ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang: Status pertumbuhan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan anak, khususnya pada usia 0–60 bulan yang termasuk masa emas pertumbuhan dan perkembangan. Penilaian status pertumbuhan anak dapat dilakukan melalui indikator antropometri seperti berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan lingkar kepala. Gangguan pertumbuhan yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan kualitas hidup anak di masa mendatang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status pertumbuhan berdasarkan indikator antropometri pada anak usia 0–60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Long Alango tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 85 anak usia 0–60 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Long Alango dan memenuhi kriteria penelitian. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa status pertumbuhan anak berdasarkan indikator berat badan menurut usia (BB/U) sebagian besar berada pada kategori gizi normal sebanyak 75 anak (88,2%), sedangkan kategori gizi lebih dan gizi kurang masing-masing sebanyak 5 anak (5,9%). Berdasarkan indikator tinggi badan menurut usia (TB/U), sebagian besar anak berada pada kategori normal sebanyak 76 anak (89,4%), kategori pendek sebanyak 7 anak (8,2%), dan sangat pendek sebanyak 2 anak (2,4%). Berdasarkan indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), sebagian besar anak berada pada kategori normal sebanyak 70 anak (82,4%), kategori gemuk sebanyak 14 anak (16,5%), dan obesitas sebanyak 1 anak (1,2%). Sementara itu, berdasarkan indikator lingkar kepala, sebagian besar anak berada pada kategori normal sebanyak 83 anak (97,6%), dan mikrosefali sebanyak 2 anak (2,4%), serta tidak ditemukan anak dengan makrosefali (0%). Kesimpulan: Sebagian besar anak usia 0–60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Long Alango tahun 2026 memiliki status pertumbuhan yang normal berdasarkan indikator antropometri BB/U, TB/U, BB/TB, dan lingkar kepala. Meskipun demikian, masih ditemukan sebagian kecil anak yang mengalami gizi kurang, gizi lebih, pendek, sangat pendek, obesitas, dan mikrosefali
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Masalah malnutrisi global, yang mencakup obesitas dan gizi kurang (underweight), menuntut pemantauan antropometri yang efisien. Metode pengukuran konvensional rentan terhadap human error dan memakan waktu. Penelitian ini bertujuan mengembangkan AFVIS, sebuah instrumen pengukur IMT secara real-time dan non-contact menggunakan data Point Cloud dari sensor Kinect V2. Penelitian R&D ini mengekstraksi dimensi fisik subjek seperti Tinggi Badan, LiLA, dan WACI menggunakan algoritma Skeleton Tracking dan Convex Hull di ruang 3D. Estimasi berat badan dikalkulasikan melalui pemodelan MLR. Model dasar (baseline) dilatih menggunakan data ground truth manual dari 73 subjek, sementara validasi performa sistem dilakukan secara langsung terhadap 42 subjek uji terpisah di lapangan. Hasil pengujian menunjukkan sistem berhasil mengakselerasi komputasi menjadi rata-rata 10 detik per subjek dengan kecepatan rendering 18 FPS. Pengukuran dimensi linier menunjukkan presisi tinggi dengan MAE Tinggi Badan sebesar 1,93 cm. Namun, ekstraksi lingkar tubuh rentan terhadap halangan visual berupa deformasi pakaian, di mana postur berdiri tegap terbukti memberikan akurasi (76,38%) yang lebih baik dibandingkan T-Pose (65,84%). Bias volume akibat pakaian memicu overestimation yang menyebabkan galat estimasi berat badan rata-rata keseluruhan sebesar 21,24 kg (di mana posisi rentang tangan memperburuk galat hingga 26,42 kg). Lebih lanjut, batasan resolusi spasial sensor (<5 cm pada jarak 2 meter) memicu kegagalan segmentasi pada anak dengan status gizi kurus. Secara keseluruhan, akurasi klasifikasi status gizi mencapai 41,67%. Kesimpulannya, sistem AFVIS terbukti sangat berhasil sebagai instrumen skrining massal yang cepat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman ubi jalar (Ipomea batatas L.). Untuk meningkatkan produksi umbi dari tanaman ubi jalar, maka salah satu upaya yang dilakukan adalah pemangkasan. Oleh sebab itu, diperlukan pemangkasan pucuk sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi dari umbi pada tanaman ubi jalar. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian Binalatoeng, Kelurahan Amal Lama Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Satu faktor dengan empat taraf yaitu P0 (kontrol/tidak dipangkas), P1 (30 HST), P2 ( 45 HST), dan P3 (60 HST) serta diulang sebanyak enam ulangan. Fariabel pengamatan pada penelitian ini adalah jumlah umbi, diameter umbi, bobot umbi, dan panjang umbi. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan Pemangkasan 60 HST (P3) menjadi perlakuan yang paling baik dalam meningkatkan produktivitas tanaman ubi jalar, dengan memiliki bobot segar mencapai 223,34 gram dengan diameter mencapai 16,12 cm dan panjang mencapai 16,58 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kalimantan Utara merupakan salah satu penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia. PT Citra Sawit Lestari merupakan salah satu pabrik yang menghasilkan sawit 152,039 Mt/tahun tingginya produksi ini tentunya akan mengakibatkan tingginya juga produksi limbah. Limbah kelapa sawit sendiri adalah limbah biomassa dengan jumlah yang cukup besar dalam bentuk limbah organik berupa tandan kosong kelapa sawit (Tankos), cangkang dan sabut, serta limbah cair Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dapat di manfaatkan menjadi energy listrik. POME memiliki potensi energi yang tinggi dimana POME diurai di kolam limbah dibiarkan membusuk secara alami yang menghasilkan biogas dengan kandungan utama (62%) gas methana (CH4). Gas ini muncul akibat dari proses perombakan senyawa-senyawa organik secara anaerobic. POME memiliki potensi energi yang tinggi menghasilkan aliran limbah cair harian sebesar 384,000 m3/hari. yang dapat menghasilkan energi sebesar 49,08 kWh. Dalam Analisa pemanfaatan limbah POME sebagai pemenuh kebutuhan listrik pabrik dan non pabrik di PT Citra Sawit Lestari sebesar 700 kWh dimana untuk kebutuhan daya pabrik per hari 11.200 Kw, per bulan 260.800, per tahun 3.494,4 MW, dan kebutuhan daya non pabrik sebesar 130 kWh, per hari 3.120 Kw, perbulan sebesar 93.600 Kw,per tahun sebesar 1.123,2 MW. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa yang dilakukan dihasilkan daya sebesar 49,08 kWh. Maka penggunaan POME sebagai bahan bakar alternatif PLTBio di PT. Citra Sawit Lestari Tidak memenuhi syarat sebagai bahan bakar alternatif.