah Daun Sengkubak (Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels) Berbasis Potensi Lokal pada materi bioteknologi. Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D (Define, Design, Development, Disseminate). Namun, penelitian ini dibatasi hanya sampai tahap development. Subjek uji coba dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII MIA SMAN 1 Sembakung yang berjumlah 33 siswa dan guru sebagai praktisi. Kelayakan LKPD dinilai berdasarkan hasil validasi media dan materi. Pada validator ahli materi diperoleh nilai 92,3% dengan kategori "sangat layak". Pada validator ahli media diperoleh nilai 80% dengan kategori "sangat layak". Praktisi guru dengan nilai 100% dengan kategori "sangat layak". Respon peserta didik diperoleh dari rata-rata penilaian respon peserta didik dalam uji skala besar dengan presentase 89% termasuk dalam kategori sangat menarik. Berdasarkan hasil tersebut lembar kerja peserta didik (LKPD) materi bioteknologi berbasis potensi lokal layak untuk digunakan dalam pembelajaran.